>From: "boedipoetra" <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Tue, 24 May 2005 11:06:04 -0000
>Subject: [jurnalisme] Laporan Utama ttg Milis di Koran Tempo
>
>Buat Radityo dan teman2 yang lain yang ingin baca, berikut saya
>posting naskah lengkap TOPIK (Laporan Utama) Koran Tempo Edisi Minggu
>22 Mei 2005.
>
>Regards,
>
>Budi Putra
>Koran Tempo
>
>***********
>
>KORAN TEMPO, MINGGU 22 MEI 2005
>
>E-mail-mu Harimaumu
>
>Hati-hati meneruskan e-mail yang tak jelas pengirimnya!
>
>Pengamat ekonomi Revrisond Baswir mungkin tak pernah menyangka
>protesnya bakal mampir ke kantor polisi. Maklum, gerundelannya yang
>ditulis melalui surat elektronik dalam komunitas (milis)
>Ekonomi-Nasional menuai protes dari SCTV.
>
>Kisahnya bermula saat pengajar di Universitas Gadjah Mada itu menjadi
>narasumber SCTV di program Topik Minggu Ini yang membahas pro-kontra
>kenaikan harga bahan bakar minyak, 1 Maret 2005. Waktu itu Rosiana
>Silalahi menjadi pemandu gambar, Bayu Sutiyono sebagai fasilitator,
>dan Zainal Bakti produser acara.
>
>Acara itu juga menghadirkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
>Nasional Sri Mulyani Indrawati. Dalam diskusi, Revrisond merasa
>jengkel lantaran sebagai pihak yang menentang kenaikan harga BBM, dia
>merasa tidak mendapat porsi bicara sebanyak Sri Mulyani.
>
>Kekesalan memuncak di akhir diskusi. Revrisond menuding acara tersebut
>telah direkayasa. Rosi dan Bayu langsung mengklarifikasi. Persoalan
>dianggap selesai. Sementara.
>
>Esok malamnya, ketika pertunjukan wicara itu disiarkan, ketidakpuasan
>Revrisond bertambah. Ia merasa omongannya banyak diedit. Soni, begitu
>dia biasa disapa, lalu menumpahkan kekesalannya melalui surat
>elektronik yang dikirim ke milis Ekonomi-Nasional dengan judul
>"Pemojokan terhadap penganut Ekonomi Kerakyatan" pada 6 Maret.
>
>Secepat kilat surat Soni menyebar ke berbagai milis. Persoalan
>bertambah runyam. SCTV merasa nama baiknya dicemarkan karena dalam
>e-mail yang beredar dari satu milis ke milis lain itu Soni menuduh
>acara tersebut merupakan blocking time yang dibiayai pemerintah
>seharga Rp 350 juta.
>
>Menurut kuasa hukum SCTV, Bambang Widjojanto, kliennya terpaksa
>melaporkan Revrisond setelah upaya penyelesaian lewat musyawarah
>gagal. Dia mengaku secara langsung, atau melalui Bayu dan Rosiana,
>telah berupaya melakukan pendekatan pribadi ke Soni untuk
>menyelesaikan masalah. Ia bahkan telah melayangkan somasi, tapi tidak
>ada respons. 
>
>"Terpaksa kami tempuh langkah hukum," katanya. Akibat peristiwa itu,
>nama baik SCTV menjadi gunjingan bahkan hingga ke luar negeri, begitu
>alasan Bambang. Revrisond pun dilaporkan ke polisi dengan tuduhan
>pencemaran nama baik.
>
>Sebelumnya, wartawan Kompas Sidik Pramono juga melaporkan Sekretaris
>Tim Ahli Teknologi Informasi Komisi Pemilihan Umum Basuki Suhardiman
>ke Kepolisian Daerah Metro Jaya. Tuduhannya sama: pencemaran nama baik
>melalui milis.
>
>Gara-garanya, Basuki mengirimkan surat elektronik atas nama Satria
>Kepencet ke milis ITB. Isinya, Sidik Pramono dituding menerima gaji
>bulanan dari Komisi Pemilihan Umum.
>
>Menurut Roy Suryo, pembawa acara E-lifestyle Metro TV dan tokoh yang
>kerap diundang menjadi pembicara diskusi telematika, maraknya kasus
>dari surat elektronik ini merupakan dampak dari euforia media baru
>bernama mailing list yang disebutnya sebagai "kebablasan". Milis, kata
>dia, memang termasuk media komunikasi baru. 
>
>Tapi prinsip keterbukaan dan tanggung jawab tidak pernah berubah.
>"Sebagai media baru, bukan berarti milis boleh seenaknya digunakan
>untuk menjelek-jelekkan orang," kata Roy Suryo.
>
>Dia menilai, langkah SCTV melaporkan Sony sudah tepat. Maksudnya, biar
>polisi dan keputusan pengadilan nanti yang akhirnya menentukan
>benar-tidaknya tudingan melalui milis.
>
>Hanya, Roy Suryo berpesan, mereka yang aktif dalam pelbagai milis
>harus hati-hati bila hendak mengirimkan surat (posting), termasuk
>meneruskan (forward) informasi. Apalagi jika isinya tudingan dan
>sumbernya tidak jelas. "Harusnya tidak diteruskan ke milis-milis
>lain," kata Roy.
>
>Efek negatif milis sebenarnya bukan baru kali ini saja. Pada 2002,
>Rizal Mallarangeng, Direktur Eksekutif Freedom Institute, juga pernah
>kena getah gunjingan di milis. 
>
>Waktu itu, sepulang dia dari India bersama rombongan Presiden Megawati
>Soekarnoputri, tiba-tiba beredar kabar di ruang maya yang menyebut
>bahwa pengamat politik itu pernah meminta tolong pelajar Indonesia di
>India untuk dicarikan wanita pekerja seks komersial di seputar kawasan
>New Delhi, tempat dia dan rombongan menginap.
>
>Kabar dikirim seseorang yang mengaku bernama Esty Angela. Mula-mula
>hanya beredar di milis perkumpulan pelajar Indonesia di India, kabar
>angin itu segera beredar ke mana-mana dan terkenal dengan isu "ayam
>India". Lama-lama isu itu pun meruak jadi perbincangan hangat di ruang
>publik.
>
>Merasa terganggu karena difitnah oleh orang tak jelas, Rizal pun
>terpaksa melakukan klarifikasi. Ia mengirim e-mail bantahan ke delapan
>penjuru angin. "Saya tidak tahan juga dibicarakan soal tuduhan ini
>tanpa membalas dengan satu-dua komentar," tulis Rizal dalam surat
>tanggapannya.
>
>Isu itu akhirnya reda dan berlalu begitu saja. Rizal tak melanjutkan
>kasus itu ke ranah hukum, misalnya melaporkan Esty ke polisi. Ia
>merasa surat klarifikasi yang diposkan ke pelbagai milis sudah cukup
>untuk meredam isu.
>
>Di masa depan, bukan tak mungkin kasus yang menimpa Revrisond, Basuki,
>dan juga Rizal akan terulang. Untuk mencegahnya, mungkin para aktivis
>milis perlu menyimak sebuah pepatah lama yang berbunyi "mulutmu
>harimaumu, mengerkah kepalamu", yang sekarang dipelesetkan menjadi
>"e-mail-mu harimaumu, menelan dompetmu".
>| CAHYO JUNAEDY
>
>
>Menjaring Pencemar
>
>Kasus SCTV versus Revrisond dan wartawan Kompas versus Basuki
>Suhardiman memicu pertanyaan: bisakah data elektronik seperti e-mail
>dijadikan barang bukti di pengadilan? Bisakah para terlapor itu
>dijerat pasal pencemaran nama baik?
>
>Menurut Rapin Mudiardjo, Direktur Legal ICT Watch dan pengacara,
>seperti tertulis dalam artikelnya di situs hukumonline.com, dalam
>sistem hukum Indonesia, data elektronik, termasuk e-mail, belum
>diterima sebagai alat bukti di pengadilan jika terjadi sengketa.
>
>Meski demikian, itu bukan berarti kasus seperti di atas lantas tak
>bisa diajukan ke meja hijau. Sebab, ada yurisprudensinya. Rapin
>menyebut, beberapa waktu lalu, pernah diputus satu kasus pidana di
>Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang mengetengahkan e-mail sebagai
>salah satu alat bukti.
>
>Hakim kemudian menghadirkan saksi ahli untuk menjelaskan apakah bukti
>e-mail tersebut bisa dimanipulasi. Saksi mengatakan bisa. Keterangan
>ahli lalu digunakan oleh hakim untuk memastikan apakah dalam transfer
>data melalui e-mail tersebut telah terjadi tindakan manipulatif.
>
>Setelah mendengar keterangan dari saksi ahli, hakim memutus terdakwa
>telah terbukti melanggar Pasal 282 KUHP. Terdakwa divonis hukuman satu
>tahun penjara karena terbukti telah melakukan tindakan cabul berupa
>penyebaran tulisan dan gambar.
>
>Terlepas dari benar-salahnya terdakwa, hakim telah menggunakan nalar
>untuk menafsirkan bahwa data elektronik bisa menjadi alat bukti
>seperti yang diatur dalam Pasal 184 KUHAP.
>
>Dari kasus itu terbukti bahwa data elektronik di Indonesia bisa
>dijadikan barang bukti di pengadilan. Kalaupun masih sedikit kasus
>yang menggunakan bukti elektronik sebagai alat bukti di pengadilan,
>menurut Rapin, itu lebih disebabkan oleh masih banyaknya hakim yang
>enggan mempelajari hal baru, khususnya yang berkaitan dengan
>pemanfaatan teknologi informasi dalam urusan privat ataupun publik.
>
>Rapin menambahkan, di beberapa negara, data elektronik dalam bentuk
>e-mail sudah menjadi pertimbangan bagi hakim dalam memutus suatu
>perkara (perdata ataupun pidana). Para penegak hukum tak perlu
>menunggu keluarnya Undang-Undang Tindak Pidana di Bidang Teknologi
>Informasi atau Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang
>sekarang entah masih tersimpan di laci siapa. 
>
>| HERRY GUNAWAN
>
>
>Semua Ada di Milis
>
>Mulanya ngobrol di forum, japri, SMS, ketemu, akhirnya berjodoh.
>
>On Apr 12, 2005 3:30 PM, wiwin<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Ini ada berita kehilangan mobil dari temen, siapa tau ada yang bisa
>bantu:
>1. Honda Jazz'05 warna hitam B8878SA
>2. Kijang LGX'02 Diesel warna hitam B1992QP
>3. Kijang LGX'04 warna silver B8884DH
>4. Kijang LGX'02 warna biru tua B1589QF
>
>Kalau ada yang kebetulan liat dimana aja mobil2 tsb di atas, harap
>hubungi Wiwin di 7275xxx.
>
>Pernah merasakan bingungnya kehilangan mobil? Wiwin pernah. Bahkan tak
>hanya satu, empat mobil hilang sekaligus! Tak kurang akal, dipakainya
>ajang mailing list (milis), seperti tertulis di atas, untuk melacak
>keberadaan mobil-mobil kesayangannya.
>
>Jangan pernah mengira isi milis serius melulu. Justru di milis, orang
>bisa ngobrol ngalor-ngidul.
>
>Dewasa ini, ada aneka rupa jenis milis. Masing-masing pun memiliki
>kekhususan. Misalnya, untuk milis berdasarkan hobi dan kesukaan, ada
>[email protected] untuk penyuka perjalanan,
>[EMAIL PROTECTED] bagi penyuka komik Tin Tin, dan
>[EMAIL PROTECTED] bagi penggemar buku. Ada pula milis penyuka
>aliran musik seperti [EMAIL PROTECTED] bagi
>pencinta musik jazz.
>
>Mona Purbakanti, 35 tahun, salah satu anggota milis jazz itu, mengaku
>tertarik ikut lantaran ingin memperluas wawasan bersama penikmat musik
>jazz lain. Sekretaris di sebuah perusahaan alat berat perminyakan ini
>pun rajin menyambangi kopi darat anggota milis yang diadakan sekali
>sebulan. "Walaupun gue dijuluki Mona the Warrior atau Mona si Nekat
>gara-gara gue satu-satunya cewek yang datang dan rumahnya paling
>jauh."
>
>Ada pula milis atas dasar ikatan almamater, seperti
>[EMAIL PROTECTED] bagi semua lulusan Universitas Trisakti
>atau [EMAIL PROTECTED] untuk alumni Fakultas Ilmu Komunikasi
>Universitas Padjadjaran.
>
>"Gue ikut milis ex-trisakti karena merasa hilang kontak sama beberapa
>teman," kata Rini Hastarati, 27 tahun, karyawati perusahaan
>ekspor-impor.
>
>Alumnus Fakultas Ekonomi Trisakti ini mengaku memiliki banyak kenalan
>alumnus berbagai angkatan di milis. Mereka sering bernostalgia soal
>masa-masa kuliah dan perkembangan almamater, bertukar artikel dan info
>lowongan pekerjaan, dan tentu saja: jualan!
>
>Selain menjadi arena tukar cerita, milis bisa menjadi sarana pencari
>informasi sesuai dengan kebutuhan. Misalnya milis
>[EMAIL PROTECTED], yang berguna bagi pencari beasiswa, dan
>milis pencari kerja, [EMAIL PROTECTED]
>
>Citra Diah Prastuti, 27 tahun, yang berhasil lulus tes seleksi
>penerima beasiswa dari Inggris tahun ini, mengakui bahwa
>keberhasilannya tak lepas dari peran milis beasiswa yang ia ikuti.
>Kok, bisa?
>
>"Gue banyak dapat masukan tips menjawab wawancara," kata Citra.
>Karyawan perusahaan swasta ini pun akan tinggal setahun di London,
>Inggris, tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun dari koceknya.
>
>Pernah rindu kampung halaman ketika harus berada di tempat jauh? Tak
>usah bingung. Jika Anda orang Sunda, silakan bergabung di
>[email protected] atau KUSnet (Komunitas Urang Sunda di
>Internet). Milis yang beranggotakan 1.500 orang yang tersebar di
>seluruh dunia ini menjadi wadah diskusi dan kangen-kangenan dengan
>bahasa Sunda sebagai bahasa resmi.
>
>"Ada yang sudah tidak bisa berbahasa Sunda tapi ingin belajar. Ada
>yang tahu banyak soal sejarah Sunda, agama, bahasa, mitos, legenda,
>kesenian, sampai menu makanan dan tentu saja humor atau heureuy," kata
>Mang Jamal, anggota milis.
>
>Tenaga pengajar di Institut Teknologi Nasional, Bandung, ini merasa
>banyak mendapat manfaat sebagai anggota milis. Selain ngobrol, ada
>kegiatan sosial semacam pengumpulan dana untuk korban bencana alam di
>Jawa Barat.
>
>Ada lagi milis profesi, seperti [EMAIL PROTECTED], yang
>beranggotakan 2.000 orang lebih. Di milis ini, semua anggota boleh
>mengomentari iklan yang bertaburan di masyarakat, dari gaya beriklan
>hingga produknya.
>
>"Jangan harap bisa jualan di milis ini. Gue pernah diomelin sama
>moderatornya," kata Rini, yang sudah lama menjadi anggota.
>Berminat menambah pengetahuan agama? Silakan join di
>[EMAIL PROTECTED], yang banyak didominasi anggota
>organisasi remaja masjid.
>
>Interaksi di milis pun berimbas ke dunia nyata. Misalnya Ivon, 29
>tahun, karyawan perusahaan pewarna yang mendapat jodoh lewat milis.
>"Mulanya ngobrol di forum, akhirnya japrian (jalur pribadi), eh
>berlanjut ke telepon-teleponan plus SMS," katanya sambil tertawa.
>
>Bahkan keikutsertaannya di [EMAIL PROTECTED] membuat dirinya
>pernah punya musuh. Gara-gara dia mengomentari posting yang tidak
>jelas asalnya di milis, "Akhirnya jadi ribut dan salah-salahan,"
>ujarnya.
>
>Memang tak selamanya apa yang diharapkan dapat diraih, termasuk di
>milis. Seperti tanggapan untuk e-mail Wiwin:
>
>On Tuesday, April 12, 2005 4:15 PM, pandu<[EMAIL PROTECTED]>
>
>Banyak banget mobilnya???
>Lagi jualan terus dicuri??
>
>|DA CANDRANINGRUM
>
>
>Sang Moderator
>
>Bila Anda anggota salah satu milis, pasti tahu yang namanya moderator.
>Milis tak akan jalan tanpa orang yang satu ini.
>
>Di antara mereka ada Farid Gaban, moderator milis 
>[EMAIL PROTECTED] Berawal dari hobi berinteraksi melalui
>Internet, ia mendirikan milis itu lima tahun silam. Banyak wartawan
>jadi anggota.
>
>Di milis itu ada agenda peristiwa, jadwal konferensi pers, dan diskusi
>berbagai topik. "Internet adalah media yang sangat bagus untuk
>membangun komunitas," kata Farid.
>
>Zaki Alex, moderator [EMAIL PROTECTED], milis alumni
>Universitas Trisakti, sependapat. Di sini, undangan pernikahan, info
>beasiswa, lowongan kerja, dan kabar duka bisa disebarkan cepat. "Semua
>bisa dilakukan tanpa dibatasi ruang," kata pria yang saat ini tinggal
>di luar negeri itu.
>
>Menjadi moderator banyak suka-dukanya. Samsul Bahri, 30 tahun,
>moderator milis [EMAIL PROTECTED], misalnya, kerap kena omelan
>anggota jika kiriman e-mail mereka belum juga masuk milis. 
>
>Padahal itu terjadi karena server penampung milis sedang ngambek atau
>koneksi Internet lagi lelet.
>Pernah pula Samsul diminta memberikan data pribadi seorang anggota
>milis. "Saya suruh dia tanya langsung secara japri (jalur pribadi)
>saja," kata karyawan perusahaan asing itu.
>
>Lain lagi dengan Farid. Selain menjadi moderator, Farid terbilang
>aktif dalam diskusi di milisnya. Wajar saja bila waktunya tersita di
>depan Internet untuk riset diskusi dan aktivitasnya sebagai moderator.
>Alhasil, ia banyak dikomentari orang dekatnya. "Istri dan teman-teman
>suka marahin saya," kata Farid.
>
>Zaki lain lagi. Ia justru pernah dipusingkan anggota milis yang
>bandel. Anggota itu selalu memasukkan e-mail yang isinya promosi
>barang. Sudah berkali-kali diperingatkan, di-ban, tapi masih nekat dan
>menyamar dengan nama lain.
>
>Akhirnya, Zaki punya ide. "Gue spam aja e-mail dan link-link jualan
>dia," kata Zaki. Akhirnya dia kapok dan tak pernah muncul lagi.
>Ternyata jadi moderator memang harus cerdik. 
>
>| INDRA DARMAWAN
>
>
>Hikayat Pesan Keramat
>
>Milis lebih ampuh dari web.
>
>SIAPAKAH pengguna mailing list pertama di Indonesia? Bagi Rahmat M.
>Samik-Ibrahim, ahli komputer Universitas Indonesia yang juga salah
>seorang pelopor Internet di Indonesia, pertanyaan itu masih menjadi
>tanda tanya besar.
>
>Apalagi jika pertanyaannya diubah menjadi: "Mailing list apa saja yang
>muncul pada awal masa Internet di Indonesia?" Jawabannya, menurut
>Ibrahim, semakin sulit ditemukan karena mailing list sudah ada sebelum
>Internet masuk ke Indonesia pada 1993.
>
>Dalam sebuah situsnya, Ibrahim mencatat, pada mesin komputer mini
>Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia terdapat sebuah script yang
>bisa mengirim pesan atau e-mail ke semua staf sejak awal 1980-an.
>
>Selain itu, Johny Moningka dan Jos Luhukay sudah mengembangkan
>perangkat "pesan" berbasis Unix dan Ethernet pada 1983.
>
>Mailing list atau milis internal di Pusat Ilmu Komputer Universitas
>Indonesia dan gawean Johny Moningka-Jos Luhukay pada awal 1980-an bisa
>dianggap sebagai generasi pertama penggunaan milis di Indonesia.
>
>Menurut Ibrahim, setidaknya ada tiga hal yang menandai dimulainya
>generasi kedua penggunaan milis di Tanah Air, yang terutama dimulai
>pada kurun akhir 1980-an.
>
>Pertama, ketersediaan perangkat keras seperti modem dan personal
>computer yang memadai sejak pertengahan 1980-an. Kedua, dinamika
>kegiatan komunitas di Indonesia yang mulai bereksperimen dalam
>penggunaan perangkat keras tersebut.
>
>Hal ketiga, komunitas Indonesia di luar negeri, terutama pelajar,
>mulai menggunakan e-mail untuk berkomunikasi. Komunikasi-komunikasi
>yang intensif ini juga besar pengaruhnya dalam mendorong kelahiran
>Internet di Indonesia.
>
>Menjelang akhir 1980-an, muncul milis The Indonesian Development
>Studies (Syracuse, 1988), UKIndonesian (UK, 1989), Indoznet
>(Australia, 1989), Isnet (1989), Janus
>([EMAIL PROTECTED]), dan Apakabar yang kontroversial.
>
>Kemudian muncul milis [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
>[EMAIL PROTECTED], dan [email protected] (keluarga besar ITB)
>
>Ada juga milis yang merupakan kerja sama international, seperti
>[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], dan
>[EMAIL PROTECTED]
>
>Generasi berikutnya, seperti diungkapkan pakar Internet Onno W. Purbo,
>diwarnai milis dari kalangan yang sedang menggerakkan e-commerce dan
>warung Internet.
>Milis itu antara lain [EMAIL PROTECTED],
>[EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED],
>dan [EMAIL PROTECTED]
>
>Milis di Indonesia kini sudah semakin berkembang. Tidak hanya
>komunitas formal dan besar, kelompok diskusi kecil pun bahkan punya
>milis sendiri.
>
>Data di situs 
><http://indonesia.elga.net.id/milis.html>http://indonesia.elga.net.id/milis.html
> menunjukkan
>setidaknya terdapat 149 milis yang host di server sendiri dan lebih
>dari 400 milis dari Indonesia tercatat di database Yahoo Group.
>
>Dari segi topik dan kategori, milis dari Indonesia semakin variatif.
>Ini tidaklah mengherankan karena pembentukan milis-milis tersebut
>memang berangkat dari tujuan yang berbeda: berdasarkan komunitas,
>kelompok diskusi, topik, produk, hobi, dan kekhususan tertentu.
>
>"Milis merupakan sarana yang sangat ampuh, bahkan menurut pengalaman
>saya lebih ampuh daripada web yang sifatnya lebih pasif," ujar Onno.
>
>Mantan dosen Institut Teknologi Bandung ini mencontohkan, seseorang
>yang sedang kesulitan dengan masalah komputer, misalnya, bisa
>mengirimkan pertanyaan ke milis tempat berkumpulnya hacker.
>
>"Akhirnya masalah yang ia hadapi dapat dipecahkan dalam waktu yang
>singkat, mungkin hanya beberapa jam," ujar Onno.
>
>Ya, betapa "keramat"-nya pesan-pesan yang tersebar cepat itu. Itulah
>sebabnya milis semakin digemari hingga detik ini.
>
>| BUDIPUTRA
>
>
>Etiket Bermilis-ria
>
>Etiket berkomunikasi di ranah maya alias netiquette via Internet
>sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam bersosialisasi di era
>maya ini. Selama beraktivitas di mailing list (milis), sebaiknya
>perhatikan hal berikut ini.
>
>* Biasakan memperkenalkan diri dengan jelas ketika bergabung dengan
>sebuah milis. Kejujuran akan jati diri akan terasa manfaatnya di
>kemudian hari.
>
>* Baca dengan baik aturan sebuah milis, yang bisa saja berbeda dengan
>aturan milis lain.
>
>* Pastikan subject (kepala surat) yang Anda tulis benar-benar
>mencerminkan isi e-mail Anda.
>
>* Pastikan subject e-mail berisi informasi yang benar: apakah bersifat
>meminta info, bertanya, memberikan informasi, atau memang berbagi
>cerita di luar konteks. Milis tertentu biasanya meminta anggota
>mencantumkan tema subject, misalnya dengan [INFO], [TANYA], [OOT].
>
>* Jika menanggapi sebuah posting, hapuslah bagian-bagian yang tidak
>sedang Anda tanggapi. Ini berguna untuk menghemat bandwidth.
>
>* Hindari membalas posting orang hanya dengan satu baris (one liner)
>supaya tidak terkesan Anda sedang main-main.
>
>* Jika Anda meneruskan (forwarding) e-mail seseorang, jangan pernah
>mengubah isi aslinya.
>
>* Jangan sekali-kali meneruskan e-mail dari seseorang yang tidak Anda
>kenal.
>
>* Jika Anda ingin meneruskan e-mail seseorang ke sebuah milis,
>pastikan dulu Anda telah meminta izin kepada yang bersangkutan.
>
>* Bila Anda merasa isi e-mail-nya mengandung informasi yang sensitif
>atau kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan, sekalipun Anda
>telah meminta izin, sebaiknya tidak diteruskan.
>
>* Jangan tulis e-mail dengan huruf kapital semuanya karena penerimanya
>akan menyangka Anda sedang berteriak-teriak atau marah. 
>
>| BP
>
>
>--- In [EMAIL PROTECTED], "Radityo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> Sekadar berbagi info saja (buatyang tak bac/berlangganan KORAN
>TEMPO).
>> Kemarin milis kita masuk KT lho, mas Farid Gaban diwawancarai....
>> 
>> Sayang banget itu artikel tak bisa didownload dari situsnya KT. Ada
>> yang  bisa bantu  untuk berbagi disini? Ada beberapa artikel tentang
>> milis. Saya butuh banget nih....
>> 
>> Trims


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/B9pRWD/3MnJAA/Y3ZIAA/yppolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Indonesian Backpacker Communities
visit our website at www.indobackpacker.com
"No Spamming or forwarding unrelated messages, you will be banned immediately"

untuk bergabung kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke