Saya tidak tahu kenapa jarak usulan itu dibuat 10 tahun. Saya kira
mungkin kebijakan Unesco begitu Pak Santoso. Saya ingat era 1995-an
kawan-kawan mahasiswa arsitektur Jogja disuruh berlomba-lomba membuat
tugas akhir kawasan pariwisata Ratu Boko dan sekitarnya. Dibuat
seperti kawasan Prambanan itu. Sedang 2005 adalah
(mungkin) era Taman Nasional Bahari.

Saya kok jadi ingat Stonehenge. Sewaktu saya kesana ada kekecewaan
tersendiri. Lha wong kawasan keramat begitu kok dikelilingi jalan
raya, riuh sekali.  Dulu pengunjung bisa main lompatan di batu-batu
itu, membuat upacara ala pagan, sekarang ini malah dipagari dan dibuat
track mengelilingi sambil mendengarkan mesin guide (alat audio yang
berisi uraian kronologis stonehenge). 

Sempat berargumen dengan suami saya tentang penataan heritage site
ini. Saya ajukan ide dramatis dengan membongkar jalan dan pengunjung
harus dibuat jalan kaki dalam radius 1-2 miles (3.4km). Ruang parkir
juga dibuat jauh diluar. Argumen saya ini ditentang karena : mosok
pengunjung disuruh jalan. Saya pikir why not? 

Tapi Stonehenge itu harusnya unik, karena yang dinikmati bukan hanya
tumpukan batu tapi juga landscape. Batu2 itu adalah sistem penanggalan
winter soltice ribuan tahun yang lalu berdasar pergerakan matahari.
Rasanya konsep 'sites' dan 'landscapes' perlu dibenahi untuk kriteria
WH itu.

Ini yang agak menggelitik saya. Kenapa kok sepertinya pengusulan site
WH itu sepenggal-penggal? Saya kira ini masalah dana pengelolaan saja
Pak. Kalau sudah dicetok palu bakalan meluncur dana bantuan restorasi
dan perawatan. Kalau dapet dua syukur banget kalau dapat satu ya
terima saja. Yang penting kawasannya sama alias Kill two birds with
one stone. 

Dari buka2 website WH itu memang ada dua kriteria utama seperti yang
disebutkan yakni Natural dan Cultural. Namun semenjak 2002 ditambahin
satu lagi yakni Cultural Landscapes yaitu interaksi antara keindahan
alam dan penduduk asli. Kalaupun ingin mengajukan kriteria ini sih
Indonesia Timur kaya sekali.

Kalau soal yang mana dulu nah ini tergantung 'personal preference'
dari Kementrian kita. Lha mempertahankan yang sudah jelas2 Warisan
Dunia saja masih kebat-kebit, apalagi nambah sekian banyak.

Salam,
Ambar 



--- In [email protected], joko santoso <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

 
> Barangkali akan lebih rapi bila daftar usulan itu kita pilah ke
beberapa 'tema'.  Pertama, yang sifatnya alami (natural).  Yang alami
lebih banyak berupa taman laut.  Ini sesuai proporsi tanah air yang
70% wilayahnya berupa perairan.  Tapi yang agak mengganjal mengapa
keunikkan danau Kelimutu malah tidak masuk.
> 
> Kedua, yang berkategori budaya (budidaya manusia).  Terus terang
saya hanya bisa menduga-duga kriteria apa yang melatari usulan. 
Keunikan/kekhasan?  Ukuran luas situs?  Keaslian?  Kompleks
Gedongsongo dan Dieng, yang lebih besar/lengkap dibanding Sukuh, Ratu
Boko, Penataran, malah dibiarkan.  Gunung Kawi (2-3 kilo dari Istana
Tampaksiring) tak kalah unik dibanding Goa Gajah. Kata juru kunci
taman purbakala Sawangan (Minahasa), waruga-waruga yang terkumpul di
situ semula tercecer di halaman rumah penduduk.
> 
> Ketiga, kombinasi alam-budaya.  Banda, Toraja, Goa Prasejarah Maros
(Leang-leang?), rumah tradisional dan megallit Ngada (Bena?), Dieng,
Gedong Songo adalah situs-situs yang dianugerahi alam indah dan budaya
unik.  Hanya Toraja yang belum terlalu terang.  Seberapa luas yang
diusulkan mengingat keunikan itu tersebar di hampir seluruh dataran
tinggi?
> 
> Salam dari Sangatta
> 
> 

Kirim email ke