Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi tertinggi, 
dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas (pengkutuban), yg ada 
hanya singularitas. Tempat segala sesuatu menjadi tidak ada, yg ada hanya 
Allah. Ini dicapai dengan pernungan, meditasi, zikir dalam keheningan. Yg ada 
hanya Dia. 
Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan dalam diri maka 
lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam situasi stillness 
(diam, hening, tanpa dimensi).
Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi menjadi khalifah 
di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan di 'langit'. Tapi 
turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit bukanlah turun ke dimensi yg 
lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga dimensi spirit dan fisik 
berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran spiritual tinggi. Oleh 
karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur dengan seluruh umat 
manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun berorientasi penuh (menyembah) 
Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada Ka'bah.
Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 (jihad), tidak 
kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah sudah training 
menjadi khalifah yg selalu menyembahNya.
Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan lil'alamin 
setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah menjadi orang yg berserah 
diri sepenuhnya kepadaNya (muslim).

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: - ekadj <[email protected]>
Date: Fri, 27 Nov 2009 09:49:59 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [immam] pertemuan ruang dan waktu

Pertemuan Ruang dan Waktu



Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah
mengetahui'), yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang senior
dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau)
menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya nantinya
akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu bertemunya
tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena
pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya adalah di
Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan Ashar.
Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan Tuhannya,
yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi menyebutkan
bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung ke muka
bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir kepadaNya
serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami.



Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan haji,
sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam kepadamu),
dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan bagi engkau
wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia pada
siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk meminta
ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan mempersiapkan masa
depan; serta menyempurnakan rukun Islam.



Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu bagiMu.
Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu.
(22:27-28).

Kirim email ke