--- In [email protected], Alex Tecumseh > Alex, sorry infonya agak telat nih, jadwal gw ke warnet 3 bulan sekali he he
Ada 3 jalur ziarah Gn.Lawu yang pernah gw coba: 1. Jalur Cemoro Kandang (yang umum) +/- 7 jam 2. Jalur Cemoro Sewu (yang dibuat Perhutani) +/- 5 jam 3. Jalur Candi Tjeto (bekas jalur perbakala) +/- 9 jam Ketiga jalur tsb adalah jalur utama, banyak jalur-jalur te- rabasan di antara ke3 jalur tsb. Jalur umum adalah naik via Cemoro Sewu turun via Cemoro Kandang dan merupakan jalur petilasan 1 suro yang paling rame Sepanjang jalur tsb., pada 1-2 hari sebelum s.d. 3 hari se- sudah tgl. 1 suro terutama di pos-posnya terdapat warung ma- kan, bahkan saya pernah berpapasan dengan penjual es lilin memikul 2 termosnya tengah menuruni puncak sambil berlari kecil !!! Cuma ga ada yang jualan film, hiks hiks Menu tersedia : nasi/mie goreng/rebus, baso, cemilan, teh/ kopi/soft drink, bahkan bisa nginep di atas tiker gelaran dagangannya karena dinaungi atap. Kondisi di sana kalo hujan, dinginnya alamak, banyak kasus peziarah meninggal kedinginan dan pendaki terkena hipotermi kedinginan, apalagi kalo hujan deras dan badai angin, hmmm.. Enaknya sih tetep bawa tenda kecil, sleeping bag kecil, baju hangat, dan .... terutama film dan uang yang buanyaaaakkk... Ritual biasanya dijumpai pada malam satu suro pk.12 malam ada kurban kambing atau ayam oleh pemeluk kepercayaan bersorban putih, atau kalo ngga pas 1-2 hari setelah 1 suro. Di setiap pos juga terdapat ritual keluarga atau sekelompok masyarakat kalo kita pas beruntung. Yang selalu rame ritual di : puncak, sumber air (sendang drajat, sumber dekat penggik), cemoro sewu yang terdapat batu berukir lambang kerajaan Majapahit, atau dikenal sebagai surya majapahit. Kalo sempat mengamati pas menuju puncak dari sendang drajat, tampak puncak lawu terbentuk dari susunan tangga batu seting- gi +/- 1,5 m atau dikenal sebagai punden berundak. Bahkan di Argodumilah terdapat lumpang batu berukir angka tahun dalam huruf jawa kuna Bila punya waktu banyak bisa turun via Candi Tjeto, lewat pa- dang rumpun nan cantik, beberapa punden berundak pendek di se- panjang jalan (kalo diamati lho), dan kalo pas satu suro dita- wari minum gratis sepanjang jalan. Sampai di Candi Tjeto bisa mengamati punden berundak cukup tinggi spt miniatur di Peru. Bisa lanjut naik angkot ke Candi Sukuh yang berbentuk piramid dengan relief alat kelamin pria dan wanita..... lambang kesuburan gitu dulu deh Lex, pas mahasiswa gw pernah seminggu penggalian dan survei di Lawu musim panas, ga ada air, dan tidak mandiiiii semingguuuuu man! salam lestari jenny ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/6iY7fA/5WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Indonesian Backpacker Communities visit our website at www.indobackpacker.com "No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately" untuk bergabung kirim email kosong ke : [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
