Hari pertama selalu jadi hari paling sulit di perjalanan.  Sebab pastinya, 
kondisi badan yang belum beraklimatisasi dengan kondisi setempat.  Bagi saya 
hari pertama ini juga tambah repot karena menjadi titik kritis bisa-tidaknya ke 
Bolivia.  Hari ini, Kamis, 16-Juli.  Kalau sampai besok, Jum´at, 17-Juli, visa 
tidak klaar ya harus rela tak jadi ke negeri El Presidente Senor Evo Ayma 
Morales.

Yang pasti di Jakarta tidak ada embajada de la Republoca deBolivia.  Kedutaan 
Bolivia yang accredited untuk Indonesia ada di Beijing!  Indonesia juga tak 
punya kedutaan di La Paz.  KBRI yang merangkap tugas di La Paz, dari beberapa 
sumber, ada 2.  Pertama, KBRI Brasil.  Kedua, KBRI Lima.  Yang terakhir ini 
lebih meyakinkan karena lebih banyak disebut.  Ini juga lebih logis karena 
Bolivia dan Peru bertetangga dekat, malah berbagi wilayah atas Danau Titicaca.  
Tapi titik terang ini tak banyak membantu.  Semua alamat email Peru yang 
berakhiran [EMAIL PROTECTED] tidak bisa dihubungi.  Setiap saya tulis email 
selalu mental.  Padahal KBRI Lima maupun kedutaan besar Bolivia di Lima memakai 
alamat dengan domain itu!

Saya hubungi pusat informasi Deplu dan diberi alamat lain KBRI Lima.  Saya 
tulis surat ke KBRI, mengabarkan rencana saya ke Bolivia, dan sebisa mungkin 
mohon bantuan.  Saya buat surat itu atas dasar ada teman yang pengurusan 
visanya di kedutaan Bolivia Buenos Aires dibantu KBRI setempat Aires.  Dari 
salah satu staf dijanjikan bahwa saya akan dibuatkan supporting letter.  
Bagaimana syarat aplikasi visanya?

Ada 3 situs kedutaan Bolivia saya kunjungi.  Di Buenos Aires (Spanish), di 
London plus di Washington yang berbahasa Inggris.  Singkatnya, Bolivia 
membedakan pemberian visa menjadi 3.  Ada negara yang warganya langsung diberi 
visa, ada yang diberi visa tanpa perlu rekomdasi dari kementrian luar negeri 
mereka (1-2 hari jadi), ada yang perlu rekomdasi (2-4 minggu).  Nah Indonesia 
masuk yang mana?  Hanya kedutaan London yang menyebut.  Indonesia ada di blok 
ke-2, perlu waktu 2 hari.  Tapi data itu (kalau tidak salah ingat) tidak 
diupdate sejak 2005.  Masih sahihkah?

Pagi tadi, sengaja saya mruput untuk segera mendapat kepastian.  Kepastian, 
bagaimana pun pahitnya, toh tetap lebih baik ketimbang harapan yang semu.  Agar 
langkah lebih cepat saya memakai taksi.  "Conoce embajada de Indonesia en calle 
Las Flores, San Isidro," tanya saya ke si sopir.  Sopir coba mengingat-ingat, 
saya todong langsung, "Cuanto cuestan?"  Dia memasang harga ´ocho soles´ (8 
soles setara Rp. 22 ribu).  Taksi di Lima serupa dengan di Kairo.  Tak ada 
argo, mesti tawar-menawar seperti naik becak, dan tak ada AC (tentu saja karena 
memang sudah dingin .. he .. he).  Harga itu lebih murah ketimbang kata orang 
penginapan yang sekita 10 soles.  Yo wis .. go ahead saja.

Ternyata menemukan KBRI sangat susah.  Sudah di wilayah San Isidro, tanya ke 
lebih dari 3 orang, tetap belum ketemu.  Setelah ketemu, saya hampir patah 
semangat.  Kata petugasnya, hari ini kedutaan tutup.  Asal tahu saja, KBRI itu 
liburnya dobel.  Ikut Indonesia dan ikut negara tempatnya berada.  Ini aneh .. 
Peru yang 80% penduduknya Katholik hari ini bukan hari libur!  Langsung saja 
saya bilang akan mengurus aplikasi visa Bolivia, pernah menghubungi bapak A, 
dan dijanjikan bantuan.  Sampai jam 10.00, bapak A ini belum bisa dihubungi.  
Sebenarnya salah juga meminta bantuan di hari Libur.  Kalau bukan hari ini lalu 
kapan?  Besok KBRI ikut cuti bersama.  Sementara pekan depan saya sudah 
melanjutkan perjalanan ke Nazca dan Arequipa.

Saya langsung ke kedutaan Bolivia.  Letaknya sekitar 500m dari KBRI.  Dengan 
Spanish pas-pasan saya sapa petugas jaga, menanyakan syarat-syarat aplikasi.  
Eh .. sederhana sekali.  Begitu paspor dicatat, saya diijinkan masuk kantor.  
Ada 4 applicant duduk menyusul saya belakangan.  Yang mehubungi kami seorang 
ibu sepuh yang sangat santun.  Ibu ini juga mengaku ´no speak English´.  Ia 
meminta saya mengisi blanko, meminta foto.  Selang 20-an menit, ibu ini ke luar 
lagi.  Ia membawa secarik kertas.  Saya diminta mentrasfer USD30 (harga visa 
Bolivia) ke nomor rekening yang ada di bank yang disebut di sobekan tadi.  
"Donde esta esta banco?"   "Mas o menos cuatro blocks de aqui."  Di bank, 
lagi-lagi dengan Spanish kacau, urusan cepat selesai.

Saya kembali lagi ke kedutaan untuk mewawancara.  Ah .. yang mewawancara hanya 
bicara Spanish!  Untungnya, 'ganjalan´ elementer saya selalu di nama di paspor 
yang hanya satu kata.  Selalu terdengar aneh bagi orang asing bahwa ada orang 
yang tidak punya nama keluarga!  Di Amman, pernah saya bertengkar dengan 
petugas imigrasi yang memaksa saya mengambil nama keluarga sekenanya.  Saat itu 
menyarankan agar ditambahi bin ... Saya balas bahwa segala perbuatan saya tak 
perlu menyeret orang tua.  Ia tersinggung dan tak mau berpanjang kata.  Untuk 
negara-negara Latin (kemarin saya alami di imigrasi Buenos Aires dan Lima) soal 
ini bisa menjadi pencair suasana.  Saya singgung sedikit soal budaya Indonesia 
dan akhirnya ia mau mengerti.  Selama saya ditanya ini-itu, di meja saya lirik 
ada surat yang memuat kata 'snr Santosa'.  Visa Bolivia diberikan siang itu 
juga.

Hampir jam 12.00 saya balik ke KBRI.  Kata yang jaga, "Wah tadi bapak A ke 
sini, dan baru 5 menit lalu pergi."  Singkat cerita, dari pembicaraan via 
telpon dengan bapak A, saya tahu bahwa surat yang memuat nama saya itu memang 
supporting letter.  Surat itu dibuat tak lama setelah membalas email saya.  
Saat itu ada delegasi Indonesia yang akan ke Bolivia, jadi sekalian saja.  
Untung saya berinisiatif kembali ke kedutaan.  Kalau tidak .. pasti hutang budi 
ini akan terbawa sampai akhir hayat.

Hari ini, bagi saya, berlaku pepatah pucuk dicinta ulam tiba.  Seluruh capaian 
melebihi target.  Di Plaza de Armas, pusat kota lama Lima, saya masuk ke museum 
kathedral.  Menyamping ke kanan dari pintu masuk ada kapel dengan peti berisi 
tulang-belulang Francisco Pizzaro.  Monastery San Fransisco, yang hanya 100m 
dari katedral, nyaris saya coret dari agenda karena sudah hampir jam 16.00.  
Pilihan ini ternyata tidak membuat saya menyesal.  Monastery-nya luar biasa, 
bahkan bisa bersaing dengan museum Vatikan.  Di dalamnya ada adaptasi versi 
Latin dari lukisan Da Vinci ´El Ultima Cena' (perjamuan terakhir).  Masih ada 
bonus lain.  Masuk monastery ini, yang tiketnya 5 soles (16 ribu), selalu 
disertai pemandu agar larangan memotret ditaati!  Yang jadi pandu saya bukan 
hanya tahu detail sejarah, tapi juga pantas menjadi bintang telenovela.

Salam dari Lima
Jr. Hernan Velarde, Santa Beatriz


      
____________________________________________________ 
Yahoo! Singapore Answers 
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at 
http://answers.yahoo.com.sg

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke