Common sense... bayangkan tidak ada suara di vacuum space, pasti akan membosankan. saya setuju kalau untuk sci-fi, jangan dibuat senyata film dokumenter. if we enjoy it, that's enough.
BTW maap bukannya meremehkan, tapi sepertinya [mungkin] penonton di Indo tidak akan terlalu mempermasalahkan common sense karena memang mereka [mayoritas] tidak tahu prinsip2 fisika dasar, seperti tidak ada suara di vacuum space, misalnya. Ini juga berkaitan dengan tingkat pendidikan masyarakat kita yang belum merata.. Untuk DI vs Armageddon, gw bukan fans dua-dua nya. DI terlalu slow, sepanjang film gw bosan menantikan 10 menit terakhir yang menggambarkan tabrakan meteor. Armageddon? agak lupa sih, tapi lebih seru karena tegang2nya tersebar di tengah dan akhir cerita. But still, i prefer spaceship battle... --- In [email protected], "Thio Agustinus" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sorry nih, soalnya ini masalah persepsi waktu menonton film sci-fi > aja, bukan meninjau dari hasil pasar lho. Film 'Contact' emang flop di > pasar (ngga masuk box office) tapi film contact adalah salah satu film > sci-fi terbaik bagi gue.....lagi-lagi terserah "apa kata dunia".. eh.. > pasar. > > [Thio :] Setuju.. Contact untuk gue top bgt. > Trus gue mau bikin polling kecil-kecilan. Disini kan semua penggemar sci-fi. > Menurut kalian, mana yang lebih top, secara keseluruhan... Deep Impact atau > Armageddon. > > Gue sendiri lebih suka Deep Impact. memang Armageddon menang di action, > kehebohan. pokoknya selera pasar lah. Tapi teteup, gue lebih suka Deep > Impact > > Thio > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
