Budget terbatas bukan masalah mendasar asal sampeyan
punya waktu cukup-:).  Untuk ke Sumba, baik dari
Surabaya terlebih dari Cirebon, makan waktu lebih dari
2hari.  Apalagi jika bolak-balik Jawa-Sumba mau pakai
kapal.  Belum lagi nunggu datanganya kapal di Waingapu
(10-an hari) untuk kembali.  Coba hubungi saja agen
tiket PELNI di tempat tinggal sampeyan.  Kalau
coba-coba mengintip situs PELNI dijamin kecewa
lantaran bertahun-tahun tidak di-terkini-kan (update).
 Sangat aneh.  Negara kepulauan terbesar di jagat,
tetapi justru di laut kita memble (bukan jalesveva
jayamahe).

Kalau sampeyan ke Sumba dengan semangat 'piknik' bisa
jadi akan kecewa.  Yang ditawarkan Sumba memang tak
bisa dikecap langsung dengan indera.  Namun kalau ke
Sumba untuk penelitian, atau minimal punya minat
khusus, dijamin 2 minggu tak cukup!  Andalan Sumba
Timur adalah tenun.  Hampir setiap kampung punya motif
tenun khas (kombu, pahikung).  Di tengah cuaca yang
tak ramah, orang Sumba dianugerahi ketekunan luar
biasa.  Berbulan-bulan mereka menyulam sepotong kain. 
Maklum, setiap warnanya alami.  Sementara bahan
pokoknya kadang hanya ada pada musim-musim tertentu. 
Jangan heran kalau selembar tenun harganya puluhan
juta.

Selain di kampung-kampung sekitar Waingapu, sentra
tenun ada di Pau, Rende, dan Kaliuda.  Pau, Rende,
Kaliuda bisa dikebut sehari dengan sepeda motor.  Yang
resmi menyewakan memang tak ada tapi coba tanya di
tempat menginap.  Di Pau dan Rende masih ada rumah
raja dan kompleks kubur megalit di tengah kampungnya. 
Saya dulu beruntung di kedua tempat bisa ngobrol
panjang lebar dengan Rajanya.  Raja Rende mengaku
turunan ke-7 dari sang pendiri yang tak lain diaspora
dari Majapahit.  Makanya, atap-atap rumah Sumba mirip
sekali dengan joglo.  Hanya bahannya yang beda.  Yang
asli masih jerami, yang 'modern' sudah memakai seng.

Berbalikan dengan di Timur, daya tarik Sumba Barat ada
di batu megalitnya.  Dari Waikabubak bisa memilih ke
barat (Paronabaroro) atau selatan (Wanokaka).  Ada
beberapa kampung adat yang harus dikunjungi karena
aneka ragam megalitnya (baca: kuburan tradisional). 
Namanya saja kampung adat, kita tak bisa langsung
jepret sana jepret sini ala turis.  Silakan singgah di
rumah ketua adat (rato).  Perkenalkan diri, ajak
ngobrol sebentar.  Juga jangan lupa bawa sirih-pinang
untuk tanda mata.  Kalau sudah di Waikabubak, wajib
mampir di Anakalang (batu kubur terindah) dan
Gallubakul (batu kubur berat > 70 ton).  Anakalang ada
di pinggir trans-Sumba Waingapu - Waikabubak. 
Sementara Gallubakul hanya sekitar 2km sebelah selatan
Anakalang.

Antara Waingapu - Waikabubak mata akan dimanjakan oleh
panorama yang sungguh beda dengan di Jawa.  Padang
membentang, kuda-kuda merumput.  Coba sempatkan
singgah di kedai-kedainya yang sederhana.  Rasanya
kita terdampar di sebuah setting cerita silat tahun
70-an.

Salam dari Sangatta
 

> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
> sonyrawan
> Sent: Friday, December 08, 2006 11:40 PM
> To: [email protected]
> Subject: [indobackpacker] Sumba timur
> 
> untuk rekan2 yg terhormat 
> saya punya rencana untuk pergi ke sumba timur 
> mohon bantuan informasi tentang rute menuju sumba
> timur dari sura 
> baya atu cirebon 
> dan kira2 biayanya berapa 
> soalnya budget saya juga terbatas :(
> 



                
____________________________________________________ 
Yahoo! Singapore Answers 
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at 
http://answers.yahoo.com.sg

Kirim email ke