ini salah satu contoh tulisan feature yang saya buat
ketika mengunjungi seorang sahabat. lebih ke arah
feature yang deskritif tentang suasana tempat, satu
dua alinea ke arah deskriftif manusianya.
mohon maaf moderator, jika ini menyimpang, namun
sekadar untuk menggambarkan bagaimana salah satu cara
menulis, seperti yang diminta teman teman. kali ini,
ejaan (huruf besar dan kecilnya, tidak saya
perhatikan, memang bukan contoh yang baik untuk hal
tersebut), tapi saya membuatnya dengan kalimat yang
mengalir. tentu masih banyak kekurangan, disinilah
kita berbagi. dan semoga ada gunanya bagi kita semua,
atau minimal yang pernah menanyakan tentang hal ini.
salam,
krisna
switzerland
======
malaikat kecil dari ottoberg
buah apel berjatuhan di beranda belakang rumah maja
engeli, sahabat kami, di ottoberg, provinsi thurgau,
swiss. di temani dua kucingnya, harriet dan babete,
serta ayahnya yang sudah sepuh, kemarin siang kami
ngobrol ngalor ngidul, sebagai sahabat yang kangen.
tak percuma saya mesti capek dan kaku nyetir peqeuot
tua hingga ke desa yang menancap di bibir bukit itu.
keletihan menembus jalan tol luzern - thurgau nyaris
sepanjang 100 kilometer, seperti terhapuskan dengan
pemandangan kebun anggur, sapi, ladang arbei dan
perbukitan yang indah. sayang, daratan jerman yang
hanya berjarak 9 kilometer, belum juga kelihatan
karena terhalang bukit.
maja engeli seorang kristen relijius. di gereja tua di
napoli, saya selalu menyulutkan sebatang lilin
untuknya. janda tanpa anak ini sekarang bekerja di
sebuah rumah singgah bagi penderita ketergantungan
narkoba, di zurich. ijazah antroplogi universitas
zurich belum memberikan kesempatan bekerja yang pas
untuknya. saya tak akan pernah melupakan wanita baik
ini, dialah salah satu saksi pernikahan kami di
catatan sipil luzern. kedekatannya dengan angie,
istriku, juga mendekatkannya denganku. kenangan
manisnya bersama thomas, bekas suaminya, sering di
ceritakan jika kami bertemu, entah di luzern atau
zurich.
di kampungnya, ia hanya mengucapkan sekali nama bekas
suaminya itu. saya tak menyinggungnya lebih jauh,
karena ada ayahnya, juga karena tak ingin mengungkap
kembali luka lamanya.
rumah ayahnya mungil dan berada di lereng bukit. dari
ruang tamunya, ada jendela kaca seukuran meja
pingpong, menembus lembah nan permai. sebuah piano
tua menempel di dindingnya.
schoene hause (rumah yang cantik), maja, pujiku.
kamu ingin tinggal disini, godanya.
tidak, kalau untuk liburan okay, jawabku.
kalau malam pasti sepi nyenyet. hanya suara lonceng
sapi yang akan terdengar, batinku. saya ingat rumah
liburan kami di obersaxen, yang juga sepi seperti
kuburan. hanya bukit, bukit dan bukit.
kami duduk di kebun belakang di kursi taman, disamping
pohon apel tua dan tangkai jemuran pakaian. bunyi
lonceng dari leher sapi bendentangan, bersaing dengan
desis angin, dan kicau burung, entah jenis apa.
itu tanaman dari trinidad, kata ayah maja sambil
menunjukkan sebuah pot kecil.
beberapa tanaman lain, katanya, diambil dari meksiko.
bekas guru ini agaknya, seperti umumnya orang swiss,
suka jalan jalan, menjelajah benua lain. di dinding
rumahnya yang mungil, saya liat ada beberapa foto
negara negara lain. ada masjid di turki, taj mahal
india, dan beberapa negara negara lain di timur jauh.
maja sendiri melakukan penelitian antropologinya di
trinidad, negara kecil di kepulauan karibia.
saban libur, maja memang menyempatkan diri ke
ottoberg, menjaga ayahnya yang sudah sepuh itu. pak
tua ini memang sudah rentah, sudah menginjak 80 tahun,
namun masih giat berkebun. ada pohon apel, seperti
yang saya sebut pertama kali, ladang arbei, pirch
(seperti kesemek, saya tak tahu namanya dalam bahasa
indonesia), tomat dan sayur mayur lainnya. ayahnya
memiliki sakit jantung, sehingga maja selalu
mendampinginya jika liburan tiba, seperti kemarin.
selalu saja dia berkata, bahwa kehidupan ayahnya tak
akan lama lagi. saya ingat nenek kami yang juga sudah
rentah. ayah maja masih beruntung, masih berani
tinggal di rumah sendiri. nenek istri saya, malah
menetap di sebuah klinik yang sangat sangat mahal di
sonmatt, luzern. dan tak ada lagi semangat hidup, jika
pinggangnya kembali sakit. kalau di kampung, nenek
rentah sering dibiarkan sakit atau dia sendiri tak mau
ke dokter. dalam hati, saya rasakan orang orang tua di
swiss, apa boleh buat, memang lebih bagus nasibnya.
(atau lebih tragis karena hidup terlalu panjang).
menjelang senja, kami disuguhi sup ketimun.
loh kok kuning, tanyaku.
eh, ternyata ketimunnya warnanya kuning. tapi aku
lebih suka menyebutkan bubur, karena terbiasa kalau
yang namanya sup, di indonesia, ya warnanya bening.
ada juga daging babi asap, dua kerat keju, serta kue
pie yang dibuat dari buah arbei. daging babi asap,
seperti biasa, tak aku sentuh. keju yang agak lunak
saya cicipi, sementara supnya saya seruput hingga dua
piring. kue pienya yang hangat itu, terlalu masam.
kamu bisa tambah gula kris, desis maja, yang tahu
bahwa manusia jawa, suka manis manis.
kami juga sempat berjalan jalan di sepanjang kampung
itu. namanya memang kampung, tapi tak banyak beda
dengan kota. memang, fasilitasnya agak terbatas, namun
untuk urusan pakaian atau mode, gadis kampung tak
terbedakan dengan gadis kota. sama sama modis, sama
sama jelita. sebuah stasiun kereta berada di ujung
desa. swiss memang paling bagus untuk urusan
transportasi dengan kereta. desa semungil ini tetap
terjangkau kereta, juga telpon tentunya. kami diajak
ke sebuah taman kecil setelah melewati jalanan yang
dibuat dari potongan batu sebesar tahu, dimana ada
bangku kayu yang menjadi kenangan indah untuk maja.
saban rabu, kakek membawa saya ke bangku ini, duduk
sambil makan es krim, kenangnya.
Kami juga melintas di bekas sekolah dasar maja. rumah
rumah tua, berdinding batu dan kayu menjadi landmark
khusus bagi ottoberg. di goldau, kampung mertuaku, tak
ada lagi rumah tua. 200 tahun lalu, goldau
diluluhlantakkan longsoran batu dari gunung rigi. di
kampung halamanku, di mojokerto, rumah rumah tua
dirobohkan (atau roboh sendiri) dan diganti rumah
model baru. joglo, seingat saya, cuma tinggal sebuah.
selebihnya, rumah dari tembok. tapi, di mojokerto,
rumah kami punya sumur, yang bagi orang swiss, menjadi
sebuah ornamen sangat eksotis.
berkunjung ke rumah orang tua maja, sungguh, terasa
sebuah kehormatan. jika bukan sahabat yang baik,
jarang ada orang swiss mengundang hingga sampai ke
rumah orang tuanya.
saya agak malu sebenarnya, kata maja.
dia khawatir rumahnya akan terlihat kotor. tapi itulah
orang swiss, rumah yang sangat bersih, masih juga
dibilang agak kotor. kalau ke apartemen maja di
zurich, dua kali saya datang. pertama dengan angie,
kedua sendiri. orang swiss yang tertutup jarang ada
yang mau mengundang orang lain ke kediamannya.
sementara maja sendiri, entah sudah beberapa kali ke
apartemen kami di luzern. saban saya tawari menginap,
selalu ditolaknya dengan halus. sekali dia pernah ke
rumah liburan kami, see huesli, di arth goldau.
suatu kali, saya ingin mengajak maja engeli ke kampung
halaman kami, di mojokerto, jawa timur. pasti, dia tak
akan malu lagi, jika rumah orang tuanya atau
apartemennya terlihat kotor. tapi saya tak mau merasa
malu, karena itulah indonesia, kesejahteraan sering
berkaitan erat dengan kerapian.
__________________________________
Celebrate Yahoo!'s 10th Birthday!
Yahoo! Netrospective: 100 Moments of the Web
http://birthday.yahoo.com/netrospective/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/6iY7fA/5WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/