Hi.........
perbah ke ini nda?GUNUNG SINDORO wuih pasti mata yang
gemar EDELWEIS AKAN JULING..........(JUST KIDDING)
Disana terdampar perkebunan elweis dan ada bergagai
macam warna.eldelweis
kuning..purole/ungu/putih/merah....wuiiihhhh...pokoknya
bukan cuma juling dech....tapi sambil ngiler kali...
Ada sedikit cerita juga.......
Setahu gw sejak ikut "PA"di smp dulu tepatnya kelas 3
wlo tempat sekolah gw ekstra nya kagak active,gw
bergabung dg anak luar.(non formal) ikutlah acara2
mereka(kakak gw).....mulai ikut clening servise
dipantai,latihan2 wall climbing di luar/dlm kota(tapi
sayang dulu aku gagal ikut PORDA=dg alasan yg nggak
jelas.)ikut Replaing(bnr gak tulisannya)hik hik....
tali temali,mountainnering....camping, caving....dan
byk lagi..tak serap habis dari mereka.
DAN..........pelaran yg masih gw ingat.....adalah....
Don't take anything from "ALAM"kecuali...3.....
1.GAMBAR(foto2 gtu lho)
2.UDARA
3.AIR
Klo masalah suvival..........ya itu keadaan yg
laen.....maksudnya disini kita sehat wal afiat gituh
loh.......
Nah......sekarang mari............boleh liat2 boleh
mengagumi..........tapi jangan....

Cheer ,Nina jepara
 --- Endah RH <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Ini hanyalah cerita ringan. Bagi yang kurang
> berkenan mohon langsung di delete. Tks.
> 
> Sampah dan Edelweiss tentu tak berhubungan. Aku
> punya cerita tentang keduanya.
> 
> Sampah
> Saat itu aku belum mempunyai kesadaran tentang
> membuang sampah sembarangan. Ketika aku mendaki
> Gunung Merapi, dan masih termasuk pendaki pemula,
> seniorku Mas Dadang bilang : 
> "nDah...., jangan lupa makanan atau minuman kotak
> jika sudah dimakan/diminum untuk dibawa lagi
> bungkusnya saat turun nanti!". 
> "Buat apa Mas dibawa lagi, apalagi sampai turun;
> berat-beratin aja...." jawabku ngeyel.
> "Lebih berat mana saat naik dengan saat turun....,
> kan saat turun isinya sebagian sudah kosong. Apa
> salahnya sih jika dibawa turun lagi, syukur jika
> kamu ga keberatan untuk membawa barang satu atau dua
> bungkus makanan yang dibuang oleh pendaki lain.
> Tidak meninggalkan sampahmu sendiripun artinya kamu
> sudah ikut memelihara keindahan gunung ini," kata
> Mas Dadang dengan bijak.
> 
> Akupun merenung...., benar juga kata Mas Dadang. Kan
> kalo aku turun, bekas bungkus makanan/minuman itu
> jauh lebih ringan karena tidak ada isinya. Sejak
> saat itu aku menyediakan tempat khusus untuk
> sampahku sendiri saat naik gunung. Bahkan di
> kehidupan sehari-haripun kantong saku sering menjadi
> tempat sampah bungkus permen, terutama saat aku
> makan permen yang ada bungkusnya dan saat itu tidak
> tersedia tempat sampah.
> 
> Terima kasih banget Mas Dadang nun jauh di Lampung
> sana. Nasehatnya akan selalu ku ingat.
> 
> Edelweiis
> Sudah menjadi kebiasaanku untuk selalu memetik dan
> membawa bunga Edelweiss pada pendakianku. Di rumah
> tertata rapi di beberapa pot kecil, dan selalu
> kupandangi dengan bangga karena kudapatkan dengan
> susah payah di gunung. Jika dalam suatu pendakian
> sedang tidak musim Edelweiss, aku agak kecewa karena
> koleksiku berati tidak bertambah. Hingga suatu saat,
> masih di pendakian Gunung Merapi pada waktu yang
> berlainan.....
> 
> Aku begitu gembira saat mendaki Merapi dari jalur
> Selatan, di Pos-3 terlihat hamparan bunga Edelweiss
> yang sedang mekar-mekarnya. Mataku langsung tertuju
> kepada bunga tersebut, dan tentu saja untuk
> memetiknya dan kubawa pulang seperti biasanya. Saat
> itu ada beberapa pendaki yang sedang memetiknya.
> Belum juga aku ikutan memetik, lagi-lagi ada
> seniorku yang mencegahnya.
> "Berani kau petik Edelweiss itu, aku tidak mau lagu
> mendaki bersamamu!" kali ini ada nada ancaman.
> "Lho...., kan lagi musim bunga Mas, lagian itu
> pendaki lain juga lagi pada metik," aku menjawab
> dengan agak kesal dan protes.
> "Lha kalo semua pendaki selalu memetik Edelweiss
> dalam setiap pendakiannya, Edelweiss ini lama-lama
> akan punah. Kita tentu tidak ingin suatu saat bunga
> Edelweiss ini hanya tinggal cerita belaka, padahal
> kita ini menyandang nama Pencinta Alam," kali ini
> dijawab dengan lebih sabar dan bijak.
> 
> Bukan karena aku takut seniorku tadi ga mau mendaki
> gunung bareng aku, namun entah.... meski tidak
> tertulis hitam di atas putih aku mematuhi larangan
> dan ajakannya. Sejak saat itu, tidak pernah
> sekalipun aku memetik lagi Edelweiss dalam setiap
> pendakianku. Juga aku kampanyekan kepada pendaki
> pemula yang kebetulan mendaki bareng aku. Namun
> betapa sedihnya saat aku melihat di Malino (lereng
> Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan), di Cibodas
> (lereng Gunung Gede dan Pangrango) juga pernah
> kulihat dan entah mereka mendapatkannya dari mana
> karena Gede-Pangrango merupakan Taman Nasional, dan
> di Bebeng & Kaliurang (lereng Merapi jalur Selatan);
> beberapa ikatan besar bunga Edelweiss dijual bebas
> untuk para wisatawan.
> 
> Bukankah dengan demikian Edelweiss ini juga bisa
> punah oleh mereka...?!. Saat aku mendaki Gunung
> Bawakaraeng pertama kalinya, masih kujumpai hamparan
> bunga ini di dekat jalur setapak. Dan dua tahun
> kemudian, lokasinya sangat jauh dari jalur setapak,
> bahkan di beberapa lokasi hanya terlihat di
> tebing-tebing yang sangat terjal. Ini terjadi saat
> Edelweiss sudah menjadi barang komoditi.
> 
> Mungkin ini yang dikhawatirkan oleh seniorku tadi.
> Meskipun Edelweiss populasinya semakin sedikit,
> masih ada suatu kebanggaan bagiku, karena sudah
> tumbuh kesadaranku untuk membiarkan Edelweissku
> tumbuh dan berkembang ditempatnya.
> 
> Terima kasih buat senior-seniorku yang telah
> mengingatkanku. 
> Kepada rekan-rekan milis, mohon maaf kalo tulisannya
> cukup panjang. Tks.
> 
> Wassalam,
> Endah RH
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 





                
__________________________________ 
Yahoo! Mail Mobile 
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone. 
http://mobile.yahoo.com/learn/mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/6iY7fA/5WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"

untuk bergabung kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke