Persepsi..hmm..
Mungkin kita agak berbeda pendapat ya...
Bagi saya persepsi/penafsiran seseorang harus ada landasan ilmu yg
menyertainya ketika ia mengatakannya atau mengkritisinya.
Membaca cerita ttg diskusi yg anda lakukan dgn teman anda, dimana teman anda
mengatakan bahwa hukum manusia gak akan pernah adil dst,dst.
Kalau teman anda berbicara ttg hukum Shariah Islam saya terpaksa setuju dgn
teman anda.
Kenapa, simple saja karena tak ada pasal dari hukum Shariah yg perlu di
persepsikan oleh manusia, jadi memang bukan hukum manusia.
Contoh: hukum pernikahan, perceraian, perbankan syariah, sholat, zakat dsb yg
umum kita kenal. Yang tidak umum misalnya hukum Hudud (pidana).
Ketika saya masih kuliah di hukum, saya lupa mata kuliahnya, adalah bahwa
seluruh aliran hukum negara di dunia baik Anglo Saxon maupun Commenwelth
mengadopsi kitab2 hukum Islam dalam pasal2nya, menghilangkan ciri Islamnya (yg
kental dgn unsur Illahiahnya) dan memasukan unsur agama serta tradisi mereka
sendiri.
Untuk kasus2 luar biasa, seperti pernikahan sesama jenis, cloning dsb memang
perlu penafsiran dari aturan yg sudah ada.
Dalam hukum Shariah ada satu klausul (ayat dlm Al Quran) yg juga memberikan
kebebasan pada manusia untuk membuat aturan diantara mereka sendiri dalam
menjalani kehidupan yg semakin berkembang di luar aturan yg sdh digariskan.
Contoh: Peraturan lalu lintas, perjanjian hutang piutang dsb dsb.
Peraturan manusia atau hukum manusia memang banyak tidak adilnya, saya beri
contoh;
Anda bekerja pergi pagi pulang malam, penghasilan anda dipotong pajak 30%
atau anda bila mempunyai usaha sendiri NPWP usaha anda kena pajak perbulan,
anda sendiri kena pajak pribadi lagi, belum lagi mobil anda, motor anda, tempat
anda tidur, tanah dan rumah anda ada PBB, makan, minum, belanja dsb dsb kena
pajak.
Bandingkan kalau kita pakai hukum Shar'i anda diambil zakatnya dari total
seluruh kekayaan anda 2.5%, mobil atau motor yg anda gunakan sehari2 kalau
untuk usaha/bekerja tidak kena pajak.
Bayangkan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) sudah menghitung, andai seluruh
rakyat Indonesia mau berzakat saja (tentu saja yg muslim) maka dalam 1 tahun
seluruh hutang ke luar negeri kita lunas.
Kasus lain misalnya pidana pembunuhan, banyak kita dengar keluarga para
korban menuntut
pelakunya dihukum mati, tapi kenyataannya hampir 90% tidak,bahkan mereka
bebas dalam kurang dari 10 tahun. Apakah ini adil?...
Korban pemerkosaan yg menderita trauma yg ditanggung seumur hidup, pelaku
rata2 dihukum antara 1-5 tahun. Adilkah?...
Sistim yg salah atau oknum pengadilan yg salah? Keduanya salah.
Seorang guru besar pidana di UI mengatakan bahwa sifat hukum pidana kita
memang menguntungkan terdakwa bukan sang korban, inilah salah satu dasar
ketidakadilan sistim hukum.
Coba anda baca KUHP selalu bunyi hukumannya pasal pembunuhan "Dihukum seberat
beratnya dengan hukuman mati.." Kalimat seberat2nya itulah yg jadi masalah bagi
hakim utk melakukan ketidakadilan, salah satu dasar kelemahan pelaku badan
peradilan.
Wassalam
Herdi
saya percaya akan hal2 ghoib,
dan juga percaya ada hal ghoib yang bisa dipelajari terus jadi teknologi,
ada hal ghoib yang tetep ghoib, fisika nya bukan fisika manusia, apa
lagi fisika nya tumbuh2an :)
hanya saja sepertinya kita berbeda pendapat dalam hal kata 'persepsi',
menurut saya kita melihat 'persepsi' orang lain dari dalam 'persepsi'
kita,
kemarin saya sempet diskusi dng temen tentang ketidak-adilan di dunia
ini, terus dia bilang hukum manusia gak akan pernah adil,dst,dst,
yah saya cuma jawab, bahwa hukum yang lain juga itu hukum manusia,
karena pada dasar nya hasil penafsiran/persepsi manusia tentang suatu
nash/konteks, dst...dst....
IMHO-deng
MN
--- In [email protected], "rizaircooled"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- In [email protected], "Keanu R" <masnunuk@> wrote:
>
> Saya kira kalau soal indigo karena saya mempelajarinya dan melihat
> begitu banyak pasien indigo yg menjadi normal dan selalu sama
> masalahnya maka ini mah..bukan persepsi saya lagi tapi yg sebenarnya
> terjadi.
>
> Kalau saya hanya berteori dan jadi pengamat saja bisa jadi kenyataan
> itu menjadi bagian persepsi saya. Tapi saya mempelajari dan melihat.
>
> Banyak orang tua yang mempunyai anak indigo awalnya mempunyai
> pandangan skeptis dengan masalah goib ini, tapi pada akhirnya mereka
> percaya bahwa itulah kenyataannya. Kalau persepsi anda masih nggak
> yakin, please be open mind like ST, send away team and discover to
> address I wrote.
>
> >
> > saya (InsyaAlloh) Muslim,
> > tentu percaya ttg 'Dajjal',
> > tapi gak pernah mbayangkan ada hubungan nya ama ST :)
> >
> >
> > --- In [email protected], riz aircooled <rizaircooled@>
> > wrote:
> > >
> > >
> > > Masalah indigo menurut saya bukan masalah evolusi manusia tapi
> > masalah kejiwaan yg bersifat ghoib. Ke supernatural an timbul karena
> > tubuh kita dijadikan host oleh mahluk lain yaitu bangsa jin. Orang
> > bisa berbeda persepsi mengenai masalah ini tapi kenyataan yg ada
> > memang demikian adanya.
> > >>>>>>>
> > >>>>>>>'kenyataan nya memang demikian', itu masih persepsi Anda
> Yaa ??
> > >>>>>>>imho, kenyataan memang selalu di 'label'-i oleh persepsi
> >
> > > Wassalam
> > > Herdi
> > >
> >
>
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]