Pemilihan backpack untuk perjalanan sebenarnya dialasi dalih kepraktisan.  
Orang bepergian, entah naik turun pesawat atau ke luar masuk terminal, perlu 
mobilitas tinggi.  Mobilitas bisa tinggi asalkan anggota badan, terutama 
tangan, dalam keadaan bebas.  Kalau memakai travel bag biasa, tangan baru 
'setengah bebas'.  Travel bag hanya memberati salah satu punggung.  Saat 
langkah diayun tas ikut berayun.  Karenanya, kadang tangan mesti ikut-ikutan 
mengatur.  Ini beda dengan backpack.  Sekali backpack naik ke punggung, tangan 
bebas difungsikan.

 

Pelancong yang tinggal di hotel bintang 4 atau 5 hampir tak ada yang memakai 
backpack.  Salah satunya, tanpa backpack pun mobilitas mereka tak berkurang.  
Di bandara sudah ada yang menjemput.  Di arrival hall ia tinggal mencari-cari 
orang yang membawa selembar kertas bertuliskan nama dirinya.  Begitu ketemu, 
boarding pass dan kupon bagasi diberikan ke penjemput.  Ia tinggal melenggang 
ke mobil di tempat parkir.

 

Selain itu, ini yang masih melekat di benak orang-orang kita, membawa backpack 
(lebih pas lagi 'bukan koper') di hotel 'jendral' sering dikonotasikan kantong 
tipis.  Pernah flight saya direroute dan alhasil mesti menginap dulu semalam di 
Bangkok.  Maskapai memilihkan hotel bintang 4.  Lantaran diantar, dan kebetulan 
bareng banyak bule, tak ada pandangan aneh dari resepsionis.  5 bulan setelah 
itu hal berbalikan saya alami di Jakarta.  Mendampingi bos memberi saya hak 
nginap di Gran Melia, Kuningan.  Masuk dengan sepatu kets dan tas jinjing, 
resepsionis setengah heran saat saya menyerahkan facs konfirmasi dari hotel.  
"Mau cash atau credit card?'" ia bertanya.  "Cash saja, berapa depositnya 
mbak," saya jawab.  Seraya menunggu saya cari-cari amplop isi cash advance 
untuk travel bisnis.  Jawaban baru ia berikan setelah Usai memencet kalkulator 
ia memberi kejutan, "3 juta pak."  Serasa disambar kilat.  Hanya 2 malam 
diminta deposit 3 juta, sedang dari company hanya dibekali 2,5 juta!

 

Kalau backpacker identik harus memakai backpack, saya mengaku bukan backpacker 
tulen-:).  10 tahun silam saya berkesempatan ke Maluku.  Perjalanan di atas 
'Rinjani' menemukan saya dengan teman-teman baru dari sudut-sudut arkipel.  
Setelah ngobrol 'ngalor-ngidul', seorang kenalan menyarankan agar backpack 
dititip ke dia.  Katanya, "Untuk 3 hari di Banda, bawa saja pakaian 
secukupnya."  Sarannya saya ikuti.  Ransel besar saya titipkan, ke Banda 
(Neira) saya hanya membawa tas jinjing kecil.  Setelah kembali ke Ambon, karena 
tas jinjing itu ringan dan praktis, titipan ransel besar baru saya ambil 
sepulang dari Buru!

 

Hakekat backpacker adalah mandiri meski bukan berarti tidak terikat jadual 
perjalanan.  Setidaknya jadual/target yang sudah disusun sendiri.  Sebagai 
contoh, dalam membuat rencana saya biasa merinci itinerary harian sampai satuan 
jam.  Maksudnya agar waktu efektif yang tersedia sepenuhnya bisa dimanfaatkan.  
Melihat itinerary tersusun pernah istri melontar komentar, "Wah ini mesti pakai 
napas kuda."-:)  Satu kali, di atas kapal antara Santorini - Piraeus kami 
pernah rasan-rasan, "Kita ini jalan-jalan, tapi jadualnya lebih padat dan 
melelahkan ketimbang kerja sehari-hari."  Begitu kapal sandar sekitar subuh, di 
luar pagar dermaga telah menunggu bis ke bandara.  Tiba di bandara saya mesti 
nunggu bukanya gerai penukaran uang.  Selesai tukar uang, langsung ke gerai 
tiket, menunjukkan code booking dan check in.  Semua serba bergegas karena 
pesawat dijadualkan berangkat jam 8.  Tiba di Samos segera cari taksi untuk ke 
Vathy, memburu ferry yang hendak ke Kusadasi, Turki.

 

Kadang saya bertanya pada diri sendiri.  Saya memilih jadi FIT (Free Individual 
Traveller) lantaran huruf 'f'-nya.  Bebas di sini sebatas bebas membuat 
rencana.  Setelah itu kita terikat untuk mengikutinya.  Pilihan lain, kita 
bebas untuk tidak menurutinya, yang sekaligus menegasikan arti kebebasan 
sebelumnya.

 

Salam dari Sangatta

 

 

-----Original Message-----

From: ewing_eyo [mailto:[EMAIL PROTECTED] 

Sent: Friday, March 04, 2005 3:24 PM

To: [email protected]

Subject: [indobackpacker] Re: From admin..Gimana caranya jadi backpacker??

 

Dari referensi yg pernah gw baca, ada 3 kategori dari orang yg 

melakukan perjalanan...

1. Turis, biasanya jalan-jalannya terikat aturan biro perjalanan, gak 

mau susah-susah dan lebih elite

2. Traveler/Backpacker, lebih independent gak mau terikat seperti di 

atas dan mandiri. Identik dgn gemblok ransel, nginep di tmpt murah...

3. Petualang, ini melakukan perjalanan yg biasanya beresiko spt; naek 

gunung, arung jeram, panjat tebing, masuk ke suku2 pedalaman

 

jadi backpacker itu melekat pada saat org itu melakukan perjalanan, 

kalo dia udah dirumah jadinya yg spt semula; guru, buruh, pegawai

 

salam,

erwin

 


 Yahoo! Mobile
- Download the latest ringtones, games, and more!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke