http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2007/12/satu-lagi-presiden-perempuan-anti.html

PELUANG DAN TANTANGAN PARTAI POLITIK BARU MENUJU PEMILU 2009

Oleh: * NURANI SOYOMUKTI

(Dimuat di Harian SURYA, Rabu 24 Januari 2007)

Meskipun Pemilu 2009 masih dua tahun lagi, telah terjadi euforia politik 
mendirikan partai baru. Tercatat misalnya nama-nama partai seperti Partai 
Kedaulatan Rakyat (PKR), Partai NKRI, Partai Persyarikatan Rakyat (PPR), dan 
beberapa partai Kristen (PDKB, Kristen-Demokrat, Kristen Sosialis) membentuk 
Partai Kristen Bersatu. Juga terdapat partai baru pecahan PDI-P yakni Partai 
Demokrasi Pembaharuan (PDP). Secara tipologis ada beberapa hal yang menjadi 
sebab munculnya partai-partai baru tersebut. Pertama, partai-partai baru yang 
muncul dilatarbelakangi oleh keinginan membangun alat politik baru karena yang 
lama sudah tidak memadai. Yang masuk kategori ini adalah PKR yang salah satu 
pendirinya Dawam Rahardjo seorang cendekiawan yang  dulu bergabung di PAN dan 
mantan politisi Partai Damai Sejahtera. Kedua partai-partai baru yang muncul 
karena pertentangan/konflik internal partai-partai lama/partai besar seperti 
lahirnya Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) yang dipimpin Roy BB
 Janis dan Laksamana Sukardi, pecahan PDIP, atau partai NKRI yang digagas Sys 
Ns mantan politisi Partai Demokrat.

Ketiga, partai baru hasil penggabungan partai-partai kecil yang dulunya 
memperoleh suara kecil dan terancam oleh mekanisme verifikasi Depkeham dan KPU, 
maupun electoral threshold, misalnya Partai Kristen Bersatu. Keempat, 
partai-partai baru yang digagas oleh aktivis gerakan rakyat, gerakan mahasiswa, 
LSM, serikat buruh, serikat tani, atau pekerja seni seperti Partai KP-Partai 
Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS) dan Partai Pesyarikatan Rakyat (PPR).

Ghiroh mendirikan partai ini tampaknya masih berkaitan dengan nuansa pasca-Orde 
Baru yang menunjukkan rakyat lebih bebas untuk menyalurkan aspirasinya. Dalam  
sebuah negara yang demokratis dan menghormati hak-hak warganya, pendirian 
partai-partai baru tentunya merupakan kemajuan. Logikanya, semakin banyak 
organisasi berdiri, kanal (saluran) politik bagi rakyat semakin banyak.

Banyak pendapat yang dilontarkan oleh para pengamat tentang munculnya 
partai-partai baru ini. Sebagian memandang sinis, sebagian juga ada yang 
optimistis. Yang jelas, pandangan dan tanggapan terhadap partai-partai baru 
tidak lepas dari kondisi kepartaian yang ada di Indonesia. Kita menjumpai wajah 
yang berbeda-beda dalam berbagai macam kurun waktu dalam perkembangan peta 
politik kebangsaan kita. Kita tidak bisa menilainya secara hitam putih, tetapi 
harus secara objektif.

Alat Perjuangan dan Pencari Kekuasaan

Apatisme terhadap partai-partai baru harus dilihat dalam konteks citra 
partai-partai yang ada selama ini, terutama yang mempunyai hubungan langsung 
dengan proses pengambilan kebijakan ekonomi-politik di masyarakat. 
Partai-partai  ramai didirikan dan ada yang lolos untuk berkompetisi dalam 
pemilu 1999 dan 2004. Maka, output kebijakan yang menimpa nasib rakyat 
logikanya adalah hasil dari proses pembuatan kebijakan (policy making process) 
yang dilakukan oleh kekuasaan/pemerintah yang orang-orangnya direkrut dari 
partai-partai politik yang ada.

Sayang, masih sangat jelas, partai lama (Golkar) masih menjadi kekuatan. 
Sedangkan partai-partai baru yang memiliki kekuatan hampir sama, yang awal-awal 
berwatak sok reformis, akhirnya juga ikut larut dalam upaya untuk membuat 
kebijakan yang menindas. Dengan partai-partai dan para tokoh-tokoh yang menjadi 
aktor kunci dalam pembuatan kebijakan di negeri ini semuanya menghasilkan 
kebijakan yang bukannya mengatasi permasalahan rakyat, tetapi justru menambah 
kesengsaraan. Dalam konteks sekarang, partai-partai baru masih mewarisi citra 
partai lama yang 'anti-rakyat' tersebut, padahal partai adalah alat organisasi 
bagi rakyat untuk menyelesaikan  persoalan-persoalannya.

Meskipun demikian, pada saat yang bersamaan, partai-partai baru sebenarnya 
bergantung pada kemampuan mencitrakan diri 'bersih' dan 'berbeda'. Masa 
depannya bergantung pada landasan ideologis, strategi-taktik, dan 
program-program yang berbeda dengan partai lama, dan memiliki kemampuan untuk 
menunjukkan bahwa ia memang berbeda.

Objectively, ada dua hal yang menunjukkan bahwa partai lama memang tidak mampu 
dan mau untuk memberikan perbaikan pada nasib rakyat. Pertama, partai lama 
ketika berkuasa tidak menjawab persoalan, tetapi justru mengkhianati rakyat. 
Sejak Orde Baru dianggap tumbang setelah Soeharto jatuh, ternyata partai Golkar 
(yang dalam pemilu 1999 dan 2004 masih berada di papan atas) masih kuat. 
Sedangkan partai-partai baru seperti PDIP, PAN, PKB, PKS, PBB, Demokrat, dan 
lain-lain juga menjadi penopang bagi kebijakan pemerintah untuk mengambil 
kebijakan dan tindakan-tindakan ekonomi politik yang justru semakin 
menyengsarakan  rakyat.

Kedua, partai-partai lama banyak yang dilanda perpecahan. Perpecahan ini 
kadang-kadang dibaca oleh rakyat sebagai konflik rebutan jabatan dan kekuasaan, 
dan dengan demikian keberanian para elit partai-partai tersebut bukanlah 
keberanian untuk menyuarakan suara dan tuntutan rakyat--tetapi keberanian dan 
tindakan untuk berebut kekuasaan dalam menipu rakyat.

Demikian pula yang dibangun oleh partai politik lain, termasuk PKS misalnya. 
Meskipun dianggap partai yang berlatar belakang bersih namun posisi PKS 
berkoalisi dengan rezim sekarang sedikit banyak memengaruhi dukungan massa, PKS 
masuk dalam bagian dari rezim yang menaikkan harga BBM; mendukung komando 
teritorial TNI; dan partai-partai lain yang mendukung impor beras, mengampuni 
Soeharto, dan lain-lain. Dalam persoalan program, PKS, misalnya, tidak punya 
program konkret, selain isu-isu idealisme moral seperti dukungan atas 
perjuangan rakyat Palestina melawan Zionis, anti-pornografi, “pemerintahan  
bersih”.

Ketika berhadapan dengan imperialisme maka PKS menyerukan masyarakat berlawan 
hanya karena penjajah global itu berasal dari Barat/dunia non-Islam tetapi 
tidak ada sebuah program politik-ekonomi untuk melawan/ berkonfrontasi dengan 
imperialisme pada saat imperialisme telah memiskin semua umat manusia (termasuk 
di Indonesia), bukan hanya orang Islam. Di beberapa daerah tempat PKS dominan, 
penggusuran tetap saja terjadi. Upah buruh tetap saja murah, pendidikan dan 
kesehatan tetap saja mahal, korupsi tetap saja terjadi. Situasi material 
kemiskinan masyarakat semacam itu membuat tawaran agamis dari partai-partai 
Islam tampaknya tidak akan cukup efektif dalam menggaet massa rakyat untuk 
mendukungnya.

Sebagaimana disampaikan pengamat politik Bachtiar Effendi, partai Islam 
diyakini tidak akan menjadi pemenang pemilihan umum. Perolehan terbanyak partai 
ini dalam sejarah hanya 42.5 persen pada Pemilu 1955 (Koran Tempo, Minggu, 15 
Oktober 2006). Menurutnya,  partai Islam tidak bisa tampil sebagai partai 
penguasa layaknya partai-partai berbasis sekuler, seperti Partai Golkar, PDI 
Perjuangan, ataupun Partai Demokrat. Sebab, kata dia, wilayah politik partai 
Islam terbatas. Partai Islam kerap membawa isu lama, seperti penerapan syariat, 
pembentukan negara Islam, dan presiden beragama Islam. Partai Islam yang pada 
2004 memperoleh suara yang cukup signifikan seperti PKS, yang awalnya membawa 
isu-isu populis (dan bukan sekedar isu religius atau moralis), ternyata justru 
mendukung kebijakan SBY-Kalla yang tidak populis.

Hal inilah yang juga dicatat oleh partai-partai baru yang hendak membawa simbol 
Islam dalam partainya. Menggunakan retorika, sentimen, dan isu-isu agama dalam 
sebuah kampanye politik demi menangguk simpati massa dan mendongkrak perolehan 
suara belum tentu menguntungkan sebuah partai politik. Masyarakat ternyata 
lebih membutuhkan isu-isu dan program-program yang lebih nyata menyangkut hajat 
hidup mereka yang  paling asasi. Beberapa survei menunjukkan, isu perbaikan 
sektor ekonomi yang lebih menjanjikan dianggap paling mendesak untuk diusung 
dan dikedepankan. Sementara isu atau janji pemberlakuan syariat Islam, dalam 
survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan berkaitan dengan Pemilu 
2004 lalu, justru berada pada nomor buncit kebutuhan masyarakat.

Partai politik Islam, apalagi tanpa mengakomodasi tuntutan-tuntutan kerakyatan 
dan memperjuangkan keadilan ekonomi, tampaknya masih akan ditinggalkan oleh 
banyak pemilih. Sebagaimana diungkapkan Bachtiar Effendi yang mengamati dan 
meneliti politik Islam di Indonesia, setelah Pemilu 1955 dukungan ke partai 
Islam terus menurun. Data ini dikuatkan hasil jajak pendapat Lembaga Survei 
Indonesia pada 23 September hingga 3 Oktober 2006. Sebanyak 1.092 responden 
berusia di atas 17 tahun yang beragama Islam lebih berorientasi partai sekuler 
dalam berpolitik. Artinya, hasil penelitian Lembaga Survey Indonesia (LSI) 
menunjukkan  Islam politik dalam tingkat elektoral dan politik kepartaian 
menjelang pemilu 2008 belum menunjukkan tanda-tanda adanya peningkatan jumlah 
suara. Dari hasil pengukuran opini publik tentang prospek pemilu yang dilakukan 
LSI, partai-partai Islam seperti PKS, PBB, PPP belum menunjukkan peningkatan 
yang berarti. Mereka jauh tertinggal oleh partai-partai sekuler
 (Golkar, PDIP, Demokrat) seperti yang terjadi dalam Pemilu 2004 (Media 
Indonesia, Minggu 15 Oktober 2006).

Partai-partai lama tentunya akan melakukan hegemoni kesadaran terhadap 
masyarakat agar kekuasaan tetap bisa direngkuh. Sebagai contoh, Golkar akan 
tetap mengorganisasi modal ekonomi-politik lama untuk menampilkan citra dan 
memobilisasi suara, melalui struktur dan media-media yang dikuasainya. Demikian 
juga, PKS akan tetap melakukan hegemoni kesadaran dengan menggunakan agama dan 
rasialisme, mengumandangkan sentimen moral dan agama untuk mempertahankan dan 
meningkatkan perolehan suaranya--bahkan juga  menyebarkan paham fatalisme dan 
mistisisme dengan mengintervensi media (TV, koran, majalah, tabloid) agar 
kesadaran rakyat terpaku pada kebenaran program-program partainya.

Meskipun demikian, partai baru masih akan tetap memiliki peluang untuk 
mengambil posisi berhadapan dengan partai-partai lama sepanjang ia mampu 
menerapkan landasan ideologis, strategi-taktik, program, dan tindakan politik 
yang mampu merubah kesadaran massa ke arah perbaikan struktur ekonomi-politik 
yang memihak rakyat. Jika menurut data-data penelitian di atas, partai-partai 
lama masih akan tetap menang, mungkin kemenangan mereka tidak akan sekuat pada 
pemilu sebelumnya.

Artinya, partai-partai baru disediakan oleh kondisi objektif masyarakat yang 
harus direspons dengan tampilan partai yang cocok untuk perubahan. Partai baru 
masih punya ruang terbuka untuk menantang--bahkan menggantikan--posisi 
partai-partai lama yang nyata-nyata tidak mampu menyelesaikan masalah, tetapi 
justru menambah  permasaalahan bangsa (kemiskinan dan penindasan).***

* Nurani Soyomukti, aktif di JAMAN (Jaringan Kaum Muda untuk Kemandirian 
Nasional) Jawa Timur; pernah menjadi peneliti tamu di International Center for 
Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta; penulis buku “Revolusi Bolivarian, Hugo 
Chavez, dan Politik Radikal” (RESIST BOOK, Yogyakarta); memperoleh penghargaan 
Juara I Lomba Esai Pemuda Tingkat Nasi

Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]



Bersatu Rebut Kekuasaan: Hancurkan Kapitalisme, Imperialisme, Neo-Liberalisme, 
Bangun Sosialisme!

Situs Web: http://www.indomarxist.co.nr/
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indo-marxist/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke