Waalaikum salam w.w. Almukarram Wawan yang dimuliakan Allah swt. Terima kasih atas tanggapan dan asupan yang diberikan, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita bersama. Mohon penjabaran lebih lanjut tentang pertanyaan terakhir itu, termasuk juga pembabaran dari kiyai, syech, guru yang lainnya, agar kita bisa saling berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran. Saya coba penggalian diskusi lebih lanjut.
Wassalam, -ekadj 2009/12/3 triherma <[email protected]> > > > Ass.wr.wb. > Bang Datuk Eka, pak Freddy ysh, serta rekan2 kg-17 yg baik2... > terimakasih atas sharing-nya dlm bbrp posting sblm ini, hal itu semakin > menambah pencerahan dlm diri sy. > > Memang Dia Yang Maha Sempurna itu tidak akan pernah mampu kita lukiskan > (walaupun pelukisan itu sekedar melukiskan ciptaan-Nya, sdg Dia sendiri > SUDAH PASTI TIDAK BISA KITA GAMBARKAN..QS. 42:11). > > Namun, bila kita berusaha meng-nol-kan eksistensi diri kita (dgn menghayati > "Laa ilaha illa ALLAH" juga "Laa haula wa laa quwwata illa biLLAH" (Tiada > daya dan kekuatan kecuali hanya dari ALLAH), Allah suatu saat -dgn maksud > sbg UNDANGAN KETAQWAAN- mengizinkan kita 'mengalami' peristiwa yg > menunjukkan ke-MAHA BESAR-an & ke-KUASA-an Allah baik itu terjadi sesuai > hukum alam ataupun 'di luar hukum alam/fisik'. > > Dengan pemahaman spt ini, para sufi/pengamal jalan tasawuf/pengamal > esoterime islam/ahli tauhid memaknai & menghayati posisinya di hadapan Allah > serta kemudian menjalankan amanahnya dlm berinteraksi dgn sesama makhluk. > > Bagaimana nol-eksistensi, tp proaktif dlm kehidupan dgn sesama? Itulah yg > sebaiknya kita renungkan bersama... > Wallahu a'lam bi shawwab > > Mohon dimaafkan bagi yg kurang berkenan. > > wassalam, > wawan TBH >
