----- Original Message ----- 
  From: krisna diantha 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, February 13, 2007 3:59 PM
  Subject: [indobackpacker] Napoli


  Ada baiknya juga pernah menetap cukup lama di kota sesemrawut Jakarta. Paling 
tidak, ketika kami menginjak stasiun kereta api Centrale Napoli, kekagetan 
terhadap suasana kota utama provinsi Campania, Italia Selatan itu, tidak 
berlangsung terlalu lama.

  Begitu juga ketika seorang sopir taksi bertubuh bogel mencoba memeras kami, 
bukannya kekhawatiran yang muncul, namun lebih ke arah geli yang mengocok 
perut. Bayangkan, wajahnya lebih mirip guru olah raga ketimbang sopir jalanan 
yang keras, ditambah alur komunikasi bahasa Italia yang sangat berantakan 
antara kami bertiga, pemerasan itu berlangsung teaterikal dan humoris.

  "Prego (silakan)," katanya seraya membantu menaikkan dua bagasi kami ke dalam 
taksi berwarna putih itu. Begitu kami menyebut tujuan, bang sopir berperut 
penuh lemak dan setinggi hanya 160 cm itu pun memulai aksinya, sambil 
meluncurkan mobil fiatnya membelah jalanan Napoli. Argo dibiarkan mati dan 
sesekali dia ngoceh tentang bagagli (bagasi). 
  Saya terus terang tak mengerti apa maunya. Namun Angie sedikit maklum bahwa 
si sopir mulai memasang harga, termasuk harga khusus bagi dua bagagli kami. 
"Mitra per favore (argonya dong)," pinta Angie. 
  Kembali sopir bogel itu ngoceh dalam bahasa ibunya. Artinya kira-kira, dia 
ogah menyalahkan argo taksinya karena akan dapat duit sedikit. Kalau pakai 
argo, kilahnya, ongkosnya akan lebih mahal karena jalanan macet. Jalanan yang 
kami lalui saat itu, memang macet, mirip jalanan dari arah Pancoran menuju 
Pasar Minggu. Tak hanya macet, tapi juga anarkis. Mobil saling menerobos 
celah-celah sempit, atau memutar seenaknya. Tapi Angie tetap ngotot minta 
argonya dipasang, yang pada akhirnya memang dinyalakan.

  Sopir lucu itu kembali ngoceh, yang intinya cuma soal harga. Katanya, kalau 
argo dinyalakan mesti bayar dua kali lipat, seraya memutar-mutar tangannya 
menyimbolkan bahasa tubuh soal bayar dua kali lipat. Tawar-menawar ini 
berlangsung agak cekikikan, karena persoalan bahasa. Kami hanya mengerti 
sepotong sepotong, sementara si sopir pun demikian. 

  Akhirnya, kami tiba di lobby hotel Neapolis yang sudah kami booking sejak 
dari Luzern, Swiss. Saya turunkan dua bagasi kami, sebelum membayar ongkos 
taksi yang hingga saat itu juga belum ada kesepakatan. Argo menunjukkan bandrol 
6 lira (sekitar Rp 50.000). Si sopir masih berusaha meminta harga dua kali 
lipat dari tarif resmi itu. 
  Kami tahu dari buku Lonely Planet - buku pegangan para traveller dunia - 
sudah menjadi adat dalam naik taksi di Napoli, bagasi mesti bayar dan dalam 
satu mobil tak lebih dari 4 orang. Kami putuskan membayarnya 10 lira, karena 
harga itulah yang memang ditulis oleh TCS, biro perjalanan yang mengurus hotel 
kami di Napoli. Kami pikir wajarlah, 6 lira untuk argometernya, 2 lira untuk 
dua bagasi dan 2 lira untuk uang tip sopir yang sudah berhasil mengantar kami 
dengan selamat sampai di hotel. 

  Sebelum persoalan makin runcing, saya salami sopir bogel itu. "Bene, bene, 
grazie (Bagus kan, terima kasih banyak)," kataku sambil saya tepuk-tepuk 
pundaknya. Dia hanya bisa mengangguk - angguk dan mengucapkan terima kasih lalu 
melesat kembali ke lorong-lorong kecil di antara kota lama Napoli.

  Semrawut dan Seenaknya
  Seperti umumnya orang Indonesia, sebenarnya agak kurang percaya menyaksikan 
Napoli, salah satu kota besar di Italia begitu berantakan. Apalagi setelah 
pengalaman naik taksi resmi kota ini. 
  Selama ini Italia terdengar begitu fantastis. Tim sepak bolanya yang begitu 
mapan dan elegan, kaum perempuan yang jelita dan para maskulin yang gagah dan 
ganteng, atau daerah perkotaan yang bersih dan penuh burung dara, laiknya 
kota-kota di Eropa. Pendeknya, dalam bayangan saya, Italia akan terlihat asri, 
teratur dan makmur. Apalagi, saya yang sudah setahun lebih menetap di Swiss, 
terbiasa dengan kondisi kognitif semacam itu. Tapi, wah, memang agak di luar 
dugaan kenyataannya.

  Namun, itu tadi, kekagetan itu tidak berlangsung lama. Apalagi, beberapa 
rekan juga sudah mengingatkan tentang Italia. Teges Prita Soraya menulis, orang 
Utara agak sebal dengan Orang Selatan. Orang (Italia) Utara kerja keras, orang 
(Italia) Selatan menghabiskannya. Maksudnya, korupsi banyak terjadi di Italia 
Selatan. Kemakmuran memang hanya terjadi di Italia Utara, seperti Milan, 
Bologna atau Turino dan sedikit ke Italia Tengah semacam Roma. 
  Italia Selatan, seperti Napoli hingga Calabria dan juga Palermo di Pulau 
Sisilia, sarang mafia, terbilang kurang makmur, bahkan miskin. Tidak 
mengherankan jika sebagian wajah Napoli, kami temui agak semrawut, kotor dan 
miskin. Sampah juga terlihat berserakan di mana-mana, lalu lintas masih 
anarkis. Pejalan kaki mesti ekstra hati-hati meski berjalan di zebra cross. 

  Namun jika dibandingkan Jakarta, Napoli masih lebih bagus. Dan Napoli memang 
bukan Jakarta. Gedung-gedung tua masih terjaga, bahkan tetap dipakai. Entah itu 
berfungsi sebagai gereja, kantor pemerintah atau rumah tinggal. Manusia Italia 
bagian selatan juga nggak terlalu gagah. Malah, banyak yang bogel macam sopir 
taksi tadi. 
  Napoli, sebagai salah satu kota besar di Italia Selatan, kata seorang rekan, 
merupakan kota yang tumbuh seperti tanaman: alami alias seenaknya. Apalagi 
kalau menyusuri bagian kota lama. Bangunan masih kuno dan jalanan menyempit 
serta lalu lintas yang seliweran tanpa banyak menghiraukan pejalan kaki. Di 
balkon, bergantungan jemuran. Pemandangan ini mirip dengan rumah susun Pulomas 
atau Tanah Abang, Jakarta. 

  Di beberapa tempat, khususnya di sekitar stasiun kereta, atau di stasiun 
metro, kereta bawah tanah, mesti agak hati-hati jika berjalan malam hari. 
"Lebih baik rombongan, atau lebih amannya, hindari tempat-tempat tersebut," 
saran seorang kawan. Meski pusat mafia berada di Pulau Sisilia, toh Napoli juga 
memiliki jaringannya. 
  Namun, kisah-kisah seram itu tak pernah kami alami selama di Napoli. Cuma, 
kami pernah mengembalikan tiket kereta bawah tanah yang, entah sengaja atau 
tidak, salah diberikan penjualnya. Tiket yang bisa dibeli di kios-kios itu, 
ternyata tidak seperti yang kami inginkan. 
  Begitu kami tahu salah satu tiket tersebut lebih pendek masa berlakunya, kami 
segera mengembalikannya dan meminta gantinya. Penjualnya tidak minta maaf, 
namun secara cepat segera menggantinya dengan tiket yang benar. Kami tidak 
tahu, apakah penjual tersebut sengaja memberikan tiket yang salah agar dapat 
uang lebih banyak, atau memang murni ketidaksengajaan. "Jangan terlalu banyak 
percaya di sini, kalian mesti hati-hati," tutur seorang turis Amerika memberi 
nasihat.

  Ceceran Sampah 
  Kemiripan antara Napoli dan Jakarta juga terlihat di pasar tradisional. 
Penjualnya menggelar dagangannya di lapaknya sambil sesekali berteriak 
menawarkan dagangannya. Senggolan sesama pembeli sering terjadi, dan sampah 
bertebaran di mana-mana. Pasar semacam ini sungguh tak pernah kami temukan di 
Swiss. Apalagi sampah begitu banyak berserakan.

  Simbol kemiskinan juga menampakkan wajahnya melalui pengemis dan pengamen. 
Namun golongan ini lebih didominasi pendatang dari luar Italia. Pengemis banyak 
kami temukan di pintu masuk gereja. Mereka duduk sambil memasang tulisan di 
karton yang digantungkan di dadanya. Pengamen sempat kami temukan di kereta 
antarkota atau bawah tanah. Mereka biasanya menggunakan akordion yang ngak ngik 
ngok itu, tanpa vokal, namun juga tanpa unsur paksaan. Dan di Roma, duh, kami 
melihat gelandangan yang memanfaatkan kolong jembatan sebagai rumah tinggal.
  Namun demikian, wajah-wajah semacam itu akhirnya menjadikan Napoli terlihat 
lebih hidup. 

  Masyarakat Italia juga dikenal lebih terbuka, meski beberapa restoran yang 
kami datangi tidak terlalu ramah pelayanannya. Kalau berbicara terdengar cukup 
keras dan menggunakan banyak bagian tubuhnya. Tangan kanan atau kirinya akan 
bergerak kesana kemari jika berbicara dengan teman atau relasinya.

  Di balik sisi suram Napoli itu, toh turis tetap mengalir. Di beberapa tempat 
yang terkenal sebagai objek wisata, turis seperti disemburkan dari bus-bus 
raksasa. Tawa mereka sering terdengar cekikikan, seperti kalkun. Rasa 
makanannya juga tergolong nendang. Pizza paling enak, klaim masyarakat lokal, 
hanya bisa ditemukan di Napoli. Karena dari kota inilah pizza itu berasal. 
Kalau mau merasakan pizza yang enak, juga tak perlu repot. Hampir semua kedai 
pizza menyediakan pizza yang sangat nendang rasanya.

  Selain itu, tentu saja, lansekap Napoli yang tergolong unik. Gerejanya tua, 
bahkan kadang aneh. Selain ornamen orang-orang suci di bagian gedung gereja, 
kadang kami menemukan ukiran kepala tengkorak dalam gereja, seperti simbol 
bajak laut. Saya agak sedih mengingat Napoli yang begitu semrawut itu, masih 
menjaga bangunan historisnya, ketimbang Jakarta yang malah melenyapkan Hotel 
Des Indes yang kini menjadi Duta Merlin. Atau sebentar lagi nasib stasiun Beos 
di kawasan Kota yang akan diremajakan.

  Di sekitar Napoli, keindahannya juga tiada tertandingi. Capri, sebuah pulau 
kecil di seberang teluk Napoli, merupakan pulau mewah tempat liburan jet set 
dunia. Naomi Campbell, Michael Douglas, Dustin Hoffman, Keanu Reeves hingga 
Omar Sharif dan keluarga Kerajaan Inggris, merupakan langganan setia pulau 
mungil ini (baca: "Capri, Si Mungil Berdaya Tarik Raksasa").

  Kami sempat dua malam menginap di pulau bertebing karang itu. Menginap di 
sebuah villa, yang kalau di Jakarta kami menyebutnya losmen, ongkosnya sama 
dengan menginap di hotel bintang lima di Bali atau Jakarta. Begitu juga 
Sorrento, Amalfi atau Positano. Ketiga desa ini memiliki pantai karang semacam 
Pecatu, Ungasan, Bali. Yang tak kalah menarik, Napoli memiliki situs kuno zaman 
Romawi terlengkap di dunia, Pompeii. Saban hari, rata rata 5.000 turis blusukan 
ke reruntuhan ini. ***



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke