Diambil dari : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5627&post=5

Akhirnya, saya kini menggenggam SIM A terbitan Polda Metro Jaya. Dan, saya
sama sekali tidak merasakannya sebagai sebuah kemewahan. Saya awali kisahnya
saat mendaftar ke sebuah kursus mobil di kawasan Benhil, tepat di depan RSAL
Mintoharjo, Jakarta Pusat. Petugas resepsionis sekolah mengemudi yang
menyewa sebuah rumah petak itu menyodorkan list jenis dan biaya kursus,
berbeda-beda menurut tingkat kecakapan (memperlancar atau kursus dasar),
hari kursus (weekend atau weekdays) dan layanan mobil yang digunakan (AC or
non AC).

"Saya belum bisa nyetir sama sekali, mbak," kata saya. Selain perempuan
front office itu, seorang laki-laki tampak tiduran di meja pendaftaran
dengan santainya.
"Wah, kalau itu ya mulai dari dasar," jawab mbak penjaga sambil mengarahkan
tangan ke list seharga lebih dari Rp 1 juta. Itu paket termahal, karena
merupakan paket dasar dengan 16 kali pertemuan masing-masing 1 jam, kelas
sabtu-minggu, dengan mobil berpendingin ruangan. Belum termasuk biaya
mengurus SIM Rp 505 ribu.


"Oke, saya ambil ATM dulu ya," pamitku. Sampai di parkiran, lelaki yang tadi
bersantai di meja pendaftaran mengejarku. Ia mengenalkan namanya, Imin,
salah seorang instruktur mobil di kursusan itu. "Nanti kursusnya sama saya
saja, mas," kata Imin, pria asal Jawa Tengah yang sudah merasa sebagai
Betawi Pejompongan. Intinya, ia menawarkan sebuah "kerja sama" menarik.
"Ngapain ikut 12 atau 16 kali pertemuan. Udahlah, sama saya saja, ikut yang
6 kali. Ditanggung bisa, asal tipnya digedein" katanya.

Untuk paket paling murah di weekend class, dengan 6 kali mentoring,
ongkosnya Rp 400-an ribu, ditambah biaya pendaftaran Rp 20 ribu. Untuk
setiap pertemuan, ada kewajiban memberikan tip kepada instruktur, antara Rp
7.500 sampai Rp 12.500,- tergantung kelas yang diikuti. Kami sepakat mematok
angka tip Rp 20 ribu. "Terus, ngomongnya jangan yang pakai AC. Coba hitung
berapa selisih pakai mobil AC dan non AC?" tanyanya. Otakku berputar cepat,
sebelum kemudian menjawab "Rp 120 ribu." "Nah, kasih aja separohnya buat
saya. Nanti, mas bilangnya pakai paket non-AC," katanya.

Begitulah, sesuai kesepakatan dengan Imin, esoknya saya sudah menjalani
kursus hari pertama. Saat dilepas bapak si empunya kursus, kaca mobil masih
terbuka. Namun 100 meter kemudian, kami menepi, menutup kaca mobil, dan
menyalakan pendingin ruangan. "Dasar, Indonesia, semua bisa diatur,"
umpatku. Tiga kali pertemuan menjalani kursus, dari paket enam kali
pertemuan, saya menghadap ibu pemilik kursusan. Ingin mendaftar SIM
kolektif.

"Oh, tidak apa-apa, Jojo... Meski kursus belum selesai, boleh kok Jojo
mendaftar ujian SIM. Yang penting bayar Rp 505 ribu. Di sini SIM kolektif
hanya tiap Sabtu ya," kata ibu 50-an tahun ini dengan genitnya. Maka, Sabtu,
15 Desember menjadi hari bersejarah ketika jam 9 pagi saya sudah berdesakan
di mobil kijang hitam berstiker "Sekolah Mengemudi". Berdelapan, kami
berangkat menuju Satlantas Polda Metro Jaya di Daan Mogot. "Dari cabang
Benhil ini hanya 8 orang. Tapi, jangan khawatir, di sana temannya banyak,
kok," pesan ibu genit tadi sebelum melepas kami.

Benar juga, sampai di parkiran Satlantas Daan Mogot, ternyata rekan senasib
kami, dari berbagai cabang kursus mobil bernama sama di seantero Jakarta,
ada 170 orang. Tak heran, saat bergerombol menuju ruang pendaftaran, para
makelar SIM berteriak, "Oh, ini neh rombongan pengantinnya..." Anjrit!
Sejak dari luar gedung, di tepi jalan Daan Mogot, para calo itu sudah
mengintai mangsa. Bahkan, aksi "biro jasa" ini pun sampai ke mbak-mbak
penjaga kantin. "Udah ada yang bantu, mas?" kata pelayan di warung makan
dalam komplek pelayanan SIM menyapaku. Padahal, sebuah baliho besar terbaca
menyolok mata, "Hindari Pengurusan SIM lewat Perantara/Calo".

Kembali ke parkiran. Saat briefing sesama calon peserta ujian SIM, bapak
pemilik cabang kursusan Benhil memberikan nomer ponsel seorang "anggota
polisi" yang dapat dihubungi kalau kami menemui kesulitan. Bapak ini akan
menolong kalian. Ia ada di dalam," katanya seusai mendiktekan nomer CDMA
itu. Kami melangkah masuk ruang kaca menjelang ujian teori, lalu menukar KTP
dengan pass bertuliskan "Tanda Masuk Pemohon SIM". Di dalam ruangan ujian,
polisi penjaga ruangan mengatakan, ada 30 soal ujian teori. Untuk bisa
lulus, peserta ujian harus menjawab minimal 18 jawaban benar. Ia lalu
berteriak, "Mana yang bukan dari sekolah mengemudi?" Beberapa orang
mengacungkan tangan, lalu maju dan mendapat soal ujian. Sisanya, peserta
ujian lain yang tidak mengangkat tangan, termasuk saya, mendapat soal ujian
yang diedarkan petugas.

Well, soal berukuran kertas dobel folio dilaminating itu telah penuh berisi
coretan bolpoin di atas plastik laminating. Dari tiga atau empat jawaban
pilihan berganda misalnya, sudah ada kode mana jawaban yang benar. Tak butuh
waktu lama, saya kumpulkan jawaban soal mengenai berbagai peraturan
lalu-lintas
itu. Saat tak sabar menunggu lama proses selanjutnya, saya sempatkan
menelpon bapak polisi bernomer CDMA tadi. "Sabar saja, mas... Nunggu saja
di depan loket foto. Abis ini ujian praktek," katanya. Berkali-kali dari
pengeras suara terdengar suara polwan berseru memanggil beberapa nama yang
telah mengikuti ujian teori, "Bagi nama-nama berikut, peserta ujian teori
yang masih ada kendala, harap masuk. Akan kami arahkan..." Tak ada nama saya
disebut.
Singkatnya, saya pun telah berpanas-panas di depan lapangan tempat ujian
praktek digelar. Seorang instruktur ujian dari Polda menerangkan apa saja
yang akan diujikan, sesuai kertas panduan yang kami pegang.


Ada 18 item tes untuk dilakoni, termasuk tes menanjak, menikung, berputar,
parkir, dan lain-lain. Dengan logat Batak ia berteriak, "Kalian relakan saja
ya, hari ini berpanas-panas di sini," katanya (sok) memlonco. Nama saya
dipanggil bersama tujuh orang lain untuk melakoni giliran ujian praktek
mengemudi. Kembali berdesakan di Mobil Kijang, seperti saat berangkat ke
Daan Mogot, saya memilih di kursi belakang. Instrktur di kursi depan mobil
berkata, "Karena waktunya pendek, pesertanya banyak, nanti jalan lima
meter-lima meter saja, ya. Langsung keluar, gantian... Kalau mau pakai mobil
yang lama, nanti malam saja sambil Malam mingguan, kalau sudah punya SIM. Di
sini panas, kasian teman-temannya.." Hmmm... maka ujian praktek formalitas
pun berlangsung. Tak lebih lima
menit untuk tiap orang.


Tiba giliran saya, ups... baru angkat kopling, mesin mati. Makanya, kalau
narik kopling jangan langsung, separuh aja," kata pak instrukur dengan gaya
jaimnya.
Baru beberapa meter mobil melaju, saya disuruhnya keluar, "Udah, udah
gantian..." Eh, saking terburunya, saya lupa menetralkan persneling. Bapak
polisi ini melotot lagi, "Dinetralin dulu dong, jangan keburu kabur..." Usai
ambil pose di ruang foto, kami terdampar di ruang tunggu. Berbagai poster
terpasang di sana, salah satunya berbunyi, "No Say: SIM asal-asalan..."
Sekali lagi, selamat datang di republik jargon.

Ingatan saya melayang saat seorang teman menceritakan sulitnya proses
mendapatkan SIM di Australia. Sambil memegang kemudi di Bruce Highway yang
menghubungkan Brisbane dan Sunshine Coast, kawan ini bercerita, ujian SIM di
Oz tak cukup teori dan praktek di kantor polisi. "Calon pemilik SIM harus
menjalani praktek mengemudi selama beberapa ratus jam berbulan-bulan di
jalan raya, dengan didampingi rekannya yang telah memiliki SIM cukup lama.
Jadi, kalau ada apa-apa, temannya itu jadi jaminan," paparnya. Hmmm... lain
ladang lain belalang, lain lubuk, lain ikannya. Di sini, untuk bisa dapat
SIM A, ibaratnya, sambil memejamkan mata pun bisa. "Jangan kuatir, mas. Tak
ada cerita orang dari kursusan sini gagal dapat SIM. Sekalipun ia tidak bisa
menstarter
mobil, pasti SIM akan keluar," omongan Imin itu membekas di memori otak
saya.

Hampir 14.30 Waktu Jakarta, atau sekitar lima jam dari kedatangan awal saya
di Satlantas Daan Mogot, nama saya dipanggil. Jadilah, kini, koleksi kartu
di dompet saya bertambah satu: SIM A keluaran Polda Metro Jaya. Hari Minggu
keesokan harinya, saya kembali menjalani kursus mengemudi. Kali ini dengan
SIM A berbekal di saku, dan mengajak seorang teman yang berkunjung dari luar
kota. Hasilnya, meski saya didampingi Imin sebagai instruktur di bangku
depan sebelah kiri, teman itu terus berteriak, "Jo, hati-hati, aku belum
kawin..." Sejam kemudian, kursus selesai. Kursus mengemudi pertama dengan
SIM di tangan ini berakhir dengan sukses: saya mendaratkan mobil kursusan
naik ke atas trotoar tepat di depan sekolah mengemudi! Baik Imin maupun
sahabat saya, sama-sama meraba jantungnya yang serasa hampir copot selama 60
menit mendebarkan itu.

-- 
<B 6123 KMJ>
KHCC 011 <> F.S.R.J <> CV 6123
http://lampuhijau.wordpress.com/
http://revo-me.blogspot.com/
----------------------------------------------

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike)
-----------------------------------------------------------------------------------------------
We moderators work for free only for your convenience in our milis.
Help us and obey the rules or be gone!
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk mengirim ke milis email ke [email protected]
http://www.inbike.org
http://inbike-2006.fotopic.net
http://inbike.multiply.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke