Masih terkait dengan terminal, berikut saya forwardkan
catatan lama yang pernah saya kirim ke milis alumni.
Bukan membandingkan dengan kondisi di Indonesia, tapi
sekadar memberi gambaran tentang kondisi bis dan
terminal di Turki. Di Tirtonadi saya bisa melihat
deretan papan tujuan mulai dari Semarang, Yogyakarta,
Surabaya, Wonogiri, hingga Purwodadi. Di Arjosari
papan yang gampang dilihat antara lain Jember,
Banyuwangi, Surabaya, Blitar. Di Esenler Istanbul
lain lagi. Yang jamak di sana papan petunjuk nama
negara: Yunanistan, Bulgaristan, Romanistan. Rasanya
seperti belajar lagi geografi.
Salam dari Sangatta
*****
-----Original Message-----
Sent: Friday, August 31, 2001 4:11 PM
Subject: [CEE] Bis dan Otogar
Body bis Turki sedikit lebih besar dari umumnya bis
malam Jawa-Bali. Dengan bagasi lebih luas, sepeda
bisa dimuat tanpa kesulitan. Meski tidak on time,
departure dan arrival setiap bus masih bisa
ditenggang. Begitu bis lepas dari otogar (terminal),
kondektur akan membagi hand cleaner. Wujudnya kadang
tissue penyegar, adakalanya cairan. Untuk cairan,
kondektur akan meneteskan dari botol ke setiap tangan
penumpang.
Servis bis Turki setara dengan servis di flight
domestik kita. Gelas plastik, snack, kemasan plastik
(isi gula, teh/kopi, dan pengaduk) dibagikan. Bagi
bukan penikmat teh atau kopi, ada pilihan soft drink
atau air putih. Kondektur akan menuang air panas urut
dari baris terdepan. Kursi bis di sini dilengkapi
meja lipat. Di sudut meja lipat ada lubang tempat
gelas. Selesai melayani semua penumpang, kondektur
baru beralih ke sopir. Jalan tempat bis lewat selalu
mulus, sopirnya pun bukan tipe 'sopir tembak'. Dengan
gelas terisi 75%, kemungkinan untuk tumpah kecil.
Acara makan-minum itu terjadual. Setelah lewat
jamnya, kondektur akan memungut sampah sepotong demi
sepotong. Tak perlu terburu-buru bagi yang belum
selesai. Di tiap baris kursi tertempel kotak sampah
kecil. Secara reguler kondektur mengosongkannya.
Begitu urusan penumpang klaar, baru kondektur akan
memberesi administrasinya.
Semua bis membawa 2 orang sopir. Mereka bergantian di
belakang kemudi maksimal setiap 3 jam. Mereka
bertukar tugas di setiap perhentian, bisa di otogar
bisa di rumah makan. Dari sisi safety pergantian 3
jam ini ideal. Sopir tidak terlampau lelah,
konsentrasi masih terfokus, dan resiko kecelakaan
berkurang. Perhentian reguler 3 jam ikut memudahkan
maintenance mesin yang berperan menekan polusi. Di
tiap perhentian bis selalu dicuci. Tak perlu heran
kalau di otogar kita tak bersua bis peyot, bopeng,
atau buruk rupa.
Yang tak kalah diuntungkan pastilah penumpang. Orang
Turki, sebagaimana tetangganya orang Yunani, terhitung
perokok berat. Untungnya kedisiplinan mereka lumayan
bagus. Begitu ada tulisan 'sigar icilmez' orang patuh
dengan sendirinya. Di tiap perhentian itulah para
perokok mengobati ketagihannya. Merokok sudah seperti
makan dan minum. Tua-muda pria-wanita merokok. Bukan
hal yang aneh kalau kita menyaksikan gadis/ibu
berjilbab menunggu di otogar dengan asap tak putus
dari bibirnya! Di Yunani, sebelum meneguk air
mineral, kita mesti cermat berhitung. Pasalnya, toilet
umum teramat langka. Kalau pun ada kondisinya tidak
lebih baik dari yang di tanah air! Di Turki orang
bisa minum sepuasnya, tak terkecuali selagi dalam bis
tanpa perlu was-was.
Fisik bangunan otogar tak mau kalah dengan bis-bisnya.
Tiba di Konya dinihari jam 1.30, kami hanya melihat
gemerlap lampu otogar dari kejauhan. Saat berangkat
ke Bursa, kami cukup terkejut. Otogar Konya tidak di
bawah bandara Sepinggan, baik bersihnya, rapinya,
arsitekturnya! Antara platform tempat parkir bis dan
ruang tunggu dipisah dengan kaca rayban. Di ruang
tunggu melengkapi konter tiket, berderet aneka kios
makanan, majalah, souvenir. Harga-harga di situ sama
dengan di luar.
Surprise lebih besar menunggu di Bursa. Otogar Bursa
kira-kira 2 kali otogar Konya. Walau demikian luas,
kami masih bisa santai kendati menenteng 4 koli
bagasi. Otogar di sini bebas calo. Juga tak terlihat
tampang sangar yang jamak di Pulo Gadung atau
Rajabasa. Yang paling kolosal tentu saja otogar
international Esenler, Istanbul. Orang mesti ekstra
hati-hati agar tidak tersesat! Terdiri dari 3 lantai,
dengan bank dan hotel di dalamnya, otogar Istanbul
pantas disebut kota kecil. Di lantai dasar ada
terminal metro, stasiun pompa bensin, tempat service
bis. Lantai dua difungsikan sebagai garasi. Baru
platform bis, terminal taksi, atau parkir antar-jemput
terletak di lantai tiga. Di sini tiap armada memiliki
kantor tersendiri untuk ticketing sekaligus ruang
tunggu.
Bagi saya yang kenyang naik-turun-bis
keluar-masuk-terminal, mencoba transportasi di Turki
serasa mencicipi mimpi. Sopir dan kondektur kita
masih terbenam di tataran basic needs. Belum lagi
mandor dan polisi yang memalak jajan harian.
Jangankan tampil perlente berjas, berdasi dan
bersepatu seperti sejawatnya di Turki, safety pun
masih asing di benak mereka. Halte dan terminal kita
adalah melting pot beragam segmen masyarakat dengan
kriminalitas menjadi menu hariannya. Datang ke
terminal butuh kewaspadaan ekstra, selain siap dibekap
kekumuhan, polusi udara, dan polusi suara.
Salam dari Sangatta
nb: Karena ada problem di server/milis(?) sepanjang
hari Kamis (1/3), pesan berikut belum masuk ke
mailbox. Karena itu saya kirim ulang.
____________________________________________________
Yahoo! Singapore Answers
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at
http://answers.yahoo.com.sg