dari Wikimu *Bajaj, Hanya Sopir dan Tuhan yang Tahu Kapan Akan Belok*
oleh: illian deta arta sari Kanal: Layanan Publik Bajaj memang benar-benar luarrrr biasa. Tanpa lampu sign, si langsing yang bersuara cempreng ini bisa seenaknya belok sesuka-sukanya abang sopir. Wuss.. Lampu merah pun diterobos... Selama sekitar dua tahun tinggal di Jakarta, jumlah saya naik bajaj hanya itungan jari saya. Itupun karena terpaksa soalnya diajak sang suami. Kakang mas bukannya hobi naik bajaj, tapi dia selalu bilang mau memberi rejeki pada sopir-sopir bajaj. ''Kalau semua orang maunya naik taksi aja dan nggak mau naik bajaj kan kasian mereka,'' katanya dengan raut muka innocent. Alhasil, sayapun bisa manut mau naik bajaj. Tiap kali naik bajaj, saya rasanya ketar-ketir dan ikut melotot ke depan, ke kiri atau ke kanan. Terutama pas mau belokan atau di pertigaan atau perempatan atau pas melewati rel kereta api. Ampun deh, saya benar-benar takut kalau bajaj yang merupakan hasil impor barang bekas dari India tahun 60an itu macet di tengah rel trus ada kereta lewat. Terakhir naik bajaj kebetulan dua hari lalu. Saya perhatikan, sopir yang saya tumpangi sama saja dengan sopir-sopir yang l ain. Cuek bebek selama di jalan, seolah jalan milik embahnya. Dengan tubuh bergetar kena goncangan mesin bajaj, saya terus berpegangan sandaran kursi sopir yang penuh karat dan terus melihat sekitar jalan. Saat di lampu merah di dekat Plaza Arion Jakarta Timur, si sopir terlihat tengok kanan, tengok kiri. Kemudian, sedikit demi sedikit memajukan bajajnya sampai melebihi garis batas. Seperti yang saya duga dan saya kira, pas agak sepi, pak sopir langsung aja tancap gas dan suara bajajnya seperti kepayahan.. walahh. Saya hanya bisa ngelus dada. Kalau saja bajaj bisa ngomong, mungkin dia akan menjerit njerit dipaksa kerja berat meski sudah reot. hehe Soal belok, bajaj tampaknya juga cukup lihai dan cenderung nekat. Dari pengamatan saya, kayaknya hampir semua bajaj lampu signnya mati. Tul gak?? Nah, untuk belok, modalnya cuma melambaikan tangan. Padahal, kalau dilihat dari luar bajaj, tangan si sopir hanya kelihatan telapat tangan dadah-dadah saja.. Dan kemungkinan besar, kendaraan yang melaju kenceng di belakangnya atau di depannya akan sulit melihat.. Bisa dikatakan,hanya sopir dan Tuhan yang tahu kapan bajaj akan belok..ya tho? Meski kondisi bajaj memprihatinkan, angkutan ini kayaknya nggak ada matinya. Dari jaman dulu kala, sampai sekarang tetep saja ada yang naik. Mungkin apa yang dipikirkan para penumpang itu kayak suami saya.. Kalau dilihat dari segi kenyamanan, ya semua tentu milih naik taksi. Toh tarifnya nggak jauh-jauh beda amat. Ya tho? Tapi kenyataannya bajaj tetap laris manis. Walau saya tidak suka naik bajaj, tapi rasanya kasian kalau pemda DKI mau memusnahkan begitu saja keberadaan mereka tanpa memberi alternatif pekerjaan bagi para sopirnya. Bayangin saja, berapa kepala yang menggantungkan hidup dari kerja pak sopir-sopir itu… -- <B 6123 KMJ Blaze Red Vario> KHCC 011 <> F.S.R.J http://lampuhijau.wordpress.com/ http://revo-me.blogspot.com/ ---------------------------------------------- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike) ----------------------------------------------------------------------------------------------- We moderators work for free only for your convenience in our milis. Help us and obey the rules or be gone! ----------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED] Untuk mengirim ke milis email ke [email protected] http://www.inbike.org http://inbike-2006.fotopic.net http://inbike.multiply.com -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

