Sekali Lagi Tentang Peran Penting Individu di Dalam Sejarah
Oleh: Ted Sprague, April 9, 2007
Bagi mereka yang hanya bisa berpikir secara hitam dan putih, peran
subjektif (individu) dan peran objektif di dalam perkembangan sosial
adalah dua hal yang kontradiktif. Dalam satu pihak adalah mereka yang
menekankan peran subjektif di dalam sejarah, yang nota-bene
berkesimpulan bahwa sejarah dibuat dan dibentuk oleh orang-orang yang
hebat; bahwa Leninlah (atau dengan Trotsky, dll) satu-satunya orang
yang bertanggungjawab atas Revolusi Oktober dan kemerosotannya; bahwa
Hitlerlah yang mengakibatkan Perang Dunia kedua; bahwa Bushlah yang
menyebabkan perang di Irak; bahwa massa dan kondisi objektif (kondisi
ekonomi, relasi sosial, dll) tidak memainkan peran sama sekali di
dalam sejarah. Di pihak yang lain adalah mereka yang menyangkal peran
individu, mereka yang mengangkat setinggi-tingginya sifat manusia
sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan, atau mereka yang
menempatkan kondisi objektif di atas segala-segalanya. Dan sebagai
akibatnya, mereka melihat semua peran subjektif sebagai bentuk
pengkultusan individu, sebagai sebuah ilusi yang disebarkan oleh
elit-elit pemikir. Di antara kedua pihak tersebut adalah mereka yang
kebingungan, yang karena kedangkalan mereka berayun dari satu pihak
(peran subjektif) ke pihak yang lain (peran objektif). Di balik
kebingungan mereka akan perkembangan sejarah, mereka menemukan
`kompromi' atau `solusi' terhadap masalah peran objektif dan subjektif
di dalam sejarah, dengan mengklaim bahwa ada saatnya peran subjektif
itu penting dan pada saat lainnya peran objektif yang menjadi penting.
Ide-ide tersebut di atas adalah ide-ide yang menyesatkan di dalam
gerakan sosial. Dari sebuah ide atau pemahaman mengenai perkembangan
sosial, lahirlah sebuah strategi dalam pergerakan sosial. Maka dari
itu, sebuah ide yang keliru akan menghasilkan strategi yang keliru
juga. Penekanan konsepsi peran subjektif melahirkan sebuah strategi
bahwa tidak diperlukan sebuah organisasi untuk merubah masyarakat,
cukup dengan beberapa orang saja yang hebat; atau sebuah strategi
bahwa organisasi yang dibentuk tidak perlu mempunyai hubungan dengan
kelas masyarakat yang diwakilinya. Di pihak yang lain, penekanan
konsepsi peran objektif melahirkan sebuah strategi bahwa semua gerakan
sosial adalah spontanitas, maka dari itu individu-individu aktivis
tidak perlu secara sadar melakukan agitasi atau membentuk organisasi;
bahwa organisasi massa akan terbentuk sendirinya, bahwa
program-program organisasi tersebut adalah hasil reaksi spontanitas.
Dan untuk mereka yang kebingungan, mereka hanya akan berayun-ayun
tanpa kepastian sampai tiba saatnya dimana mereka terhempas oleh arus
sejarah.
SEBUAH DIALEKTIKA ANTARA PERAN SUBJEKTIF DAN PERAN OBJEKTIF
Apakah hubungan antara peran subjektif dan peran objektif? Untuk lebih
praksisnya, apakah hubungan antara peran individu dan kondisi sosial
(peran massa, kekuatan produksi, hubungan sosial kelas-kelas)? Secara
terpisah, mereka adalah kontradiksi yang tidak bisa disatukan. Akan
tetapi, sejarah materialisme menunjukkan ketidakterpisahan mereka.
Dari kacamata sejarah materialisme, mereka justru adalah kontradiksi
yang melahirkan sebuah sintesa, yaitu bahwa "Karakter individu
merupakan faktor di dalam perkembangan sosial hanya bila
hubungan-hubungan sosial mengijinkannya." (Plekhanov, Peran Individu
di Dalam Sejarah). Inilah dialektika antara peran subjektif and peran
objektif: dari sebuah theses tentang peran subjektif, kemudian
anti-thesesnya yaitu peran objektif, and akhirnya sebuah sintesa.
Bung Dio dalam tulisannya Peran Individu dalam Sejarah: Sebuah Ilusi
hanya bisa meraih kesimpulan bahwa paparan Plekhanov tersebut
adalah"kontradiktif dalam dirinya sendiri", bahwa "premis-premis
seperti ini secara literal adalah absurd" dan "tanpa dialektika";
tetapi saya baru saja menerapkan dialektika terhadap peran subjektif
dan objektif; dan dimana Dio melihat sebuah kontradiksi, dialektika
justru melahirkan sebuah sintesa yang tidak menyangkal peran subjektif
maupun peran objektif, akan tetapi sebuah sintesa yang merupakan
lompatan kualitatif dari peran subjektif ataupun peran objektif.
Tentu saja sebuah sintesa dialektika hanyalah abstrak bila tidak
disertai dengan sebuah contoh yang nyata, dalam kata lain, sebuah
sintesa dialektika harus teruji oleh sejarah yang bersifat material.
Revolusi Oktober merupakan salah satu kejadian yang paling penting di
dalam sejarah manusia, dan peran Bolshevik sendiri tidak dapat
disangkal. Oleh sebab itu Revolusi Oktober adalah contoh yang paling
tepat untuk menguji kebenaran sintesa dialektika di atas. Apakah peran
Lenin dan Trotsky, dalam kata lain peran partai Bolshevik, di dalam
Revolusi Oktober adalah sebuah ilusi? Tentu saja tidak, Lenin
memainkan peran yang penting di dalam Revolusi Oktober, tetapi hanya
karena kondisi sosial Rusia yang mengijinkannya pada saat itu. Dalam
kata lain, Lenin tidak bisa dengan sesuka-hatinya menentukan kapan
Revolusi Rusia terjadi, Lenin sebagai seorang individu juga tidak bisa
dengan seenaknya menentukan garis besar Revolusi Oktober. Justru
karena karakternya dan kemampuannya untuk mengerti perkembangan sosial
di Rusia, Lenin terdorong ke depan untuk menjadi figur pemimpin
Revolusi Oktober. Sebaliknya, kaum Menshevik, SR, dan Anarkis Rusia
yang mempunyai ide yang salah terhempas oleh arus sejarah karena
kondisi sosial Rusia yang bertentangan dengan konsepsi revolusi yang
dipegang oleh individu-individu tersebut.
Seperti yang dipaparkan oleh Plekhanov: "Tidak ada manusia hebat yang
bisa memaksakan ke dalam masyarakat sebuah hubungan sosial yang sudah
tidak sesuai dengan kondisi kekuatan-kekuatan sosial atau yang belum
sesuai dengan kondisi kekuatan-kekuatan sosial. Di dalam pengertian
ini, dia tidak dapat membuat sejarah, dan di dalam pengertian ini,
dalam kesia-siaan dia akan mencoba menggeser jarum jamnya; dia tidak
akan mempercepat arus waktu atau memutar balik waktu." Dan inilah yang
menjadi nasib Menshevisk, SR, dan Anarkis; di dalam kesia-siaan,
mereka melawan arus sejarah. Dan ironisnya, Plekhanov sendiri adalah
salah seorang Menshevik yang akhirnya menjadi `korban' dari arus
sejarah ini. Di dalam periode awal persiapan gerakan Marxis di Rusia
(baca Partai Sosial Demokrat Rusia), Plekhanov memainkan peran yang
penting. Akan tetapi pada saat-saat Revolusi Oktober yang menentukan,
ide dan karakter Plekhanov justru ambruk karena kondisi sosial Rusia
tidak mengijinkannya.
Tidak dapat dipungkiri, tanpa Lenin, kepemimpinan Bolshevik tidak akan
mampu memimpin Revolusi Oktober menuju keberhasilan. Ini bukan berarti
bahwa Lenin dan Partai Bolshevik menjadi partai pelopor Revolusi
Oktober hanya karena mereka mengumandangkan hal tersebut, atau karena
mereka berhasil mengelabui kelas proletariat Rusia. Bila ini benar,
maka cukup dengan dua orang dan seekor anjing, kita bisa membentuk
sebuah partai revolusioner. Partai Bolshevik dan ide yang diwakilinya
menjadi sebuah kekuatan yang penting di dalam pergerakan sosial di
Rusia karena kondisi sosial Rusia saat itu; ide Bolshevisme adalah
wujud pergerakan sosial di Rusia. Tokoh-tokoh pemimpin Bolshevik lahir
dari gerakan massa tersebut, mereka adalah bunga-bunga gerakan massa
Rusia yang didorong ke depan oleh kelas proletariat Rusia sebagai
pemimpin mereka, mereka adalah pemimpin organik gerakan massa, mereka
sebagai individu-individu bebas adalah bagian dari massa dan kapasitas
kepemimpinan mereka sebagai individu memainkan peran yang penting di
dalam sejarah, tetapi hanya bila kondisi sosial mengijinkan mereka.
BUKAN PENGKULTUSAN INDIVIDU
Contoh singkat lainnya yang lebih relevan saat ini adalah peran Hugo
Chavez di dalam Revolusi Bolivarian. Alasan mengapa sampai saat ini
Hugo Chavez masih menjadi sosok figur pemimpin Revolusi Bolivarian
adalah karena dia masih bertindak sesuai dengan "dikte" massa
Venezuela; dalam kata lain, sampai saat ini Chavez masih mampu
memberikan kepemimpinan yang bisa diterima oleh kondisi sosial di
Venezuela. Setelah terpilih sebagai Presiden Venezuela pada tahun
1998, Hugo Chavez mencoba untuk menerapkan Jalan Ketiga (atau jalan
tengah antara Kapitalisme dan Sosialisme) seperti yang diterapkan oleh
Tony Blair di Inggirs; akan tetapi Hugo Chavez kemudian belajar dari
pengalamannya bahwa Jalan Ketiga tersebut adalah mustahil dan
mencampakkannya; didorong oleh massa Venezuela, dia memekikkan seruan:
"Sosialisme atau Barbarisme!". Bila Hugo Chavez tetap bersih keras
ingin mengimplementasikan Jalan Ketiga, dia tidak akan pernah menjadi
sosok pemimpin Revolusi Bolivarian seperti sekarang ini.
Ada hubungan timbal balik antara Hugo Chavez sebagai individu dan
massa Venezuela; dan inilah yang tetap mendorong gerakan Revolusi
Bolivarian di Venezuela. Hilangkan Hugo Chavez dari gerakan sosial di
Venezuela, maka akan ada pengganti Hugo Chavez yang karakternya
berbeda dan kemungkinan besar pengganti ini akan gagal dalam
kepemimpinannya dan gerakan sosial di Venezuela akan gagal. Hilangkan
gerakan massa Venezuela dari bawah yang mendukung Chavez, maka dia
sudah pasti dieksekusi saat usaha kudeta April 2002. Inilah hubungan
dialektika antara Hugo Chavez (subjektif) dan massa Venezuela (objektif).
Tetapi analisa kita terhadap situasi di Venezuela tidak boleh berhenti
disini. Menerima fakta bahwa saat ini Hugo Chavez adalah sosok figur
pemimpin Revolusi Bolivarian yang didorong oleh kekuatan massa
Venezuela bukanlah suatu bentuk pengkultusan individu; tetapi justru
menjadi sebuah pedoman sikap kita terhadap situasi di Venezuela.
Adalah sangat bodoh dan naif kalau kita justru mencecar Hugo Chavez
dan menolak kepemimpinannya karena sikap seperti ini akan mengucilkan
kita dari massa Venezuela yang saat ini mengakui Chavez sebagai
pemimpin mereka. Kita lihat banyak aktivis-aktivis di Venezuela yang
terkucilkan dari gerakan Revolusi Bolivarian karena perspektif mereka
yang salah mengenai dukungan terhadap Hugo Chavez. Justru adalah tugas
kita sebagai individu, sebagai faktor subjektif yang sadar, untuk
memberikan dukungan yang kritis terhadap Hugo Chavez dengan melakukan
agitasi massa dari bawah, untuk menjelaskan kepada massa bahwa Chavez
adalah benar ketika dia mengatakan bahwa pilihan yang kita hadapi
adalah Sosialisme atau Barbarisme, untuk mendorong kesadaran massa
supaya mereka dapat mendorong kereta Revolusi Bolivarian ini ke
stasiun tujuan akhirnya. Semua ini tidak dapat dilakukan bila kita
mengucilkan diri kita dari massa Venezuela yang mendukung Hugo Chavez.
Bentuk dukungan kita terhadap Chavez adalah dukungan yang kritis,
bukan dukungan dalam bentuk pengkultusan individu. Dari kacamata kita,
hubungan Chavez dan massa Venezuela adalah faktor objektif dan kita
sebagai faktor subjektif harus memahami hubungan tersebut dan
memainkan peran kita di dalamnya.
Tidak dapat pula dipungkiri bahwa Marx sendiri menolak semua bentuk
pengkultusan individu, seperti halnya setiap orang yang memegang teguh
konsep material dialektis pasti akan menolak segala bentuk
pengkultusan individu. Analisa-analisa Karl Marx harus dimengerti
sebagai proses, bukan layaknya sebuah ayat suci. Dalam hal ini, saya
sepenuhnya setuju dengan Bung Dio. Akan tetapi saya merasa harus
mengkoreksi Bung Dio mengenai ujaran Marx: "Saya bukan seorang Marxis"
("je ne suis pas Marxiste"). Ujaran Marx tersebut sudah sering kali
disalahgunakan atau dikutip tanpa melihat konteks dimana dan kapan
Marx mengatakan hal tersebut. Marx mengatakan hal tersebut dalam
polemiknya dengan Jules Guesde dan Paul Lafargue (mereka adalah tokoh
pemimpin Partai Buruh Prancis, atau Parti Ouvrier) mengenai Program
Partai Ouvrier [1]. Marx kemudian berujar, bila politik mereka adalah
Marxisme, maka "bila ada satu hal yang pasti, saya bukanlah seorang
Marxis" ("ce qu'il y a de certain c'est que moi, je ne suis pas
Marxiste") Ini adalah bentuk ketidaksetujuan Marx akan politiknya
Guesde dan Lafargue yang merupakan dekadensi Marxisme menurut Marx
sendiri. Engels pun mengutip insiden tersebut dalam suratnya kepada
Eduard Bernstein pada tanggal 2 Nopember 1882 [2]:
"Now what is known as `Marxism' in France is, indeed, an altogether
peculiar product so much so that Marx once said to Lafargue: `Ce
qu'il y a de certain c'est que moi, je ne suis pas Marxiste.' [If
anything is certain, it is that I myself am not a Marxist]"
"Sekarang apa yang diketahui sebagai `Marxisme' di Prancis adalah
sebuah produk yang sangatlah asing sungguh asing sampai Marx pernah
berujar kepada Lafargue: `Ce qu'il y a de certain c'est que moi, je ne
suis pas Marxiste.' [Bila ada satu hal yang pasti, saya bukanlah
seorang Marxis]" (Terjemahan penulis)
Jadi ucapan Marx bahwa dia sendiri bukanlah seorang Marxis bukan dalam
konteks ketidaksetujuannya akan pengkultusan individu. Seperti halnya
bila saya berujar: "Bila Stalin adalah seorang sosialis, maka yang
pasti saya bukanlah seorang sosialis", ini adalah bentuk
ketidaksetujuan saya terhadap Stalin, bukan ketidaksetujuan saya
dipanggil sebagai seorang sosialis.
Dan sebagai catatan, bila Stalin dan kroni-kroni birokratnya di Partai
Komunis Uni Soviet dan Partai Komunis lainnya yang merupakan cermin
dari PKUS di bawah Stalinisme mengaku sebagai Marxis yang sejati, maka
tugas seorang Marxis adalah untuk menggalang perjuangan ideologi
melawan mereka. Benar, akan selalu ada saling serang menyerang di
dalam gerakan kiri (yang mengaku kaum Marxis, kaum Anarkis, kaum
Sosialis, kaum Liberal, dll) dan semuanya akan mengaku sebagai
penganut revolusi yang sejati. Inilah dinamika perdebatan ide dan
perspektif di dalam gerakan sosial manapun, kita tidak bisa menyangkal
hal tersebut. Yang harus kita lakukan adalah memaparkan
argumen-argumen kita secara sistematis dan meyakinkan yang lain untuk
bergabung dengan kita. Akan selalu ada mereka-mereka menggunakan
pengkultusan individu dan dogmatisme untuk berargumen, tugas kita
adalah menunjukkan kebobrokan mereka dengan metode argumentasi yang
sistematis, dialektis, dan materialis.
PEDOMAN PRAKSIS PERAN INDIVIDU
Kita sebagai individu harus sadar akan posisi kita sebagai peran
subjektif dalam batasan kondisi objektif. Pertanyaannya bukan "Apakah
manusia itu makhluk individual atau makhluk komunal?" seperti yang
dipaparkan Bung Dio, pertanyaan yang tepat adalah: apakah posisi dan
tugas kita sebagai individu (subjektif) di dalam komunitas (objektif)?
Tugas kita adalah untuk mampu mengerti batasan-batasan kondisi
objektif tersebut, yakni kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, dan
kemudian bertindak sesuai dengan analisa tersebut. Mereka-mereka yang
bertindak tanpa analisa sosial sama sekali, dan sebagai konsekwensinya
bertindak di luar batasan kondisi objektif, kerap terkucilkan dari
gerakan massa; sebaliknya, mereka yang bertindak sesuai dengan analisa
kondisi sosial di dalam masyarakat akan mampu menjadi sebuah kekuatan
yang menentukan gerakan massa.
Diskusi mengenai peran subjektif dan peran objektif tidak boleh
tereduksi menjadi debat filsafat yang tidak relevan terhadap gerakan
sosial. Bung Dio benar secara filsafat murni saat dia berujar bahwa:
"
siapapun yang meneliti sejarah masyarakat manusia harus meletakkan
sosok-sosok dalam konteks obyektif, yakni watak alamiah dan sosial
manusia secara global (kami cenderung menggunakan kata global
dibanding universal) yang memerlukan materi-materi untuk hidup dan
posisi kelas." Konsep obyektivitas yang melihat dunia dari luar ini
tentu saja akan meraih kesimpulan bahwa semua sosok individu tersebut
(Lenin, Hugo Chavez, dll) hanyalah bagian dari perkembangan sosial.
Tetapi konsep obyektivitas ini tidak relevan sama sekali untuk para
aktivis yang ingin secara sadar merubah masyarakat dari dalam sebagai
individu, dan bukan hanya ingin memahami masyarakat layaknya seorang
filsuf akademis. Dimana filsafat yang non-dialektika melihat konsep
subjektivitas dan objektivitas sebagai kontradiksi, dialektika justru
melahirkan sintesa dari kontradiksi tersebut, sebuah sintesa yang
praksis di dalam gerakan sosial.
Kapitalisme sekarang sudah memasuki era krisis lagi. Ada dua jalan
keluar dari krisis ini: Pertama, rakyat bangkit dan menggulingkan
kapitalisme untuk selama-lamanya; Kedua, kapitalisme akan selamat dari
krisis ini dengan mengorbankan buruh, tani, dan kaum miskin.
Pilihannya adalah: Sosialisme atau Barbarisme! Kondisi objektif
(situasi ekonomi dan sosial) untuk sebuah perubahan sosial yang
permanen sudahlah matang, yang diperlukan sekarang adalah sebuah
faktor subjektif, yaitu: sebuah kepemimpinan yang sadar akan tugas dan
posisinya; bukan sebuah kepemimpinan yang diremehkan oleh massa yang
ingin dipimpinnya tetapi sebuah kepemimpinan yang mendapatkan
pengakuan dari buruh, tani, dan kaum miskin karena dedikasi mereka dan
kemampuan mereka untuk memimpin; sebuah kepemimpinan yang dapat
memenangkan dukungan dari rakyat dengan program-programnya yang tepat;
sebuah kepemimpinan yang dapat mengantarkan "Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia" dengan permanen dan sepenuh-penuhnya.
Catatan:
[1] Program Partai Ouvruier
(http://www.marxists.org/archive/marx/works/1880/05/parti-ouvrier.htm)
[2] Surat Engels kepada Eduard Bernstein, 2 Nopember 1882
(http://www.marxists.org/archive/marx/works/1882/letters/82_11_02.htm#356)
Bersatu Rebut Kekuasaan: Hancurkan Kapitalisme, Imperialisme, Neo-Liberalisme,
Bangun Sosialisme!
Situs Web: http://come.to/indomarxist
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/