Asw,klo boleh sharing sedikit abg2..alhamdulillah yudi pernah mengikuti 
training esq mulai dr teens sampe profesional aja..
ESQ dlm menyampaikan materinya dimulai dengan keyakinan bahwa ALLAH itu ada dan 
Al-Qur'an itu benar isinya dan ditujukkan kepada seluruh ummat manusia,makanya 
mereka selalu membuka training thp awal mereka dengan teori bigbang yg 
sebenarnya jauh sebelum teori ini ada,Al-Qur'an sudah memilikinya.
ESQ pada tahap awalnya menekankan bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk 
bagi seluruh ummat manusia,sehingga training ini tidak menutup kmungkinan untuk 
agama lain mengikutinya. Kebenaran isi Al-Qur'an ini lah yg membuat beberapa 
org dr agama lain masuk ke islam setelah mengikuti training ini (pengalaman 
swaktu training di medan).
Sehabis menyampaikan itu,pada umumnya Trainer ESQ akan coba membawa kita ke 
arah pola pikir betapa kecilnya kita di hadapan ALLAH namun betapa sombongnya 
kita selama ini. Untuk mencapai pola pikir itu lah esq menggunakan beberapa 
metode yg saya anggap kreatif dan sederhana sehingga mampu dgn mudah diserap 
peserta trainingnya (tidak ada pengenalan simbol2 baru dan semuanya tetap 
berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist).
Pada tahap akhir training ini (pada level dasar) trainer mencoba mengingatkan 
kepada peserta betapa dekatnya kita dengan kematian,namun begitu banyak dosa yg 
kita bawa jika besok kita mati..disitu lah knapa banyak org yg bertangisan di 
akhir acara.
Pada level berikutnya pd training ini akan lebih mendetil,bahkan waktu itu saya 
pernah diajak untuk melakukan zikir bareng di puncak menara 165,namun waktu itu 
berhalangan hadir.
Yudi rasa tidak ada yg salah dr training ini,mungkin dengan mencoba ikut 
training ini bisa menambah wawasan..wassalam

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: - ekadj <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 23 Jul 2010 08:16:10 
To: <[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [immam] ESQ [1 Attachment]

Rekan-rekan ysh.
Berikut saya cuplik beberapa komentar saya mengenai ESQ dari suatu diskusi
di milis. Wassalam.

1
 Sedikit yang saya ketahui tentang ESQ. Memang dapat menimbulkan salah
pengertian bila sebelumnya tidak diberikan pemahaman yang benar, dan juga
dapat menyesatkan bila tidak disampaikan dengan benar.
Basisnya adalah training psikologi, saya kira berangkat dari achievement
motivation training (AMT) yang populer pada era 80-an. Jadi ada pembangkitan
emosi, pemunculan kesadaran, untuk selanjutnya memberikan arahan psike
positif.
ESQ bukan training keagamaan, karena tidak beranjak dari kesadaran tauhid
dan aqidah, yang seharusnya tumbuh sebagai hidayah, bukan sebagai sesuatu
yang ditimbulkan secara terkondisi oleh lingkungan dan pengetahuan.
Kesadaran aqidah membutuhkan proses yang panjang dan terus-menerus,
disebutkan dari buaian hingga liang lahad. Dengan kata lain, proses training
3-7 hari tidak cukup untuk mencapai kematangan aqidah, mungkin hanya bisa
sampai pada sekedar proses pubertas kesadaran. Dan juga tidak boleh disebut
sebagai 'pengajian', karena pembelajaran ilmu agama membutuhkan pembimbing
yang santun dan proses pembelajarannya secara tawaddlu'. Diberikan secara
hikmah dan keteladanan, dan bukan dibangkitkan secara emosional; sebagaimana
telah dicontohkan dalam da'wah Rasulullah. Metode da'wah emosional-spiritual
hanya berhasil disampaikan pada kelompok masyarakat tertentu atau kondisi
tertentu, seperti dulu Sunan Muria mengajarkan tauhid kepada perampok yang
bernama Kalijaga. Di Minangkabau, pada era Paderi I metode ini juga
digunakan, dan ternyata kurang mendapat tempat dalam masyarakat.
Dengan demikian saya cenderung menyebutkan ESQ adalah training psikologi.
Dan training ini bisa sesat bila metode pembangkitan kesadaran (emosi)
memanfaatkan simbol-simbol agama secara tidak tepat. Bila hendak digunakan
juga melalui kesadaran keagamaan, seharusnya sesi itu disampaikan oleh
fasilitator yang memahami sepenuhnya ilmu agama dengan menggunakan metode
da'wah yang dapat disesuaikan. Apalagi bila di dalam training tersebut
diperkenalkan simbol-simbol baru, yang mudah-mudahan hanya melekat di otak,
tapi jangan sampai di hati.
Demikian sedikit komentar berdasarkan pengetahuan yang sedikit. Terlebih
terkurang mohon dimaafkan.

2
 Memang kalau diperhatikan pada beberapa training selalu mengambil metode
alam bawah sadar (unconsciousness) untuk menuntun refleks dan
tindakan/pemikiran tersembunyi. Untuk sampai ke situ biasanya melalui
kelelahan, pembangkitan emosi, kebuntuan logika, dst. Bila tidak ada
interaksi, atau satu arah, maka selanjutnya adalah indoktrinasi, atau
pemasukan nilai-nilai secara sepihak. Coba bandingkan dengan metode-metode
yang lebih interaktif, pemasukan nilai bisa dengan kesadaran.
Permasalahannya adalah, apakah metode seperti ini Islami? Mungkin dapat kita
bandingkan dengan bagaimana Rasulullah menyampaikan risalah. Kalau belum
mendapatkan contohnya maka kita bisa mengkategorikannya sebagai metode ilmu
pengetahuan biasa (: psikologi).
Dengan demikian kesadaran spiritual sebenarnya adalah sesuatu yang dapat
diterima secara sadar, dan tidak mesti logis, karena ada unsur hidayah di
dalamnya, dan tentunya tidak memerlukan argumentasi pembuktian. Pembuktian
adalah suatu metode ilmu pengetahuan yang secara sifatnya adalah bernilai
relatif.

3
 Satu hal lagi adalah mengenai asmaul husna, yang sebenarnya merupakan
kognisi dari
sifat keilahiatan sebagaimana disebutkan dalam Al Qur-an; dan sesungguhnya
kurang tepat bila hal tersebut dilekatkan sebagai sifat makhluk/manusia.
Saya belum membaca bila Rasulullah sendiri dilekatkan dengan satu atau
beberapa asmaul husna, dan hanya al Amin, shiddiq, amanah, tabligh,
fathanah. Jadi kurang tepat bila asmaul husna dilekatkan pada sifat
makhluk/manusia. Mungkin perlu ada koreksi mendasar dalam konsep esq selama
ini.

4
 AMT mulai populer di Indonesia sekitar akhir 1980-an. Salah seorang tokoh
yang mempopulerkan adalah Dr.Ir. M. Imaduddin Abdurrahim, M.Sc. (alm). Bang
Imad telah memulai metode training di masjid Salman Bandung sejak tahun
1970an, yang disebut Latihan Mujahid Da'wah (LMD). Sekembali dari USA tahun
1986, Bang Imad meneruskan program LMD di Salman, namun hanya 1 angkatan
karena ada larangan. Selanjutnya dilangsungkan di luar Salman, termasuk
sering mengisi pelatihan di Malaysia, di antaranya melatih kader UMNO dan
ABIM.
Sekitar tahun 1988 ada permintaan pelatihan semacam LMD untuk kebutuhan
perusahaan dan lembaga tertentu, dan untuk itu Bang Imad mengubah judul
pelatihan menjadi AMT. Metode dasarnya LMD dengan menambah materi manajemen
dan kepemimpinan. Namun Bang Imad tidak pernah mematenkan metode
pelatihannya, sehingga banyak ditiru dan dimodifikasi banyak pihak. Saya
termasuk orang yang diamanahkan untuk melanjutkan tradisi LMD.
Bila sekitar awal 1990an muncul metode ESQ, bukan hal yang aneh. Namun
mengatakan ESQ memulai metode spiritual dalam pelatihan sdm, perlu suatu
koreksi.

5
 Saketek nan dapek ambo ketahui, pengetahuan SQ, EQ, dll bamulo dari
ilmu-ilmu fenomenologi nan bakambang sapanjang era modern, tarutamo oleh
Saussure, Ricouer, hinggo Heidegger. Inti pengetahuan adolah subyektivisme
sarato kognisi-relasi pado manusia-alam. Metode iko ocok digunokan para ahli
psikologi dalam risetnyo.
Walaupun ambo alun mambaco bukunyo, pencerahan Zohar ambo kiro datang dari
'pembuktian fisika' nan dikaikkan pado aspek transendental manusia modern.
Kalau AGA, nan ambo tangkok alah mangumpuakan dan mangkompilasi dari
babarapo literatur, nan sucaro logika psikologi alah mambantuak pola peta
mental manusia. Dan kasudahannyo dalam metode esq hal iko ditambahkan dengan
'pembuktian fisika' nan dapek dikato 'pembuktian empiris' nan mambateh
pengetahuan 'ultimate' manusia. Cubolah 'pembuktian-pembuktian' itu
ditarangkan oleh urang nan ahlinyo, bukan oleh trainer sucaro retorik,
padahal doktor fisika teori di Indonesia hanyo 15 urang banyaknyo, tantu
balain kajinyo.
Metode fenomenologi dalam Islamologi sabananyo alah dikambangkan oleh Al
Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, nan disabuik dengan muhasabah. Namun kaji
filsafat Islam iko memang tabateh urang nan mampalajarinyo dan
mangambangkannyo, karono ado pergulatan pemikiran maso itu, antaro lain
pendekatan empirik-sosiologis oleh Ibn Rusyd dll. Tamasuak pado era
pemurnian (wahabiyyah) hingga era raushan fikr di ujung abad 19, antaro lain
malalui Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Kutiko kito masuak ka era
modern di awal abad 20, awak talambek mangambangkan metode itu, sumantaro di
negeri Barat metode itu justru mulai dikambangkan.
Jadi memang dapek diakui bilo AGA tamasuak salah seorang nan mampopulerkan
perkawinan antaro metode fenomenologi dan sains, sarato ayat-ayat aqliyah di
Indonesia; walaupun metodologinyo alun tasusun dengan batua. Jadi blank-spot
pado relasi ditutuik dengan simbol, dan hal iko memang rawan perdebatan.
Sabagai contoh, pengenalan aqidah disampaikan dengan pembuktian empirik,
padahal aqidah itu bersifat hidayah, sarato bukti empirik itu adolah
bersifat relatif sucaro waktu.
Sahinggo esq bisa efektif pado babarapo level pemahaman ummat, yaitu sucaro
taqlid dan ittiba', namun tantu kurang sasuai untuak para mujtahid. Kalau
ado mufti nan mamiliki pandangan sasuatu, tantu awak harus dapek
memahaminyo. Jadi indak ado model demokrasi dalam keyakinan beragamo.

Mohon maaf yang terakhir ini dalam bahasa Inggris. Berikut sebuah link
http://www.nahimunkar.com/nasehat-buat-bapak-ary-ginanjar/, dan sebuah bahan
terlampir.
Wassalam.

Kirim email ke