o0o0.. jadi begitu.. masuk akal juga sih.. gw tambahin satu alasan lagi mengapa income sulit diprediksi: piracy!
~~! bayangin udah susah2 bikin effect bagus, eh dijual di pinggir jalan 3000an, apa ngga sakit ati tuh? dan tentunya jadi mustahil memperkirakan / mengharapkan income yang besar dari situ. Well, kesimpulannya sebaiknya kalo mau serius bikin animasi, pindah aja ke Amrik sono. Ada artikel org kita yg berhasil membuat animasi sampai diajak kerjasama Disney dll, setelah karyanya menang di festival film Prancis. [gw lupa baca dimana] --- In [email protected], "Ario Wirawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Setuju, orang kita udah jago-jago kok bikin digital visual effect maupun > animasi 3D. Mungkin SDM yang bagus ini nggak sebanyak di luar sana, tapi > ada. Faktor software dan hardware (yang di luar sana lebih available dan > advanced) juga pasti berpengaruh, tapi bukan yang utama. > > > > Yang gue nggak setuju adalah alasan kejar tayang. Sebetulnya bukan masalah > kejar tayangnya, tapi lebih ke budgeting. Di luar negeri pada saat mereka > produksi film (seri maupun layar lebar), udah keitung proyeksi > pendapatannya, yang pastinya memperhitungkan distribusi internasional. > Sementara kalo di sini, bikin sinetron cuma untuk dijual ke satu stasiun TV. > Udah, abis. Paling-paling, kalo nggak jual putus, nanti bisa dijual lagi > rerun-nya ke stasiun lain, tapi harganya udah turun drastis. Artinya itungan > proyeksi pendapatannya juga udah jelas, yaitu udah jelas nggak begitu besar. > > > > Proyeksi income yang nggak begitu besar pastinya berakibat pada ditekannya > budget produksi. Padahal betul bahwa bikin effect 10 detik bisa makan waktu > 3 minggu. Itu aja itungan Hollwood yang pake komputer spesifikasi tinggi > dengan jumlah yang banyak. Apalagi kalo bikinan sini yang spesifikasinya > biasa dan jumlahnya nggak banyak, bisa-bisa 10 detik kelar dalam 2 bulan > (kalo mau kualitas yang kurang lebih sama). Dalam produksi sinetron, setiap > hari berjalan itu dihitung dengan duit keluar (istilah produser: argonya > jalan terus). Jadi semakin lama sinetron itu diproduksi, semakin mahal > budget produksinya. Akhirnya nanti nggak nutup dengan harga jualnya. > > > > Jadi ya begitulah, UUD, ujung-ujungnya duit. Mereka nggak mau bikin efek > yang mahal karena ngejualnya cuma bisa mentok segitu, nggak lebih. Mendingan > bikin sinetron yang kejar tayang. Budget nggak mahal, cepat tayang dan > jumlah episode banyak. Perputaran uang, walaupun nggak terlalu besar, tapi > bergerak dengan cepat. Lebih untung. Gettooo kannn? > > > > Ario > > > > _____ > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > On Behalf Of Arlandi Landjono > > > > > --- John <protoss_species@ <mailto:protoss_species%40lycos.com> lycos.com> > wrote: > > > gimana yah caranya bisa seperti itu? > > > > apa karena software atau hardware? padahal kalo kita bandingkan dengan > > kualitas special effect di negeri sendiri... [sigh] > > > > pasti alasannya cuma satu > kejar tayang > > kalo soal kualitas, > banyak kok artis2 kita yg hasil 3D-nya keren2. > kalo cuma liat hasil rendernya, gak ketauan orang mana. keren! > > a.r.l.a.n > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
