Saya pernah 'leyeh-leyeh' sampai menjelang malam di
terminal Probolinggo sekitar 1993!  Waktu itu terminal
masih baru dan aman-aman saja.  Saat lewat sana
September 2006 lalu, singgah dan berganti bis masih
tak ada masalah.  Hanya saja feeling saya bilang
'kurang aman' di malam hari.  Makanya saat bertolak
malam dari Banyuwangi, ketimbang dinihari di sana
nunggu bis yang akan ke Malang saya memilih ke
Surabaya dulu.  Ada tambahan ongkos tapi mengurangi
was-was.

Terminal Tirtonadi terkesan dekil.  Besar tapi tak
terawat.  Para mandor (baca: calo) berebut penumpang,
pengamennya yang tak jarang ber-dwifungsi merangkap
pencopet.  Di jam-jam sepi penumpang (antara jam 9
pagi sampai 2 siang) jumlah mandor malah lebih banyak
ketimbang penumpang!  Meski begitu saya aman-aman saja
selama di sana.  Mungkin karena wong Solo, jadi
lumayan kenal medan.  Antara medio 80-an hingga medio
90-an, setiap pekan minimal 2x saya ke Tirtonadi. 
Jadi mana mandor, pengamen, copet dan tempat favorit
operasi mereka pun mulai terpetakan.

Saya sependapat dengan mas Puguh.  Barang 10-14 tahun
lalu Bungur Asih adalah terminal terbaik.  Lumayan
tertib, belum terlalu padat, dan ruang tunggunya ramai
karena dikepung kios-kios.  Kalau sekarang sudah
kelewat padat.  Calo-calonya kelewat agresif pada
setiap penumpang yang turun.  Saya pernah 2 kali naik
bis bandara dari Juanda, turunnya bukan di jalur
antar-kota tapi sudah masuk ke jalur pemberangkatan. 
Ini sama saja dengan mengumpankan penumpang ke para
calo.

Di Sumatra saya pernah singgah antara lain di terminal
Rajabasa, Palembang (terminal angkot karena kota ini
tak punya terminal sentral), Aur Kuning, Pekanbaru,
Siantar.  Rasanya kok nggak beda banyak dengan di
terminal di Jawa.  Hanya di Siantar saja yang agak
ribet.  Karena di ransel tergantung topi Nias, banyak
orang mengerubut ingin tahu.  Ya sudah, saya cari dulu
tempat duduk bersantai sejenak.  Begitu orang-orang
minggir, baru jalan ke luar terminal.

Terminal-terminal di Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara umumnya lebih lenggang dibanding di Jawa. 
Masuk ke sana pengunjung tetap mesti waspada mesti
tidak perlu setegang di terminal-terminal Jawa.  Saya
pernah tiba di terminal Kefamenanu (Timor) jam 3 sore.
 Jangankan bis penjualnya pun sudah tak ada!  Dari
pengalaman banyak orang, Ubung dan Sweta terhitung
menjengkelkan.  Sayang sekali efek negatif lonjakan
aktivitas wisata dan ledakan penduduk ini sulit
dihindari.  Saya terakhir ke Ubung 10 tahun lalu dan
terasa sekali tak ada keramahan khas Bali di sana. 
Ini beda bumi-langit yang saya alami tahun 1984 atau
1988.  Hingga akhir 80-an Sweta sangat sepi.  3 jalur
bis hanya terisi penuh pada pagi hari.

Salam dari Sangatta



        

        
                
__________________________________ 
Meet your soulmate! 
Yahoo! Asia presents Meetic - where millions of singles gather 
http://asia.yahoo.com/meetic 

Kirim email ke