Dearest Eri dan teman-teman,

Memang menyedihkan, tapi ya begitulah adanya. Politik dan ekonomi (baca: 
kekuasaan dan uang) ternyata masih menguasai seluruh relung jiwa para pemimpin 
dunia. Mereka pasti bukan nggak tahu apa yang Eri paparkan di sini. Mereka 
punya kok banyak orang pinter di sekeliling mereka. Cuma ya itu, sifat serakah 
manusia ternyata memang masih menang.

Saya melihatnya begini: mungkin memang Bumi akan hancur kurang dari 100 tahun 
lagi. Apakah ini berarti dunia/universe kiamat? Saya tidak bisa menyimpulkan 
begitu juga. Kan masih banyak planet lain yang kita juga belum tahu ada 
lifeform-nya apa enggak, intelligent or otherwise. Apakah umat manusia akan 
punah? Kemungkinan besar begitu. Tapi masih ada kans sekecil apa pun bahwa akan 
ada survivor. Apakah para survivor ini, jika ada, sanggup bertahan untuk 
membentuk ras manusia baru? Wallahualam. Apakah dalam 100 tahun ke depan 
segelintir manusia akan sanggup membuat koloni di planet lain? Entahlah. 
Melihat lompatan teknologi sekian dasawarsa terakhir ini, walaupun mungkin 
unlikely, tapi bukan mustahil juga.

Intinya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bumi boleh 
hancur, tapi umat manusia bisa survive, bisa juga enggak. Kalau ada yang 
survive, mungkin bisa membuat siklus kehidupan baru ras manusia. Kalau nggak 
ada yang survive, ya mungkin memang cuma sampai segitu usia ras manusia. 
Mungkin memang harus sudah begitu jalannya.

Tapi, yang diajarkan Allah, Tuhan yang saya percaya adalah Satu, bagi agama 
mana pun, walaupun dengan sebutan yang berbeda-beda, dan juga diajarkan oleh 
semangat Eyang Gene melalui Star Trek yang kita cintai, adalah WE DO NOT 
SURRENDER WITHOUT A FIGHT. NEVER!

Mungkin kita hanya orang kecil yang tidak diundang summit dan membuat 
keputusan/kebijakan yang akan diikuti oleh orang senegara. Kebijakan kita 
paling hanya diikuti oleh sekeluarga/sekantor/atau paling jauh se-RT? Tapi 
apakah itu berarti kebijakan (atau bahkan tindakan individu) yang kita ambil 
itu menjadi tidak ada pengaruhnya dalam upaya menyelamatkan Bumi? Siapa bilang? 
Saya tidak berani menyimpulkan seperti itu.

Contoh: kantor saya punya kapasitas listrik dari PLN 105 KVA, dengan kuota 
sekian ratus KWH per bulan. Kalau melebihi kuota, baru bayarnya dihitung per 
KWH. Selama belum mencapai kuota maka bayarnya flat sekian juta per bulan. 
Kenyataannya dari bulan ke bulan pemakaian kantor masih jauh di bawah kuota. 
Artinya semua karyawan di kantor saya bebas pakai listrik sesuka hati. Kalo ada 
yang punya kompor listrik AOWA juga boleh aja dipake. Bayarnya sama kok. Tapi 
kenyataannya ya nggak begitu juga. Tetap aja saya memberi penekanan dan 
pengawasan melekat (maksudnya teguran di sana-sini kalau ada yang nakal) bagi 
penggunaan listrik dan lainnya. Di mana tidak diperlukan, komputer, lampu dan 
AC harus dimatikan. Dan alhamdulillah ini dipatuhi dengan baik.

Oke, itu satu orang di satu kantor. Lalu bagaimana kalau dua? Bagaimana kalau 
tiga? Bagaimana kalau empat? Dan seterusnya dan seterusnya.

Apakah saya merasa penghematan yang saya lakukan punya pengaruh signifikan 
dalam perang menyelamatkan Bumi? Sama sekali enggak. Tapi kenapa tetap saya 
lakukan? Sederhana aja, ya yang tadi itu, we do not surrender without a fight. 
Kalau ternyata pada akhirnya kita kalah dan mati juga, ya nggak pa-pa, emang 
udah begitu jalannya kali. Tapi mungkin aja, tanpa saya ketahui, ada kans 
sekecil apa pun, bahwa saya nggak melakukan ini sendirian. Dan pada akhirnya, 
mungkin jumlah itu akan semakin banyak dan semakin banyak hingga cukup 
signifikan untuk menyelamatkan Bumi sebelum terlambat. Who knows?

It's Kobayashi Maru all over again, guys! Let's kick those bloody Romulans' 
collective asses to Kingdom Come!

Ario




________________________________
From: ER [Energy Revolution] <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, December 20, 2009 10:22:14 AM
Subject: [Indo-StarTrek] CLIMATE SUMMIT: Another Human set Back!

  
[OOT]

Hi Guys,

Saya hanya ingin membagi rasa sedikit di sini, mengenai hasil dari Climate
Summit yang diadakan di Copenhagen, Denmark yang baru-baru saja berlangsung.

Saya sangat sedih dan kecewa, juga kesal dengan Negara-negara yang tidak
berani menaruh komitmennya dengan langkah-langkah jelas dan pasti dalam ikut
serta mengurangi emisi CO2 di negaranya masing2.

Amerika, China, dan Brazil adalah tiga Negara raksasa penghasil CO2 terbesar
di bumi ini, lebih dari 50% gas CO2 perusah bumi ini adalah dari mereka.

Alasan "ekonomi" dan "Politik" dalam negeri yang menjadi penyebab keengganan
mereka dalam pengurangan emisi CO2 ini.

Sebagai pencinta Star Trek dan mengetahui nilai-nilai kemanusiaan yang
disampaikan oleh satu-satunya kisah terbaik di bumi ini, Tahukah kalian,
bahwa kurang dari 100 tahun dari sekarang, suhu bumi akan naik 3 derajat
Celcius.

Jika jawaban kalian, "ok, lalu kenapa? 3 drjt Celcius tidak akan terlalu
panas buat kita kok."

Ini artinya kalian belum tau apa-apa.

Yang akan terjadi jika suhu bumi naik 3 derajat adalah:

*       Es kutub akan hilang. Permukaan laut naik 30-40%, dan negara2
seperti SAMOA, FIJI, MALDIVES, juga kota2 besar seperti JAKARTA, New York,
dll, akan hilang dari muka pelanet ini.
*       Tidak akan ada lagi ikan di laut! Saya ulangi: TIDAK AKAN ADA LAGI
IKAN DI LAUT.
*       Kualitas tanah akan berkurang sehingga banyak variety species
tanaman tidak bisa hidup. Terutama tanaman PANGAN.
*       Drought (kekeringan) dan padang pasir - padang pasir baru akan
bermuculan di Negara yang selama ini diduga tidak mungkin berubah menjadi
padang pasir.
*       Hewan ternak akan ikut punah karena kekurangan sumber makanannya.
*       Kadar garam tinggi di permukaan laut yang semakin luas sehingga
Iklim berubah drastis, badai angin dan magnet terjadi di mana2.
*       Manusia akan mengalami kelaparan.
*       Apa lagi? Masih kurang?

Anak-anak kita adalah generasi manusia terakhir di planet bumi ini.

Apa perlu saya ulangi? Anak-anak kita adalah generasi manusia terakhir di
planet bumi ini.

Einstein pernah berkata, "jika lebah punah, maka manusia pun punah"

Hilangnya satu species hewan seperti lebah saja sudah bisa mempengaruhi
manusia. Apalagi jika banyak hewan punah?

Silahkan baca buku "SUSTAINING LIFE" (2008) karya penulis pemenang Nobel,
Eric Chivian and Aaron Bernstein . yang memaparkan bagaimana sebenarnya
manusia sangat berrgantung pada diversity dari hewan dan tumbuhan, bahwa
manusia SANGAT bergantung pada alam ini lebih dari yang kita bayangkan
selama ini.

Dan alam ini hanya akan selalu ada (sustained) bila tidak mengalami
perubahan drastis.

Betapa sombongnya mereka yang menolak atau menunda aksi penurunan CO2 ini.

Obama berkata bahwa ia akan berusaha untuk menjaga agar kenaikan suhu bumi
tidak lebih dari 2 derajat C. Ini adalah kebijakan yang sangat keliru.

Suhu bumi ini tidak bolah naik satu C derajat pun.

Apakah Politik dan Ekonmi bisa menyelamatkan kita?

Apakah mereka berpikir bahwa UANG bisa membeli ikan yang sudah punah?

Politik apa yang harus dipertimbangkan lagi?

Betapa kecil dan sempit cara mereka memandang. Mulut saya samapi ternganga,
terpana, dan sangat terkejut betapa kata-kata tidak pantas itu bisa
diucapkan oleh mereka?

Sombong! Sangat sombong!

Lalu bagaiman dengan kita dan anda yang ada di Indonesia?

Indonesia juga adalah bagian dari Negara penghasil gas CO2. Apa yang sudah
kita lakukan? Apakah ada satu kebijakan yang dibuat pemerintah yang
bertujuan mengurangi emisi CO2 ini?

Apakah Negara ini jauh lebih buruk dari 3 negara raksasa itu?

ENERGY REVOLUTION harus mendapat tempat di dalam undang-undang dasar Negara
kita.

Australia sudah akan memulai mengganti ketergantungannya terhadap COAL di
tahun2 mendatang.

Australia akan merubah padang pasir nya menjadi ladang energi matahari dan
wind power. Yang juga akan digunakan menyuling air laut sebagai air bersih.

Bagaimana dengan Indonesia?

Harap diingat bahwa AIR BUKAN Renewable Energy! Buku pelajaran di sekolah
harus dirubah. Air bukan sumber alam yang tanpa batas.

Say NO to Fossil Fuel!

(Fossil Fuel = Gas, Oil, Coal)

We Need Energy Revolution NOW!

We owe this planet from our children

Selamatkan hidup anak kita! Selamatkan planet ini!

Salam,

ER

[Energy Revolution]


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke