Kami beranjak pergi, ketika Alanis Morisette mulai
menyelesaikan reffrain tembang Thank You. Bukan karena
tak suka penyanyi Kanada ini. Tapi, lebih dari itu,
karena kami khawatir, jika memilih bertahan, hingga
Alanis selesai manggung, bukan tak mungkin kami akan
terjebak puluhan ribu penonton yang menyesaki Gurten
Open Air Festival. Maklum, jalan satu satunya untuk
kembali ke �peradaban� di Bern, cuma lewat kereta
khusus, yang tentunya tak akan mampu memuat ribuan
penumpang sekaligus. Memang ada jalan setapak, tapi
dengan beban rangsel di punggung, dan segala peralatan
camping, tentu bukan pilihan bagus. Apalagi, kami
sudah mulai lelah, ngantuk dan puas dengan festival a
la Woodstock itu, tiga hari tiga malam.
Gurten Open Air Festival, disebut sebut festival musik
panggung terbuka terbesar di Swiss, setelah kegiatan
serupa di St. Gallen. Sesuai namanya, lokasi kegiatan
ini berada di sebuah punggung bukit Gurten. Bern, ibu
kota Swiss, terlihat mungil dari puncak bukit ini.
Seperti juga umumnya festival open air, kami membawa
tenda dari Luzern, dan menancapkannya di tanah lapang.
Ribuan tenda di tanah lapang bekas padang rumput
untuk menggembala sapi itu menjadi bukit yang warna
warni. Tenda kami, hanya menjadi satu nokta ungu di
antara keragaman warna.
Tetangga sebelah seorang wanita muda, ayu, namun
sendirian tampaknya. Saya membantu menancapkan salah
satu paku tendanya, sementara istri saya merapikan
interior tenda kami.
�Saya dari Chuur,� katanya seraya menyebutkan namanya,
yang saya tak begitu mudah mendengarnya secara jelas.
Nama nama Swiss, sering membingungkan, bagi orang
Indonesia. Begitu juga nama Indonesia, sering membuat
telinga Swiss jadi agak rusak.
�Boleh dengan bahasa Jerman saja toh,� pintaku,
setengah memaksa.
Chuur, salah satu kota di provinsi Graubunden,
menggunakan bahasa Retho Romans, salah satu bahasa
resmi Swiss, namun sangat minoritas. Dia hanya
tersenyum, tanda mengiakan.
Di belakang tenda kami, ada tenda cukup besar, berisi
anak anak muda, entah dari mana asalnya. Tapi pada
hari kedua, saya tahu, salah satu remaja itu datang
dari Frauenfeld, Thurgau. Perkenalan yang tak sengaja,
ketika saya lihat salah seorang dari mereka,
tergeletak di rumput dengan wajah agak pucat.
�Terima kasih, sekarang saya mesti pulang,� katanya
lemah. Terima kasih itu diucapkan, lantaran sayalah
yang memanggil tenaga medis, ketika menemukannya
tergeletak teler dan agak demam suatu senja.
Sebenarnya usia kami tak pantas lagi berada di
festival semacam ini. Tapi keinginan menikmati musik
semacam ini, lebih kuat ketimbang nilai kepantasan
itu. Lagi pula, masih ada beberapa, meski tak banyak,
penonton yang seusia kami, 30 � 35 tahun. Juga, kami
tak melulu berada di festival ini sepanjang waktu. Ada
satu hari khusus, kami menjelajahi Bern, kota keempat
terbesar di Swiss, setelah Zurich, Basel dan Jenewa.
Kami sarapan di sebuah cafe kecil, di depan gedung
bank nasional Swiss. Sebuah sarapan yang beradab,
setidaknya di bandingkan di bukit Gurten.
"Pilihan yang tepat, karena tiap akhir pekan, kami
membuat sendiri gipfelinya," kata pelayan cafe itu.
Gipfeli adalah roti berbentuk tapal kuda, semacam
croissant kalau di Perancis. Di Swiss, ada yang diisi
coklat dan ditaburi serpihan kacang, atau tanpa
pemanis sama sekali.
Kami memilih gipfeli biasa, dan secangkir kopi
macchiato dan segelas jeruk peras. Macchiato ini
indah, tapi saya agak agak tak suka. Indah karena
tekstur kopi dan susu terpisahkan dengan sempurna.
Tapi kalau mau minum ya diaduk dulu, dan wuss
keindahan itu segera sirna.
Kalau tamu banyak, saya tak pernah suka kalau ada
pesanan minuman ini, ketika bekerja di hotel dulu.
Membuatnya perlu kecermatan khusus, sementara untuk
meminumnya tinggal mengaduk, dengan resiko keindahan
yang saya buat dengan kecermatan khusus itu sirna,
lalu menyeruputnya. Hanya orang orang khusus yang
menyukai meniman jenis ini, selebihnya awam
menyebutnya sebagai kopi susu biasa.
Bern berasal dari kata B�r, beruang. Sesuai namanya,
dinamai Bern sebagai penghormatan kepada beruang
pertama yang dibunuh Bertold V, ketika berburu di
kawasan ini. Bahkan, sampai sekarang beruang menjadi
maskot Bern. Ada taman khusus dengan puluhan sangkar
beruang di dalamnya. Ada kisah, salah satu beruang
itu lepas dan menjadi huru hara lokal di kota ini.
Salah satu landmark kota ini adalah gereja Katredal.
Sebaiknya naik ke menaranya, karena dari sana bisa
melihat genting rumah penduduk bern yang khas, serta
sungai Aare yang hijau. Gedung parlemen juga bisa
disinggahi, termasuk tur kecil di dalamnya. Puluhan
museuem bertebaran di kota ini, sebagaimana kota kota
Swiss lainnya. Cara terbaik mengenal kota ini ya
dengan jalan kaki, bukan dengan mobil. Tinggal pilih,
mana yang paling menarik disinggahi.
Menjelang petang, kami kembali ke bukit Gurten.
Peradaban baru mulai terasa kembali di Gurten. Musik
yang ingar bingar dari tiga panggung berbeda, asap
daun ganja memendar dari mana mana. Makan dan minum
dari piring plastik, serta mandi atau cuci muka mesti
antri paling cepat 30 menit. Suka musik agak agak
lama, bisa ke panggung Earth, Wind and Fire, yang saat
itu permainannya kedodoran. Mau ngerock, bisa mendekat
ke bibir panggung Skin, atau Alanis. Sayang, idola
saya, si jelita Heather Nova, tak main disini. Diamuk
36 band atau penyanyi solo, pemuja pertunjukkan
festival panggung terbuka, tentunya terpuaskan.
Kerusuhan? Nyari tak ada. Meski separuh pengunjungnya
teler berat, baik karena ganja atau alkohol, konser
musik relatif aman di Swiss. Keramaian yang kerap
memantik kerusuhan, lebih banyak disebabkan
pertandingan sepak bola, bukan konser musik. Ketika
istri hamil 7 bulan, kami masih berani nonton konser
Metallica di Zurich. Tidak ada yang noel noel atau
mengendus endus, sebagaimana konser serupa di Lebak
Bulus Jakarta, puluhan tahun lalu.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.
http://info.mail.yahoo.com/mail_250
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/6iY7fA/5WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/