Filed under: Jelajah Singapura

Lepas magrib, ada bayangan berkelebat di depan jendela nako rumah saya.
Bergerak dari sebelah kiri dekat lift ke arah pintu rumah saya. Ah, padahal
saya tidak mengharapkan kedatangan seorang tamu. Dari gerakannya saya juga
tau bahwa pemilik bayangan bukan seorang yang akrab dengan lingkungan sini.

Saya keluar ke ruang tamu, melihat ke pintu depan. Lho, kok tidak ada orang.
Beberapa detik kemudian, nyaris kaget dan terlonjak saya dengar suara:

‘Mbak Hany ada?’

Heloh! Siapa ini? Oh ya! Saya baru ingat beberapa hari lalu mas Ajar
mengirim e-mail mengabarkan kalau ingin ketemu. Saya cuma tidak menyangka
bahwa beliau akan datang tanpa menelpon dulu. Maklum saja, sudah terbiasa
dengan sisdur seperti itu di sini.

Lalu saya dan mas Ajar yang kawan mas Aris yang saya kenal di milis
Indobackpacker ngobrol dengan asik. Kami baru kali ini ketemu. Obrolannya
juga tidak jauh-jauh dari makanan dan tempat-tempat yang bisa ‘dilihat’ di
pulau kecil ini.


Sampai beberapa hari setelah kedatangan mas Ajar itu, saya kok masih
terbayang-bayang terus sama salah satu tempat yang saya ceritakan ke mas
Ajar. Sementara ini kesimpulannya masih sama: tempat yang paling ingin saya
kunjungi lagi dan lagi dalam waktu dekat ini [dan pastinya dengan biaya yang
paling terjangkau] adalah Pulau Ubin. Tapi saya selalu tidak merasa lengkap
kalau berkunjung ke pulau Ubin tanpa melewati ritual singgah di desa Changi
alias Changi Village.

‘Perlu bawa paspor nggak, Mbak? Kalau mau ke pulau Ubin?’, demikian mas Ajar
tanyakan.

Tentu tidak perlu bawa paspor, karena pulau Ubin masih masuk kawasan negara
Singapura. Itulah asiknya. Apalagi, dari tempat tinggal saya di kawasan Toa
Payoh saya tinggal jalan kaki 150 meteran lalu mencegat bis nomer 59 yang
akan langsung membawa saya ke Changi Village.

Lho, kok ke Changi Village? Hiya, soalnya desa Changi inilah tempat paling
populer untuk menyeberang ke pulau Ubin. Waktu yang paling saya sukai untuk
mulai jalan ke Changi Village adalah pagi hari. Jam delapan. Waktu bayangan
badan di aspal masih panjang dan sinar matahari hangat membelai.

Lama perjalanan bis dari Toa Payoh ke Changi Village sekitar 50 menit. Jadi
saya bisa istirahat melihat-lihat pemandangan [yang yaaah… memang cuma
perumnas alias HDB dan HDB] sekaligus melanjutkan tidur kalau masih ngantuk.

Akhirnya bis belok kanan masuk sebuah terminal kecil dan berhenti. Terminal
di Changi Village kecil saja. Bangunan di sekitarnya juga pendek-pendek.
Bukan jenis bangunan yang bila kita melihatnya saja bisa merasa ‘diserang’
saking besar dan gagahnya ukuran bangunan itu. Di tempat bis nomer 59 itu
berhenti menurunkan sisa penumpang, ada bangunan pasar. Isinya warung-warung
yang menjual ikan, daging, sayur mayur, dan makanan kering serta barang
kelontong. Di tembok pasar, di dekat ATM POSB ada papan nama warung penjual
umpan pancing yang masih buka sampai tengah malam. Di bawah papan nama ada
jejeran tempat parkir sepeda, dan di sebelahnya ada telpon umum warna merah.

Berhubung masih pagi, saya masih bisa melihat orang-orang membongkar gerobak
ikan. Sebentar saja saya menikmati suasana pasar basah. Tujuan saya
sebenarnya bukan pasar yang ini. Saya masuk ke bangunan yang ada di seberang
pasar. Bentuk bangunannya ya sama, kotak saja.

Begitu saya masuki bangunan satunya itu, aroma berbagai macam masakan
menyerbu. Keliatannya saja dari luar suasana adem ayem. Di dalam bangunan
inilah denyut Changi Village paling terasa. Begitu banyak orang duduk
berkumpul di dalamnya. Merubungi meja-meja bundar dan sarapan aneka makanan.

Oya, saya lupa mengingatkan untuk jangan sarapan dulu sebelum pergi ke
Changi Village. Target saya memang jelas, mau makan nasi lemak yang ngetop
di seantero negara [yang besarnya ya cuma sebesar itu  ]. Nah, itu dia
warungnya. Ancer-ancernya mudah dikenali. Cari saja warung dengan papan nama
nasi lemak, yang antriannya panjang sekali. Itu dia. Nasi lemak yang sudah
diulas di berbagai koran dan majalah juga radio dan televisi Singapura.
Konon kabarnya warung dalam waktu tertentu bisa menjual 1.000 bungkus nasi
lemak sehari!



Warung yang saya datangi itu namanya Hjh Salbiah Muslim Food. Nasi lemaknya
sebungkus berharga SGD 2.00. Direkomendasikan oleh Makan Sutra, begitu kata
pengumuman di etalase kacanya. Nasinya semangkok penuh, ditemani sayam
[sayap ayam] goreng, ikan selar, kacang dan teri goreng, seiris timun, telor
ceplok, dan sesendok sambel. Haduh, melihat Mbak yang melayani membungkusnya
saja saya sudah glek glek, menelan ludah berkali-kali sambil membayangkan
apa bisa saya menghabiskan sendiri seporsi nasi lemak itu.

Saya beli 5 bungkus nasi lemak untuk rombongan kami. Artinya SGD 10 untuk
sarapan kami. Lalu kami beranjak ke dermaga perahu. Changi Point Ferry
Terminal namanya. Dari sini kami akan ke Pulau Ubin. Naik perahu yang paling
banyak cuma boleh diisi sekitar 12 orang dewasa. Kecil atau besar, tua atau
muda, per orang ditarik bayaran SGD 2.00. Kalau perahu sudah penuh, baru dia
mulai bergerak. Lho, baru duduk kok sudah sampai.

Nah, itu dia pulau Ubin. Pulau yang dari jauh saja sudah seperti
melambai-lambai mengajak mampir. Hati-hati melangkah dari perahu ke tangga
dermaga! Tapi ini masih belum ada apa-apanya ternyata, dibanding kalau harus
melangkah dari perahu klotok kecil ke dermaga kayu di pulau Penyengat
seberang Tanjung Pinang, Bintan.

Begitu menjejakkan kaki di tanah pulau Ubin, kami langsung mencari tempat
duduk kosong untuk buka bekal nasi lemak kami. Hwalah, enak sekali sarapan
nasi lemak dari Changi Village di pulau Ubin! Apalagi sambil dibelai angin
semilir dan memperhatikan kapal dan perahu yang lalu lalang di laut depan
sana.

Bisa apa saja di pulau Ubin, adalah cerita lain tersendiri. Tapi begitu
sudah lewat jam 3 siang, kami sudah lelah mengelilingi pulau Ubin dan ingin
pulang. Menyeberanglah kembali ke Changi Village. Oh, kami sudah lapar lagi.
Di warung yang lain sudah ada antrian lagi. Sama panjangnya dengan antrian
waktu pagi. Antri makanan apa lagi, sih?

Nasi lemak lagi! Iya betul, nasi lemak gaya lain dari warung yang lain yang
tak kalah enaknya. Kali ini, kalau anda suka dan masih ada waktu bolehlah
menikmatinya sambil memandangi langit senja di… pantai Changi, titik lain di
daerah itu yang juga asik untuk dikunjungi. Ini tentunya juga harus dibahas
khusus di cerita yang lain.


Kirim email ke