Terima kasih ya ndah untuk cerita yang indah nya :-)

Cheers,
Lina
  ----- Original Message ----- 
  From: indah games 
  To: Nurdianing Ayu ; Nhanha ; Buchari, Aster ; Nefransjah ; Violett Katze ; 
AYA ; Liz Dewajanti ; dewi luna ; :: Aris ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; Evy ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Vibri Yanti ; [EMAIL 
PROTECTED] ; Farah Temannya Bunda ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
Wiwi MELATI ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Tammy Utami ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Yohanes ; Imas Bontang ; 
Dewa Tempo ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Yuke Brondong ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; Diniarti, Bestari 
  Cc: [email protected] 
  Sent: Thursday, May 12, 2005 4:58 PM
  Subject: indah's true story -edisi terakhir ---karimun


  untuk mengisi waktu kemudian, saya kembali menekuni profesi lama sebagai 
pengumpul kerang demi menambah koleksi kerang-kerang dari berbagai pantai yang 
ada di rumah. Tapi sayang, disini jaraaaang sekali saya temukan benda-benda 
menarik untuk di koleksi, bintang laut yang menjadi salah satu benda terfavorit 
untuk dikoleksi bahkan tidak dapat saya temukan satupun juga.

  Malah disini saya kehilangan 4 ekor umang-umang yang saya tangkap di Pulau 
Menjangan Kecil (yang rencananya akan dijadikan peserta 'lomba umang-umang' 
---untuk menggantikan 'lomba bulu babi'--- nanti malam).

   

  Setelah beberapa lama menyusuri pantai mencari kerang, saya melihat beberapa 
teman, baru naik ke darat setelah snorkling. 

  Nah, kan... benar apa yang saya bilang tadi, kita semua memang tidak bisa 
dipercaya soal waktu, bahkan setelah Pak Joko dan Aris menggunakan peluit-pun 
masiiiih ada saja yang telat macam ini.

   

  (dalam hati saya merasa iri pada mereka, kalau tau begitu bukankah lebih baik 
saya tadi sok cuek saja ketika mendengar peluit sehingga bisa bersnorkling 
lebih lama? Hehehe.... Tapi sesal kemudian memang tidak berguna) 

   

  tidak lama setelah itu saya melihat keramaian di tempat kapal-kapal kami 
berlabuh. Teman-teman berkerumun di salah satu sisi kapal dengan tangan 
menggapai-gapai persis seperti para pengungsi yang sedang berusaha mengambil 
bantuan. 

  Dengan rasa penasaran, saya mendekati sekumpulan orang yang sepertinya sudah 
berhasil mendapatkan 'bantuan' itu, apa sih yang dibagi-bagi??

   

  Ternyata.....

   

  Kelapa muda!!! 

   

  Es Kelapa Muda 

  (resep oleh Bapak Joko Apung, KarimunJawa)

   

  bahan :

  beberapa puluh butir kelapa muda baru petik dari pohon disekitar pantai

  sirup cocopandan warna merah

  es batu

   

  cara pembuatan :

  belah dua kelapa muda dengan menggunakan golok sehingga masing-masing 
mendapat setengah kelapa

  beri potongan es batu didalamnya 

  beri sirup secukupnya

  (satu kelapa untuk dua orang)

   

  saran Penyajian :

  hidangkan pada sejumlah orang yang sedang kepanasan dan lelah selepas 
snorkling, sebaiknya dinikmati dengan duduk dipasir pantai, menghadap laut 
dengan hembusan angin yang lembut...  

   

  asoy geboy banget deh!!!

   

   

  Puas minum es kelapa kami bersiap untuk pulang ke penginapan. tapi kemudian 
aris terlihat kehilangan beberapa anggota rombongannya, jadilah bapak 
koordinator kita harus menjemput teman-teman yang ternyata masih sibuk 
cebar-cebur agak jauh dari tempat kami berkumpul! Waaa...

   

  Jam menunjukkan sekitar jam 15.30 ketika kami akhirnya benar-benar berperahu 
menuju penginapan (jujur nih, sebenarnya sangat tidak rela untuk kembali ke 
penginapan, inginnya bisa jalan-jalan paling tidak ke beberapa pulau lagi...).

   

  Sebelum pulang Pak Joko mengajak kami untuk melihat matahari tenggelam dari 
Pulau Karimunjawa sore ini. Maka jam 17.00 kami harus sudah siap untuk 
berangkat lagi dari penginapan. Pak Joko menganjurkan agar kami, sesampainya di 
penginapan, tidak lagi bercebar-cebur di laut.

   

  tapi...



  Badan rasanya letih ketika sampai di penginapan, tapi seperti biasa, ada saja 
orang-orang yang benar-benar memaksimalkan kesempatan untuk snorkling, jadilah 
mereka kembali menceburkan diri ke laut. Lagi-lagi Pak Joko harus menghela 
napas panjang...

   

  Beberapa orang yang beruntung menyempatkan diri untuk mandi di kamar mandi 
penginapan yang jumlahnya hanya 5 itu. Antrian yang memanjang membuat siapapun 
menjadi malas mandi terutama mengingat waktu yang kian mendesak.

   

  Jam 17.00 saya ikut perahu pertama yang berangkat ke p. Karimunjawa. Setelah 
10 menit menyeberang, kami melanjutkan dengan 'tour dalam kota', beberapa orang 
mulai mencari cinderamata. 

   

  Kami menemukan beberapa rumah yang menjual cinderamata berupa kaos dengan 
gambar pemandangan bawah laut, gelang dan cincin dari kulit penyu, keris dan 
tasbih juga ukiran penyu dari kayu dewadaru, ada juga yang menjual hiasan dan 
anting-anting dari kulit kerang.

   

  Saya sendiri menemukan sesuatu yang teramat sangat saya inginkan sejak saya 
sampai di Pulau Karimunjawa pada hari pertama.. yaitu : 

   

  ****Penjual Voucher dan kartu Perdana Simpati****

   

  Hehehe...

  (di Karimunjawa hanya provider Telkomsel yang bisa digunakan, provider lain 
tiba-tiba jadi basi)

   

  (maaf.. kalau terkesan berpromosi... tidak ada maksud... jangan di banned ya 
Pak Moderator...)

   

  akhirnya ponsel saya bisa digunakan lagi! Hore! 

   

  Soal menyoal kayu dewadaru, ada mitos yang bercerita bahwa :

  kayu dewadaru tidak boleh dibawa keluar pulau karimunjawa, bila larangan ini 
dilanggar maka perahu yang membawa kayu dewadaru ini akan tenggelam karena kayu 
ini akan 'ditarik' lagi menuju asalnya oleh 'sang pemilik'nya.

   

  Seorang teman menanyakan hal ini ke pemilik rumah yang menjual cinderamata 
dari kayu dewadaru.

   

  'pak, katanya kayu dewadaru tidak boleh dibawa keluar pulau ya?' tanya si 
mbak ini ingin tahu

   

  'ya ampun mbak, kok masih percaya yang begitu-begitu sih?' jawab si bapak 
dengan tatapan aneh. 

  Mungkin dalam hati dia berkata "Masih percaya mistik? O my god.. orang 
jakarta gitu loooh?!"

   

  selesai melihat-lihat cinderamata, saya bertemu dengan rombongan yang telah 
mempunyai satu misi penting : Mencari Tukang Bakso. Mereka bahkan telah 
bertanya kanan-kiri dan amat yakin bahwa disekitar pelabuhan ini ada satu 
warung bakso.

   

  Jadilah saya mengikuti bunda, mbak tiur, mbak aster, mbak liz untuk mencari 
tukang bakso ini. Kemudian mbak vibry dan Nhana (kalau ga salah) ikut serta.

  Diperjalanan kami sempat mampir sebentar di rumah seorang ibu yang menawarkan 
ikan asin. Melihat mbak aster memilih-milih ikan asin, saya ikut tergoda. Saya 
pun ikut membeli ikan asin seharga Rp. 7000/kg. Dalam satu kilogram terdapat 10 
ekor ikan asin ukuran sedang. Ikannya ada yang berwarna bersemu hijau, asli! 
Bukan diberi pewarna! Sayang sekali saya lupa nama ikan tersebut. 

   

  Setelah itu saya kembali ikut rombongan pencari warung bakso dengan hati 
berbinar-binar (eh, berbinar tu untuk mata ya?). Saya yakin Ibu saya pasti 
bangga kepada saya... ini adalah kali pertama saya membeli ikan asin!  

   

  Dan percaya ga percaya nih... ternyata warung bakso (sebenarnya sih mie 
ayam..) itu benar-benar ada!

   

  Tapi karena yang dihidangkan hanya ada mie ayam, saya tidak jadi ikut 
makan-makan diwarung ini (sayang perutnya... karena menurut pengalaman makan 
malam terakhir biasanya sangat 'mewah', kan sayang kalau pas berhadapan dengan 
makanan enak, eh... perutnya sudah kenyang cuma gara-gara mie ayam!).

   

  Maka saya memilih kembali ke pelabuhan bersama bunda dan mbak lily.

   

  [sedikit cerita tentang mbak lily : 

  mbak lily ini punya tampilan anak pantai sekali, kulitnya lumayan berwarna 
gelap, rambut ikal hitam panjang, badannya bolehlah untuk jadi atlit senam. 
Pokoknya secara keseluruhan cantik, eksotis!  Teman-temannya memberi gelar 
"barbie afrika" untuk mbak Lily. Nah... bisa dibayangkan kan? Saya aja yang 
perempuan suka melihatnya, apalagi yang laki-laki... hayyyooo... iya apa 
iya....]

   

  keputusan saya untuk kembali ke pelabuhan ternyata tepat. Disini teman-teman 
sudah berkumpul dan sedang berfoto. Bahkan kali ini ada beberapa orang yang 
diangkat sebagai koreografer. Tentunya di dunia nyata kesempatan ini tidak 
pernah akan ada. Karena dapat dilihat dari hasilnya yaitu (tentu saja) gaya 
hancur-hancuran yang sudah pasti memalukan. 

   

  Setelah maghrib, kami kembali ke penginapan. ritual sore haripun dimulai : 
antre mandi dan rebutan men-charge.

   

  Setelah mandi saya menanti ibu pengurus penginapan membawa keluar hidangan 
makan malam... hati saya jadi berdebar keras... (disebabkan rasa lapar yang 
amat sangat)

  Piring demi piringpun di keluarkan... 

   

  Menu malam ini :

  nasi uduk (yang sepertinya memang dicampur ketan, karena pulen sekali!)

  ikan kakap merah bakar

  ikan tengiri bakar

  ikan toda bakar (kata Pak Joko di jakarta ikan ini tidak exist) 

  baso ikan dicampur tiram 

  sambal (bukan hanya cabai+bawang+kecap seperti biasanya loh, tapi ada 
campuran bumbu kacangnya juga, pokoknya enak sekali deh!!!) 

   

  HOLA! Penantian yang berbuah sangat manis... 

  (bahkan saat menuliskan kisah ini kembali, air liur tidak sengaja ikut 
menetes... hehehe... antara lapar dan jorok memang sering rancu)

   

  acara dilanjutkan dengan pertanggungjawaban keuangan oleh bendahara, yang 
ternyata minus. Tapi setelah di bagi-bagi, masing-masing dari kami hanya 
menambah uang Rp. 10.000 (itu juga sudah termasuk biaya patungan membeli 
bingkai foto untuk kenang2an yang akan diserahkan ke Pak Joko). 

   

  Kemudian juga ada doorprize, yang setelah diundi oleh Mumu, dimenangkan oleh 
mbak Ica dan Cevy. Hadiahnya berupa Kaos dari Penginapan Pak Joko.

   

  Setelah itu acara bebas lagi!!!

   

  Beberapa orang sudah bertekad untuk begadang malam ini. 

  Kamipun mulai membentuk kelompok-kelompok kecil sesuai minat dan bakat. Ada 
juga yang langsung tertidur karena terlalu hiperaktif di siang harinya. 

   

  Terhitung ada 5 kelompok minat :

   

  1.       kelompok minat memancing (diketuai oleh bapak aris, dengan beberapa 
pengikut seperti Lina, Nana, Cevy)

  2.       kelompok minat ngobrol dan main tebak film (bunda, mbak liz, aster, 
lily, tiur, dan banyak lagi)

  3.       kelompok minat ngobrol saja ( yang disponsori mbak ica) 

  4.       kelompok minat main kartu (expert mode) dikepalai oleh mas dede, 
Sonson dan Karin 

  5.       kelompok minat main kartu for dummies (saya bersama mbak-mbak asal 
surabaya yang bisanya cuma main kartu 4-1 saja, hehehe)

   

  terbukti bahwa kelompok minat mancing paling produktif di banding yang lain, 
mereka berhasil menangkap seekor cumi sepanjang 30cm dan beberapa ikan yang 
kemudian di masak seadanya dan disantap ramai-ramai. 

   

  Motonya : Secimit-secimit yang penting nyicip.

   

  Terkadang penggembira kelompok minat mancing (seperti mbak Evy, Susy, mbak 
Nana) turut serta memancing, namun karena modal kesabarannya agak tipis, tidak 
seekor ikanpun yang sudi mendekati. Hingga akhirnya mereka mulai melirik ikan 
di kolam milik Pak Joko untuk di tangkap.

   

  [hampir lupa, Pak Joko membuat semacam kolam berbentuk L di penginapan ini, 
sebenarnya sih laut juga, tapi di batasi dengan batu-batu karang dan kawat 
ayam, sehingga hewan2 jahat di laut semacam bulu babi tidak bisa masuk, dan 
makhluk2 cantik di dalam kolam itu tidak bisa keluar.

   

  Jadinya sih semacam kolam di sea-world, ada beberapa bintang laut berwarna 
jingga yang dipelihara disini, sangat bagus dan dapat dilihat dengan jelas 
karena lautnya memang dangkal. 

  Lalu ada juga 2 ekor ikan hiu kecil sepanjang 80 cm-an (anak hiu, atau memang 
ada hiu species kecil?? ...Pertanyaan bodoh ya? Maaf...), 3 ekor penyu besar, 2 
ikan gendut yang bisa menggembung yang juga main di film Nemo (aduh... saya 
lupa namanya... maaaapppp), beberapa ikan badut, beberapa jenis lagi ikan 
warna-warni, yang semuanya bisa dinikmati dari atas dengan jelas kapan saja 
selama kami menginap disana.

   

  Ada juga anak penyu sejumlah 12 ekor yang dipisahkan di keranjang yang 
mengapung di kolam itu]

   

  Tidak lama setelah menemani teman-teman memancing saya tidak kuat lagi... 
saya memilih tidur di kamar meskipun dalam hati tidak rela harus tidur 
sementara yang lain masih terdengar tawanya. Tapi apa daya...

   

  Pagi-pagi lagi...

  Ini adalah pagi terakhir kami di Karimunjawa, sehingga bagaimanapun juga para 
photographer handal kita merasa harus, wajib, kudu, tidak boleh tidak, untuk 
menangkap momen matahari terbit.

  Tapi sekali lagi mereka harus dikecewakan oleh awan yang menggantung 
dilangit. Yuke memberikan nilai 6 untuk keindahan langit saat itu, mas yohannes 
6,5 sementara Vebbian dengan jahatnya memberikan nilai 3.

   

  ***

  Hari ini, sabtu, 7 mei 2005 adalah hari masuk bagi anak-anak sekolah. 
Demikian pula dengan anak ibu pengurus penginapan kami. dengan seragam merah 
putih, diantar seorang pria yang mungkin saudaranya, ia berangkat kesekolah. 
Tentu saja menyeberang menggunakan perahu dayung. Dan seperti 
sebelum-sebelumnya, selalu ada saja orang yang ingin ikut mengantar, bahkan 
mbak Didien ikut mengantar dengan secangkir kopi ditangan. 

   

  Jadilah adik kecil kita ini berangkat dengan diantar serombongan manusia, 
setelah sebelumnya menjadi model bagi para photographer. 

   

  Saat itu kami sedang asyik berfoto dengan berbagai gaya, ketika terdengar 
seseorang berteriak dari arah kolam Pak Joko 

   

  'ikannya menggendut!!!' 

   

  maka kami dengan berduyun-duyun, tidak lupa sikut kanan kiri, jegal depan 
belakang (hiperbola... biasa... hiperbola...), langsung berlarian menuju kolam, 
dan langsung membidikkan kamera kearah si Blop (namanya blop bukan sih? Masih 
lupa nih) yang sedang menggembung. Tapi hanya sebentar, karena mungkin Blop 
tidak begitu menyukai popularitas, maka dia memilih untuk kembali mengempis 
sebelum akhirnya bersembunyi di bawah kayu-kayu pondasi penginapan.

   

  ***

  Setelah mandi dan packing di kamar, acara makan pagi dimulai. Nasi goreng 
cumi ditambah krupuk udang.

   

  Selesai makan, kami mulai bersiap-siap untuk pulang. Backpack mulai 
dijejerkan di luar, foto-foto bersama mulai dilangsungkan. Misalnya bunda Wiwi 
yang berfoto bersama brondong-brondong kesayangannya, Yuke dan Vebbian dengan 
gaya puas, hehehe...

   

  semua orang dan backpacknya telah berkumpul lalu aris melakukan penelusuran 
akhir di kamar-kamar. Setelah lengkap semua kami berfoto bersama untuk yang 
terakhir kalinya di penginapan. durasi sessi pemotretan kali ini sekitar 15 
menit-an dansangat melelahkan (Hal ini membuat kami sadar betapa beratnya 
profesi sebagai model.)

   

  ***

  ketika perahu terakhir meninggalkan penginapan, saya sempat menengok ke 
belakang, ke arah penginapan yang kami tinggalkan, di kejauhan terlihat ibu 
pengurus penginapan (yang sampai pulangpun saya lupa menanyakan namanya. 
Keterlaluan!) yang memperhatikan kami.. sampai jumpa, semoga bisa bertemu lagi!!

   

  Kami hanya menyeberang sampai Pulau Karimunjawa. Dipulau ini kami kembali 
berfoto, dan tentu saja berdoa untuk keselamatan keberangkatan. Disini pula 
kami diberitahukan oleh Pak Joko bahwa sebenarnya beliau merencanakan untuk 
mengajak kami melihat penangkaran penyu, tapi sayang, kemarin, entah lupa atau 
tidak ada waktu, acara itu tidak jadi diadakan. 

   

  **..... kecewa.....**

   

   

  ***

  setelah beberapa upacara, kamipun meninggalkan Pulau Karimunjawa pada jam 
09.15. 

   

  sampai jumpa lagi Karimunjawa.....

   

  di perahu saya duduk di depan.

  Laut sepertinya sedang bergejolak, gelombangnya cukup membuat hati ciut, 
buktinya banyak yang tidak mau melepaskan diri dari safety jacket yang berwarna 
orange itu. Goyangan kapal terkadang mencapai kemiringan sekitar 45 derajat... 
lumayan lah untuk pelaut amatiran semacam kami ini.

   

  Sekitar satu jam lebih saya duduk termenung di depan menonton haluan kapal 
yang membelah gelombang. Ketika saya sadari bahwa bahaya mengancam saya....

   

  Hehehe.... saya hanya takut tiba-tiba jatuh tertidur lalu sudah dapat 
dipastikan bahwa detik berikutnya saya akan tercemplung ke laut. Jadi demi 
keselamatan jiwa dan raga, saya mencari-cari ruang kosong di belakang.

  Setelah nego dengan Berry yang asal malaysia itu, saya akhirnya mendapat 
tempat cukup untuk tidur telentang di bagian tengah kapal. 

  Disamping kiri saya ada badan Farah yang sudah tertidur sementara  di samping 
kanan saya agak kebelakang, yang berbatasan dengan pinggir kapal, ada Wawan. 
Jadi saya pikir cukup aman untuk benar-benar tidur. Paling tidak, kalau sampai 
kapal sangat miring ke kanan, dan saya tercebur ke laut, sudah semestinya Wawan 
tercebur lebih dahulu. (Biasanya kesulitan akan lebih mudah dihadapi 
bersama-sama daripada sendirian kan?) So, i must thanks to Wawan.

  Dan sayapun jatuh tertidur...

   

  Saya sudah tidak bisa mendeteksi waktu ketika saya terbangun, dan WOOOW... 
gelombangnya tidak juga mereda, bahkan bertambah besar rasanya.

   

  Kapal motor yang satunya lagi tidak terlihat di sekitar kapal kami. kemanakah 
mereka gerangan?

  Menurut gossip-gossip para awak kapal, kapal motor itu tersasar!!

   

  'mereka pasti mengambil arah 180, padahal seharusnya 170'

  'wah, kalau terus begitu mereka bisa langsung sampai ke semarang'

   

  begitulah gossip yang beredar diantara mereka

   

  ya ampun.. kasihan betul... tapi untungnya bukan kapal saya yang tersasar 
kan? Hehehe...



  Ditengah gelombang besar ini, Farah tidak bisa lagi melawan panggilan alam, 
dan kali ini tidak ada tangki air seperti waktu berangkat kemarin. Farahpun 
mengambil inisiatif untuk berkonsultasi dengan para awak kapal. Mereka 
menyarankan Farah untuk menguras kantung kemihnya di bagian haluan kapal. 

  Saya sendiri tidak begitu mengerti proses yang terjadi kemudian, bagaimana 
dan dimana proses itu berlangsung, yang jelas beberapa teman akhirnya mengikuti 
jejak Farah, dan mereka kembali dengan senyum lega.



  Gelombang laut boleh besar, tapi rasa lapar adalah segalanya, jadi saya coba 
untuk makan nasi box yang telah disiapkan. Isinya nasi putih, cumi goreng 
tepung, sepotong ayam dan pisang. Lumayan....

  Setelah kenyang, saya tidak buang-buang waktu lagi untuk kembali tidur 
setelah berebut kekuasaan area tidur dengan Ebi. 

  (untuk informasi, Vebbian kemungkinan besar telah meminum obat bius untuk 
gajah sebelum kapal berangkat. Teman kita ini tidur semenjak kapal berangkat 
dari Pulau Karimunjawa sampai kapal menyentuh pelabuhan Kartini, Jepara) 

   

  (sesampainya saya dirumah, saya agak menyesal tertidur di kapal. Berhubung 
terpal tidak dapat menutupi dek secara keseluruhan, maka posisi tidur saya 
memungkinkan matahari membakar sebelah kanan badan. Jadilah tangan kanan saya 
lebih hitam dari tangan kiri... hicks...)

   

  saya masih kehilangan orientasi waktu ketika saya tiba-tiba terbangun, dan 
hei!! Kenapa tangan saya memegangi pergelangan kaki Wawan dengan kuat??  
**doeeenggg..** 

  apakah kaki wawan sedemikian miripnya dengan pinggiran kapal? Hehehe... atau 
jangan-jangan... sebenarnya saya memang memegangi pinggiran kapal, tapi karena 
baru bangun jadi misinterpretasi sebagai kaki Wawan. Entahlah... hanya Wawan 
yang paham keadaan sebenarnya.

   

  Untuk menghilangkan malu, saya segera pindah duduk di depan. Biasalah... 
pura-pura cool saja. 

  Pulau Jawa sudah terlihat jelas, perahu-perahu nelayan berseliweran di 
sekitar kami, pelabuhan Jepara semakin lama semakin jelas terlihat...

   

   

  Pulau Jawa... kami telah kembali... 

   

  Memasuki pelabuhan Jepara kami melihat kapal motor yang sebelumnya 
digossipkan tersasar, telah bersandar di pelabuhan.

   

  Loh? Bagaimana ini?? Bahkan mereka sudah sampai cukup lama di situ. 

  Jadi.... sebenarnya.... siapa yang tersasar????

   

  Kami sampai di pelabuhan jepara sekitar 15.30 dan setelah membersihkan badan 
dan beristirahat, maka jam 16.30 kami berangkat dengan Bus Muji Jaya kembali ke 
Jakarta.

   

  Sonson menjadi seat-mate saya kali ini.

  saya sangat terharu bisa menjadi seat-matenya karena ternyata dia juga tidak 
bisa tidur di bus!!! Horeee! Akhirnya saya punya teman yang akan bersama-sama 
duduk bengong selama perjalanan.

   

  Teman-teman dari Surabaya juga turut serta sampai Kudus, kemudian beberapa 
orang turun lagi di Semarang. Seperti Karin yang akan pulang kampung ke Solo, 
juga Vebbian yang akan meneruskan solo backpacking sendirian, ke semarang, 
kemudian ke Lawu (kalau ga salah).

   

  Jam 19.30 bus berhenti untuk istirahat dan makan malam. Rumah makan ini tidak 
sekejam yang di Banyuwangi yang mematok 'serba 10.000'. Syukurlah...

  satu jam kemudian bus kembali melakukan perjalanan panjang menuju kota 
Jakarta. Rencananya, besok jam 04.00 kami sudah akan tiba di Terminal 
Rawamangun.

   

  Perjalanan pulang tepat seperti yang saya bayangkan, tetap tidak bisa tidur! 
Setelah lelah mengobrol dengan Sonson tentang journey-nya ke singapore, 
malaysia dan thailand, saya berusaha keras untuk tidur. Semakin diusahakan 
semakin tidak bisa tidurlah saya. 

  Jalanan yang lebih sering rusak daripada halus membuat saya hampir selalu 
terbangun saat berusaha tidur. Padahal hampir semua, kecuali mbak imas dan 
Yuke, sudah terlelap

   

  (kalau dibuku-kan mungkin obrolan mbak Imas dan Yuke sudah memasuki bab XII, 
karena sejak di kapal motorpun mereka sudah ngobrol berdua) 

   

  Bahkan Arispun tidak lagi terlihat bolak-balik, semua tidur... aneh... 
sepertinya badan mereka mempunyai shock-breaker tambahan sehingga tidurnya 
tidak terganggu guncangan bus yang sedemikian kerasnya.

   

  Tapi tunggu sebentar... 

   Aha! Ternyata seat-mate saya juga tidak bisa tidur! Hehehe... lihatkan 
betapa beruntungnya saya duduk disebelah Sonson, paling tidak saya tidak perlu 
merasa iri (seperti ketika saya iri pada tami ketika berangkat karena dia 
tiduuuuur terus).

   

  Kemudian hujan turun dan membuat jalan tersendat-sendat karena semua 
kendaraan menjadi lebih berhati-hati. 

  Kami melewati subang sekitar pukul 4 pagi. Mbak Imas yang datang dari Bontang 
sudah mulai duduk dengan gelisah, karena ternyata dia harus mengejar pesawat 
yang berangkat dari Cengkareng pukul 06.00. 

   

  Antara yakin dan tidak, saya mulai ikut berhitung... kira-kira sampai atau 
tidak ya?

  Rencana mulai disusun, usulan-usulan mulai ditawarkan oleh aris, mulai dari 
tawaran untuk turun di Cawang dan meneruskan dengan Taxi, sampai usulan untuk 
membatalkan tiket. Saya jadi ikut berdebar-debar. Tapi tidak lama, karena 
kemudian saya sadari bahwa bus sudah memasuki tol. Saatnya tidur!!!

   

  Dan hebatnya saya benar-benar tertidur!! Saya baru terbangun ketika 
lampu-lampu bis telah dinyalakan dan semua orang telah bersiap karena bus sudah 
akan memasuki terminal Rawamangun.

   

  Akhirnya....

   

  Hari Minggu, 8 Mei 2005 

  jam 05.15 

  semua orang telah turun dari bus dan sibuk bersalam-salaman di dalam Terminal 
bus Rawamangun. Saling berjanji untuk tetap memberi kabar, untuk sesekali 
bertemu, dan tentu saja untuk pergi bersama-sama lagi.

   

  Well...

   

  Sampai Jumpa di perjalanan berikutnya....

   

  TAMAN NASIONAL UJUNG KULON!!!

   

   

   

   

  **Terima kasih yang teramat sangat istimewa untuk semua teman-teman yang 
telah membaca indah's true story--- 'Tour de Karimun'

   

  **Terima kasih yang tidak kalah istimewa kepada teman-teman yang telah ikut 
'Tour de Karimun', tanpa kalian, catatan harian ini tidak akan pernah 
tertuliskan.

   

   

   





------------------------------------------------------------------------------
  Discover Yahoo!
  Have fun online with music videos, cool games, IM & more. Check it out!


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Anti-Virus.
  Version: 7.0.308 / Virus Database: 266.11.8 - Release Date: 5/10/2005



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"

untuk bergabung kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke