Danau Kelimutu bisa dibilang sebagai salah satu keajaiban alamnya. Di
puncak gunung ini terdapat 3 buah danau yang memiliki warna yang
berbeda-beda. Ditambah dengan kabut tebal yang sering menyelimuti
puncaknya memberikan kesan mistis yang dipercaya oleh penduduk
sekitar.

Danau ini terletak di Flores, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di jalan
raya Trans Flores, yang menghubungkan Maumere dan Ende. Di kaki gunung
ini terdapat desa Moni, sekitar 3 jam dari Maumere atau 2 jam dari
Ende. Desa ini memiliki rumah makan dan bungalow-bungalow sederhana
untuk akomodasi, bagi yang ingin melihat matahari terbit di Danau
Kelimutu.

Pada perjalanan kami bulan Desember 2006, kami menyewa mobil dari
Maumere, dengan biaya 500 ribu untuk 12 jam, termasuk supir dan bahan
bakar. Kami berangkat jam 5:30 pagi, dan tiba di area parkir Kelimutu
sekitar jam 9. Sebelum mencapai area parkir, setiap pengunjung
diwajibkan membayar biaya masuk sebesar Rp. 2.500 per orang dan Rp
6.000 untuk mobil. Sambil berdoa, agar kabut tebal tidak datang, kami
memulai perjalanan kaki di medan berbatu untuk mencapai danau
Kelimutu.

Di pertengahan jalan, kami sampai di sebuah tebing. Tebing ini
merupakan salah satu tebing cadas yang membatasi danau pertama, Danau
Coklat. Permukaan danau ini terletak cukup jauh, sekitar 100-200 m
dari pinggir tebing. Menurut gosip yang beredar, air danau ini
sebenarnya berwarna bening. Warna danau ini didapat dari mineral dan
biota yang tumbuh di dasar danau.

Setelah berjalan kaki lagi beberapa ratus meter, dan melalui beberapa
anak tangga, kami tiba ke sebuah tempat yang disebut Inspiration
Point. Dari tempat ini, keseluruhan danau dapat terlihat. Danau
Turquoise dan Coklat terletak di satu sisi, sementara danau Hitam
terletak di sisi yang lainnya. Kondisi ini menyebabkan tidak mungkin
untuk mengambil gambar ketiga danau secara keseluruhan.

Kami turun setelah akhirnya kabut mulai datang. Dalam perjalanan balik
menuju Maumere, dan setelah mampir untuk makan pagi di Moni, kami
mampir ke beberapa tempat menarik, antara lain rumah retret Mageria.
Di puncak rumah retret ini terdapat patung Elia, menghadap ke laut,
yang tampak dari puncak gunung ini. Lalu ada juga desa tradisional di
pinggir pantai, yaitu Desa Paga.

Kami tiba kembali di Maumere sekitar jam 5 sore. Total perjalanan
sekitar 12 jam, untuk melihat sebuah keajaiban alam di Indonesia.
Untuk alternatif yang lebih murah, ada kendaraan umum (bemo, menurut
penduduk lokal) untuk mencapai desa Moni. Alternatif lainnya, setelah
dari Kelimutu, langsung melanjutkan perjalanan ke Ende. Whatever you
do, enjoy.....

Benny

Kirim email ke