Ha iyah mbak Rahmi,

Jaman eskpedisi konservative  dulu sebelum merebaknya komersial
adventures bahkan para sherpa2 itu perempuan loh. Dan mereka juga ngg
make baju seperti pendaki,terkadang dengan telanjang kaki hingga Base
Camp. Banyak kok pendaki internasional yang menelantarkan para sherpa.
Walau sakit suruh balik kanan sendiri.  

Sungguh ngg adil membangga-banggakan diri sebagai pendaki ngetop tapi
enggak pernah menyebut peran sherpa. Saya sempat gemes dengan Jon
Krakauer di buku Into Thin Air karena ia menyalahkan para sherpa dan
guide. Lha wong dia di Hillary Step saja duduk bengong nungguin sherpa
ngeset tali. Daripada bengong gituh kan mending pasang sendiri. Arlene
Blum menyebut Jon sebagai mental juragan bukan seorang pemimpin. 


Jadi inget ketika Hillary dan Tenzing Norgay mencapai puncak Everest.
Pertanyaan para pers yang diajukan adalah : siapa diantara dua ini
yang pertama menjejakkan kaki di atap dunia?  Jawab Hillary : kami
menapak puncak Everest bersama. 

Salam,
Ambar


--- In [email protected], "Rahmi Hastari"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalo sampe puncak  dengan di gendong Sherpa spt Sandy Pittman (sori kalo
> salah nama) di Into Thin Air, apa masih punya kebanggaan ketika turun?
> Secara yang bersusah payah bukan dia, tapi Sherpa yang
> menarik/menggendongnya. Buat saya, para sherpa itulah orang-orang yang
> pantas diberi acungan jempol dan kehormatan paling tinggi. Saya menunduk
> untuk mereka.
> 
> peace,
> Rahmi
> 
> ++++++++++
> 


Kirim email ke