source : www.varioclub.com

Motor CVT Butuh perlakuan lembut  [image:
PDF]<http://www.varioclub.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=62>
 [image:
Cetak]<http://www.varioclub.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=62&pop=1&page=0&Itemid=2>
 [image:
E-mail]<http://www.varioclub.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=62&itemid=2>
  Ditulis Oleh Iceman
  Thursday, 25 October 2007   Motor CVT atau matik sangan gampang dikendari.
Tak perlu perseneling dan kopling, hanya gas dan rem, motor pun langsung
meluncur. Tetapi yang gampang ini ternyata tak selalu aman atau nyaman.
Kemudahan bisa jadi bahaya kalau tak biasa atau tak tahu cara mengendalikan
dengan benar.

Motor CVT atau matik sangan gampang dikendari. Tak perlu perseneling dan
kopling, hanya gas dan rem, motor pun langsung meluncur. Tetapi yang gampang
ini ternyata tak selalu aman atau nyaman. Kemudahan bisa jadi bahaya kalau
tak biasa atau tak tahu cara mengendalikan dengan benar.

*GAS
* Problem biasanya dialami orang-orang yang biasa memakai motor manual, lalu
beralih ke matik. Anatomi dan performa motor berbeda, tapi cara
memperlakukan si motor engak berubah. Tak ada lagi rem belakang atau
perseneling di kaki, semua kontrol ada di tangan. "Orang yang biasa bawa
motor manual perlu menyesuaikan diri. Ada kendala, kontrol yang biasanya di
kaki sekarang semua ada di tangan," kata Chris Djuli.

Lho, bukannya naik motor matik itu gampang? Betul sekali, tetapi tanpa
kontrol, semua kemudahan ini bisa jadi senjata makan tuan. "Skutik memang
gampang sekali, tinggal gas dan rem saja. Tapi karena itu banyak orang jadi
lepas kontrol, tahu-tahu sudah lari sangat kencang, tambahnya. Karena itu,
menggeber gas dan pengereman motor matik perlu dilakukan dengan sentuhan
yang berbeda. Pada motor matik yang bekerja dengan putaran, tidak akan
dihasilkan tenaga seresponsif motor manual. Performa yang cenderung lambat
ini, ternyata memang disengaja untuk safety.

Skutik bisa langsung meluncur begitu mesin dihidupkan, ini berbahaya buat
pengendara baru karena motor bisa meloncat liar. Karena itu skutik
dilengkapi pengaman, seperti pada Honda Vario ada kunci pengaman rem
belakang. Pada rpm tertentu baru bisa bergerak., sehingga untuk pemula bisa
start pelan-pelan. Biasanya mulai sekitar 1.500 rpm baru jalan. Jadi bukan
karena skutik lemot tapi memang disengaja untuk safety.

Karakter ini biasanya tidak memuaskan biker yang sebelumnya pemakai motor
manual. Akibatnya mereka sering geber gas habis-habisan karena mengharap
performa yang lebih galak. Padahal, motor matik mestinya diperlakukan dengan
lembut. Motor matik tarikannya lebih halus. Meskipun gas ditarik keras,
tetap perlu waktu yang lebih lama untuk merespon. Roller CVT-nya enggak bisa
langsung membuka dengan cepat untuk menghasilkan lompatan tenaga yang besar"
papar Riswandi, dari PT YMKI.

Kalau sering dipaksa narik terlalu keras motor bisa jadi lebih rakus bahan
baker. Untungnya motor matik disini rata-rata cc nya masih kecil antara
115-125 cc. Kalau kapasitas motornya lebih besar, konsumsi bahan bakar lebih
besar lagi, katanya. Saat gas ditarik keras, gerakan CVT otomatis juga lebih
cepat, tingkat keausannya pun jadi lebih tinggi. Tapi ini tidak terlalu
besar pengaruhnyakarena dari awal desainer motornya telah mengantisipasi
dengan pemakaian material yang tahan gesek.

*REM*

Pengaruh dan bahaya terbesar justru muncul dari cara pengereman yang salah.
Kalau motor manual bisa dibantu engine brake, pada motor matik bergantung
sepenuhnya pada rem di tangan. Kalau masih baru, biasanya kagok, mestinya
tangan sudah ngerem, malah cari-cari pijakan kaki. Akibatnya telat berhenti
atau ngerem habis-habisan, papar Chris.

Kalau kecepatan motor tidak terlalu tinggi, rem belakang saja sudah cukup
untuk menghentikan motor. Tetapi kalau motor tengah melaju kencang, perlu
trik yang berbeda kalau mau berhenti dengan selamat. "Tarik rem dua-duanya,
depan dan belakang secara bersamaan, tapi jangan keras-keras. Pelan-pelan
saja agar ban belakang enggak ngebuang, saran Chris. Atau yang lebih enak
pakai combi brake, jadi sekali tarik salah satu tuas rem maka kedua-duanya
roda depan dan belakang otomatis langsung berhenti.

*Stop and Go*

Selain itu buang kebiasaan menarik gas dan rem pada saat bersamaan. Ini
biasanya dilakukan pengendara yang terjebak kemacetan, agar bisa stop and go
dengan cepat. Tak hanya memperpendek umur rem belakang, kebiasaan tersebut
bisa juga mengancam rumah kopling dan roller CVT.

"Outer shift atau rumah kopling belakang jadi seperti terbakar dan slip.
Kalau dibongkar bagian belakang rumah koplingnya berwarna kebiruan, ungkap
Riswandi. Sementara kebiasaan main gas dan saat masih mengerem disebutnya
bikin roller cepat peyang. Kemakan oleh gesekan tapi pada posisi yang enggak
rata akibat akselerasi naik turun dengan cepat tadi. Ribet? Enggak juga,
kuncinya gampang saja, selalu perlakukan matik dengan lembut. *Nawita,
Sumber:otomotif*

-- 
Andry Berlianto
http://lampuhijau.wordpress.com/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike)
-----------------------------------------------------------------------------------------------
We moderators work for free only for your convenience in our milis.
Help us and obey the rules or be gone!
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk mengirim ke milis email ke [email protected]
http://www.inbike.org
http://inbike-2006.fotopic.net
http://inbike.multiply.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke