Mbak Tari,

GoreTex itu memang dirancang untuk tahan hujan dan tahan angin,
cocoknya ya untuk negara2 dingin karena membran yang melapisi jaket
itu cenderung  menutup jalur keringat. Memang dalam promosinya mereka
(produsen GoreTex) selalu bilang 'breathable' namun untuk standar
negara panas seperti Indonesia (maksud saya di sekitar permukaan laut
0dpl) rasanya kurang pas. Tetep terasa panas. 

Ini kata temen ya mbak, untuk tahan dingin lebih baik beli bahan
semacam fleece baru dipakai jaket. Biarpun tipis toh tahan air. kalau
mau anget dan tahan air ya beli yang ada dalemannya, tapi ini ngg bisa
dipakai sehari-hari. Umumnya dipakai untuk olahraga salju. 

Makanya kalau untuk naik gunung di negara panas seringkali hanya
dengan jaket bahan nylon atau polyester plus dilapisi GoreTex. Sedang
macam pelapisnya juga berbeda-beda tergantung kualitas dan jenisnya.
Ada GORE-TEX® XCR Brenva, GORE-TEX® XCR® Cassis (Cordura®) ada
GORE-TEX® PACLITE® .

Biasanya tiap produsen jaket kerjasama dengan perusahaan GoreTex untuk
mencari formula mana yang bagus untuk produk jaket selanjutnya. Jadi
biarpun sama2 GoreTex tetapi hasil akhirnya engga bisa disamakan.

Produsen besar seperti : The North Face, Mountain Hardware, Sprayway,
Marmot, Berghaus, Helly Hansen
Produsen sedang : Regatta, Craghopper, REI, Blacks, Royal Robbins

Catatan : ngg semuanya diatas ini mengeluarkan produk dengan membran
GoreTex. Juga tergantung sama tempat jualnya. Untuk USA North Face
yang paling agresive, sedang Eropa adalah Berghaus. Ada beberapa
produsen dari NZ dan Irlandia yang lumayan bagus, tapi data saya kok
nyelip.

Salam,
Ambar

> 
> Ms tari rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Hallo Mbak Ambar,
> 
> Kalo jaket utk tahan dingin dan - sukur-sukur - bisa
> tahan ujan & angin tp tipis, sebaiknya apa ya Mbak? 
> Pakde saya yg tinggal di Swedia jaketnya tipis2, dia
> bilang bahannya memang khusus utk tahan dingin. 
> 
> Trims sebelumnya. 
> 
> Salam,
> Tari
>

Kirim email ke