Berita terakhir yang saya kumpulkan, bahwa saat ini sudah diketemukan 4 korban tewasnya pendaki di Gn Rinjani, dan tim SAR sedang berupaya menemukan lainnya ditengah cuaca yang sangat buruk.
Kondisi Gn Rinjani sampai saat ini adalah ditutup untuk pendakian, kecuali yang mau membantu untuk menjadi sukarelawan tim SAR. Penutupan ini dikarenakan keadaan cuaca yang buruk diatas, dan memudahkan kordinasi evakuasi. Jelas menurut tim SAR disana dan informasi lokal, bahwa memang mereka adalah pendaki orang lokal, dari daerah sekitar, dan kemungkinan juga tujuannya adalah untuk memancing didanau. Saya pernah mengamati kalau orang lokal yang naik biasanya selalu membawa perlengkapan seadanya. Tenda yang tidak standart, dan kadang sebagian hanya membawa plastik, logistik dan peralatan pendukung lain spt PPPK dll yang serba minim. Mereka selalu mengandalkan bahwa nanti disana akan bisa mencari kayu dan buat api. Akan tetapi kondisi saat ini yang selalu hujan dan sedikit badai, tentu akan membuat siapa saja kesulitan membakar kayu, disamping dingin yang bisa sampai 5 DC di malam hari. Ketika saya mencoba bertanya kenapa mereka mendaki dengan peralatan seperti itu, mereka hanya menjawab " wah kita orang sini mas sudah biasa ". Nah..pertanyaan saya dalam hati adalah bagaimana mereka kalau tiba- tiba menghadapi cuaca yang tiba-tiba bisa berubah sangat ekstrim dalam badai hujan..? Apakah mereka bisa turun dari danau ke desa yang masih membutuhkan 6 jam ( untuk ukuran jalannya orang lokal ) jalan untuk turun, akan kuatkah mereka walaupun orang lokal..? Sedangkan satu jam saja kita menahan dingin dan basah, bisa dipastikan kita akan bisa terkena Hipotermia dan meninggal dengan cepat kalau tidak segera ditangani. Saya sendiri pernah mencoba sengaja naik di musim hujan di bulan desember disaat cuaca hujan dan buruk. Pendakian dimusim seperti itu tentunya akan menyita tenaga dan membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang cukup, karena kita harus menghadapi jalur pendakian dan menahan hawa dingin itu sendiri, disamping hujan yang tiada berhenti. Walaupun sebenarnya jalur pendakian ke Gn Rinjani sebenarnya adalah termasuk yang paling aman dan jelas dengan trek yang tidak terlalu sulit. Akhirnya memang dua orang teman saya jatuh sakit, karena perjalanan mendaki yang sulit dan menahan hujan dan sering badai, sampai akhirnya pendakian diselesaikan dalam satu minggu, dari target tiga hari yang direncanakan. bersambung............. andi ----- Original Message ---- From: Ambar Briastuti <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, March 13, 2007 3:55:25 AM Subject: [indobackpacker] Re: Hikmah: tewasnya 7 pendaki di gunung Rinjani Dari berita disebutkan ketujuh pendaki ini dari Lombok, memasuki pendakian Rinjani tanpa mendaftarkan diri ke pos TN, memakai jalur yang tidak familiar, kurangnya persiapan diri dan kemampuan survival. Saya hanya menyayangkan anak2 muda dengan semangat menggebu untuk unjuk diri tapi sepertinya kurang diberi wawasan tentang safety. Kegiatan adventurer seringan apapun mengandung resiko. Yang pasti kesiapan kita untuk menghadapi kemungkinan2 yang tidak terduga. Cuaca buruk, tersesat, sakit dsb. Safety bukan berarti nilai petualangan berkurang. Mendaftar di jagawana berarti membantu petugas TN menjaga pendaki, menghitung jumlah pengunjung, melihat tingkat kerusakan alam yang mungkin terjadi, membantu masyarakat setempat dll. It's care about other's people. Salam, Ambar --- In indobackpacker@ yahoogroups. com, Aris <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote: > > turut berduka cita, atas tewasnya temen-temen kita di gunung rinjani, > saya setuju dengan pendapat mu, walaupun seperti biasa terkadang kalau > sudah di gunung, semua ego-sentris harus di keluarkan atau sengaja atau > tampa sengaja si ego nongol juga. > > ____________________________________________________________________________________ Be a PS3 game guru. Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games. http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121 [Non-text portions of this message have been removed]
