BAGIAN KETIGA : MENGUNJUNGI GRAND PALACE & WAT PHRA KAEOW, KEUNIKAN ISTANA
RAJA THAILAND


 


Hotel Sawasdee Bangkok Inn, Khao San Road Bangkok.


Di dalam pesawat saya tidak bisa tidur. Mulanya karena, memang rasa
excitement yang berlimpah, juga karena pandangan saya tertarik terus ke
penumpang pesawat di barisan tempat duduk sebelah kanan. Apa yang
dilakukannya?  Sambil membaca novel tebalnya, Da Vinci Codenya Dan Brown, ia
menggigiti kuku jarinya hingga terkelupas di sana sini! Lalu membuang
kupasannya dengan menyemburkannya ke sampingnya. Puah! Jorok sekali. Pernah
ada teman saya yang begini juga, tapi ini kayaknya masternya. Seluruh kuku
jarinya sudah rusak, gompal semua. Semakin seru bacanya semakin seru dia
menggigiti jarinya..sambil sesekali memandangi jemarinya. Apa bagusnya,
bang? Bunyi keretekannya itu lho yang kedengaran nggak enak di kuping.
Iiihhh!!

Karena rasa tertekan itu, kayaknya saya kecapekan dan sempat tertidur
sebentar sebelum kemudian lampu dinyalakan saat para pramugari kembali
berkeliling mengumpulkan sampah. Eh..si anak muda penggigit kuku itu sudah
tertidur. Saya juga buru-buru balik badan mau meneruskan  tidur.

Tapi, terlanjur susah memejamkan mata lagi. Saya  lihat jam, yang sudah
diset ke Bangkok Time ( yang sama dengan waktu Jakarta ). Jam setengah
duabelas malam lebih sedikit. Saya mengeluarkan itinerary dan memeriksa
seluruh skedul sekali lagi. 

Tadi waktu diskusi dengan Anna, saya usul kita jam 8 pagi sudah keluar
hotel. Anna keberatan dan bilang bisa saja dia belum bangun. Lha, iya juga
sih, saya pikir. Sampai hotel bisa saja jam 2, belum mandi dan sebagainya,
bisa-bisa tidur jam 3. Mau bangun jam 7 pagi?  Yaa,  berat kali ya. Tapi
jadwal hari pertama di Bangkok akan padat sekali dan juga timingnya
bergeser. Tapi lihat nanti saja, deh. Dan saya terus  membayangkan asyiknya
besok mengeksplorasi Bangkok. 

Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus. Turun pesawat dan berjalan ke gedung
terminal Don Muang gontai banget. Uhh..mengantuk. Berat sekali, nih, mata
saya. Bandara sepi sekali, kayaknya hanya pesawat kita yang mendarat saat
itu. Begitu keluar bandara angin sejuk dinihari menerpa muka,..segar.
Pertanda baik, nih. 

Kami berjalan perlahan menuju area parkir bus di samping terminal. Tadi di
dalam, kami sempat bertanya mengenai jadwal bus bandara, dengan harapan
masih bisa mendapat bus terakhir. Ternyata sudah tidak ada bus bandara lagi,
dan kami ditawarkan naik taxi bandara seharga 500 Baht. Mm,..mahal. Bus saja
tarifnya sekitar 40 Baht. Kami memilih mencari taxi di jalanan depan bandara
saja.

Dalam beberapa milis, saya mendapat informasi dari teman-teman bahwa Bangkok
aman, lebih aman dari Jakarta malah. Mau jalan jam berapa saja tidak ada
masalah. Naik taxi apapun aman, tetapi sebaiknya gunakan taxi berwarna merah
biru, karena banyak pengemudinya yang bisa berbahasa Inggris. 

Setelah bertanya tempat taxi mangkal, ke seorang polisi yang tidak bisa
berbahasa Inggris di area parkir bus, kami hanya ditunjukkan arah keluar
bandara. Di jalanan depan bandara kami naik salah satu dari taxi yang
berjejer. Pengemudinya seorang muda yang tidak berbahasa Inggris tetapi
mengerti apa yang kami katakan. Tentu saja  saya  ber-Sawadee Krap dulu.


 


Gajah Pulang Kerja dan Hotel Yang Bersih.


Saat turun dari taxi, argo menunjukkan 160 Baht. Tuh, murahkan..! Di atas
argometer taxi tadi ada jam. Angkanya menunjukkan pukul 2 lewat 10 menit.
Kami turun di ujung jalan Khao San Road yang ditutup mobil polisi yang
diparkir melintang. Wah.. jalan ini ramai sekali! Jam segini ngapain aja ini
orang-orang? Persis seperti pasar malam. Orang-orang lalu lalang sambil
makan kudapan dan menenteng botol minuman air mineral, menenggak bir, banyak
yang duduk-duduk di trotoarnya yang bersih sambil mengobrol, tertawa-tawa.
Musik hingar bingar terdengar keluar dari beberapa cafe yang ramai dengan
orang berjoget, lalu pemandangan lainnya, dimana-mana papan nama restoran,
penawaran wisata, iklan-iklan, penukaran uang dan papan nama hotel memenuhi
ruang pandang sepanjang jalan ini. Pokonya padat dan semuanya tampak happy.

Hotel Sawasdee Inn, yang kami tuju dimana, yaa? Lokasinya, sih, ditengah
jalan Khao San Road. Masuk gang?  Kayaknya begitu.

Lagi asyik-asyik gasrak gusruk mencari tulisan hotel Sawasdee Bangkok Inn,
tau-tau, di depan kelihatan ada dua ekor anak gajah lagi berlenggak lenggok
berjalan diiringi 3 orang pawangnya. Bayangkan, di tengah keramaian
turis-turis , beberapa pemuda mabuk, pedagang makanan yang nyelip di
gang-gang, pedagang suvenir dan supir-supir tuktuk yang mangkal,.eh ada
gajah lewat. Ini gajah pulang kerja kelihatannya. Saya sampai tertawa
melihat suasana ini. Lucu, dramatis dan..ironis. 

Kelihatan gajahnya yang bertubuh kecil dan agak kurus, dengan segala kain
penutup kepalanya yang berwarna warni, hambal tipis yang lusuh di atas
punggungnya, melangkah gontai. Glondak..glendukk..glondak..glendukkk..
Sungguh pemandangan yang kontras dan baru buat saya. Ini cerminan kita akan
banyak mengalami hal baru di Bangkok ini lagi. Mudah-mudahan semuanya
mengesankan. Ahh..bisa nggak tidur nih mikir asyiknya jalan-jalan di
Bangkok.

Tidak lama kemudian mata saya tertumbuk ke satu papan nama warna ungu terang
dengan huruf khas..Sawasdee Bangkok Inn. Dengan satu tanda panah di
bawahnya,.mengarah ke sebuah gang sempit dan gelap. Waks..! Anna lebih
terhenyak lagi. Kayaknya salah milih hotel nih..Masak sih  di dalam gang
begini ada hotel yang benar? Tapi, kok, di websitenya kelihatannya oke dan
menarik selain bersih. 

Di mulut gang ada seorang penjual mie goreng yang dikelilingi beberapa
wanita yang sedang makan, lalu setelah melewatinya, di sebelah kanan
terdapat halaman depan sebuah bar atau restoran kecil. Kami melewati seorang
pedagang suvenir yang hendak menutup lapaknya. Lalu di depan tampak terang
dan beberapa orang duduk-duduk di sebuah teras, dan di sebelah
kanannya,.sebuah lobi hotel! Ya, dengan meja resepsionisnya. Sawasdee
Bangkok Inn. 

Seorang wanita lokal yang langsing berkulit putih tersenyum menyambut kami
dengan ucapan khasnya. Dengan cepat ia meminta kami menyerahkan paspor
begitu saya menyebutkan nama  dan menyatakan bermaksud cek in. Anna tidak
menyerahkan paspornya. Ia hendak melihat dulu kondisi kamarnya sebelum
memutuskan menginap di sini. Sedang saya, memang sudah membuat reservasi
melalui internet 2 minggu lalu. 

Setelah menyelesaikan administrasi dan bertanya ini itu, saya naik ke kamar
yang ada di lantai 3. Sebelumnya saya menyapu pandangan ke sekitar lobi.
Lobinya kelihatan bersih,..agak di belakang orang-orang yang sedang duduk
tadi, ada semacam selasar terbuka dengan beberapa meja makan kecil persegi
tersusun rapi, teratur, seperti sebuah restoran. Dan di ujungnya ada jejeran
monitor komputer, seperti warnet yang terbuka. 

Melewati lorong sempit berwarna putih dengan pintu-pintu putih yang di cat
rapi, saya sampai ke kamar paling pojok. Ini sesuai permintaan saya untuk
antisipasi kalau kamar-kamar sebelah berisik. 

Kamarnya ukuran 3x3,5m termasuk kamar mandi dalam dengan jendela menghadap
sebuah balkon sempit. Bersih, putih, dengan airconditioner tipe duduk yang
besar di bawah jendela. Waktu AC nya dinyalakan sebentar saja ruangan sudah
dingin.

Ukuran tempat tidurnya 160x180cm, spring bed dengan kasur yang empuk. Sprei
linen putihnya berbau segar sama seperti 2 bantalnya. Kamar mandinya dengan
shower air panas dan dingin, lagi-lagi putih dan bersih. Saya senang sekali,
nih, mendapat kamar kayak begini. Disediakan satu handuk putih yang wangi
Molto dan 2 batang sabun. 

Setelah meletakkan tas, saya turun ke bawah menemui Anna, untuk
mengantarkannya mencari hotel lain. Si Anna tidak mau tidur di Sawasdee
Bangkok Inn. Dia mau ruangan yang agak lebih besar.  Nah, ini akibat dari
belum adanya persiapan rencana menginap, akhirnya harus mencari-cari tempat
menginap yang sesuai dengan keinginan di jam 2 pagi. 

Dengan rate yang lebih murah 20 Baht Anna mendapat kamar yang lebih besar
sedikit di Siam Hotel, sekitar 100m dari Sawasdee Bangkok Inn, tapi dengan
tempat tidur kayu ( saya menyebutnya Pring Bed ) dan kasur yang kurang
empuk.

Setelah mengantar Anna, saya balik lagi ke hotel. Sempat beli pisang dan
roti bakar di satu mulut gang, saya berjalan terburu-buru kembali ke hotel
ingin segera istirahat. Tapi jalan Khaosan ini masih ramai,..gak ada
matinya. Hampir saja tergoda untuk bersightseeing sebentar.

Sampai di kamar yang dingin saya langsung mandi,..kemudian setelah
berpakaian saya menghidupkan  televisi ( oya, ada TV lho! ). Sambil
mengunyah pisang saya buka-buka laptop dan mentransfer semua foto yang saya
ambil seharian tadi. Lalu membuka beberapa brosur yang saya ambil di
resepsionis barusan.

Jam 3 lewat, baru mata terasa berat. Minum air putih (yang disediakan 2
botol) terus mematikan lampu dan beringsut tidur sambil membayangkan rencana
besok dan keinginan bangun pagi. Sampai akhirnya benar-benar terlelap dengan
mimpi menyuruh-nyuruh gajah-gajah kecil itu duduk dan mengangkat kaki depan
mereka.

 


Naik kapal di ChaoPhraya River menuju ke Grand Palace.


Tahu-tahu saya terbangun karena kedinginan. Juga karena ada sinar masuk
kamar. ACnya juara, dah, ..dingin sekali. Dari jendela yang tertutup gordyn
ungu, menyeruak masuk secercah sinar matahari yang bersahabat sekali. Agak
kejauhan, ada background suara orang-orang berbicara. Ah, sudah jam berapa
ini? 

Saya ambil handphone dan melihat jam disitu. Jam 7 pagi. Weii..apa kabar
dunia.? Lumayan, tidur hampir 4 jam. Saya segera mandi. Segar sekali airnya.


Sambil turun ke lobi, saya sms Anna untuk  janjian jalan. Dia juga baru saja
bangun. Saya bilang, jam 8 akan saya tunggu di mulut gang hotel Sawasdee
Bangkok Inn. Sambil menunggu Anna saya menngobrol sebentar dengan gadis
resepsionis tadi malam yang sedang menanti giliran pulang. Menurutnya hotel
Sawasdee Bangkok Inn saat ini penuh, hanya ada 1 kamar single dan 1 kamar
triple yang kosong. Tetapi, kok, tampaknya sepi saja? Rupanya kebanyakan
penyewa, yang sebagian besar bule Eropa, bangun siang, setelah jam 12. Hanya
saya yang bangun pagi banget. He he he.

Di jalan depan, Khao San Road, masih sepi dari turis. Hanya beberapa yang
sedang menikmati jajanan pinggir jalan. Taxi dan beberapa tuktuk parkir di
sebagian panjang jalan. Kalau malam hari, dimana banyak pejalan kaki lalu
lalang, jalan ini ditutup untuk kendaraan roda tiga atau empat tampaknya.
Pagi menampakkan isi Khao San Road. Papan-papan reklame tujuan wisata,
warung telepon, tempat penukaran uang, cuci cetak foto, restoran juga, tentu
saja, hotel dan losmen, bertebaran, berwarna warni memenuhi jalan.

Di seberang sana beberapa turis muda, pria wanita, sedang memasukkan
backpack-backpacknya ke dalam sebuah mobil van. Tampaknya mereka akan
bepergian ke suatu tempat dengan seorang anak muda yang tampaknya bertindak
sebagai pemandu. Memang, di sepanjang jalan ini bertebaran
pengelola-pengelola paket wisata di seputaran Bangkok, Thailand atau Vietnam
dan Kamboja. Bahkan perjalanan darat ke Siem Reap, Kamboja, banyak yang
berangkat dari Khao San Road ini. Sayang, kesempatan ini belum bisa saya
ambil. Mungkin lain kali.

Saya mencoba sarapan mie goreng, yang disebut Pad Thai, di pinggir jalan
Khao San Road. Penjual mie sejenis banyak sekali ditemui di sepanjang jalan
ini. Mereka menggoreng mie, atau bihun atau kwetiau di atas gerobak
dorongnya yang dilengkapi penggorengan datar yang lebar, dengan kompor
minyak tanah dibawahnya, plastik-plastik sayuran dan irisan daging ayam
goreng. Botol-botol saus penyedap dan bumbu masak. Kelihatannya enak dengan
berbagai bumbu dan taburannya. 

Dan makannya,. yaa duduk di trotoar jalan yang bersih sekali habis disapu
dinihari tadi dan agak sedikit dibasahi air. Pagi yang segar, perut lapar
dan pad thai panas yang lezat. Bisa dibayangkan?

Benar-benar pagi yang sempurna di negeri orang. Saya makan padthai panas
dengan lahap menggunakan sumpit sambil sesekali menambahkan sambal botol dan
menaburkan bawang putih goreng. Wuih, sedap.! Mengenyangkan. Cukup untuk
modal jalan setengah hari nanti. 

Di kejauhan saya lihat Anna datang mendekat. Saya tawarkan mencoba pad thai
dan dia tertarik untuk memesan. 

20 menit kemudian kita berjalan ke ujung jalan Khao San Road. Di jalan
Chakrabongse kami menawar tuktuk untuk pergi ke Tha Phra Atit, dermaga di
area Banglampoo. Rencananya kami akan menyusuri Chao Phraya River dengan
kapal bermotor hingga ke dermaga Tha Si Phraya, dekat Royal Sheraton. Di
hotel ini kami akan turun dan mencari informasi mengenai dinner cruise Loy
Nava. Setelah itu baru menuju arah semula, dengan perahu lain lagi dan turun
di Grand Palace.

Naik tuktuk ke Tha Phra Atit dekat saja karena sebentar kemudian kami
sampai, lalu berjalan menyusuri gang hingga ke sungai. Wah, sungainya besar
dan sedikit berombak. Airnya kecoklatan, dengan enceng gondok di sana sini.

Dermaganya sendiri bersih dengan jejeran tempat duduk yang bersih. Di atas
ponton ada seorang petugas wanita berseragam abu-abu yang sedang mengamati
kapal-kapal yang lalulalang di sungai Chao Phraya ini. Tampaknya semacam
petugas atau kondektur dermaga. 

Saat kami menaiki ponton, ia menyapa hangat sambil tersenyum. Kami katakan
bahwa tujuan kami adalah ke Tha Si Phraya saat ia bertanya tujuan kami. Ia
meminta kami duduk saja dulu kalau mau, sambil mengatakan bahwa ia akan
memberitahu jika kapalnya sudah datang. 

Dalam waktu 10 menit sebuah kapal  bermotor yang besar dan berisik mendekati
dermaga. Di dalamnya banyak sekali penumpang, mungkin sekitar 40 orang.
Masih ada cukup tempat bagi kami yang ingin duduk di dalam kapal.
Penumpangnya kebanyakan adalah para pekerja dan beberapa anak sekolah, juga
beberapa pendeta Buddha.

Kapalnya sendiri bersih, berwarna putih keabuan dengan suara mesin dari
motor pendorong yang gemuruh. Ini adalah transportasi air masal yang khas di
Thailand, Bangkok khususnya. Ongkosnya hanya belasan Baht saja per penumpang
dengan karcis warna biru. Di beberapa bagian kapal tertulis tempat khusus
bagi para pendeta Buddha.

Saya asyik menikmati laju kapal yang berjalan cukup cepat. Sambil sesekali
memotret dan merekam dengan handycam, saya sungguh   sangat  menikmati
pemandangan yang dilalui perahu ini. Sepanjang sungai Chao Phraya ini
berdiri gedung-gedung tinggi, jembatan-jembatan besar yang sibuk, selain
hilir mudiknya kapal-kapal. Beberapa dermaga dilalui, di kejauhan, di
sebelah kiri, terlihat anggun puncak-puncak emas Chedi di Grand Palace yang
memantulkan cahaya gemerlapan. 

Sungguh pemandangan yang luar biasa. Tunggu, kata saya, nanti saya akan
mampir. Pasti. Saat itu, saya membayangkan tempat ini akan sangat tampak
cantik di malam hari, dengan lampu-lampu istana yang menyorotinya di sana
sini. Setelah itu di seberangnya tampak keanggunan Wat Arun, kuil Subuh,
dengan batu porselennya yang putih keperakan dan gemerlapan ditimpa matahari
pagi  Bangkok. Besok kami akan mengunjungimu. 

Sebenarnya The Royal Grand Palace dan Wat Arun bisa dikunjungi dalam waktu 1
hari, tetapi karena kami akan terus menuju ke tengah kota, setelah Royal
Grand Palace, terpaksa kami meninggalkan Wat Arun hari itu, dan baru akan
berkunjung keesokan harinya setelah mengunjungi Royal Barge ( koleksi kapal
kerajaan ).

Jam 8.45, kami turun dari kapal di dermaga Tha Si Phra Ya. Dermaga ini
menempel dengan halaman belakang hotel Royal Orchid Sheraton Bangkok. Tapi
untuk menuju ke depan hotelnya kami harus memutari gang di samping hotel.
Sesampai di dalam hotel kami mencari meja resepsionis. Saat itu hotel juga
penuh oleh para tamu yang sibuk. Dari resepsionis kami cukup mendapat
informasi tentang dinner cruise yang terkenal itu. Selain itu saya juga
meninggalkan nomer hape serta nama dan nomer telepon hotel tempat saya
menginap agar bisa dihubungi untuk konfirmasi.

Ada cruise tiap malam mulai boarding jam 6 dan selesai jam 9 malam. Adalagi
yang kedua jam 8 malam selesai jam 11 malam. Jadi, ini adalah makan malam
yang diadakan di dalam perahu yang disebut Rice Barge, yang di dekorasi
sangat cantik. Perahu akan berjalan menyusuri sungai dan penumpangnya
dihibur dengan berbagai kesenian khas Bangkok sambil menikmati makanan dan
masakan asli Bangkok. Asyik kan?

Setelah selesai kami kembali ke dermaga. Kali ini kami akan mencoba Chao
Phraya Express Boat  yang khusus diperuntukkan bagi turis dan disediakan
pemandu wisata. Ongkos Express Boat 18 Baht seorang dan diberi karcis juga
oleh seorang kondektur wanita. 

Kapalnya kapal turis yang bersih atas bawah dengan lantai plat kayu berwarna
coklat gelap. Penumpang saat itu belum terlalu banyak jadi beberapa  bangku
kosong. Tapi kami memilih berdiri di dek buritan sehingga bisa melihat-lihat
dengan bebas ke kiri kanan kapal. 

Asyik foto dan merekam gambar, tak terasa kami sampai di dermaga Tha Chang
Wang Luang, lalu turun. Bersama-sama penumpang lain yang juga turun, kami
melewati pasar, sebelum keluar ke jalan raya lalu berbelok ke kiri. Berjalan
sepanjang trotoar yang ramai kami menuju bagian samping The Grand Palace. 

Hingga menyeberang di sebuah perempatan yang ramai. Lalu menyusuri tembok
istana yang putih dan panjang kami mencari-cari pintu masuk. Persis kalau
kita berjalan menyusuri tembok Keraton Jogjakarta. Tak lama bersama dengan
pengunjung lain, lalu kami berbelok ke kanan dan tiba di depan Grand Palace.


Masuk melalui pintunya yang kecil saja, kami tiba di sebuah lapangan rumput
yang hijau yang dipagari pohon cemara udang yang berbentuk kerucut  dan di
seberangnya berdiri Chedi-chedi yang cantik itu. Beberapa ekor burung dara
terlihat merumput mematuki makanan. Di pinggir lapangan beberapa pengunjung
terlihat bergerombol menunggu saat masuk istana.

Wah, sudah ramai dengan pengunjung, nih.  Hampir semuanya berkelompok yang
pasti adalah rombongan turis.  Mulanya kami sempat bingung mengira-ngira
bagian manakah yang Istana Raja dan tempat wisata yang bisa dimasuki turis,
juga Wat Phra Kaeo. 

Akhirnya kami mengikuti arus orang berjalan yang mengantre tiket masuk.
Tiketnya berharga 250 Baht, harga ini sudah termasuk tiket masuk ke Istana
Raja Vimanmek, di area Dusit, bagian lain kota Bangkok. Jadi, tiket ini
jangan sampai hilang, jika ingin berkunjung ke Vimanmek, yang merupakan
istana raja yang seluruhnya terbuat dari kayu jati. 

Peraturan menggunakan pakaian di area Grand Palace, yang dibangun King Rama
I ini,  sangat  ketat. Pria wanita harus memakai celana panjang hingga ke
mata kaki, dilarang memakai baju "you can see". Tidak boleh memakai sandal
jepit. Kalau tidak patuh, tidak boleh masuk!

Sekali lagi, tempat ini begitu bersih walau dipenuhi para pengunjung yang
berjalan-jalan sambil memakan makanan ringan atau minum minuman kaleng.
Sehingga berjalan-jalan di area wisata ini sangat nyaman. 

Di dalam area Wat Phra Kaeo atau Emerald Buddha sudah penuh orang juga, tapi
masih nyaman untuk melihat-lihat. Saat masuk tadi ada beberapa patung
penjaga yang menyeramkan yang disebut Yaksha ( setan penjaga ).  Beberapa
chedi emas, yang tadi terlihat dari sungai, sekarang sedemikian besar dan
menakjubkan. Tingginya sekitar 6-7 meter. Chedi atau stupa berbentuk dome di
bawahnya,  yang mengerucut runcing ke atas, biasanya digunakan untuk
mengubur pendeta-pendeta atau guru agama yang sudah meninggal. 

Ada lagi rumah bagi Emerald Buddha yang disebut Mandappa dengan tiang-tiang
berukirnya. Dan disangga sekelilingnya oleh manusia garuda. Emerald Buddha
sendiri adalah patung Buddha setinggi 66cm, terbuat dari potongan utuh batu
giok hijau. Patung ini ditemukan di Chiang Rai, utara Bangkok. Lalu
berpindah-pindah ke Chiang Mai, Luang Prabang, Vientiane (Laos) dan Thonburi
sebelum ke Bangkok. 

Perjalanan ini saja, konon, menghabiskan waktu 350 tahun! Tetapi para
pengunjung dilarang memotretnya.

Bangunan lain adalah Phrang, yang serupa Chedi atau stupa tetapi terbuat
dari semen yang ditempeli porselen putih. Di Wat Phra Kaeo ukuran phrangnya
kecil-kecil saja, hanya setinggi 3-4m. 

Juga ada sebuah Sala, atau gazebo, yang digunakan pengunjung untuk
duduk-duduk. Selain itu patung-patung mythical beast  yang mengelilingi
chedi, juga patung cantik yang dari tampaknya berjenis kelamin wanita,
setengah manusia  setengah burung. Semuanya dalam nuansa emas yang cantik
dan mewah tapi religius. Ornamen ukiran di dinding yang bergradasi kuning
keemasan sangat detil dan rapi. Seluruh pemandangan di sini sangat serasi,
membuat kita tak putus-putusnya mengagumi.

Matahari telah naik dan cukup terik, tetapi kami masih betah  berputar-putar
memotret dan ngobrol dengan turis dari Eropa. Sesekali beristirahat sebentar
kemudian berfoto-foto kembali. 

Jam 11.30 siang kami menuju ke pintu keluar yang memutar dan tiba di sebuah
lapangan yang luas dan diseberangnya ada sebuah gedung putih dengan ornamen
keemasan, dimana ujung atapnya (chofah) seperti ekor burung phoenix yang
sedang terbang. Gedung ini megah sekali, 3 lantai, dan memiliki banyak
jendela. Konon, disinilah para tamu negara menginap jika berkunjung ke
Bangkok dalam rangka bertemu raja Bhumibol Adulyadej.

Setelah puas berfoto dan menikmati keindahan arsitekturnya kami berjalan ke
pintu gerbang keluar. Menjelang pintu keluar kami membeli minum air mineral
botol untuk bekal.

 


Next : Pijat Temple Massage di Wat Po Lalu Hampir Kena Tipu Supir Tuk Tuk


 

Salam,

BARENS HIDAYAT

              see my activities on   <http://beha38b.multiply.com>
http://beha38b.multiply.com

                  YM ID : barenshidayat

             

                  people don't care how much you know

                  until they know how much you care...

                     

                  

 

 





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke