Kepada Moderator, tulisan ini tolong dimuat ya di
website IndoMarxist karena isinya sangat bagus dan
dapat dijadikan bahan pembanding untuk situasi di
Indonesia, ditujukan kepada kawan-kawan gerakan
revolusioner.

----TERIMA KASIH----

MOHON TANGGAPANNYA.....!!!!!!!!!

SUBVERSI MENEGAKKAN IMPERIUM: POLITIK LUAR NEGERI
AMERIKA SERIKAT

�Amerika harus menghalangi negara lain yang ingin
menyaingi kepemimpinan kita atau ingin mengubah
tatanan politik dan ekonomi sekarang ini� Kita harus
memelihara mekanisme untuk menghambat para pesaing,
sekalipun mereka hanya ingin berperan lebih besar
secara regional maupun global.� Demikian pernyataan
dalam Pedoman Perencanaan Pertahanan yang dikeluarkan
Pentagon untuk 1994-99.

Sejarah memang membuktikannya. Menurut John Stockwell,
mantan pejabat CIA yang kemudian menulis buku tentang
pengalamannya, dinas intelijen itu melancarkan sekitar
3.000 operasi rahasia besar dan 10.000 operasi kecil,
yang dirancang untuk �merusak, menciptakan
destabilisasi di negeri lain dan memaksa pemerintahnya
untuk mengikuti kehendak Amerika Serikat�.

Hampir semuanya diarahkan kepada negara, pemerintahan
dan pemimpin yang kebijakannya bertentangan dengan
kepentingan negeri itu. Menurut perkiraannya sekitar
enam juta orang tewas akibat operasi-operasi tersebut.
Mesin politik luar negeri Amerika Serikat, menurut
para pejabatnya sendiri, digerakkan oleh berbagai
kepentingan dasar yang dapat dirumuskan sebagai
berikut:

�Menciptakan dunia yang aman bagi perusahaan Amerika
�Meningkatkan pendapatan perusahaan kontraktor senjata
dan peralatan militer yang sudah memberi sumbangan
besar kepada anggota kongres.
�Menghalangi munculnya masyarakat yang bisa menjadi
alternatif model kapitalisme.
�Memperluas hegemoni politik dan ekonomi seluas
mungkin, yang sesuai dengan citranya sebagai �negara
adidaya�.

Untuk membenarkan tindakannya, Amerika Serikat
melancarkan propaganda �jihad melawan komunis
internasional� dan memobilisasi kekuatan-kekuatan di
negara sasaran untuk terlibat di dalamnya. Setelah
Perang Dunia II, pasukan dan dinas intelijen Amerika
Serikat berpetualang di lebih dari 70 negara di dunia.
Daftar di bawah ini disusun berdasarkan artikel
William Blum dalam Z Magazine dua tahun lalu. Sejak
penerbitan itu AS masih terus melakukan serangan dan
intervensi. Salah satu yang terbaru adalah rencana
serangan total ke Afghanistan yang didakwa melindungi
pelaku serangan teroris ke New York dan Washington
pada 11 September lalu.

Tiongkok, 1945-49
Dalam perang saudara, AS berpihak pada Chiang Kai-shek
melawan gerakan komunis pimpinan Mao Tse-tung, yang
selama Perang Dunia menjadi sekutu mereka. AS
mengerahkan mantan lawannya, yaitu serdadu-serdadu
Jepang yang kalah dalam Perang Dunia, untuk bertempur
melawan mantan sekutunya. Chiang Kai-shek kalah dan
melarikan diri ke Taiwan pada1949.

Italia, 1947-48
Dengan semua muslihat yang ada dalam dunia intelijen,
AS melakukan intervensi dalam pemilihan umum untuk
menghalangi Partai Komunis keluar sebagai pemenang
yang sah. Tindakan ini dilakukan, menurut para
pejabatnya, �untuk menyelamatkan demokrasi� di Italia.
Partai Komunis akhirnya kalah, dan selama
dekade-dekade selanjutnya, CIA bersama perusahaan
Amerika terus-menerus melakukan intervensi,
mencurahkan dana jutaan dolar dan melancarkan perang
psikologis untuk mencegah Partai Komunis berkuasa.

Yunani, 1947-49
AS terlibat dalam perang saudara di pihak neo-fasis
melawan gerakan kiri Yunani yang berperang melawan
Nazi dalam Perang Dunia. Kaum neo-fasis akhirnya
menang dan melembagakan sebuah rezim yang sangat
brutal. CIA membantunya dengan mendirikan dinas
intelijen dalam negeri, KYP. Lembaga ini, seperti
polisi rahasia di mana pun, menggunakan berbagai
metode kekerasan yang mengerikan, termasuk penyiksaan
secara sistematis, untuk menaklukkan lawan-lawannya.

Filipina, 1945-53
Militer AS bertempur melawan gerakan kiri
(Hukbalahap), yang saat itu sedang bertempur melawan
invasi Jepang. Setelah Perang Dunia, AS terus
memerangi gerakan itu, dan menempatkan sejumlah
presiden boneka, yang berpuncak pada kediktatoran
Ferdinand Marcos.

Korea Selatan, 1945-53
Setelah Perang Dunia, AS menindas kekuatan progresif
kerakyatan dan berdiri di pihak kaum konservatif yang
sebelumnya berkolaborasi dengan Jepang. Untuk waktu
yang lama negeri itu kemudian dikuasai oleh
rezim-rezim yang korup, reaksioner dan brutal.

Albania, 1949-53
AS dan Inggris gagal menggulingkan pemerintahan
komunis dan menaikkan pemerintahan pro-Barat yang
beranggotakan keluarga kerajaan dan kolaborator dengan
kaum fasis Italia dan Nazi.

Jerman, 1950-an
CIA melancarkan kampanye sabotase, teror, muslihat
kotor dan perang psikologis melawan Jerman Timur.
Kampanye ini adalah salah satu faktor yang akhirnya
menciptakan Tembok Berlin pada 1961.

Iran, 1953
Perdana Menteri Mossadegh digulingkan dalam operasi
gabungan AS dan Inggris. Mossadegh dipilih oleh
mayoritas anggota parlemen, lalu memimpin gerakan
untuk menasionalisasi perusahaan minyak milik Inggris,
satu-satunya perusahaan minyak yang beroperasi di Iran
waktu itu. Dengan kudeta itu, Shah Iran kembali dengan
kekuasaan absolut dan memulai pemerintahan selama 25
tahun yang penuh penindasan dan teror. Sementara itu
industri minyak diserahkan kembali kepada pemilik
asing dengan komposisi Inggris dan Amerika
masing-masing 40 persen, sementara negeri lainnya 20
persen.

Guatemala, 1953-1990
CIA mengorganisir kudeta untuk menggulingkan
pemerintahan progresif Jacobo Arbenz yang dipilih
secara demokratik. Kudeta itu menjadi awal dari
gelombang kekerasan selama 40 tahun, yang penuh dengan
pasukan pembunuh (death squads), penyiksaan,
penculikan, eksekusi massal dan kekejaman lain yang
tak terbayangkan. Diperkirakan 100.000 orang menjadi
korban, dan menjadi salah satu babak paling kejam
dalam sejarah abad ke-20. Arbenz sebelumnya
menasionalisasi perusahaan AS, United Fruit Company,
yang memiliki ikatan erat dengan elit penguasa AS.
Untuk membenarkan tindakannya, Washington menyatakan
Guatemala saat itu terancam serbuan dari Uni Soviet.
Suatu hal yang tidak masuk akal karena Uni Soviet
tidak memperlihatkan minat terhadap negeri itu, dan
bahkan tidak memiliki hubungan diplomatik. Masalah
sesungguhnya di mata Washington, di samping
kepentingan melindungi United Fruit Company, adalah
ancaman menyebarnya sosial-demokrasi Guatemala ke
negeri-negeri lain di Amerika Latin.

Timur Tengah, 1956-58
Doktrin Eisenhower menyatakan bahwa AS, �siap
menggunakan kekuatan bersenjatanya untuk membantu�
negeri mana pun di Timur Tengah yang �meminta bantuan
melawan agresi bersenjata dari negeri mana pun yang
berada di bawah kontrol komunisme internasional.�
Maksud sesungguhnya dari doktrin itu adalah bahwa tak
satu pun kekuatan yang akan dibiarkan mendominasi,
atau memiliki pengaruh besar di Timur Tengah dan
ladang-ladang minyaknya, kecuali Amerika Serikat. Dan
siapa pun yang mencobanya, dengan sendirinya adalah
�Komunis�. Dengan garis kebijakan ini, AS dua kali
berusaha menggulingkan pemerintah di Syria, menggelar
show of force pasukan di Mediterania untuk
menakut-nakuti gerakan yang menentang pemerintahan
pro-AS di Jordania dan Lebanon dengan menempatkan
14.000 tentara di Lebanon. AS juga beberapa kali
bersekongkol untuk menggulingkan atau membunuh Nasser
di Mesir dan menghancurkan nasionalisme Timur Tengah
yang dikembangkannya.

Indonesia, 1957-58
Sukarno, seperti Nasser, adalah pemimpin Dunia Ketiga
yang tidak disukai oleh AS. Ia dengan tegas memilih
netral dalam Perang Dingin dan beberapa kali
berkunjung ke Uni Soviet dan Tiongkok. Ia memimpin
nasionalisasi perusahaan swasta milik bekas penguasa
kolonial Belanda dan menolak menindas Partai Komunis
Indonesia yang saat itu memilih jalan legal dan damai,
serta mendapat hasil-hasil mengesankan dalam pemilihan
umum. Kebijakan semacam itu, di mata AS, akan
menyebarkan �pikiran yang salah� bagi pemimpin Dunia
Ketiga yang lain. CIA mulai mempengaruhi pemilihan
umum dengan uang, merencanakan pembunuhan terhadap
Soekarno, memerasnya dengan sebuah film porno yang
palsu, dan bergabung dengan pasukan militer
pembangkang untuk melancarkan perang terhadap
pemerintah pusat. Namun Soekarno selamat dari semua
upaya menghancurkan itu.

Guyana, 1953-64
Selama sebelas tahun, Inggris dan AS lagi-lagi
berusaha menghalangi seorang pemimpin yang dipilih
secara demokratis untuk menjalankan pemerintahan.
Cheddi Jagan adalah seorang pemimpin Dunia Ketiga yang
berusaha netral dan independen. Ia dipilih tiga kali
dalam pemilihan umum. Walau pandangannya lebih ke kiri
dibandingkan Soekarno atau Arbenz, kebijakan
pemerintahnya tidak revolusioner. Tapi bagi AS, ia
tetap momok yang menakutkan, karena bisa menjadi
contoh sukses bagi mereka yang ingin membangun
alternatif terhadap kapitalisme. Dengan bermacam
taktik � mulai dari melancarkan pemogokan umum,
menyebarkan informasi palsu sampai terorisme dengan
legitimasi hukum Inggris, Jagan akhirnya berhasil
disingkirkan pada 1964. Semuanya dilakukan di bawah
perintah langsung John F. Kennedy, mengikuti jejak
Eisenhower sebelumnya. Di 1980-an, Guyana menjadi
negeri termiskin di dunia. Ekspor utamanya adalah
manusia.

Vietnam, 1950-73
Petualangan dimulai ketika AS berpihak pada Perancis,
bekas penguasa kolonial dan kolaborator Jepang,
melawan Ho Chi Minh dan pengikutnya yang bekerjasama
dengan tentara sekutu dan menghargai segala dari
Amerika. Namun, Ho Chi Minh, adalah orang komunis. Ia
menulis sejumlah surat kepada Presiden Truman dan
Deplu AS untuk meminta bantuan Amerika untuk mendukung
kemerdekaan Vietnam dari Perancis dan menemukan
penyelesaian damai bagi negerinya. Semua permintaannya
ditolak. Ho Chi Minh menggunakan baris pertama
proklamasi Amerika untuk naskah proklamasi negerinya,
�Semua orang diciptakan sama. Mereka diberkahi Sang
Pencipta dengan�� Tapi semua ini tidak ada artinya
bagi Washington. Ho Chi Minh di mata mereka tetaplah
seorang komunis.
Setelah berperang selama 23 tahun yang berakibat satu
juta orang lebih tewas, AS menarik kekuatan militernya
dari Vietnam. Kebanyakan orang mengatakan AS kalah
dalam perang itu. Tapi penghancuran yang mereka
lakukan dengan menyebar racun di tanah dan gen manusia
yang akan mendekam selama sekian generasi, Washington
berhasil mencapai sasaran utamanya: mencegah munculnya
sebuah alternatif pembangunan di Asia.

Kamboja, 1955-73
Pangeran Sihanouk adalah salah satu tokoh lain yang
tidak mau menjadi antek Amerika. Setelah
bertahun-tahun pemerintahan Nixon/Kissinger menyerang
pemerintahannya, termasuk merencanakan pembunuhan atas
dirinya dan menghujani negeri itu dengan bom di
1969-70, Washington akhirnya berhasil menggulingkan
Sihanouk dalam kudeta di 1970. Kudeta itu memberi
peluang bagi Pol Pot dan Khmer Merah memasuki
gelanggang. Lima tahun kemudian mereka berhasil
merebut kekuasaan. Tapi pemboman yang dilakukan AS
selama lima tahun telah menghancurkan ekonomi
tradisional Kamboja untuk selamanya.
Kebijakan Khmer Merah justru menambah kesengsaraan
bagi rakyat di negeri yang dirundung malang ini. Dan
ironisnya, AS mendukung Pol Pot secara militer maupun
diplomatik, setelah Khmer Merah dikalahkan Vietnam.

Kongo, 1960-65
Pada Juni 1960, Patrice Lumumba menjadi perdana
menteri pertama Kongo setelah merebut kemerdekaan dari
Belgia. Tapi Belgia mempertahankan kekuasaannya di
propinsi Katanga yang kaya akan mineral. Para pejabat
penting dalam pemerintahan Eisenhower memiliki
hubungan erat dengan perusahaan-perusahaan yang
menguasainya. Dalam upacara kemerdekaan, di hadapan
sejumlah tamu asing, Lumumba menyerukan pembebasan
politik dan ekonomi bagi negerinya, dan membuat daftar
ketidakadilan yang dialami rakyat setempat di tangan
penguasa kolonial. Bagi AS, pidato itu cukup sebagai
bukti bahwa Lumumba adalah seorang �Komunis�. Sebelas
hari kemudian, propinsi Katanga memisahkan diri dan
September Lumumba dipecat oleh presiden atas anjuran
AS. Januari 1961 ia dibunuh atas permintaan langsung
Dwight Eisenhower. Setelah itu Kongo, yang diubah
menjadi Zaire, dilanda perang saudara selama
bertahun-tahun, yang membawa Mobutu Sese Seko ke
puncak kekuasaan. Mobutu bukan orang asing bagi CIA.
Ia berkuasa selama lebih dari 30 tahun, dengan tingkat
korupsi dan kekejaman yang mengerikan, bahkan bagi
para pendukungnya di CIA. Rakyat hidup dalam
kemiskinan yang parah di negeri yang kaya akan
sumberdaya alam, sementara Mobutu menjadi seorang
multimilyuner.

Brasil, 1961-64
Presiden Jo�o Goulart melalukan kesalahan yang sama
seperti pemimpin Dunia Ketiga lainnya. Ia menerapkan
politik luar negeri yang independen, membangun
hubungan dengan negeri-negeri sosialis dan menentang
sanksi terhadap Kuba. Pemerintahannya menetapkan hukum
yang membatasi jumlah keuntungan yang boleh dibawa
perusahaan multinasional keluar dari negerinya. Ia
juga menasionalisasi salah satu anak perusahaan ITT
dan melancarkan perbaikan di bidang sosial-ekonomi.
Jaksa Agung AS Robert Kennedy merasa terganggu karena
Goulart membiarkan sejumlah �komunis� memegang posisi
penting dalam pemerintahannya. Goulart sendiri sama
sekali bukan tokoh radikal. Ia seorang tuan tanah
jutawan, dan Katolik taat berkalung medali Bunda Maria
di lehernya. Namun, semua itu tidak cukup untuk
melindunginya. Pada 1964 ia digulingkan melalui kudeta
militer yang melibatkan AS. Sikap resmi pemerintah di
Washington waktu itu, �memang disayangkan bahwa
demokrasi digulingkan di Brasil� tapi, bagaimanapun,
negeri itu berhasil diselamatkan dari ancaman
komunisme.�
Selama 15 tahun kemudian, rezim militer melembagakan
semua ciri yang kemudian dikenal sebagai �model
kediktatoran Amerika Latin�: Kongres dibubarkan,
oposisi politik ditiadakan sampai nyaris punah, habeas
corpus ditiadakan dalam kasus �kejahatan politik�,
kritik terhadap presiden dilarang oleh undang-undang,
serikat buruh diambilalih oleh agen pemerintah,
gerakan protes dihadapi polisi dan militer yang
menembaki massa, rumah petani dibakar, para ulama
menghadapi represi brutal� penculikan, pasukan
pembunuh, dan penyiksaan dalam skala yang mengerikan.
Rezim militer menyebut semua itu �program rehabilitas
moral� bagi Brasil.
Washington mengikuti perkembangan itu dengan gembira.
Brasil memutus hubungan dengan Kuba dan menjadi salah
satu sekutu terdekat AS di Amerika Latin.

Republik Dominika, 1963-66
Pada Februari 1963, Juan Bosch menjadi presiden
pertama yang terpilih secara demokratis sejak 1924. Ia
berhaluan liberal dan anti-komunis, yang menjadi bukti
untuk menyangkal dugaan bahwa AS hanya mendukung
kediktatoran militer. Sebelum dilantik menjadi
presiden ia mendapat perlakuan istimewa di Washington.
Bosch teguh pada pendiriannya. Ia menyerukan reformasi
agraria, perumahan dengan sewa rendah, nasionalisasi
perusahaan, dan membatasi penanaman modal asing yang
bersifat eksploitatif, dan kebijakan lainnya yang khas
pemimpin liberal Dunia Ketiga. Ia juga sungguh-sungguh
menegakkan kebebasan sipil: orang Komunis, atau siapa
pun yang dicap demikian, dibiarkan bebas kecuali
sungguh-sungguh melanggar hukum.
Sejumlah pejabat dan anggota kongres AS mulai merasa
tidak nyaman dengan rencana-rencana Bosch, dan juga
sikapnya yang independen. Reformasi agraria dan
nasionalisasi adalah masalah �panas� bagi Washington,
yang menurut mereka secara bertahap akan merangkak
menuju sosialisme. Sebagian pers AS menuduh Bosch
sudah ketularan �penyakit merah�. Pada September,
sepatu lars militer berderap dan Bosch digulingkan.
Amerika Serikat yang bisa menghalangi kudeta militer
di Amerika Latin hanya dengan menunjukkan wajah tidak
senang, tidak berbuat apa-apa. Sembilan belas bulan
kemudian, pemberontakan terjadi dengan tujuan membawa
Bosch yang hidup di pengasingan kembali berkuasa. AS
mengirim 23.000 tentara untuk menghancurkan
pemberontakan itu.

Kuba, sejak 1959
Fidel Castro mulai berkuasa awal 1959. Dewan Keamanan
Nasional AS mengadakan pertemuan pada10 Maret 1959.
Salah satu agenda pembahasannya adalah kemungkinan
mendirikan �pemerintahan lain untuk berkuasa di Kuba.�
Setelah itu selama 40 tahun AS melancarkan serangan
teroris, pemboman, invasi militer dalam skala penuh,
sanksi, embargo, isolasi dan pembunuhan, karena Kuba
menjadi ancaman serius dengan menjadi contoh bagi
Amerika Latin.
Dunia takkan pernah tahu masyarakat apa yang mungkin
dibangun Kuba seandainya dibiarkan berkembang bebas,
tanpa ancaman senjata dan invasi. Idealisme, visi dan
kecakapan berlimpah untuk menjadi model pembangunan
yang lain. Tapi kita takkan pernah tahu, dan itulah
yang sesungguhnya diinginkan AS.

Indonesia, 1965
Setelah perebutan kuasa yang rumit dengan sidik jari
AS di mana-mana, Soekarno berhasil digulingkan.
Sebagai gantinya muncul Jenderal Soeharto. Pembantaian
terjadi terhadap anggota PKI, orang yang dituduh PKI,
simpatisan PKI maupun orang yang dituduh berhubungan
dengan satu atau lain cara berhubungan dengan
komunisme. Suratkabar New York Times menyebutnya,
�salah satu pembantaian massal yang paling biadab
dalam sejarah politik modern.� Antara setengah sampai
satu juta orang diduga terbunuh.
Baru kemudian diketahui bahwa kedutaan besar AS
menyusun daftar lima ribu �orang Komunis�, dari
pimpinan teras sampai kader desa, dan menyerahkannya
kepada Angkatan Darat. Daftar itu kemudian dipakai
untuk mengejar dan membunuh siapa pun yang tertera di
sana. �Sungguh bantuan besar bagi Angkatan Darat.
Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan mungkin
tangan saya juga berlumuran darah,� kata seorang
diplomat AS. �Tapi tidak apa-apa. Ada kalanya kita
harus bersikap keras pada saat yang menentukan.�

Chile, 1964-73
Salvador Allende adalah mimpi buruk bagi imperialisme
Washington. Tidak ada yang lebih buruk dari melihat
seorang Marxis terpilih menjadi presiden, yang
menghargai konstitusi dan semakin populer di kalangan
rakyat. Kehadirannya mengguncang batu pondasi menara
anti-komunis yang dibangun Washington. Doktrin yang
dipelihara selama puluhan tahun pun runtuh: bahwa kaum
�komunis� yang menang melalui kekerasan dan penipuan,
dan mempertahankan kekuasaan dengan teror dan cuci
otak.
Allende terpilih menjadi presiden 1970, setelah
sebelumnya AS terus berupaya menggagalkannya dengan
segala cara. CIA dan seluruh mesin politik luar negeri
AS melakukan apa saja untuk menggerogoti pemerintahan
Allende, khususnya menggalang kemarahan di kalangan
militer. Akhirnya pada bulan September 1973, militer
menggulingkan pemerintahan kerakyatan dan membunuh
Allende. Seluruh negeri ditutup dari dunia luar selama
seminggu. Tank dan serdadu berkeliaran di jalan-jalan
kota, stadion olahraga penuh dengan orang yang
menunggu eksekusi dan tubuh-tubuh para korban ditumpuk
di pinggir jalan atau mengapung di sungai. Serdadu
menyerang perempuan yang mengenakan celana panjang
dengan merobek bagian kakinya, sambil berteriak �Di
Chile perempuan pakai rok!� Kaum miskin kembali ke
kesengsaraan, dan penguasa di Washington serta lembaga
keuangan internasional kembali menikmati aliran uang
dari Chile. Lebih dari tiga ribu orang dieksekusi,
sementara ribuan lainnya disiksa atau lenyap tak
berbekas.

Yunani, 1964-74
Kudeta militer terjadi pada April 1967, hanya dua hari
sebelum kampanye pemilihan umum dimulai, yang hampir
pasti akan membawa pemimpin liberal George Papandreou
kembali menjadi perdana menteri. Ia terpilih bulan
Februari 1964 dengan dukungan terbesar dalam sejarah
pemilihan umum Yunani modern. Gerakan untuk
menggulingkannya pun dimulai, sebagai kerjasama
militer Yunani dan pasukan serta dinas intelijen AS
yang ditempatkan di sana. Kudeta 1967 itu diikuti
pemberlakuan keadaan darurat perang: sensor,
penangkapan, pemukulan, penyiksaan dan pembunuhan
membawa delapan ribu korban dalam bulan pertama. Semua
ini dilakukan seiring dengan kampanye �menyelamatkan
bangsa dari ancaman Komunis�. Semua pengaruh yang
dianggap merusak moral dan subversif menjadi sasaran,
termasuk rok pendek, rambut panjang dan suratkabar
asing. Di bawah kekuasaan militer kaum muda diwajibkan
pergi ke gereja.
Tapi penyiksaan adalah yang paling menakutkan dalam
mimpi buruk Yunani selama tujuh tahun itu. James
Becket, seorang pengacara Amerika yang dikirim ke
Yunani oleh Amnesty International, pada Desember 1969
menulis bahwa �perkiraan kasar, tidak kurang dari dua
ribu� orang yang disiksa, dengan cara-cara yang sangat
mengerikan, seringkali dengan peralatan yang
disediakan AS.
Becket memberi laporan berikut: Ratusan tahanan di
penjara harus mendengarkan pidato Inspektur Basil
Lambrou, yang duduk di belakang mejanya sambil yang
memperlihatkan simbol merah, putih biru dari barang
bantuan AS. Ia berusaha memperlihatkan bahwa
perlawanan mereka sia-sia saja. �Kalian bodoh berpikir
bisa melakukan apa saja. Dunia ini terbagi dua. Ada
komunis di satu pihak dan dunia bebas di sisi lain.
Rusia dan Amerika, tidak ada yang lain. Nah, kita ini
apa? Amerika. Di belakang saya ada pemerintah, di
belakang pemerintah ada NATO, dan di belakang NATO ada
Amerika. Jadi kalian takkan menang melawan kami. Kami
ini adalah Amerika.�
George Papandreou sama sekali bukan seorang yang
radikal. Ia seorang liberal yang juga anti-komunis.
Namun putranya, Andreas yang akan mewarisi
kekuasaannya, sedikit lebih ke kiri dari ayahnya dan
tidak pernah menyembunyikan keinginan membawa Yunani
keluar dari Perang Dingin.

Timor Lorosae, 1975-1999
Indonesia menginvasi Timor Lorosae yang baru
memproklamasikan kemerdekaannya dari Portugal. Invasi
dilancarkan tepat sehari setelah Presiden AS Gerald
Ford dan Menlu Henry Kissinger meninggalkan Indonesia.
Mereka mengizinkan Soeharto menggunakan senjata buatan
AS dalam invasi itu, padahal menurut undang-undang AS
sendiri, senjata itu tidak boleh dipakai untuk
menyerang. Namun Indonesia adalah alat Washington yang
paling berharga di Asia Tenggara. Amnesty
International memperkirakan pada 1989, pasukan
Indonesia yang mencaplok Timor Lorosae dengan
kekerasan, membunuh sekitar 200.000 dari 600.000
sampai 700.000 penduduk. AS dengan konsisten mendukung
klaim Indonesia atas Timor Lorosae (tidak seperti PBB
dan Uni Eropa), dan menganggap remeh pembantaian yang
terjadi. Pada saat bersamaan AS terus menyediakan
perlengkapan dan pelatihan bagi militer Indonesia
untuk melancarkan tugas mereka.

Nikaragua, 1978-89
Ketika gerakan Sandinista berhasil menggulingkan
kediktatoran Somoza pada 1978, AS langsung melihat
bayangan munculnya �Kuba yang lain� di wilayah Amerika
Tengah. Di masa pemerintahan Carter, usaha untuk
menyabot revolusi itu dilakukan melalui diplomasi dan
tekanan ekonomi. Tapi ketika Reagan mulai berkuasa,
metode kekerasanlah yang digunakan. Selama delapan
tahun, rakyat Nikaragua diserang oleh pasukan yang
diasuh Washington, �gerilyawan� Kontra. Anggotanya
direkrut dari jajaran Garda Nasional yang terkenal
kejam di zaman Somoza dan para pendukung kediktatoran
lainnya. Mereka melancarkan perang total untuk
menghancurkan semua program sosial dan ekonomi
progresif pemerintahan Sandinista, dengan membakar
sekolah dan klinik medis, perkosaan, penyiksaan,
meledakkan pelabuhan, pemboman dan berondongan peluru.
Ronald Reagan menyebut mereka �pejuang pembebasan�.

Grenada, 1979-84
Apa yang membuat negara besar seperti AS melakukan
invasi ke negeri dengan penduduk 110.000, jika bukan
ketakutannya akan komunisme. Maurice Bishop dan
pengikutnya merebut kekuasaan pada 1979, dan sekalipun
kebijakan mereka tidak revolusioner seperti halnya
Kuba, Washington lagi-lagi didorong ketakutan akan
munculnya �Kuba baru�, terutama ketika para pemimpin
Grenada mendapat sambutan hangat di negeri-negeri
Amerika Tengah.
Taktik destabiliasi terhadap pemerintahan Bishop
dimulai segera setelah mereka berkuasa dan terus
berlanjut sampai tahun 1983. Pada Oktober 1983 AS
melakukan invasi dan tidak mendapat perlawanan
berarti, walau 135 prajuritnya terbunuh atau terluka.
Sekitar 400 orang Grenada menjadi korban bersama 84
orang Kuba, yang bekerja sebagai buruh bangunan.
Akhir 1984 berlangsung pemilu yang dimenangkan oleh
calon yang didukung pemerintahan Reagan. Setahun
kemudian, sebuah organisasi hak asasi manusia
melaporkan bahwa polisi dan pasukan anti-pemberontakan
Grenada yang dilatih AS semakin terkenal karena
kekejaman, penangkapan sewenang-wenang dan
penyalahgunaan kekuasaan. Hak-hak sipil pun semakin
digerogoti. April 1989, pemerintah mengeluarkan daftar
lebih dari 80 buku yang dilarang masuk. Empat bulan
kemudian, perdana menteri membekukan parlemen.

Libya, 1981-89
Libya menolak menjadi antek Washington di Timur
Tengah. Pemimpinnya, Muammar el-Qaddafi, terlalu
angkuh di mata Washington dan karena itu harus
dihukum. Pesawat AS menembak jatuh dua pesawat Libya
yang terbang di atas wilayah mereka sendiri. AS juga
menjatuhkan bom di negeri itu, yang menewaskan 40
orang, termasuk putri Qaddafi. Di samping itu ada
berbagai upaya untuk membunuh pemimpin itu, operasi
untuk menggulingkan kekuasaannya, dan kampanye
disinformasi, sanksi ekonomi dan menuduh Libya berada
di balik peledakan pesawat PanAm 103 tanpa bukti
cukup.

Panama, 1989
Pesawat pembom AS kembali beraksi. Bulan Desember 1989
sebuah perkampungan di Panama City musnah dan 1.500
orang kehilangan rumah mereka. Pertempuran berlangsung
selama beberapa hari melawan pasukan Panama, dan
laporan resmi menyatakan 500-an orang tewas. Sumber
lain dengan bukti-bukti cukup menyatakan ribuan orang
yang tewas sementara sekitar tiga ribu orang lainnya
luka-luka. 23 orang Amerika tewas sementara 324
luka-luka.
Dalam wawancara dengan Presiden Bush, seorang wartawan
bertanya: �Apakah memang pantas mengirim orang untuk
menemui ajalnya seperti itu, hanya untuk menangkap
Noriega?�
Bush menjawab, �Saya tahu setiap nyawa itu berharga.
Tapi saya pikir, semua itu pantas terjadi.�
Manuel Noriega selama bertahun-tahun menjadi sekutu
dan informan AS sampai akhirnya dirasa tidak berguna
lagi. Tapi penangkapan dirinya bukan satu-satunya
alasan untuk menyerang. Bush juga ingin mengirim pesan
kepada rakyat Nikaragua, yang akan mengikuti pemilihan
umum dalam waktu dua bulan, bahwa mereka akan bernasib
sama jika kembali memilih Sandinista. Bush juga ingin
menunjukkan otot militernya kepada Kongres bahwa AS
tetap perlu pasukan siap-tempur yang besar sekalipun
Uni Soviet sudah bubar. Dalam penjelasan resminya,
Washington mengatakan Noriega ditangkap karena
terlibat perdagangan obat bius, sesuatu yang sudah
diketahui oleh AS sejak lama dan tidak pernah
dipersoalkan sebelumnya.

Irak, 1990-an
Selama 40 siang dan malam, AS membom salah satu bangsa
termaju di Timur Tengah, menghancurkan baik ibukota
lama maupun baru. Sekitar 85 juta kilogram bom
menghujani rakyat Irak dan menjadi serangan udara
paling terpusat dalam sejarah dunia. Senjata uranium
pun dijatuhkan, yang membakar manusia, menyebabkan
kanker, dan meledakkan kilang minyak serta gudang
senjata kimia dan biologi. Pencemaran udara akibat
pemboman itu luar biasa, dan mungkin belum pernah
terjadi di mana pun juga. Banyak serdadu yang sengaja
dipendam hidup-hidup, infrastruktur hancur dengan
akibat luar biasa bagi kesehatan. Sanksi ekonomi masih
berlanjut yang membuat penderitaan semakin parah;
mungkin sekitar satu juta anak meninggal karena
serangan ini.
Irak sebelumnya adalah kekuatan militer terbesar di
jazirah Arab. Dan bagi Washington ini adalah
kejahatan. Noam Chomsky pernah menulis, �Telah menjadi
doktrin dalam kebijakan luar negeri AS sejak 1940-an
bahwa sumber energi yang tiada bandingannya di wilayah
Teluk harus dikuasai oleh AS dan negara sekutunya.
Tidak satu pun kekuatan setempat yang independen akan
dibiarkan tumbuh dan berpengaruh dalam penanganan
produksi serta penetapan harga minyak.�

Afghanistan, 1979-92
AS mengucurkan dana milyaran dolar untuk membiayai
perang menentang pemerintahan berkuasa yang didukung
Uni Soviet. Sebelumnya, operasi CIA terus memancing
intervensi Uni Soviet yang akhirnya memang dilakukan.
AS akhirnya keluar sebagai pemenang, dan kaum
perempuan seperti kebanyakan rakyat Afghanistan ada di
pihak yang kalah. Lebih dari satu juta orang tewas,
tiga juta cacat seumur hidup dan lima juta orang
mengungsi, sama dengan separuh jumlah penduduknya.

El Salvador, 1980-92
Para pembangkang El Salvador selalu berusaha bekerja
di dalam sistem. Tapi dengan dukungan AS, pemerintah
terus bermain curang dalam pemilihan umum dan membunuh
ratusan orang yang terlibat dalam aksi protes dan
pemogokan. Di 1980, para pembangkang mulai angkat
senjata dan perang saudara pun terjadi. Secara resmi
kehadiran militer di AS di El Salvador terbatas
sebagai penasehat. Tapi dalam kenyataan, personel
militer AS dan CIA memainkan peran aktif. Sekitar 20
orang AS tewas atau terluka karena pesawat atau
helikopter mereka ditembak jatuh ketika sedang
melakukan serangan dan terbang di atas daerah
pertempuran. Di samping itu ada bukti cukup bahwa AS
juga terlibat dalam pertempuran di darat. Perang itu
secara resmi berakhir tahun 1992 setelah 75.000 orang
tewas dan departemen keuangan AS mengucurkan enam
milyar dolar. Jalan bagi perubahan sosial mendasar
semakin tertutup. Negeri itu tetap ada di tangan
segelintir orang kaya. Orang miskin tetap saja miskin,
dan para pembangkang tetap menghadapi pasukan pembunuh
di mana-mana.

Haiti, 1987-94
Selama 30 tahun kediktatoran keluarga Duvalier
berkuasa dengan dukungan penuh pemerintah AS. Jean
Baptiste Aristide yang progresif kemudian terpilih
menjadi presiden, tapi kembali digulingkan pada 1991
melalui kudeta militer pengikut Duvalier. Washington
kemudian bersedia menaikkan kembali Aristide dengan
syarat ia tidak akan membuat kebijakan yang
menguntungkan orang miskin dan merugikan orang kaya,
dan bahwa ia akan berpegang teguh pada doktrin pasar
bebas.

Yugoslavia, 1999
Hujan bom AS menyeret negeri itu kembali ke zaman
pra-industri. Tapi penguasa di Washington mengklaim
intervensi itu dilakukan atas dasar �kemanusiaan�.
Mudah-mudahan penjelasan di atas bisa membantu kita
memahami apa maksud sesungguhnya.



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Y! Messenger - Communicate in real time. Download now. 
http://messenger.yahoo.com





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Hancurkan Kapitalisme,Imperialisme,Neo-Liberalisme, Bangun Sosialisme !
******Ajak lainnya bergabung ! Kirimkan e-mail kosong (isi to...saja)ke:
        [EMAIL PROTECTED] (langganan)
        [EMAIL PROTECTED] (keluar)
Site: http://come.to/indomarxist
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke