Hutan Kota, Potensi Wisata yang Terlupakan
![]()
SH/Tinnes Sanger
Danau buatan di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat (atas).
Jakarta
– Hutan kota seringkali terlupakan keberadaannya. Hadir di tengah
impitan pembangunan fisik kota yang kian pesat. Salah satu ruang
terbuka hijau itu tampak hanya sekadar pajangan, pelengkap dalam sebuah
kebutuhan penataan ruang. Warga kota pun banyak yang memandang sebelah
mata. Padahal, ada beragam potensi wisata yang bisa digali.
Seiring meningkatnya taraf hidup, kemampuan dan kebutuhan manusia, maka
sejak tahun 1950-an sampai dengan 1970-an ruang terbuka hijau banyak
dialih-fungsikan menjadi pemukiman, bandar udara, industri, jalan raya,
bangunan perbelanjaan dan lain-lain. Dengan semakin meningkatnya
kemampuan dan kesejahteraan masyarakat, pembangunan fisik kota terus
melaju dengan pesat. Namun peningkatan itu membawa dampak negatif,
salah satunya penyusutan luas lahan bervegetasi. Susutnya lahan
bervegetasi mendorong penghuni kota berbondong-bondong pergi ke luar
kota, mencari daerah hijau yang masih tersisa. Di tengah persaingan
hidup yang kian meninggi, kebutuhan rekreasi menjadi mutlak adanya.
Akhirnya
sebuah pemandangan yang jamak bisa kita saksikan. Tiap akhir pekan atau
masa libur, warga kota papan atas ramai-ramai "mengungsi" ke daerah
hijau nan sejuk. Umumnya, ruang hijau itu berada di luar kota. Kalau
buat orang Jakarta kawasan paling dekat adalah kawasan Puncak dan
sekitarnya.
Bagi warga yang tak berduit keluar kota adalah sebuah impian. Itu
sebabnya ruang terbuka pengundang keramaian di dalam kota, seperti
kebun binatang, taman rekreasi, kawasan pinggir pantai dan lainnya jadi
sasaran utama. Pokoknya, dengan bujet yang pas-pasan, mereka berharap
kebutuhan relaksasi tetap bisa terpenuhi. Murah meriah namun tetap
dapat unsur pelesirannya.
Pada waktu tertentu, liburan sekolah atau hari raya, ruang terbuka yang
hijau ini selalu dipadati pengunjung. Menurut Ning Purnomohadi, seorang
praktisi lingkungan, kejadian seperti itu sebetulnya bisa dihindari.
Kalau warga jeli, ada ruang terbuka hijau di dalam kota lainnya yang
bisa dimanfaatkan sebagai ajang pelesiran. Sebagai contoh, Ning lantas
menunjuk hutan kota.
Dari 16 lokasi hutan kota di Jakarta, kami memilih beberapa sebagai
lokasi contoh. Di antaranya, hutan kota Srengseng. Hutan kota ini
terletak di wilayah kota Jakarta Barat, Kecamatan Kembangan, Kelurahan
Srengseng. Kawasan ini bertipe hutan kota konservasi resapan air,
seluas 15 ha.
Hutan kota Srengseng punya bentang alam yang cukup beragam, dari lahan
datar, bergelombang sampai danau serta pulau yang ada di tengah
kawasan. "Luas danau itu kira-kira tujuh ribu meter persegi," sebut Iwa
Kustiwa, penanggung jawab hutan kota Srengseng.
Setiap hari ada saja yang mencoba peruntungan di danau ini. Lebih dari
setengah hari, mereka betah duduk di pinggir sambil berharap ada umpan
yang disambar ikan penghuni danau. Kata Iwa, ikan di danau itu berasal
dari pelepasan ketika kawasan ini pertama kali dibuka, sekitar 1995.
Selain aktivitas memancing, jalan-jalan keliling hutan juga menarik.
Sebab ada 68 jenis pohon yang ditanam. Sebut saja, Rambutan Irian, Kayu
Manis, Tanjung, Pilang, Buah Nona, Buni, Saga, Bambu Kuning, Bintaro,
Mahoni, Asam Ranji, Jati Lampung, Dadap Merah dan masih banyak lagi.
Tak jarang, di balik tajuk tanaman pelindung itu terdengar kicauan
burung. Kalau rajin mengintip dengan teropong sosok cerucuk, burung
gereja, kutilang, tekukur dan cabe-cabean terlihat jelas. Seperti kata
Ria Saryanthi dari BirdLife Indonesia, birdwatching di hutan kota tak
kalah menarik dengan di hutan luar kota. Di sebelah utara danau,
tumbuh warung-warung makanan dan minuman. Ada delapan warung yang
konstruksinya terbuat dari bambu. Ketika kami melintas, ada beberapa
pasang muda-mudi yang sedang menikmati kopi dan rokok.
Kalau mau santai bareng keluarga juga sangat memungkinkan. Gelar tikar
sambil membuka bungkusan timbel tidak diharamkan di sini. Tapi yang
harus diingat, sampah-sampahnya harus dikumpulkan. Berhubung tempat
sampah di hutan ini masih minim, lebih baik bawa pulang saja sampah
itu. Terutama sampah non-organik yang tidak mudah hancur. Kalau
melihat kelengkapan hutan kota Srengseng sebetulnya sudah cukup untuk
mengundang wisatawan lokal untuk mencicipi pelesiran alami. Di beberapa
bagian kondisinya cukup memprihatinkan, contohnya lampu penerang yang
sudah lenyap entah ke mana. Ruang informasi sudah ada tapi belum
berfungsi maksimal. Walau terbukti ada beragam potensi wisata,
kawasan ini hanya sanggup menarik segelintir orang. Seolah-olah mereka
terlupa dengan keberadaan hutan ini. Angka kunjungan paling "top"
dicapai pada Sabtu-Minggu, sekitar 80 orang. Padahal, harga tiket
masuknya sangat murah, cuma gopek alias lima ratus perak per orang.
Buat mobil bayar Rp 2.500, motor seribu perak.
Kelupaan masyarakat pada hutan kota boleh jadi karena minimnya
informasi dan promosi. "Gimana mau datang, kalau nggak pernah ada
promosi tentang hutan kota Srengseng. Jadi wajarlah, kalau nggak semua
orang Jakarta Barat tahu ada hutan ini," alasan Iwa dengan semangat.
Selain brosur wisata, jalan promosi itu bisa dilakukan dengan pemberian
papan penunjuk arah.
Usul itu masuk akal. Kami sendiri sempat mengalami kesulitan mencari
saat mencari hutan kota Kemayoran, di wilayah Jakarta Utara. Tiap orang
yang dijumpai di seputar bekas landas pacu bandara itu hanya mengangkat
bahu atau mengernyitkan dahi ketika ditanyai lokasi hutan ini.(SH/bayu dwi
mardana)
|
|