Akur dengan Mas Aris. Off line contact perlu dipilah
beberapa kategori. Lewat kopdar rasanya akan ada
banyak ide-ide lain yang memperkaya sekaligus lahir
pemecahan teknisnya.
Ibarat pohon, kepercayaan tak akan langsung rimbun
begitu benih ditanam. Kalau komunikasi intens, belum
ketemu pun kepercayaan mulai tumbuh. Sekali
terbangun, merawat kepercayaan ternyata lebih sulit.
Demi kepercayaan pula relasi akan jauh dari sifat
eksploitatif. Saya rasa 'merawat kepercayaan' harus
jadi salah satu item dalam code of conduct
backpacking-:). Karena ini benda abstrak, kepercayaan
agak sulit ditakrifkan (definisi).
Saya (selama tidak sedang cuti) selalu siap jadi tuan
rumah. Saya dan istri punya pandangan bahwa rumah
kami mesti punya kamar kosong, jaga-jaga jikalau ada
tamu hendak menginap. Ini semata-mata bercermin pada
yang pernah saya alami. 12-20 tahun lalu, saat
blusukan ke sana-sini, selalu saja ada kenalan baru
menawarkan tumpangan entah itu di Genteng, Sape,
Ruteng, Jambi, Teluk Dalam, Pekanbaru, Ambon, atau di
tempat lain yang tak lagi saya ingat. Mengapa saya
tidak berbuat sama pada orang lain? Ada saat menerima
ada saat memberi, begitu yang saya percaya. Bisa
memberi sejatinya satu kebahagiaan tak ternilai.
5-10 tahun silam saya merasa begitu terisolirnya
Sangatta. Perlahan rasa itu terkikis. Salah satunya
berkat keberadaan komunitas ini. Tahun lalu (Sep.
2006(?)) rombongan mas Deni singgah di rumah. Pagi 2
hari lalu (16-Jan), mbak Jenny mengontak berkabar
sedang dalam perjalanan dinas ke Sangkulirang. Saya
percaya rekan-rekan di sini, meski terbatas, sudah
membentuk semacam network. Sekarang (meski agak
mengganpangkan) tinggal formalisasinya.
Salam dari Sangatta
____________________________________________________
Yahoo! Singapore Answers
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at
http://answers.yahoo.com.sg