> 1. Saya mau tanya kegunaan script ini
> alter session set events = 'immediate trace name
> flush_cache';

Perintah di atas akan membersihkan memori buffer_cache
di oracle. Biasanya di jalankan di oracle versi 9i
(gak yakin kalau bisa dijalankan di < 9i).
Kalau di oracle 10g, fungsi yg sama telah tersedia
dengan command: 
 alter system flush buffer_cache;

> 3. Apakah dengan perintah ini, apabila database
> dalam keadaan peak bisa "normal" kembali, / tidak
> berat ?

Perintah tsb biasanya tidak utk dijalankan di
production. Kegunaannya lebih utk testing. Misalkan
Anda ingin membandingkan performance I/O dari query di
database yg berbeda, utk menghindari data yg diquery
sudah tersimpan di memori buffer, maka buffer_cache di
flush di kedua db tsb.

Kalau di lakukan di production, impactnya semua blok
data yg telah ada di buffer akan dihapus. Efeknya,
blok2 tsb harus kembali diambil dari disk yg jauh
lebih lama aksesnya dibandingkan memori. Jadi efeknya
justru sangat jelek.

> 2. Bagaimana release process yang sudah dikill
> (remark
> to kill) tidak menggantung lagi

Biasanya, session tidak bisa di kill karena sedang
melakukan sesuatu yang agak berat. Misalkan saja
update/delete dalam jumlah yg besar, atau transaksi
terdistribusi melalui dblink. Setelah bbrp saat (bisa
lama juga sih), normalnya proses pmon akan
membersihkan  proses tsb. Saya rasa itu normal karena
oracle harus menjaga konsistensi data.
Kecuali Anda melihat kalau proses tersebut terus
memakan resource dan tetap exist dalam waktu yg lama.
Untuk itu lebih baik kontak oracle support (metalink).

> 4. Untuk server database bagaimana mengatur downtime
> yang bagus.
> 
> terima kasih
> 
> Imansyah
> 

down-timenya pada saat database tidak dipakai user
:)..hehe..

Secara garis besar kita memiliki 2 jenis downtime, yg
direncanakan (misal: apply patch, reorganisasi data)
dan tidak direncanakan (misal: db/server crash,bencana
alam).
Umumnya kita berusaha meminimalkan impact dari setiap
downtime terhadap bisnis. 

Downtime yg direncanakan mungkin tidak terlalu
masalah, yang penting eksekusi harus sesuai dengan yg
direncanakan, makanya perlu di-test berulang2 sebelum
dijalankan di production.

Downtime yg tidak direncanakan inilah yg mesti
dipersiapkan utk seminimal mungkin. Misalnya
menggunakan cluster utk proteksi thd server/instance
crash, menggunakan standby db utk proteksi thd
bencana; duplikasi jalur network, disk, ups. Seberapa
tinggi high-availability yg ingin dicapai akan
dibatasi oleh cost utk implementasi. Jadi perlu
justifikasi bisnis disini.

Cuma utk hal yg basic, pastikan dulu untuk mendapatkan
database yang stabil, sehingga database tidak sering2
down hanya karena masalah sepele. Pastikan konfigurasi
database sudah benar, jumlah disk yg dialokasikan
cukup, aplikasi terkontrol, dan resource cpu/memori
memang reasonable sesuai dgn workload.


regards,
tomi



 
____________________________________________________________________________________
Get your own web address.  
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

Kirim email ke