fyi

----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Untung <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Rabu, 13 Febuari, 2008 2:22:08
Topik: [Yamaha-Matic] (OOT) Kapolda Jabar : "Jangan Pernah setori Saya"

Jadi pengin pindah region neh.. kalau memang benar2 seperti cerita di 
bawah...

Untung

----- Original Message ----- 

Sent: Wednesday, February 13, 2008 1:53 PM
Subject: [sd-islam] (OOT) Kapolda Jabar : "Jangan Pernah setori Saya"

Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,
"Jangan Pernah setori Saya"
Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008

RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H.,
M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai
tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke
Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan
itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.

Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit.
Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan
"menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua
kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di
lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan
lainnya). "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin
kaya.

Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi
pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya,
malah ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera
Selatan itu.

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari
pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta
kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat
mutu, dan tepat biaya.

Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah,
menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan
masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata
suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di
lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir
ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh
Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga
menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi
Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK
(Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji
besi.

Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri
dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar
menguak korupsi.

Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau
korupsi?

Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja
sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan.
Terbayang 'kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan
yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke
Akpol karena gratis.

Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa
di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat.
Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang
rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar
di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat.
Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat
mengabdi di PPATK. Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini
karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN,
yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.

Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang
melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?

Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau
pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar
adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya
usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah.
Apalagi, jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai
aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.

Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam,
baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati,
direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi.
Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini. Tahap awalnya biasa
saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, yaitu saya,
selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda.
Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di
Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari
polisi yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari
tukang ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte
kelahiran. Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor
itu. Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-
macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-
pengusaha, mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran
anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari
dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran
mereka, atau uang bensin mereka.

Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan
karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah
saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.

Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai
kapan?

Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita
menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut
nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita
tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau
polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di
koran. Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat.
Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena
semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus
ditakutkan. Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari
korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya
justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang
anggotanya banyak korupsi.

Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus
korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik
tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi
dengan alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga
memakan waktu lama?

Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh
lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap
kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak
kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat,
dan beberapa kemungkinan lainnya. Kalau kasus korupsi, tidak perlu
polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas
ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-
orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling
melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan.

Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang
sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang
kuat. Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena
korupsi itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan. Contohnya
saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda.
Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang.
Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau
saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk
apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji
saya saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada
uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga
sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.

Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat
mengungkap kasus korupsi?

Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah
bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan
menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus
korupsi biar Jabar bergetar. Untuk itu, kami akan berkoordinasi
dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus korupsi di Jabar yang
melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu asalkan anggota
saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi kasus-kasus.
Kalau tidak bersih dan tetap "bermain" bagaimana bisa dipercaya.
Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang masuk.

Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi
digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib
administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara
berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa?
Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk. Jadi, alangkah
bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah perkara di
jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu
isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada
klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil,
polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi.
Soal lapor boleh di mana saja.

Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan
mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik
ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan
menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui
semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling
tidak suka yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang,
pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu
paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?

Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar
kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan
anggaran yang minim. Menurut Anda?

Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau
anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik.
Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain.
Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis
untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.

Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak
perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu
kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk
melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu
saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran. Bukan zamannya lagi
seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena mampu
membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari
setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi,
dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp
5-6 juta.

Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin
kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.
Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di
lingkungan kepolisian?

Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana
yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas
dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu
diperdebatkan. Titik.

Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan
kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan
sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua
jalan petantang-petenteng , tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi
dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong
kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , sementara
rakyat macet. Itu juga korupsi.

Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya
korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya
dengan pelacur. ***
.

<http://geo.yahoo. com/serv?
s=97359714/grpId= 10149351/ grpspId=17076988 57/
msgId=2400/stime= 1202863294/ nc1=5008864/ nc2=3848580/ nc3=5191955>

[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---


__._,_.___ 
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Links | Database | Polls | Calendar 
please visit http://www.yamaha-matic.org

"Misi dan Visi Yamaha-Matic Mailing List (YMML)adalah komunitas yang mengajak 
member milist untuk kompak, guyub, bisa saling berbagi rasa dan tolong 
menolong, dan membawa kemajuan bagi dunia otomotif khususnya para pembesut dan 
penggemar Yamaha Matic."

 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
 2New Members
Visit Your Group 
Yahoo! Finance
It's Now Personal
Guides, news,
advice & more.
Women of Curves
on Yahoo! Groups
A positive group
to discuss Curves.
Y! Groups blog
the best source
for the latest
scoop on Groups.. 
__,_._,___


      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike)
-----------------------------------------------------------------------------------------------
We moderators work for free only for your convenience in our milis.
Help us and obey the rules or be gone!
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk mengirim ke milis email ke [email protected]
http://www.inbike.org
http://inbike-2006.fotopic.net
http://inbike.multiply.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke