Buat Aris...., apa kabar....? Sorry, lama aku nggak contact. Ris...., aku punya 
satu cerita PR (=Pengalaman Rohani) selama 1,5 tahun ber-KRD-ria, melengkapi 
'pengalaman menarik tentang Kereta Rakyat'.

Meski hanya setitik, mudah-mudahan ada hikmah yang bisa diambil. Amin.

Bagi yang kurang berkenan, mohon langsung di delete. Trim's.

PR = KRD = KERETA RAKYAT DJELATA

Ketika aku ditugaskan sebagai Kasi Pelayanan di Kantor Cabang Telkom (Kancatel) 
Rancaekek, satu setengah tahun aku menjalaninya hingga kemudian mutasi 
mengikuti suami ke Balikpapan. Rumahku sendiri di Bandung. Pada awal aku 
bertugas di sana terus terang saja sepulang kantor badanku terasa letih dan 
capai karena jarak antara lokasi kerja dengan rumahku yang cukup jauh (jika 
lewat jalan tol sekitar 23 km). Terlebih-lebih jika sedang tidak enak badan, 
rasanya enggan pergi ke kantor. Awalnya aku membawa kendaraan pribadi, tapi di 
jalan tol ternyata suka ngantuk (mungkin karena sendirian dan tidak ada teman 
mengobrol), dan juga silau karena arah matahari kebetulan berlawanan. Daripada 
riskan, akhirnya aku cuma bertahan satu minggu sebelum memutuskan untuk 
menggunakan angkutan umum. Ada empat macam kendaraan yang kunaiki sejak 
berangkat dari rumah sampai ke kantor, begitu pula sebaliknya. Ada ojek, kereta 
api, angkot, dan becak. Satu kali jalan 4x berganti kendaraan, jadi PP berganti 
angkutan sebanyak 8x. Kalau kebetulan ada rapat di Bandung, bisa lebih dari 10x 
aku berganti kendaraan umum. Jika naik kereta api, yang kunaiki kadang kereta 
Patas, kadang KRD yang penuh sesak itu, tergantung dari jadual keperluanku. 

Kereta KRD (Kereta Rel Diesel), sering kupelesetkan menjadi Kereta Rakyat 
Djelata.

KRD adalah keretanya rakyat kecil, warnanya kusam, dan cukup tua usianya. Aku 
menggunakannya ketika sekali jalan taripnya Rp 600 hingga terakhir hanya Rp 
1.000. Kereta ini sangat membantu masyarakat kecil, karena tarifnya yang murah 
meriah. Meski sangat murah namun jangan salah, kereta ini juga ber-AC (Angin 
Cemiliir....), ditambah lagi full-asap (rokok). Setiap gerbong jika kondisi 
normal kapasitasnya sekitar 50 orang, namun untuk KRD ini bisa terisi hingga 
125 orang termasuk yang di atap gerbong, bahkan lebih. Jangan tanya soal 
kenyamanan, dari aroma keringat, asap rokok, barang belanjaan kadang bahkan 
hewanpun bercampur baur menjadi satu. Tempat duduk menjadi barang yang sangat 
mahal. Begitu masuk, mataku juga penumpang lainnya sudah terlatih jelalatan 
untuk mencari tempat duduk barangkali masih ada sedikit yang tersisa. Itupun 
harus berdesak-desakan dengan penumpang yang berbarengan naiknya. Tempat 
duduknya berupa bangku yang berderet panjang dan berhadapan. Jika ada sisa 
ruang di pojok selebar 10-15 cm pun rasanya sudah sangat nikmat. Padahal capai 
juga dengan tempat duduk selebar itu, tapi daripada berdiri sampai Bandung kaki 
juga tak kalah pegalnya. Jika kebetulan berdiri terasa pusing, kadang akupun 
'melantai' alias duduk di lantai gerbong beralaskan koran. Atau kalau ada yang 
membawa setumpuk bambu atau sapu lidi untuk di jual di Bandung, itupun sudah 
merupakan tempat duduk tambahan yang cukup 'istimewa' bagiku. Enaknya di sini, 
mau duduk dimanapun kita tidak perlu gengsi, cuek saja.

Pernah suatu saat menjelang Idul Adha aku harus rapat ke Bandung. Begitu naik 
setelah berdesak-desakan, kulihat ada sebuah tempat duduk yang kosong. Aku agak 
heran karena penumpang kereta tersebut penuh sesak. Begitu aku mau duduk, aku 
baru sadar ternyata di sebelah tempat duduk tersebut ada seekor kambing 
(mungkin dijual untuk Qurban di Bandung). Dan maaf .... 'pantatnya' pas 
menghadap tempat duduk yang kosong tersebut. Akupun hanya bisa tersenyum kecut 
dan berdiri dengan pegal hingga stasiun Bandung. Beberapa saat ketika kereta 
telah berjalan, akhirnya ada juga seorang bapak tua yang mungkin karena lelah, 
rela duduk berdampingan dengan kambing tersebut. 

Pernah juga di suatu gerbong yang kunaiki ada sekeranjang besar ayam kampung 
hidup, mungkin mau dijual ke Bandung. Karena aroma kotorannya sangat menyengat, 
akupun pindah ke gerbong lain yang sangat sesak. Karena kereta sangat penuh, 
ada beberapa penumpang yang bertahan di gerbong tersebut. Ketika kereta 
berhenti di stasiun Kiaracondong, terlihat pemandangan yang cukup 
'menakjubkan'. Yaa....... penumpang yang turun dari gerbong yang ada ayamnya 
tersebut membuat 'koreografi' spontan; yang meski tanpa koreografer namun 
mereka melakukan gerakan yang sama, yaitu para penumpang yang turun tadi 
meludah semuanya. Mungkin karena mereka sudah tidak kuat lagi menahan aroma 
'istimewa' sejak ada di dalam kereta. Membuatku tak tahan untuk menahan tawa. 

Atau suatu ketika hujan turun cukup deras. Di gerbong yang aku naiki, ada 
tempat duduk kosong yang cukup lebar, muat 5-6 orang tapi tidak ada yang 
menempati. Usut punya usut ternyata di situ atapnya bocor hingga tempat 
duduknya basah. Karena sedang pusing kepala dan ingin duduk, aku lap tempat 
duduk tadi dengan tisu, akupun duduk dengan memakai payung. He.....he...... 
mana ada di dalam kereta memakai payung kalau bukan di KRD. Ada ibu-ibu 
didepanku yang tersenyum melihat kreatifitasku. 

Selama naik KRD, dua kali aku naiknya di ruang masinis (tentu saja seijin dari 
masinisnya). Ternyata asyik juga meski tidak ada tempat duduk. Olala..... aku 
jadi tahu cara masinis mengemudikan kereta. Bisa melihat laju kereta berjalan 
menyusuri rel dari tempat yang paling depan. Hmm..... kapan lagi bisa 
mencobanya jika bukan karena naik KRD, satu hal yang bikin aku penasaran sejak 
aku masih bujangan.

Sobatku di kereta ini ada bermacam-macam, ada karyawan pabrik, guru, pedagang 
sate, pedagang asongan, pengamen, dan lain-lain.

Suatu sore 'KRD-ku sayang' berjalan dari Stasiun Rancaekek..........

Ketika kondektur memeriksa karcis, seorang Bapak pedagang cobek batu saat 
diminta karcisnya berkata :"Maaf Pak, saya tidak punya uang untuk membeli 
karcis karena jualan seharian dagangannya tidak ada yang laku!". Kondektur diam 
dan berlalu, seperti memahami himpitan bebannya. Waktu itu harga karcis Rp. 
1.000, benar-benar sangat murah untuk jarak puluhan kilometer. Namun tidak 
untuk Bapak tersebut yang tidak mendapatkan penghasilan sama sekali. Kulihat 
ada dua tumpuk cobek batu di dekat Bapak tadi duduk, di lantai dekat pintu 
kereta. Segelas aqua yang baru saja kubeli kutawarkan kepadanya dan langsung 
diminum habis. Pemandangan sawah yang kami lewati sore itu cukup segar, karena 
padi di sawah sedang menghijau; namun Bapak tadi matanya menatap kosong ke arah 
pemandangan di luar.

Sementara itu, pedihnya aku membayangkan isteri dan anaknya yang menunggu di 
rumah sambil menunggu Bapak tersebut membawa uang hasil jualannya yang ternyata 
nol. Padahal jualan cobek batu bukanlah pekerjaan yang ringan, seharian harus 
memikul cobek batu yang sangat berat tersebut dengan berjalan kaki keluar-masuk 
kampung. 

Dan kalau tidak ada yang membeli........., ah.......aku tak kuasa 
berandai-andai untuk melanjutkan ceritanya. Dadaku turut merasa sesak. Kutatap 
dalam-dalam wajah Bapak penjual cobek batu itu. Terbaca jelas kegundahan dan 
kegalauan pikirannya. 

Wajah lelahnya terlihat semakin kusut, matanya 
menerawang..........redup........, menghentak-hentak dinding nuraniku. Semilir 
sejuk angin persawahan yang terbawa laju kereta, bahkan tak mampu menghapuskan 
kegalauan Bapak tadi. Saat kutanya, rumahnya di daerah Padalarang (sekitar 60 
km dari tempatnya menjajakan dagangannya). Ketika aku hendak turun, kuberikan 
sedikit uang yang tersisa (mohon maaf sekali kalau disebutkan), kebetulan aku 
jarang membawa uang berlebih karena trauma pernah kecopetan HP dan dompet di 
kereta. Ya Allah........ mata Bapak tadi.......... tak kuasa aku untuk 
menatapnya lama-lama. Matanya mulai basah......, kemudian terucap syukur serta 
doa yang membuatku semakin terharu. 

Aku turun di Stasiun Kiaracondong

Dan ketika KRD-ku sayang kembali berangkat untuk melanjutkan perjalanan, dari 
pintu kereta Bapak penjual cobek batu tadi melambaikan tangannya. Kubalas 
lambaian tangannya. Ada sebuah kelegaan luar biasa dalam hatiku ketika kulihat 
sebuah senyuman mengembang dibibirnya. Kepalaku yang sejak naik kereta terasa 
pening, tiba-tiba kini terasa ringan. Sambil berjalan menyelusuri gang yang 
menuju pangkalan ojek, aku merenung..... Seharian mencari nafkah tanpa 
se-senpun uang yang didapat, mungkin bukan hanya Bapak penjual cobek tersebut 
yang kebetulan saja aku menemuinya hingga bisa kudapat sebuah PR (Pengalaman 
Rohani) yang begitu berkesan. Mungkin banyak 'Bapak-Bapak' penjual lainnya yang 
mengalami nasib sama dengan Bapak tadi, namun hanya sedikit sekali yang bisa 
kuperbuat.

Di KRD.....

Aku melihat sebuah realita kehidupan yang begitu nyata ada di depan mata, 
meminjam slogannya Telkomsel 'so close, so real'. 

Wassalam,

ENDAH RH



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke