18 Feb 2007
   
  Malam itu kami tidur nyenyak, selain karena capai juga karena hujan deras 
yang mengguyur semalaman membuat udara menjadi sejuk. Sampai jam 8 pagi kami 
tak beranjak jua dari peraduan...Soal cuaca yang cepat berubah memang salah 
satu ciri khas Nias. Jangan kaget kalau hari ini cuaca terang benderang 
tiba-tiba esoknya hujan 2 hari 2 malam tak kunjung berhenti. Faktor cuaca ini 
yang harus diperhitungkan bila ingin memotret, jangan sampai rencana yang sudah 
dibuat dari jauh-jauh hari jadi kacau balau karena tiba-tiba hujan turun tak 
henti-henti. Seperti juga yang saya alami hari itu.
   
  Rencananya sih jam 8 saya dan kang Hepy di jemput oleh Martinus dan 
Cornelius, 2 pemuda lokal yang kami minta jadi fixer merangkap tukang antar 
jemput kami. Rencananya ke mana-mana kami akan membonceng motor mereka, tapi 
karena hujan lebat tak henti-henti maka diputuskan untuk menunggu hujan sampai 
reda. Akhirnya sampai lewat tengah hari kami hanya guling-guilingan di kasur. 
Hendak menghidupkan laptop listriknya mati, hal ini biasa terjadi di Nias. 
Jangan kaget kalau tiba-tiba listrik mati, bisa hanya 15 menit bisa juga 
seharian seperti hari ini. Entah apa sebabnya.  Listrik mati dari tadi malam, 
sampai lewat tengah hari listrik belum juga hidup. Kalau hidupkan lumayan bisa 
nonton film dari laptop sambil menunggu hujan reda...Karena listrik yang sering 
mati ini maka jangan kecewa kalau kita belanja di warung memesan es untuk minum 
 penjualnya bilang tak ada batu es. Soalnya percuma saja bikin batu es di 
kulkas kalo listriknya melek merem kayak gitu...
   
  Hari ini rencananya akan ke desa Bawomataluo, sebuah desa adat yang merupakan 
juga desa koordinator bagi desa-desa adat di Nias Selatan. Di sinlah raja 
terkuat waktu itu bertahta. Di Bawomataluo kami sudah ditunggu oleh orang yang 
akan  mendampingi kami, Ama Feri, yang tugasnya menjadi  guide kami selama 
mengunjungi desa-desa adat.  Akhirnya setelah ditunggu-tunggu sampai jam 2 
siang hujan tak henti, dengan terpaksa  kami putuskan pergi ke Bawomataluo biar 
pun berbasah-basah hujan! Tanjep gas terus....! Brrr......dingin 
boooo....untungnya saya dipinjamkan jas hujan sehingga kamera dan laptop bisa 
terlindungi.
   
  Sampai di sana sekitar pukul 3 sore, kami berjumpa dengan Ama Feri dan Ama 
Fifin yang merupakan anggotab LSM Bampermadani, sebuah LSM yang bergerak 
dibidang kebudayaan Nias. Orang dewasa Nias yang sudah menikah jarang 
menggunakan nama aslinya sendiri. Yang mereka gunakan adalah nama anak tertua 
mereka, contohnya adalah Ama Feri tadi. Ama artinya bapak, Feri dalah nama 
anaknya yang paling tua. Ama Feri, artinya bapaknya si Feri. Nama aslinya 
sendiri Fanoro. Begitu juga wanita dewasanya yang telah menikah. Istrinya Ama 
Feri dipanggil Ina Feri,  Ina berarti ibu. Jadi misalnya Pak Harto mantan 
presiden RI ke Nias dia akan di panggil Ama Tutut, artinya bapaknya si Tutut. 
Sedang Almarhum Ibu Tien dipanggil Ina Tutut. 
   
  Sebutan Ina untuk ibu sebenarnya agak mirip bahasa Batak untuk ibu, yaitu 
Inang. Hanya konsonan di belakangnya dihilangkan, dan memang seperti itulah 
bahasa Nias yang tidak mengenal konsonan di belakang setiap katanya. Contohnya 
angka enam disebut mereka ena! Garuk menjadi garu! Ompong menjadi Ompo! Makanya 
grup musik rock SLANK nggak akan pernah ada jika Bimbim dan Kaka itu tinggal di 
Nias, kalau pun ada pasti namanya bukan SLANK tapi menjadi SLA! 
He...he...he....tapi bener kok konsonan tidak pernah dijumpai pada kata-kata 
asli Nias. Setiap kata pasti ditutup oleh huruf vokal. 
   
  Bagaimana dengan nama  Ama Fifin yang saya sebutkan tadi? Bukankah nama FIFIN 
akhirnya ditutup konsonan? Setelah saya selidiki ternyata Fifin itu bukan nama 
asli Nias. Panggilan Fifin itu didapat anak pertamanya ketika keluarga mereka 
lama tinggal di Bogor. Pipin itu panggilan khas orang sunda karena tidak biasa 
menyebut huruf  "f", harusnya Fifin menjadi Pipin. Padahal nama aslinya kalo 
nggak salah Finlandia, karena tinggal di Bogor jadi dipanggil Pipin. terus 
waktu pulang kampung ke Nias berubah lagi dari "p" menjadi "f" =  Fifin. Karena 
orang Nias sering manggunakan huruf "F" dalam kosa katanya. Dan penyebutan 
“f”nya dibeli penebalan desis…”fffff”. Kayak bahasa arab ada idghom bigunah dan 
bilagunahnya. 
   
  Selain huruf "F" ada lagi huruf yang sering digunakan dalam kosa kata Nias 
yaitu, "O" yang dibaca sebagai “eu” seperti orang Sunda menyebutkan 
Ciumbeuleuit. Makanya jangan heran kalau di papan nama atau di billboard 
tertulis  BAWOMATALUO dibacanya menjadi, BAWEUMATALUEU. Atau misalnya desa 
HILINAWALO MAZINO dibacanya menjadi HILINAWALEU MAZINEU. Tapi nggak tahu juga 
kalau istilah atau kata yang bukan bahasa asli  Nias apakah orang Nias membaca 
“O” menjadi “EU” juga? Soalnya lucu juga kalau begitu kejadiannya, contohnya:  
SUSILO BAMBANG YUDOYONO di baca menjadi SUSILEU BAMBANG YUDEUYEUNEU. Atau 
COCACOLA menjadi CEUCACEULA..he…he……he…cape deh….
   
  Oke, kita kembali ke Bawomataluo. Di desa ini terdapat rumah adat besar yang 
orang Nias sebut sebagai OMO SEBUA, artinya rumah besar. Di rumah itulah 
dulunya keluarga raja tinggal. Sampai sekarang pun yang tinggal di rumah 
tersebut adalah keturunan langsung raja. Jadi kalau grup band Radja ke 
Bawomataluo pasti nginapnya di sana…he….he….Nggak ding… becanda…yang pasti sih 
sayalah yang menginap di sana selama 4 malam, nanti ada ceritanya sendiri, saya 
nggak bahas di sini. (berarti saya keturunan raja dong kalo bisa tinggal di 
rumah raja? Kayaknya sih begitu…hi…hi…hi)
   
  Kami tak lama di sana, Ama Feri alias Fanoro (baca: Faneureu) mengajak kami 
berkeliling untuk sekedar berorientasi. Kami sempat masuk Omo Sebua dan 
berbicara dengan keturunan raja yang tinggal di sana. Lalu kami menjelajah 
sampai ke batas desa sebelah timur. Agak sedikit diluar desa di lembah yang 
menurun ada pemandian umum yang disebut HELE.  Airnya berasal dari pegunungan 
yang dialiri melalui batu andesit yang dipahat indah dan ditampung dalam sebuah 
bak air besar. Jadi ingat pancuran-pancuran air di dataran tinggi  Dieng deh… 
   
  Umur Hele ini sudah ratusan tahun. Hele untuk lelaki dan perempuan dibuat 
terpisah. Hele untuk perempuan dibuat lebih jauh ke Timur, mungkin maksudnya 
supaya tidak ada infiltrasi dari pemuda-pemuda desa yang nakal. Karena memang 
ada hukum adatnya jika ada lelaki yang ketahuan mengintip para wanita mandi. 
Sayangnya saya hanya bisa memotret di Hele tempat pria saja….hi…hi…hi…kalo saya 
motret juga di Hele bagian wanita bisa-bisa bubar tuh ibu-ibu dan para wanita 
yang sedang mandi dan nyuci….
   
  Setelah itu kami kembali ke rumah Ama Fifin. Rumahnya dekat gerbang desa, 
hanya dua rumah di sebelah kanan gerbang desa. Di sana istrinya yang perawat 
rumah sakit membuka apotik kecil-kecilan. Saya lihat lumayan juga tuh 
persediannya. Saya sempat dibekali obat malaria yang setiap malam harus diminum 
teratur selama di Nias.
   
  Sore itu ketika asyik ngobrol di ruang tamu tiba-tiba ada gempa kecil. Kursi 
yang saya duduki  bergoyantg-goyang. Spontan saya meloncat bersiap untuk lari 
keluar rumah, tapi saya urungkan karena yang panik ternyata saya sendirri 
sedang penduduk desa yang ikut ngobrol di situ cuek-cuek aja tuh. “Gemuru!”, 
kata mereka. Orang Nias menyebut gempa dengan istilah Gemuru. Mereka bilang 
sudah biasa seperti itu di Nias. Dan kayaknya masuk akal juga, karena Nias 
memang termasuk pulau muda yang terbentuk karena gempa bumi yang terjadi 
berulang-ulang.
   
  Museum Pusaka Nias punya koleksi beberapa tiram raksasa yang ditemukan di 
daerah pegunungan. Pastor Johannes bilang itu sebagai bukti bahwa dulunya Nias 
ada dibawah permukaan laut. Setiap ada gempa pantai Nias bertambah tinggi 1 
meter. Entah berapa ratus gempa yang menyebabkan Nias menjadi pulau seperti 
sekarang.  Dan karena factor gempa dan tsunami itulah nenak moyang Nias membuat 
rumah adat yang sangat kuat terhadap tekanan gempa. Dan mereka memilih daerah 
perbukitan untuk lokasi kampung-kampung mereka untuk menghindarkan dari 
tsunami. Sebuah kearifan local yang mulai ditinggalkan anak cucu mereka.
   
  Sore hari kami kembali ke Sorake. Jarak Bawomataluo ke Sorake sekitar 8 km, 
tapi kami tak langsung pulang ke Sorake tapi menuju ibu kota Nias Selatan, 
Teluk Dalam. Rencananya mau cari makan, maklum belum makan dari siang. Mau 
makan di Sorake tapi  hati tak berkenan selain harga makanan mahal pilihannya 
juga sedikit. Inilah yang membedakan Nias dengan Aceh walaupun harga-harga di 
kedua daerah itu sama mahalnya tapi untuk  Aceh banyak pilihan makanan yang 
tersedia. Sedangkan di Nias  budaya kulinernya belum berkembang sejauh itu. 
Makanan yang biasa kami jumpai di Nias adalah sayur daun singkon dan daging 
babi. Pilihan lain sedikit hanya dari warung padang dan restoran cina yang 
sangat terbatas jumlahnya. Soal kebiasaan orang Nias makan daging babi akan 
saya ceritakan dalam chapter tersendiri.
   
  Di kota Teluk Dalam cenderug lengkap sarana dan prasarananya. Di sana ada 
kantor pos, Bank BRI yang tidak online (no ATM, Man!), Dandim, wartel,  Polisi, 
rumah sakit, dan perguruan tinggi. Tapi tetap saja wong namanya kota kecil di 
pulau terpencil tidak seperti kota kecil di pulau Jawa yang dimanjakan oleh 
kemudahan distribusi barang dagangan. Hampir semua produk sayuran dan 
buah-buahan di Nias di datangkan dari Sibolga, jadi wajar saja kalau harganya 
jadi tinggi. Dan tidak semua jenis sayuran yang bisa didatangkan dari Sibolga. 
Mau nyari pokcoy susah banget, jagung juga susah, apalagi mau bikin sayur asem 
atau lodeh. Bahkan kangkung dan bayam sayuran yang paling popular di Indonesia 
juga rada susah.
   
  Untungnya ada rumah makan Bang Aziz di Teluk Dalam. Inilah rumah makan padang 
yang pernah dikunjungi Iwan Fals waktu berkunjung ke Nias. Ada buktinya Iwan 
Fals pernah kemari, di ruang makannya terpampang besar-besar foto Iwan Fals 
yang sedang asyik makan di rumah makan itu. Dan juga beberapa pose Iwan Fals 
dengan pemiliknya. Ngetop juga Iwan fals di sini. Tapi kok waktu saya ke sana 
saya nggak di foto kayak Iwan Fals ya? Padahal saya sudah mengaku sebagai Once 
vokalis grup band Dewa lho......he…he…he…
   
  Tapi walaupun warung padang tetap saja ada perbedaanya ketika dia berada di 
Nias: tidak punya  rendang daging sapi! Yang ada rendang daging ayam. Di Nias 
tidak ada peternakan sapi yang banyak adalah peternakan babi. Ternak kambing 
juga ada tapi sedikit, adanya dikomunitas-komunitas yang bermukim penduduk yang 
beragama Islam. Mayoritas penduduk Nias adalah Khatolik dan Protestan, jadi 
wajar saja kalau babi jadi binatang kesukaan di Nias. 
   
  Oke, kita kembali ke restoran Bang Aziz. Rasanya lumayan juga, walaupun agak 
beda dengan warung waralaba Sederhana tapi cukuplah. Selain Bang Aziz ada 
beberapa lagi beberapa lagi warung padang di kota Teluk Dalam. Dan juga ada 
satu-satunya penjual pecal, letaknya di depan pelabuhan ikan Teluk Dalam di 
dekat pasar. 
   
  Setelah kenyang makan di warung bang Aziz kami kembali ke Sorake untuk 
istirahat, tidur booo…
   
  Kelupaan nih...mengapa kami memeilih Sorake menjadi base kami bergerak ke 
sana kemari? Karena selain letaknya dekat dengan desa-desa adat yang ada di 
Nias Selatan juga karena ada sinyal telepon genggam yang lumayan.
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   

                
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke