5 hari pertama praktis kami hanya berkutat di lembah Kathmandu. Membentang 20kmx25km lembah ini dulunya diyakini sebuah danau. Danau itu mengering berkat adanya rekahan Chobar (Chobar Gorge). Adapun versi legenda mengeringnya danau ada beragam. Yang paling terkenal melibatkan tokoh legenda Manjhusi yang dengan pedang bertuahnya membelah pebukitan selatan. Legenda lain menyebut tokoh yang mengeringkan danau itu tak lain seorang rahib Buddha asal Tiongkok. Orang Hindu punya klaim sendiri yakni Krishna lah yang mengirimkan petir raksasa untuk mencipta rekahan Chobar. 5 hari mengitari lembah Kathmandu belumlah cukup. Kami serasa berpindah dari satu monumen keagamaan satu ke monumen keagamaan lain. Setelah 3 hari pertama memutari kawasan kuno Kathmandu dan Patan, hari ke-4 dan ke-5 giliran menyambangi bangunan Budhisme. Kami ke Boudhnath, hanya 5 km sebelah timur Kathmandu. Boudhnath adalah sentra pengungsi Tibet. Di sinilah budaya Tibet di pengasingan tumbuh dan bersemi. Tahun baru Tibet Losar, misalnya, dirayakan besar-besaran di sini di antaranya dengan mengarak keliling photo Dalai Lama. Boudhnath juga memiliki gompa (biara Budhisme Tibet) dari 4 aliran Sakyapa, Kargyupa, Nyigmapa dan Gelugpa. Kebetulan pada saat kami ke Boudhnat, orang Nepal pas merayakan tahun barunya yang kini memasuki angka 2062. Di gerai tiket, penjual menyerahkan tiket seraya mengucap 'Happy New Year'. Mungkin saya dikiran orang Nepal (catatan: aneh bin ajaib! Di sini setiap hari setidaknya ada 3 orang yang mengatakan wajah saya mirip orang Nepal!). Baru beberapa langkah dari tempat penjualan tiket, seseorang tengah melakukan ritual yang sama dengan yang dilakukan di depan istana Potala, Lhasa. Kami mengambil jalan ke kiri, melakukan pradaksina. Lantaran cuaca yang kelewat terik, dan kebetulan anak di ransel belakang barusan tertidur, terpaksalah mencari tempat teduh. Baru sejam kemudian kami naik ke stupa, itu pun lewat pintu yang salah dan diberi tahu oleh seorang Lama! Dari Boudhnath kami melintas lembah, ke arah barat Kathmandu, ke stupa Swayambunath. Stupa ini sangat terkenal dan pernah menghias halaman muka Nepal edisi Lonely Planet. Saya yakin orang Indonesia yang ke sana pasti segera ingat cover album 'Mata Dewa' Iwan Fals. Untuk sampai ke stupa pengunjung atau pun peziarah mesti mendaki ratusan anak tangga. Susunan tangga dan jumlahnya lebih terjal ketimbang di Borobudur. Kami mendaki saat mentari hampir tenggelam. Tiba di atas panorama lembah Kathmandu pun tergelar sempurna. Kata pakar Geologi, saat lembah Kathmandu masih terendam air, Swayambunath merupakan sebuah bukit! Sore itu lebih banyak penikmat panorama ketimbang peziarah. Seperti di setiap stupa, pengunjung diminta membentuk pradaksina. Yang menarik perhatian saya bukan monumen ataupun panorama lembah Kathmandu, melainkan 5 calon Bhikuni yang masih usia remaja. Menilik wajah dan fisiknya usianya baru di awal 20-an. Banyak pengunjung yang meminta kesediaan ke-5 nya untuk diambil gambarnya. 2 kunjungan ke monumen Bhudhis ini tak urung membersitkan pertanyaan di benak saya. Mengapa di Borobudur, yang notabene juga monumen Budha, pengunjung tidak diwajibkan membentuk putaran searah jarum jam. Pernah juga saya baca di TEMPO aduan pengunjung dari Bali yang dilarang petugas saat hendak melakukan ritual di candi Prambanan! Ini bukan sentimen keagamaan. Ini sekadar menghormati sebuah pranata. Saya coba bandingkan dengan saat mengunjungi Sultahahment Camii (masjid biru) di Istambul atau masjid Muhammad Ali di Fatimidland, Kairo. Semua diijinkan masuk asal auratnya tertutup. Untuk bule laki-laki disediakan semacam jubah, sedang untuk wanitanya diberi tambahan penutup kepala. Sama halnya saat saya ke Rilski Manatir (biara Ortodoks Ivan Rilski) di Bulgaria, semua diwajibkan memakai baju/kaos lengan panjang. Bukankah masuk kandar harimau berarti bersedai mengaum?
Kenyang dengan beragam monumen keagamaan baru di hari ke-6 saya mencoba menikmat keindahan alam Nepal. Hari-hari ini kabut begitu akrab memeluk lembah Kathmandu selepas jam 11. Ke Nagarkot, puncak timur lembah Kathmandu yang juga viewpoint populer ke Himalaya, bisa jadi lebih banyak mengecewakan. Mengapa? Selain viewpoint, Nagarkot tak punya jualan lain. Bila Sagarmata atau Qomolangka tak bisa dilihat, pengunjung akan langsung balik kanan kembali ke Kathmanadu. Karena itu kami memilih ke Pokhara. Pokhara, oleh lidah Nepal diucapkan serupa Pokra, adalah kota kedua sekaligus sentra turis kedua setelah Kathmandu. Pokhara merupakan titik penting bagi pendakian maupun trekking ke Annapurna. Bila cuaca cerah dari Pokhara, dengn latar depan danau Fewa, orang bisa sepuasnya menatap Machchapuchare. Machchapucharedalam bahasa Nepal berarti ekor ikan. Inilah satu-satunya punya HImalaya yang tidak diberi nama dewa. Salam dari Kathmandu, Santoso Yahoo! Mobile - Download the latest ringtones, games, and more! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Indonesian Backpacker Communities visit our website at www.indobackpacker.com "No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately" untuk bergabung kirim email kosong ke : [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
