Pak Djarot ysh.
Sebenarnya saya khawatir menjelaskan lebih lanjut, karena keterbatasan ilmu,
pemahaman, dan kompetensi. Mungkin dalam kondisi seperti ini saya harus
'maksa' memanggil para guru di milis ini, mudah-mudahan berkenan
menyampaikan pemandangan. Mudah-mudahan Gus Solah, Pak ATA, Pak Koes, Mas
Akhmad, Pak BSP, dll bersedia. Untuk fenomena fisika, kita mintakan juga
ahlinya. Untuk neuro-semantic, kan kita sudah punya ahlinya?
Pengalaman nyata saya hanya sebatas di Makkah itu; selebihnya tidak begitu
diyakini. Karena pemberi input bisa saja ibilis atau setan, walaupun
berburuk rupa tapi bisa menyaru sangat sempurna dan bercerita tentang
kebenaran. Untuk itu hikmah harus diproses dalam keadaan tenang, dicerna
dalam akal, dan diperiksa di dalam hati. Seorang rekan menyarankan posisi 0,
namun saya belum sampai pada makrifat seperti itu.
Beberapa petunjuk di dalam Al Qur-an menyebutkan agar kita memikirkan
bagaimana kehancuran suatu kaum, musnahnya suatu peradaban, dll; pada
umumnya karena dua hal: kaum itu tidak pandai bersyukur, dan juga tidak
pandai bertaubat. Padahal kepada kaum tersebut telah diberikan kesempatan
dengan caranya masing-masing (11:93,121). Sehingga salah satu kebenaran
hidayah, menurut hemat saya, adalah konsistensi efeknya berdasarkan jangka
waktu yang panjang. Wallahu alam.
Mungkin itu sedikit dari saya yang dlaif. Salam.

-ekadj


2009/12/3 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
>   Pak Eka, kata magnet mungkin sudut pandang pengamat berjarak atau
> terkontaminasi ilmu fisika. Hidayah apakah sama atau mirip dengan wahyu
> dalam pewayangan Jawa ? Ataukah hidayah sama dengan enerji ilahi yang suci
> dan murni menurut kacamata fisika-religius ? Atau mirip dengan spirit of
> place, yang artinya multi tafsir ? Mohon pencerahan.
>
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Thu, 12/3/09, - ekadj <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: - ekadj <[email protected]>
> Subject: [referensi] Re: hidayah dan ruang
> To: [email protected], [email protected],
> [email protected]
> Date: Thursday, December 3, 2009, 8:18 PM
>
>
>
> Pak Djarot, Pak Koes, dan rekan2 ysh.
> Terima kasih atas pandangan dan pendapatnya. Sebelumnya judul thread ini
> kita ubah sedikit, mengingat sudah ada peringatan dari Pak Mody.
> Saya ada sedikit pandangan berbeda mengenai istilah 'magnet', bahwa
> sebenarnya yang dikejar oleh setiap peziarah itu sebenarnya adalah
> 'hidayah', yang diyakini berada di tempat-tempat tertentu. Sebagaimana
> beberapa peristiwa yang saya alami, hidayah itu ternyata tidak menetap di
> suatu ruang dan di suatu waktu; terkecuali ruang-waktu yang dijanjikan Allah
> swt seperti di Arafah itu, juga Masjidil Haram dan Madinah.
>
> Mungkin saya diizinkan menjelaskan sedikit mengenai hidayah itu sejauh
> pemahaman saya selama ini. Hal ini sebenarnya cukup berat saya lakukan
> karena kompetensi yang kurang, dan juga sebenarnya hal ini merupakan tugas
> para mujtahid; seperti banyak yang lebih pantas menyampaikan di antara kita
> peserta milis ini. Bahwa sebenarnya hidayah Allah itu diberikan ke seluruh
> alam semesta, dalam berbagai bentuk, dan terkadang juga membedakan hakekat
> makhluk. Hal ini sebenarnya merupakan rahasia dari keadilan Allah swt.
> Misalnya hidayah akal, diberikan kepada manusia untuk membedakannya dengan
> makhluk lain. Kemudian hidayah kemerdekaan, yang membedakan insan religi
> dengan insan lainnya yang masih disaput nafsu. Kemudian hidayah iman, yang
> membedakan seorang muslim dengan manusia dan makhluk lainnya, yang juga
> merupakan hidayah tertinggi.
>
> Dengan demikian hidayah itu telah ditentukan oleh Allah swt dengan demikian
> adilnya. Terkadang bisa diberikan ketika beribadah, di Curitiba, di Paris,
> di dalam bus kota, di goa Selarong, di Parang Tritis, di musholla hotel di
> Kemang, di tengah laut, dst. Di berbagai tempat yang bersih dan wening,
> dimana hidayah berkenan untuk hadir. Namun sejauh yang saya yakini bila
> hidayah itu 'hinggap' dan bergerak berbatas ruang dan waktu. Sehingga belum
> tentu bila seseorang yang pernah menerima hidayah akan terberkati selamanya.
> Dalam hal ini adalah benar kiranya apa yang disampaikan oleh Pak Koes: "...
> mudah-mudahan oleh-oleh cahayaNya bertahan lama ..." Karena hati manusia
> tidaklah terbuat dari besi dan menyediakan media penyimpanan yang permanen.
> Atau sering disebut Mulan Jameela dengan "hatiku ini bukanlah hati yang
> tercipta dari besi dan baja, hatiku ini bisa remuk dan hancur". Dengan
> demikian bila hidayah itu telah hinggap, memang merupakan suatu tugas
> berat untuk menjaga dan memeliharanya.
>
> Saya tidak mempercayai bila hidayah itu 'bersemayam' di suatu tempat
> kecuali tempat-tempat yang disebutkan secara khusus; namun bisa jadi pernah
> singgah di tempat itu. Sehingga seharusnya memang manusia itu mengharapkan
> hidayah 'langsung' dari Allah swt, di berbagai tempat yang bersih dan wening
> dan di berbagai waktu. Dan secara senantiasa, secara taubat, syukur dan
> ikhlas.
>
> Demikian sementara waktu pak, mudah-mudahan ada yang berkenan meluruskan
> dan menambahkan. Salam.
>
> -ekadj
>
>

Kirim email ke