Thanks Kyu, atas perhatiannya... Saya mikirnya gini, kalau milist ini membersnya adalah orang2x betawi, mungkin semua dah pada ngerti dengan kata "Gua". Sekarang member milist lebih dari 310 members, berasal dari berbagai kota di indonesia juga di luar Negara Indonesia.
Gara-gara Dieng, saya buka arsip lama.... Artikel ini pernah di muat di salah satu media cetak lokal di Jember.. Seorang teman disana memboyong artikel saya. Dia bilang bayarnya di transfer kemana? Waktu itu aku bilang "its Free" Jadi buat temen-temen yg mau nyumbang Artikel cerita petualangan... Moderator Website hanya bisa memberikan "DOA agar artikel yg lainnya Bisa di Muat di Media Cetak, dan dapat bayaran ". Dieng, kalau nggak Kuat Naik Gunung..... Bawa Mobil Kijang, dan Kijang mu akan mengantarkan kamu pada Ketinggian 2200 Mdpl setara dengan tinggi nya Gunung Salak. Salam ARIS Dieng Plateu: antara Nasib Petani dan Ekploitasi Hutan Lindung. Pernah pergi Ke Kawasan Wisata Alam Dieng Plateu? Mungkin kawasan itu bisa masuk kategory kawasan ekowisata plus agrowisata. Kalau anda pergi ke Dieng, apa yg terlihat? Disana gunung-gunung telah menjadi Ladang kentang petani, dulunya Petani menanam Tembakau tapi tak separah sekarang. Umumnya penggarap lahan adalah Penduduk asli Dieng. Stabilnya harga Kentang, membuat petani dieng bisa hidup lebih baik,ketimbang petani didaerah lainnya. Saya tak lupa, ditempat saya menginap petaninya pergi ke ladang pakai Mobil Kijang, walaupun tetap pake sendal jepit atau sepatu Boot plus kain sarung. Isi mobilnya ada Drum, ada alat semprot, mesin diesel penyedot air dan peralatan Tani lainnya. Kata rekan saya " Wah kaya juga nich, petani Kentang di Dieng". Sebagian besar Lahan di kawasan itu dipinjamkan oleh pertamina kepada Petani setempat. Dengan mempunyai lahan seluas lebih dari 1 ha, Petani Kentang di Dieng sedikitnya per 3 Bl, bisa punya penghasilan kotor mungkin berkisar 50-70 juta. Tak Heran, kalau petani dieng, datang ke showroom mobil atau sepeda motor di Kota wonosobo, juga tetap pake sendal jepit Plus Sarung. Tanya" Pak Harga Mobilnya Berapa?". Nggak Utang atau kredit Lho. Dieng, Kawasan dataran tinggi yg dulu gunung-gunungnya dipenuhi oleh Hutan, Kini Hutan itu sudah menjadi ladang petani, bisa dipastikan Hutan yg tersisa mungkin nggak lebih dari 2 %. "Exploitasi Hutan Lindung tak bisa dihindari". Ketika musim kemarau tiba, umumnya penduduk merasa kekurangan air, tapi sebaliknya.. Ketika Musim Hujan datang, bisa dipastikan apa yg terjadi, seorang penduduk desa mengeluh tentang ini, Air tidak hanya menghanyutkan jembatan Kecil. Kalau toh, seandainya ada rencana pemerintah untuk melaksanakan proyek konservasi Hutan di Kawasan Dieng Plateu. yg jadi pertanyaan Bagaimana dengan Nasib Petani? Akankah mereka akan terusir dari tanah mereka sendiri? Kalau saya boleh bertanya, salahkah petani Dieng yg melakukan exploitasi Hutan digunung-gunung itu untuk dijadikan Ladang Kentang, Cuma karena tingginya harga Kentang? mungkin serakahnya manusia kota, yg membutuhkan banyak kentang. -ARIS -----Original Message----- From: Buyung Akram [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, March 22, 2005 8:57 AM To: [email protected] Subject: Re: [indobackpacker] Website update : Dieng, Taman Purbakala Jelmaan Kisah Mahabarata Hi,..hi,..hii.. Sengaja pake kata "gua" karena biar nggak terlalu formal aja. But diterima deh komplain-nya :D Saya kesana sendirian bos, naik mobil. Iseng jajal "kehebatan" GPS (saya sat itu pakai 5 GPS dalam mobil, lagi tester ceritanya => http://www.navigasi.net/forum/forum.php?idtopic=19&idgroup=FG) Jadi nggak bisa ngapa-ngapain dalam artian ningalin mobil lama-lama. Terlebih saat itu bulan puasa, aduh namanya kerongkongan ini seperti mau terbakar saat mengunjungi objek wisata Pancuran Pitu disiang hari. Sebelumnya ke baturaden, dan sempat tidur cuman 1 jam di daerah brebes, setelah nyetir dari jam 8 malam dari jakarta. Setelah dari pancuran pitu,.. mobil di pacu menuju dataran tinggi dieng, berlomba dengan matahari yang mulai sore. Pulang dari Dieng jam 6, buka sebentar di warung pinggir jalan, terus melaju lagi ke semarang lewat hutan jati yang gelap pekat dan minim pemukiman penduduk. Untung kondisi aspal mulus, dan mata saya nggak bisa mandang jauh kedepan karena kabut semakin tebal dan udara semakin dingin. Praktis GPS dimobil bekerja keras untuk tahu kapan dan dimana harus belok, karena saya sendiri baru pertama kali lewat jalan tersebut. Sampai di kudus sekitar jam satu malam dan istirahat (tidur) sejenak sekitar satu jam, di posko lebaran. Dan lanjut nyetir lagi hingga surabaya. He,..he..he. ketika balik kantor cerita-cerita dengan temen yang berangkat hampir barengan, dia malah kena macet di daerah pantura dan sampai surabaya sabtu malam. Perjalanan paling sial yang pernah dia lakukan ceritanya. Saya sendir cuman ketawa-ketawa saja, emngingat saya sampai surabaya sabtu pagi jam 9, itupun dalam perjalanan, sempat jalan-jalan dulu ke Baturaden, Pancuran Pitu dan dataran tinggi dieng ;) Buyung Akram setiap tempat adalah unik, http://www.navigasi.net/ On Tue, 22 Mar 2005 08:30:39 +0700, :: Aris <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/6iY7fA/5WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Indonesian Backpacker Communities visit our website at www.indobackpacker.com "No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately" Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
