15 Feb 2007.
Hari ini bangun tidur jam 5 subuh. Mobil untuk mengantar sudah dipesan untuk
menjemput jam 6. Di Nias ini ternyata jam 6 pagi itu masih gelap sekali seperti
jam 4 subuh di Jakarta, bangun jam 5 pagi itu bagi ukuran orang Nias rajin
banget. Tunggu punya tunggu mobil carteran yang akan menjemput tidak
datang-datang padahal janjian sama pastor jam setengah tujuh di Museum Pusaka
Nias. Mendekati jam setengah tujuh saya sms wakil pastor bahwa mobil jemputan
saya belum datang dan saya akan terlambat ke sana. Dan saya dapat jawaban bahwa
pastor Johannes akan singgah di Miga Hotel untuk menemui saya.
"Kacau juga nih mobil carteran!" dalam hati saya memaki! Padahal yang booking
itu pihak hotel, tingkat kepastiaanya akan lebih tinggi dari pada saya sendiri
yang booking. Saya telepon ke supirnya katanya sedang dalam perjalanan, berapa
lama sih dari rumahnya di Gunung Sitoli ke Miga Hotel? Masak sudah satu
setengah jam belum sampai? Tak lama kemudian pastor datang dengan menyetir
sendiri mobilnya jeep Daihatsu Taftnya, beliau beserta rombongnnya. Pastor
bilang memang mobil carteran di sini suka begitu, banyak orang asing yang
terlambat dan gagal terbang karena mobil carterannya yang termbat datang
mengantar ke bandara. Kalau Nias memang ingin dipromosikan menjadi daerah
tujuan wisata pemerintah atau lembaga-lembaga yang berwenang mulai memikirkan
cara agar urusan tansportasi untuk para pelancong ini lebih nyaman dan pasti.
Karena di sana tidak ada satupun perusahaan atau lembaga resmi penyewaan mobil.
Semua mobil sewaan dioperasikan oleh individu-individu maka soal
kepastian berangkat tidak bisa dijaminkan, mereka dengan mudahnya lepas tangan
tanpa ada konsekuensi jika melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama.
Seperti supir mobil carteran itu yang langsung mematikan HP-nya ketika saya
terus menanyakan dimana posisinya.
Dan memang urusan transportasi inilah satu kendala yang amat besar di Nias
ini. Ongkos transportasinya mahal sekali! Untuk carter 1 hari dikenakan tarif
500-600 ribu rupiah. Dan juga prasarananya: amit-amit jabang baby! Ngapain aja
sih pemda Nias? Gile beneeer....tempat yang kami tuju adalah desa Sifaroasi di
kecamatan Gomo. Letaknya dari Gunung Sitoli ke arah Teluk Dalam, tapi di
pertigaan Lahusa-Teluk Dalam belok ke kanan menaiki pegunungan. Dan jalan
menuju Gomo sebagian besar rusak berat! Tapi tunggu dulu, sebelumnya saya mau
cerita tentang mobil carteran sontoloyo itu. Akhirnya saya membatalkan carter
mobil itu dan memilih mencari mobil angkot sewaan langsung ke terminal. Pihak
hotel yang merasa bersalah membantu kami dengan mobil operasionalnya mengantar
kami ke terminal untuk mencari mobil angkot sewaan. Akhirnya dapat sebuah
minibus L300 dengan harga sewa 550 ribu rupiah hanya untuk mengantar ke desa
Sifaroasi, kec. Gomo yang berjarak kurang lebih 90 km. Cukup
mahal bukan?
Dan kayaknya sang supir jadi stress ketika menghadapi kenyataan jalan yang
rusak berat! Berkilo-kilo meter jalan setelah petigaan Lahusa-Teluk Dalam hanya
terdiri dari batu koral karena aspalnya sudah tidak ada lagi. Jalan hancur di
sana-sini di beberapa titik harus melalui gengangan air yang tingginya bisa
mencapai sebetis, bahkan ada badan jalan yang karena gempa 28 maret 2005
permukaannya mengalami penurunan sehingga menyatu dengan aliran anak sungai di
bawahnya. Mobil L300 itu harus offroad! Jarak Gunung Sitoli-Gomo yang hanya
berjarak kurang lebih 90 km harus kami tempuh dalam 2,5 jam lebih! Ada omongan
orang Nias yang mengatakan, "Syukur ada gempa, karena jalan yang mengelilingi
pulau Nias diperbaiki BRR". Sebelumnya diperbaiki BRR kondisi jalan di seluruh
Nias seperti jalan ke Kecamatan Gomo, rusak berat! Karena BRR lah jalan lingkar
yang mengelilingi pulai Nias sekarang menjadi mulus! Berkah di balik bencana!
Ngapain aja sih pemda Nias selama ini?
Dalam keterbatasan prasarana itu Gomo tetap merupakan daerah dengan
sumberdaya alam yang menjanjikan. Di Gomo inilah para leluhur orang Nias
mendirikan pemukiman pertamanya. Walaupun di daerah perbukitan namun banyak
area yang membentuk lembah dan flat sehingga memudahkan untuk bermukim dan
bercocok tanam. Di sini air bersih melimpah ruah, beberapa anak sungai
mengaliri daerah lembah ini. Di desa Sifaroasi inilah pastor mengajak kami
untuk melihat peresmian rumah adat keluarga Ama Asilia Telaumbanua. Sebenarnya
rumah adat ini bukanlah rumah yang baru tapi rumah lama yang direnovasi. Rumah
adat ini tadinya terletak 1 km dari posisinya sekarang. Rumah adat ini
mengalami beberapa kerusakan kecil dibeberapa tempat ketika gampa melanda Nias.
Memang tidak sampai rusak berat namun rumah ini terlempar sampai sejauh 1 meter
dari batu umpak pondasi rumahnya.
Itulah kelebihan rumah adat Nias, lebih tahan terhadap gempa. Fakta diketahui
dari 850 korban tewas karena gempa di Nias hanya orang 1 tewas yang tinggal di
rumah adat. Ini sudah cukup membuktikan bahwa rumah adat Nias lebih bisa
mengabsorsi kekuatan gempa. Beratus-ratus bahkan ribuan tahun nenek moyang
orang Nias mengalami gempa dan Tsunami dan dari pemahamam kosmologi mereka
terciptalah bentuk ideal pemukiman dan arsitektur yang tahan terhadap segala
kekuatan alam itu. Pemukmiman adat Nias selalu terletak di daerah perbukitan
untuk menghindari Tsunami dan tahan gempa. Sebuah cerita tentang kerifan lokal
yang kini perlahan mulai ditinggalkan.
Kita kembali ke soal peresmian rumah adat tersebut. Perlu diketahui Pastor
Johannes telah berada di Nias sejak 36 tahun yang lalu. Dialah salah satu tokoh
agama yang disegani di Nias, pegaruhnya di kalangan umat khatolik amat luas.
Beliaulah yang mensponsori renovasi rumah adat tersebut. Salah satu hal yang
mendorong ia melakukan itu karena masalah pelestarian Pusaka Nias. Karena sudah
tidak ada lagi rumah adat baru yang dibangun oleh orang Nias. Rumah adat
cenderung mulai ditinggalkan. Rumah-rumah adat tua yang berumur ratusan tahun
banyak yang tidak drawat dengan baik oleh para pewarisnya. Rumah-rumah itu
terlantar di makan jaman. Memang untuk membuat rumah adat perlu egergi dan dana
yang ekstra. Bahan baku yang mulai sulit di dapat adalah salah satu kendala,
soal lainya adalah pendanaan.
Rumah adatnya sendiri tidak terlalu mahal tapi upacara yang mengiringinya
memakan biaya tidak sedikit. Banyak upacara-upacara yang harus dilakukan
sehubungan pembangunan rumah adat ini yang semua tahapan dilakukan dengan
upacara memotong babi. Misalnya tahapan membangun pondasi harus upacara
pemotongan babi. Dalam tahapan ini bisa 10 ekor babi di potong, harga babinya
saja sekitra 2 juta perekor. Belum lagi tahapan amembuat lantai atau atap rumah
yang semuanya memerlukan acara potong babi. Sampai pada peresmian rumah babi
yang dipotong bisa mencapai 100 ekor. Itu tergantung dari kemampuan pemilik
rumah. Dalam upacara peresmian rumah adat keluarga Ama Asilia Telaumbanua babi
yang dipotong hanya berjumlah sepuluhan ekor. Bisa dibayangkan biaya yang
diperlukan untuk membangun rumah adat? Itulah salah satu faktor yang
menyebabkan mulai ditinggalkannya rumah adat Nias.
Dalam acara peresmian itu ada beberapa upacara adat yang harus dilakukan
acara puncaknya adalah pemotongan babi. Acara lain yang menarik dalam upacara
itu adalah tarian Elang yang khusus dibawakan oleh ibu-ibu dan tarian pergaulan
yang dilakukan oleh para remaja. Dan yang uniknya ada acara tarian di dalam
rumah yang dilakukan para tamu dan kerabat pemilik rumah. Semua tamu dalam
acara peresmian itu masuk berbondong-bondong ke dalam rumah dan mulai menari
diiringi tabuhan bedug dan gong. Tariannya ekspresif, kaki dihentak-hentakan di
lantai rumah berharmoni dengan bunyi tetabuhan. Sekali seseorang meneriakan
sesuatu dalam bahasa Nias dan disambut gemuruh oleh para undangan. Dengan
segala gerak serentak dan kehebohan tarian yang terjadi di dalam rumah ternyata
ada kearifan lokal yang tersembunyi.
Banyaknya orang yang berbondong masuk sambil menghentakan kaki dimaksud untuk
menguji kekuatan rumah. Jika terjadi kerusakan rumah akibat tarian tersebut
akan mendatangkan malu pada pemilik rumah dan para tukang pembuat rumah. Ini
salah satu cara menguji kemampuan para tukang pembuat rumah, tapi selama ini
tidak pernah terjadi kerusakan ketika diadakan tarian tersebut.
Sebelum acara puncak pemotongan babi itu ada upacara lain yang menarik, yaitu
ketika suami istri pemilik rumah didudukan di halaman rumah seperti pengantin
kemudian satu persatu tamu dan anggota keluarga mendatangi mereka sambil
menyerahkan hadiah berupa uang ke dalam baskom. Setelah semua menyerahkan
hadiah lalu diberilah gelar adat kepada pemilik rumah, biasanya setelah diberi
gelar adat ini mereka akan diusung sambil dielu-elukan. Setelah itu ditutup
dengan acara pemotongan babi dan pembagian dagingnya kepada para tamu dan
undangan. Pastor Johannes pun mendapat pembagian daging babi yang ia bawa
pulang dalam sebuah karung.
Untuk pulang ke Gunung Sitoli terpaksa kami pulang menumpang pada rombongan
pastor. Saya ikut sepeda motor satpam Museum Pusaka Nias, dalam hati was-was
juga takut ban bocor. Pasti menakutkan mengalami ban bocor di tengah jalan
hancur dan tak ada bengkel motor. Syukurnya ketika melewati jalan yang hancur
tersebut kondisi ban oke-oke saja. Tapi ketika memasuki kecamatn Gido yang tak
jauh lagi dari Gunung Sitoli apa yang saya tajutkan terjadi, ban gembos!
Untungnya setelah mendorong motor sejauh 1 km ada tukang tambal
ban...syukurlah. Sampai di Museum Pusaka Nias Gunung Sitoli sudah jam delapan
malam. Malam itu saya menginap di asrama museum, bayarnya 75.000 semalam.
Tempatnya nyaman dan bersih serta aman. Untuk membiaya operasional museum
mereka mencari dana dengan menyewakan aset-aset yang dimiliki.
Di sana ada 6 kamar penginapan yang disewakan. Penyewanya adalah para pemuda
dan pemudi yang bekerja pada NGO yang membantu koban gempa Nias. Ada yang dari
ILO, FAO, WEP dan juga maskapai penerbangan SMAC. Selain losmen mungil cantik
dan bersih itu museum memiliki beberapa paviliun yang juga disewakan dan
dijadikan sekretariat kantor lembag-lembaga tersebut. Dua pavilion di antaranya
adalah rumah adat Nias yang dibeli pastor karena mengalami beberapa kerusakan
pada atapnya akibat gempa. Rumah itu dipreteli dan dibongkar serta dipasang
lagi di museum. Rumah adat Nias mudah dibongkar pasang karena tidak menggunakan
paku untuk sambungan antar kontruksinya tetapi menggunakan pasak yang bisa di
bonkar pasang.
Malam itu saya sempat berkenalan dengan beberapa penghuni penginapan,
diantara adalah Nova yang malam itu akan mengadakan pesta perpisahan karena
kontraknya dengan ILO sudah habis dan harus kembali ke ke Jakarta. Dan juga
beberapa orang lagi seperti Bambang dari WEP serta Wilhem, Zul, Ikhsan dari
FAO. Dan satu lagi Novi, anak Medan pemilik penerbangan SMAC yang tinggal di
penginapan itu. Mereka mengajak saya menghadiri perpisahan Nova di halaman
kantor ILO yang terletak dipinggir pantai itu dengan acara bakar ikan dan
makan-makan. Akhirnya jadi deh nongkrong dengan teman-teman baru ini, walaupun
saya tidak memakan hidangan yang mereka sediakan. Saya hanya makan buah buah
jeruk, maklum sedang diet ketat! Hi...hii....hii...jeruk kok makan jeruk.
(Bersambung ke Chapter 3)
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]