Just a simple thought, rasanya terlalu jauh kalo harus mempertimbangkan sampai ke arah dibuat film atau sinetron. Untuk simpelnya mungkin lebih praktikal untuk mengeluarkan kumpulan tulisan-tulisan dulu yang terkait dengan ST, baik issue-issue sosio-kultural maupun tekhnologi-nya. Atau mungkin juga proyek penterjemahan buku-buku ST yang sudah ada (inget winetou jadinya).
Galeshka -----Original Message----- From: J <[EMAIL PROTECTED]> Sent: 2008-01-15 11:14:28 GMT+08:00 To: [email protected] Subject: [Indo-StarTrek] Re: From ideas to reality >From ideas to reality: #Market research Tantangan terbesar adalah bagaimana meyakinkan sponsor atau sutradara. karena itu langkah awal kita bisa buat market research, untuk membuat film yang market-driven alias film yang dibuat untuk memenuhi keinginan penonton, bukan penulis. Karena para investor pada dasarnya hanya ingin meminimalkan risk dan return yang cepat. They don't really care with the content. Dengan analisis pasar, diharapkan film yang kita buat mempunyai nilai tambah di mata investor. Pertama, buat segmentasi penonton bioskop [penjualan dari DVD atau sejenisnya sudah jelas tidak bisa diharapkan], karena kita ingin melihat konsumen secara garis besar. dari situ segmentasi bisa berdasar film apa yang paling banyak ditonton [lokal/asing], film dengan penghasilan terbanyak [untuk lokal maupun asing], demografi penonton [usia, jenis kelamin, pekerjaan, dst] dan motif menonton [untuk pacaran, hiburan, ikut teman, dll] Kedua, tentukan segmen mana yang kita pilih. Tentunya kita ingin menangkap segmen yang terbesar, atau bisa juga setelah di ranking kita target 2 teratas. Kemudian profiling, yaitu menggabungkan semua data yang ada sehingga membentuk satu kesimpulan tentang bagaimana karakter penonton [mayoritas] di indonesia. Contoh kesimpulan profiling nantinya seperti ini: Penonton bioskop mayoritas berusia 18 tahun, laki-laki, masih sekolah, film yang ditonton lokal, bergenre komedi, film terfavorit Get Married, motif menonton karena ikut-ikutan teman. Ketiga, zoom to our target. kita perlu melihat lebih detail karakter penonton yang menjadi target. Singkatnya, contoh kuesioner seperti ini: Bagian 1: Karakteristik konsumen, filter pertama untuk mendapat target yang diinginkan. bila tidak sesuai dengan target [laki2, usia 18, SMU], kuesioner dinyatakan tidak valid. 1. Apa jenis kelamin anda? 2. Berapa usia anda? 3. pendidikan terakhir anda? Bagian kedua: Pertanyaan 1. Apa film favorit anda? 2. apa yang paling anda sukai dari film itu? 3. Apa film yang paling jelek menurut anda? 4. apa yang paling tidak anda sukai dari film itu? 5. Siapa pemain film favorit [pria] anda? 6. Siapa pemain film favorit [wanita] anda? 7. Andaikata anda mempunyai kesempatan membuat film lokal, film seperti apa yang anda buat? Penyebaran kuesioner bisa dilakukan lewat online [friendster, forum, e-mail, dll] maupun offline [di booth pameran, ruang tunggu bioskop, sekolah, dll] Last step, decoding. Menerjemahkan data dari kuesioner menjadi input untuk pembuatan keseluruhan film, mulai dari naskah sampai casting sampai syuting sampai launching. Untuk naskah, if they want comedy, we give em comedy. Untuk casting, if they want Aming, we give em Aming [haha]. Untuk launching, model promosinya bisa melalui nonton bareng gratis di sekolah dengan jumlah siswa tertentu. Well.. guys, what do you think?
