Sebuah cerita dari S'pore yg dimuat di Kompas Online. Seperti yg 
 saya bilang, S'pore itu negara diktator totaliter yg dibungkus dalam 
 ekonomi liberal.
 
 http://kompas. com/ver1/ Kesehatan/ 0610/27/131042. htm
 
 Just another sad story 
 (Willy Sutrisno - Singapore)
 
 Dear Zev,
 
 Minggu ini terjadi lagi kejadian orang meloncat ke trek MRT yang 
 sedang melaju di stasiun "Chinese Garden". Ironisnya dalam 1 tahun 
 belakangan ini kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi. 
 Padahal dulunya tidak pernah tidak terdengar. Dan hampir semua bunuh 
 diri ini dilakukan atas dasar himpitan ekonomi. Biasanya media akan 
 mencari tahu kenapa sampai orang-orang ini mau mengakhiri hidupnya 
 dengan tragis. Untuk kasus orang ini, koran menulis bagaiman 
 susahnya hidup keluarga ini. Silahkan baca translasi dalam bahasa 
 inggris yang dibuat oleh seseorang (aslinya dalam bahasa mandarin di 
 koran chinese): 
 
 Mr Tan was unemployed for the past 4 months. the family had to rely 
 on his wife $500 monthly income and had been having instant noodles 
 for their meals. The wife was anxious when the utilities and 
 conservancy charges and their son's school fee piled up to more than 
 $1,000. Mr tan promised his wife that he would find the money to pay 
 the bills. In the evening, he passed $9 to his younger son for his 
 elder son's ezlink top-up and the family's dinner. Before he left 
 home, he told his son "daddy is leaving for work, you have to look 
 after mummy, you all have to take care." 
 
 That day around 10pm, he jumped onto the track along chinese garden 
 MRT. His body was cut into three pieces by a westbound train, and 
 died on the spot. He left behind his 43 years old factory worker 
 wife and two sons aged 13 and 15 years old. they lived in a spartan 
 three-room flat in boon lay. He was a odd-job labourer, but had not 
 been working for the past 3-4 months after he lost his job. His wife 
 didn't even have the money to take public transport to claim his 
 remains. The police officer had to give her $5 last night, west 
 coast GRC (boon lay) MP and grassroot leaders went to mr tan's 
 funeral wake, and pass $1000 cheque to his family 
 
 MP said if the tan family had look for help from the grassroot 
 organisations, the tradegy would have been avoided. She said 
 actually govt provide a lot of assistance schemes for the people, 
 but people are unwilling or don't know how to get help.
 -end-
 
 Angka-angka dalam dolar tersebut jangan dirupiahkan dan dibanding 
 dengan 'living cost' di jakarta. Untuk ukuran suatu family 
 Singapura, $500 per bulan adalah sangat-sangat ekstrem dan 
 menyedihkan. Ironisnya setelah berita itu muncul di koran, 
 masyarakat umum berbondong-bondong menyumbangkan uang ke keluarga 
 ini. Memberikan kesan kalau Mr Tan sengaja meloncat di stasiun MRT 
 karena akan memberikan efek publisitas yang tinggi. Kalau saja dia 
 bunuh diri dengan meloncat dari gedung tinggi (menurut rumor tiap 
 hari setidaknya 2 kasus bunuh diri dengan cara ini) tentu tidak 
 bakalan di ekpos seperti ini. 
 
 Tentu saja para pembaca berpikir, kenapa tidak Mr Tan pinjam uang 
 dari teman atau keluarga dia. Tentunya hal ini tidak perlu terjadi 
 bukan. Di Singapura, masyarakatnya sangat terkenal individualistis. 
 Meski seseorang jatuh miskin, mereka akan sangat malu pinjam uang 
 dengan keluarga apalagi teman. Bahkan sangat mungkin ketika Mr Tan 
 ingin meminjam dengan teman atau saudara, mereka ini menghindar 
 dengan segala alasan. 
 
 Bicara tentang hidup susah di negara ini. Pernahkah para pembaca 
 perhatikan ketika makan di food court atau pergi ke toilet-toilet di 
 Singapura yang bekerja adalah orang-orang yang semestinya sudah 
 pensiun (umur 50-60 ke atas). Apakah hal ini terjadi di Indonesia, 
 atau di negara maju lainnya. I can safely say, no! Maksud saya, di 
 permukaan ekonomi di Singapura terlihat sangat makmur dan kaya. 
 Tetapi apabila anda sudah tinggal lama dan melihat dengan mata 
 sendiri semua itu hanyalah 'cover up' saja. Sudah bukan rahasia 
 umum, bahwa koran di Singapura disensor habis-habisan. Apa yang 
 tidak pantas diberitakan tidak akan muncul di koran lokal. Bahkan 
 sampai saat ini, berita tentang Mr Tan belum muncul di koran Straits 
 Times. 
 
 Contoh lainnya, sering terlihat nenek-nenek atau kakek-kakek yang 
 menarik satu karung besar dengan isi kaleng minuman bekas. Atau 
 terkadang terlihat mereka sedang melipat kardus-kardus bekas. Hal 
 seperti ini tidak pernah saya lihat di Orchard Road, harap 
 dimengerti kalau hal ini sampai terlihat turis nanti akan memalukan 
 pemerintah sini. 
 
 Maaf kalau cerita saya ini merusak mood liburan para pembaca. Saya 
 hanya ingin mencoba memberikan warna lain untuk Koki. Khan tidak 
 selalu harus cerita gembira, atau cerita cinta. Selingan dikit boleh 
 lah.
 
---------------------------------
 Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things 
done faster. 

[Non-text portions of this message have been removed]



 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Indo-Linux/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Indo-Linux/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke