Thanks, Er. Kemarin2 ini lagi repot. Bolak-balik ditugasin ke Jakarta. Sayang kerjaannya padet banget, sampe bener-bener nggak sempet ngeluangin waktu ngapa2in. Apalagi pas hari apa tuh, Jumat kalo nggak salah, baru sampe di Jakarta udah disambut banjir besar, sampe-sampe taksi dari bandara nyangkut di tengah jalan dan ngelanjutin ke kantor naik ojek. Busssetttt dah Jakarta! Akhirnya oleh-oleh aja titip dibeliin ponakan. Padahal pengen banget tuh hunting DVD di Ambassador atau M2M.
Eh iya, tadi pagi di koran juga Menteri Lingkungan Hidup baru ngomong bahwa beberapa pulau di Indonesia akan tenggelam tahun 2017 atau berapa gitu deh, akibat global warming. Ngeri emang. Kalo gue sih merasa bukan tugas manusia untuk menjaga keseimbangan alam ini, tapi tugas kita. Kenapa gue bedain gitu, emang kita bukan manusia? He he he, semantik memang, tapi kalo kita ngomong "tugas manusia" kok rasanya seperti nyuruh orang lain gitu lho. Sementara kalo kita ngomong "tugas kita" baru terasa memang harus kita sendiri yang melakukannya. Kecil atau besar nggak jadi masalah. Gue sangat menghindari pemakaian styrofoam dan CFC dalam kehidupan sehari-hari (ini juga karena alternatifnya ada). Bahkan kalo makan di mal (terutama food court) gue berusaha keras milih makanan yang tidak disajikan di wadah styrofoam. Orang boleh bilang "Ngapain lu susah-susah gitu? Mending ada pengaruhnya lagi? Orang lain kan nggak repot-repot kayak elu?" Bukan hanya "boleh bilang" sebenernya. Hal ini pernah dipertanyakan kok di milis yang gue ikutin sebelum ini. Tapi gue pikir, siapa yang bisa pastiin orang lain nggak repot-repot kayak gue? Dalam logika gue, kalo gue berpikir (dan bersikap) seperti ini, bukan nggak mungkin orang lain juga berpikir (dan bersikap) seperti gue. Kalo, anggaplah, akibat sikap gue ini, gue mengurangi limbah styorofoam di Bumi ini sebanyak 1 ton setahun. Misalnya ada 1000 orang yang berpikir sama seperti gue (at least di milis ini aja akhirnya gue ketahui bahwa ada satu orang lain yang bersikap seperti gue), maka limbah styrofoam akan berkurang 1000 ton setahun. Sebaliknya, kalo gue berpikir "Ngapain repot-repot, toh orang lain nggak repot." Maka orang lain juga bisa aja berpikir seperti gue (juga nggak peduli). Akibatnya kalo gue sendiri menambah 1 ton limbah styrofoam dalam setahun, maka 1000 orang yang berpikir sama dengan gue akan menambah 1000 ton limbah styrofoam setahun. Gue juga gak bisa pastiin orang akan berpikir seperti apa. Nggak ada yang tahu itu. Tapi ngapain juga mikirin orang lain? Mendingan kita mulai dari diri sendiri. Syukur-syukur beneran ada 1000 orang yang berpikir seperti gue. Syukur-syukur lebih dari 1000. Misalkan ternyata yang 1000 ton tadi itu cuma mengurangi limbah styrofoam sebanyak 0,01% ya nggak pa-pa juga. Yang penting ada yang kita lakukan. Ora et Labora, guys. At least "labora"nya ada. Hasil mah nomor dua. Seperti tadi gue bilang, itu juga karena alternatifnya ada. Kalo bicara fossil fuel, karena alternatifnya belum ada (yang accesible dan affordable buat gue), maka gue harus akui bahwa gue masih berdosa menambah penumpukan karbon di atmosfer. Tapi ya apa mau dikata, we do what we can. At least I do my share. Banyak kok yang bisa dilakukan. Menghindari buang-buang air bersih percuma, menghindari CFC, menghindari styrofoam, berhenti ngerokok, naik sepeda. Hal-hal kecil yang kelihatannya nggak banyak berpengaruh, tapi menjadi bagian dari tindakan menyelamatkan lingkungan. Ini bukan tugas manusia, tapi tugas kita. Ario _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Eri Wah, penjelasan yang baik sekali Heru and Ario! Wah Ario... gw udah rindu nih tulisan2mu... Gampangnya, efek rumah kaca yang semulanya baik itu akan "Tekor" dikarenakan alam tidak bisa mengimbangi laju polusi CO2 di dalamnya. begitu kan? Tidak seimbang. Sehingga panas pun berlebihan dan terjadilah global warming... es mencair.. hiiiii, permukaan laut naik. hiiiiii lagi... ntar akaya Water World lagi... hehehehe.. Saya rasa memang tugas manusialah (yang juga sebagai bagian dari alam ini) untuk membantu menjaga keseimbangan alam ini. Salam, Eri [Non-text portions of this message have been removed]
