kapan ya terakhir ke Wonosobo.....? hhhhmmmmm..... kira-kira 4 tahun lalu
waktu ikut acara Tiwok Suara Pembaruan di Tambi.....

Mumpung bicara Wonosobo, yang notabene terkenal Dieng-nya, jadi teringat
masa-masa indah SMA. Waktu itu pertama kali ngerantau, ceritanya mau lepas
jadi anak mami, cari tempat merantau terdamparlah di Wonosobo. Melamar di
kelas 2 SMA-1 Wonosobo udah telat. Ceritanya sich pindahan....Namun berkat
sedikit "KKN" akhirnya bisa masuk juga di A-3. Waktu itu kepala sekolahnya
Bp Sembodo Idris. Sempat nge-kos di Jl. Sindoro. Bertahan 6 bulan, ibu kos
ngga tahan juga dengan kelakuan diri yang suka mbolos.... Lah gimana ngga
doyan mbolos, pagi-pagi mau bangun, dingin banget, lanjut tidur lagi.....
Akhirnya ibu kos sebel juga secara halus diminta hengkang. Ngontraklah rumah
kecil di Kauman Selatan. Terus sampai tamat SMA.

Kalau ingat kenangan manis semasa SMA, nyesel juga waktu itu belum suka
motret. Padahal yang namanya Dieng yang sering aku datengi memang indah
banget. Ngga hanya indah, dari sisi seni fotografi boleh dibilang artistik.
Betul, kalau muter-muter di Dieng sich cukup sehari. Transportasi umum ke
Dieng tahun 1987 mudah. Sekarang maybe lebih mudah lagi ya. Waktu itu kalau
lagi mbolos, kabur naik motor bareng temen jam 9-an, keliling Dieng jam 2
siang udah turun.

Yang mengasyikan kalau turun dari Dieng siang hari pas kabut turun, serasa
negeri di atas awan. Pas banget kalau senandung lagi Katon Bagaskara, Negeri
Di Awan. Mengasyikan sekaligus ngeri. Karena begitu lepas dari kawasan
Dieng, disebelah kiri jurang dalam yang tertutup awan. Di depannya kabut
pekat. Berasa di negeri atas awan. Sempat ngalami waktu bersama rombongan
Tiwok setelah wisata di Dieng. Naik bis 3/4 isi 28 orang. Beberapa penumpang
sempat ngeri. Ketua rombongan sempat bilang ke supirnya, "bapak sudah
pengalaman khan lewat jalan kondisi begini....?" Itu saking ngerinya
ngelihat suasana jalanan. Sempit, berkabut, di sebelah kiri jurang yang
karena ketutup kabut udah ngga kelihatan dasar jurangnya.

Jaman SMA saya di Wonosobo banyak banget penginapan. Waktu itu yang top
hotel Bima. Tapi sekarang rupanya sudah banyak. Malah sudah ada hotel
Bintang 5. Kalau ngga salah Hotel Kresna yang disebutkan termasuk hotel
bintang 5 ya? Losmen murah-meriah untuk turis backpacker banyak juga waktu
itu. Sekarang maybe lebih banyak lagi ya.....

Kalau sempat di sebut Mangli, wah itu kolam renang alam favorit. Kebetulan
ngga jauh dari tempat tinggal. Alami banget. Bisa berenang bareng
ikan-ikan..... Sempat dengar Mangli sudah di tutup dan beralih fungsi jadi
sumber air PAM. Bener ngga ya....?

Untuk waktu terbaik ke Wonosobo, kalau tidak ingin terganggu hujan, lebih
baik Juni-Agustus. Tapi meskipun ngga hujan, dinginnya oke banget. Sempat
dibilangin kalau ingin merasakan hujan es camping aja di Dieng sekitar
Juli-Agustus. Sempat ngga percaya. Tapi akhirnya bisa ngebukti-in sendiri
saat nekad camping di salah satu tempat di Dieng. Malamnya pas kabut 'n
turun rintik-rintik, pas lagi mau pipis di luar tenda kog ada nimpuk ke
kepala. Ngga tahunya ketiban es...Wah seumur-umur ngerasa-in hujan es di
negeri tropis ya di Dieng itu.

Kalau datang bulan Desember seperti ini ya siap-siap di guyur hujan. Memang
di Wonosobo relatif curah hujannya tinggi. Bapak kos saya bilang di Wonosobo
mah musim hujan terus..... Tapi kalau pas musim hujan, suhu udara masih
mendingan. Ngga sedingin bulan Juli-Agustus.

Untuk transport Jakarta Wonosobo relatif banyak. Mau naik travel
Jakarta-Wonosobo pp ada. Bis juga ada. Travel Rahayu, masih ada ngga ya...?
Waktu itu kalau dari Jakarta kepingin cepat sampai ke Wonosobo, naik pesawat
dulu ke Yogya. Mendarat di Yogya langsung ke tempat mangkal travel Rahayu
yang melayani Yogya-Wonosobo pp 5x sehari. Kalau mau naik pesawat via
Semarang juga bisa. Dari bandara Akhmad Yani, naik taksi ke terminal bis
Semarang atau langsung Jl. Dr. Cipto. Tunggu bis Semarang-Yogya via
Secang/Magelang. Turun di Secang/Magelang lanjut naik bis Magelang-Wonosobo.

Mau naik kereta juga bisa. Pilih kereta Jakarta-Yogya, bisa Senja Utama
Yogya, Senja Solo, atau kereta Argo. Bisa pilih mau turun di Purwokerto,
yang kemudian lanjut naik bis Purwokerto-Wonosobo (waktu tempuh 3 jam), atau
turun di Yogya, lanjut naik bis/travel ke Wonosobo.

Kalau ke Wonosobo dari Yogya/Semarang umumnya akan lewat Parakan. Kalau
sudah di rute Parakan-Wonosobo lebih baik jangan tidur. Nikmati pemandangan
yang oke banget. Kita akan lewati suatu ruas jalan yang "membelah" gunung.
Kalau dari Parakan, sebelah kiri akan lihat Gunung Sumbing, sebelah kanan
Gunung Sindoro. Wah cakep banget viewnya......Belum lagi hamparan kebun
tembakau yang mempesona.

Kembali ke Dieng...kalau pas kesana jangan lupa mampir di Tambi ya. Tambi
itu perkebunan teh yang saya dengar masih dimiliki perusahaan Belanda. Teh
Tambi rasanya oke banget. Lain dari teh yang lain. Cuma sayang ngga banyak
di jual di tempat umum. Berhubung langsung di ekspor ke Belanda.....Itu
berdasarkan informasi waktu acara Tiwok di sana......

Wah jadi kangen Wonosobo nich.......Kapan ya bisa kesana lagi......Pasti
sudah banyak perubahan..... Semoga mie Ongklok di jalan Sumberan masih ada
ya......

Salam

----- Original Message ----- 
From: "Karina sari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, December 20, 2006 3:22 PM
Subject: Re: [indobackpacker] INFO DIENG


> halo pak hendro....
>
> kebetulan rumah mama saya (kampungnya maksudnya ada diwonosobo)...
> kalo boleh menyarankan naiklah kedieng dari arah wonosobo (dibandingkan
> dengan arah banjarnegara)
> karena kondisi jalannya relatif lebih baik....
>

Kirim email ke