Perlu digaris-bawahi bahwa bencana dan kecelakaan itu esensinya sangat berbeda. 
 Dalam bencana unsur alam lebih dominan ketimbang unsur manusia.  Gempa, 
banjir, angin beliung, tanah longsor, pemanasan global semuanya dikategorikan 
bencana.  Semua tersebab oleh kekuatan alam.  Kekuatan itu terasa makin dahsyat 
dampaknya karena kerusakan yang diperbuat manusia.  Artinya, sekiranya manusia 
tidak berbuat apa pun yang merusak alam, bencana tetap saja tak terelakkan.  
Ambil banjir sebagai contoh.

Di pesisir Kalimantan yang tanah rawanya dominan, hujan dengan intensitas kecil 
saja sudah menyebabkan genangan.  Mengingat tanah gambut itu ibarat busa yang 
menyimpan air, banjir itu tersebab oleh tanah yang tak mampu lagi menyerap air. 
 Sudah jenuh.  Jadi banjir di sini menandakan tanah kenyang air!  Bukankah 
kalau perut kelewat kenyang, makanan seenak apapun tak lagi mengundang selera?

Sebaliknya, mengapa banjir selalu rajin bertamu ke Jakarta?  Para cerdik pandai 
bicara berbusa-busa perihal susutnya ruang terbuka, intrusi air laut yang 
kelewat parah.  Rongga di bawah tanah itu sudah kosong.  Air hujan yang jatuh 
enggan meresap karena permukaan tanah telah dibebat benda-benda yang relatif 
kedap (aspal, beton).  Itu masih diperparah filosofi drainasi yang belum 
berbeda dengan setengah abad lalu: secepatnya mengirim air ke saluran 
pembuangan.  Kondisi saluran pembuangannya ya .. tahu sendiri.  Dalam hal ini 
banjir menunjukkan tanah itu lapar air!

Bagaimana dengan kecelakaan?  Seorang pakar (H. W. Heinrich) bilang bahwa 
kecelakaan 88% diakibatkan tindakan tidak aman, 10% kodisi tidak aman, dan 2% 
faktor lain di luar kemampuan manusia (nasib).  Pakar lain (Dupont) lebih 
ekstrim persentasenya.  Katanya, 96% kecelakaan itu buah tindakan tidak aman 
sedang 4% dari sebab lain.  Kondisi tidak aman ia samakan dengan tindakan tidak 
aman.  Kalau tahu kondisi tak aman mengapa nekad melakukan tindakan?

Rekan-rekan di milis ini yang bekerja di minyak dan tambang mahfum bahwa 
kecelakaan itu hanya puncak dari sebuah gunung es.  Dari telaah seorang pakar 
safety (Frank Bird) di USA, Inggris, dan Afsel diperoleh perbandingan 1 : 10 : 
30 : 600.  Setiap kecelakaan serius (cacat/cedera serius/mati) itu terdapat 10 
cedera kecil yang perlu penanganan medis, 30 kecelakaan yang menimbulkan 
kerusakan harta benda, dan 600 insiden yang tak menimbulkan kerugian/tidak 
dilaporkan/diabaikan.

Saya menganalogikannya begini.  Naik gunung cuma bersandal jepit (bukankah 
orang lain juga begitu?), tanpa jaket kedap air (kan sudah biasa, maklum orang 
lokal), membawa bekal seadanya (kayu bakar dan bahan pangan bisa dicari di 
atas), tanpa pengetahuan dasar (lho .. mendakinya berombongan), tanpa membawa 
obat-obatan (kan hanya overnight trekking) sama artinya dengan menabung insiden 
atau menabung kecelakaan yang menimbulkan kerusakan harta benda (alam).  Begitu 
dekat atau melewati 'angka keramat' 600, korban nyawa tinggal membilang hari!  
Kalau kita selamat dan turun dari gunung tetap segar bugar ya itu nasib baik.  
Petaka yang menimpa Levina 1 dan Senopati Nusantara antara lain akumulasi 
insiden Rinjani (yang saya tumpangi) ngadat mesinnya di sekitar Masalembo (Des. 
1998).

Safety itu menyangkut cara berpikir.  Untuk sadar safety memang perlu dicekoki 
setiap hari.  Pernah dalam perjalanan Bukittinggi-Palembang (Agt 1994) saya 
membahayakan keselamatan seluruh penumpang.  Ransel taruh tak jauh dari kap 
mesin, padahal di dalamnya ada tabung gas untuk kompor lipat.  Saya sadar 
bahayanya tapi tak berbuat apa-apa!  Setelah setiap hari disuapi safety hal-hal 
sepele pun saya perhatikan.  Antara Pekanbaru - Siak (Apr 2000), di pinggir 
jalan makadam nampak jalur pipa Caltex tanpa pelindung.  Saya layangkan email 
ke teman di CPI, "Bagaimana kalau bis terperosok dan nabrak?  Apa tidak 
menimbulkan kebakaran?"  Jawab teman saya, "Mas .. safety di tempat kerja saya 
tidak seketat di tempat kerja sampeyan."

Apakah kita tetap berkeras demi ego atau sedia mempertimbangkan safety (diri 
sendiri dan orang lain)?  Pada dasarnya setiap orang melakukan kesalahan 
serupa.  Orang muda umumnya percaya bahwa kekuatan fisik, kesegaran pikiran 
mampu mengatasi pengalaman.  Dari sini muncul keinginan mencoba sesuatu yang 
lain tanpa menyadari bahaya.  Akan halnya orang tua begitu yakin pengalaman 
akan mampu mengatasi kelemahan fisik dan pudarnya kecerdasan.  Orang tua 
cenderung konservatif karena hal-hal yang telah ia alami.  "Aku dulu begitu, 
mengapa kamu tak mengikutinya?" begitu yang biasa kita dengar dari bapak-ibu 
kita.

Lantas ke mana si 'hikmah' tadi berada?  Mungkin karena sudah segunung,karena 
berukuran gergasi dan ada di depan mata, kita malah terkena rabun dekat.

Salam dari Sangatta



-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Aris
Sent: Tuesday, March 13, 2007 11:43 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [indobackpacker] Re: Hikmah: tewasnya 7 pendaki di gunung
Rinjani

Ikut Nimbrung Lagi. dalam sepengetahuan saya! maklum saya juga pendaki
sendal Jepit.
pernah naik Sundoro, hanya overnight trekking bareng penduduk lokal.
berangkat tengah malam
siang hari sudah balik lagi...
pernah juga naik gede, tampa perbekalan yang baik.. dan kesasar pula,
maklum saya suka juga dengan Overnight trekking...

kalau negeri ini banyak bencana, ini tidak lepas dari Mental Orang
indonesia! dalam kecelakaan umumnya Faktor "human error" menjadi
penyebab utama walaupun ada aturan safety, rule of Game, and
bla..bla..., tapi kadang aturan hanya di jadikan untuk mesin Uang!

tapi, kalau Gempa Bumi... atau Perubahan cuaca akibat Pemanasan Global,
ini susah... yang perlu di pahami, Bagaimana Kita Bisa hidup Bersama
Ancaman tersebut!
kalau pernah ke Sumtara alias keliling2x kampung, anda akan menemukan
banyak rumah panggung di buat dari Kayu! kalau mau belajar, orang
dulu.. sudah belajar hidup dan bersahabat dengan Gempa Bumi, Banjir
Bandang... atau Ancaman Binatang Buas... hehe

Kirim email ke