[ SUMBER <http://blanknotebook.wordpress.com/2007/09/12/lampu/> ]
Menunggu giliran jalan saat lampu merah menyala, di salah satu persimpangan jalan protokol yang ramai di Jakarta memang bukan perkara mudah. Bukan karena tidak sabar menunggu, namun lampu lalu lintas di Jakarta bisa berarti bermakna lain. Sejak komposisi warna menjadi acuan jalan, siap berhenti dan stop pada lalulintas kendaraan, seharusnya menjadi bahasa universal di setiap arus lalu lintas di muka bumi ini, atau bahkan di alam semesta lain juga mungkin berlaku hal yang sama. Warna hijau yang bisa berarti ketenangan diterjemahkan sebagai "aman untuk berjalan" atau "giliran anda jalan", warna kuning berarti kurangi kecepatan atau bersiaplah untuk berhenti dan tentu saja warna merah yang secara universal menandakan emergency, bahaya yang dalam per-lalu lintasan berarti berhenti tanpa terkecuali dan biarkan orang lain lewat dahulu. Semua "pengendara" moda angkut yang ada di Jakarta, mobil dan motor bahkan pengendara sepeda dan pejalan kaki, sadar atau tidak sadar "mestinya" merasakan hal yang berbeda dari definisi warna lampu tersebut, baik sebagai pihak yang "dirugikan" atau sebagai pihak yang justru "merugikan". Pihak yang terakhir kelihatannya merupakan pihak mayoritas pengguna jalan dan biasanya tidak terlalu "sadar" akan tindakannya. Kita mulai dari anomali lampu hijau. Pada saat lampu hijau menyala paling sering disertai oleh simfoni klakson kendaraan yang biasanya berada di grid kedua sampai ke belakang. Lampu hijau seolah berarti "bunyikan klakson anda" atau bahasa kejiwaannya ; "jika lampu hijau menyala segeralah klakson kendaraan di depan anda agar anda tetap kebagian lampu hijau tersebut". Lampu kuning punya cerita yang sedikit berbeda. Berbeda lantaran anomalinya terlihat justru pada saat kendaraan sedang berjalan. Sering kita lihat kendaraan yang tadinya lemah lembut saat akan melalui lampu yang masih hijau berubah menjadi mobil atau motor balap yang kencang saat sadar lampu sudah berubah jadi kuning. Lampu kuning berarti ; "injaklah atau putarlah pedal gas atau tuas gas anda sedalam-dalamnya, jangan sampai anda terperangkap lampu merah". Yang terjadi kemudian menjadi lucu, kendaraan yang benar-benar akan siap berhenti karena faham benar makna warna kuning, malah dilakson habis-habisan dengan kendaraan di belakangnya seolah dipaksa jadi "pembalap" juga. Sudah barang tentu lampu merah-lah yang punya definisi anomali amat "fenomenal". Bayangkan saja, cuma gara-gara lampu merah sering terjadi kecelakaan beruntun dari kendaraan-kendaraan yang "terlanjur" jadi pembalap saat lampu kuning menyala dan seolah "lupa" bahwa di kendaraanya ada elemen teknis yang namanya rem. Belum lagi sebagian kendaraan roda dua yang "senang" menunggu lampu merah "melebihi" batas yang ditentukan sehingga menyulitkan pejalan kaki untuk lewat di zebra cross, yang mungkin menjadi lebih cocok jika diberi nama zebra zig-zag karena toh harus berjalan "zig-zag" melewati motor-motor. Lampu merah yang baru saja menyala juga lebih sering diartikan sebagai ; "kalo kendaraan dari arah lain masih kosong atau belum lewat, kita masih bisa lewat asal tekan dan putar gas dalam-dalam". Alih-alih sebagai sinyal berhenti, malah diaanggap sebagai sinyal untuk "jalan asal kesempatan masih ada". Lain lagi cerita tentang lampu sein. Yang fungsinya untuk memberi tanda pada kendaraan lain jika kendaraan kita akan belok atau mengambil antrian. Lampu sein mengingatkan saya akan cerita salah satu teman saya yang ke kantor menggunakan mobil. Sebut saja namanya Ekky. " Wah kalo nyalip di Jakarta sih jangan pernah deh nyalain sein…..", tukasnya. " Lho kenapa begitu brur….? ", tanya saya kurang mengerti, maklum saya lebih sering naik bis akhir-akhir ini, mengingat sekarang lebih sering bepergian jarak pendek (kurang dari 20km). " Di jalan sih lucu…., kita mau nyalip baik-baik dengan nyalain sein 'jauh-jauh hari', kendaraan lain yang kita minta malah nglakson dan ngegas buat ngeblok jalan kita….padahal sebelum sein dinyalakan jaraknya jauh dan cukup untuk mobil gue masuk ! ", jawabnya dengan nada kesal. "Masak sih…? Trus gimana dong kalo mau nyalip biar dikasih…?", tanya saya lagi. "Begitu ada kesempatan, langsung masuk aja…. Nah biasanya kendaraan yang belakang kaget dan akhirnya nglakson juga sih…..baru deh kita nyalain sein…., yang penting kan dapet tuh posisi….", tukasnya sambil tertawa garing. "Yah kalo gitu mobil loe ngapain ada lampu seinnya….", jawab saya sambil bercanda. Di jalan raya memang banyak orang yang akhirnya tiba-tiba jadi orang "pelit" atau merasa jalan raya dulunya bagian dari tanah leluhurnya, sehingga merasa sangat-sangat tidak rela jika ada kendaraan lain menyalip di depannya. Padahal kalau ditilik lagi, lampu lalu lintas dan lampu-lampu lain yang ada di kendaraan, selain untuk memudahkan pengaturan lalu lintas dan berkendara juga digunakan untuk mengatur hak dan kewajiban dari pengguna jalan, yang diatur secara bergiliran sesuai dengan "hak"-nya. Jika "hak"-nya sedang dapat lampu hijau berarti meamang harus jalan begitu juga sebaliknya, jika "hak" kita sedang merah harus berhenti. Nah jika pengertiannya demikian maka anomali dari definisi yang berbeda dari lampu lalu lintas justru malah melanggar hak orang lain, atau lebih tepatnya "mencuri" hak orang lain. Pada saat lampu merah, tapi kita masih nekad jalan, maka kita baru saja "mencuri" hak pengendara lain yang akan jalan. Pada saat lampu kuning, kita malah meng-klakson kendaraan di depan kita maka kita baru saja "mencuri" hak-nya untuk bersiap-siap berhenti. Begitu juga jika lampu hijau, jika kita dengan semangat 45 meng-klakson mobil di depan kita untuk jalan, maka kita baru saja "mencuri" hak dia untuk bersiap-siap dengan tenang masuk gigi satu. Jika kita "tutup" jalan sebuah mobil atau motor yang akan menyalip kita setelah memberi tanda sein, maka kita baru saja mengambil haknya untuk memakai bersama jalur yang searah dengan kita. Jika kenyataannya demikian, maka korupsi (baca : pencurian hak) sudah terjadi saat kita berangkat ke kantor, ke pasar, ke mall, ke sekolah, dll. Kelihatannya sepele, tapi efeknya adalah sama saja dengan mencuri "hak" orang lain, dan seringnya "korupsi" di jalan ini dilakukan berjamaah dan bergotong royong sesama moda angkut yang sama. Apakah kendaraan yang sudah kita miliki masih kurang sebagai alat bantu yang memudahkan kita dan perlu kita syukuri kepemilikannya, atau bahkan terkadang untuk mengaktualkan diri kita, sehingga kita masih perlu "mengambil hak orang lain" di jalan ? Anomali definisi lampu ini juga mengandung definisi egoisme di jalanan. Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya adalah para pemakai jalan di Jakarta sebenarnya adalah korban dari "keterdesakan" yang tidak perlu. Atau lebih tepatnya jika kita merasa sebagai "korban" maka disitulah selalu timbul egois atau mau menang sendiri. Pengendara motor sering merasa dirinya "korban" dari "kesulitan" dan merasa sebagai pengendara kelas dua atau yang dianak tirikan di jalan sehingga mereka merasa pengendara mobil harus "mengalah" pada mereka, pengendara mobil merasa dirinya sebagai "korban" dari pajak yang harus dibayar lebih mahal, merasa sebagai konsumen bahan bakar yang lebih banyak, sehingga merasa butuh untuk "diistimewakan", para pengemudi kendaraan umum merasa dirinya adalah "korban" sistem bisnis yang mengharuskan mereka "kejar setoran" sehingga mereka merasa boleh dimaklumi jika ugal-ugalan di jalan. Singkatnya jika kita merasa sebagai korban maka kita seolah merasa sebagai bagian dari yang "terdesak" sehingga butuh aktualisasi diri baru dan butuh pembenaran untuk "menang", yang tentu sifatnya "mendesak" dan merugikan orang lain jika direalisasikan. Dari sanalah ego kita bersumber. Saya cuma membayangkan jalan di Jakarta dimana para pemakai mobil bisa lebih memahami sulitnya para pemakai motor yang perlu keseimbangan dan energi yang lebih melelahkan untuk mengontrol kendaraannya, sehingga lebih bisa menerima dan memaklumi. Toh para pemakai motor malah perlu diacungi jempol, karena sudah berupaya untuk lebih "hemat" dalam pemakaian bahan bakar dan mengkontribusikan lebih sedikit pemanasan global. Atau para pemakai motor yang bisa merasakan sulitnya para pejalan kaki saat menyebrang, akan naik dan turun ke dan dari bis, jalan di trotoar sehingga tidak menyalip dari sebelah kiri yang akan menyulitkan orang yang akan naik dan turun bis, tidak perlu memakai trotoar pejalan kaki untuk potong jalan sehingga pejalan kaki lebih aman jika melaluinya. Begitu juga para pemakai bis, metromini dan kopaja, yang bisa lebih bijak untuk membayar penuh dan bukan karena jarak tempuh lantas hanya membayar setengah, toh sebenarnya jauh dekat kan tetap harus dibayar "full". Sehingga tidak perlu membuat stress pak supir dan kondektur dalam mengejar setoran. Dan berharap pak supir jadi bisa lebih bijak saat di jalan. Lantas kenapa semua ini masih terasa sulit untuk kita lakukan ? Apakah karena kita merasa kitalah orang yang paling sibuk dan menjadi sangat perlu didahulukan di jalan ? Apakah karena kita adalah bagian dari orang-orang "kalah" sehingga masih perlu kemenangan dengan mengorbankan orang lain ? Kurangkah kendaraan yang kita pakai untuk menunjukkan gaya hidup kita, sehingga kita masih perlu menunjukkan itu semua dengan arogansi kita di jalan ? Atau karena kita merasa menjadi seseorang yang perlu "dihormati" sehingga perlu didahulukan ? Jika kita bukan bagian itu semua, mulai saat ini saya tantang anda semua, untuk menjadi pemenang sebenarnya dengan mendahulukan, memberi dan menghormati hak orang lain di jalan. Berhentilah jika lampu merah ! Dan berhentilah mengambil hak orang lain di jalan….. -- <Redd Cyser B 6193 KPL> REDUCE SPEED, MAKE WAYS FOR SAFETY ! http://www.jalanraya.net/ http://gueandry.blogspot.com/ http://redd.dagdigdug.com/ ---------------------------------------------- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda tergabung dalam milis Indosat Bikers Community (InBike) ----------------------------------------------------------------------------------------------- We moderators work for free only for your convenience in our milis. Help us and obey the rules or be gone! ----------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk mendaftar kirim email data diri ke [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar milis kirim ke [EMAIL PROTECTED] Untuk mengirim ke milis email ke [email protected] http://www.inbike.org http://inbike-2006.fotopic.net http://inbike.multiply.com -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

