Lima didirikan Pizarro tepat bersamaan dengan di hari festival Epiphani.  
Karenanya ia diberi nickname kota raja-raja.  Di sanalah wakil (viceroy) raja 
Spanyol memerintah untuk seluruh kawasan Amerka Latin.  Tak aneh bila Lima 
menjadi ahi waris bagi banyak sekali bangunan kolonial.  Bukan hanya 
bangunannya, tapi juga tata kotanya.  Lima dirancang dalam bok-blok persegi 
hasil bentukan jalan-jalan yang bersilangan tegak lurus.  Di pusat kota, tempat 
lebih dari 8 atau 10 jalan bertemu dibuat plaza, lapangan terbuka (kalau di 
Italia namanya piazza).  Kalau di Jakarta arti plaza sudah bergeser jauh dari 
aslinya ya mohon dimaklumi.  Sudah stereotype orang Indonesia untuk main comot, 
persetan apa arti sebenarnya, yang penting tampilan luar terkesan wah-:).

Plaza utama Lima ada 2, Plaza de Armas dan Plaza San Martin.  Plaza de Armas 
kira-kira berarti lapangan tentara.  Kebetulan ini cocok dengan yang saya lihat 
siang itu.  Di sudut-sudut lapangan tentara berjaga, bahkan dengan menyiapkan 
tank dan panser.  Adapun San Martin adalah pahlawan perang kemerdekaan Peru.  
Antara kedua plaza tersambung oleh jalan kecil Jiron de la Union yang 
dikhususkan untuk pejalan.  Di jalan inilah semua ditawarkan mulai dari warnet, 
tiket pesawat, tiket bis, kartu pulsa hp, hingga penukaran uang.  Internet 
sejam harganya S1 (1 Sol setara 300 rupiah), padahal aksesnya secepat yang saya 
rasakan di New Delhi.  Sebagian besar ho(s)tel bahkan menggratiskan internet.  
Ada yang gratis penuh, ada pula yang cuma 20 menit.

Memagari Plaza de Armas, berdiri 2 bangunan penting yaitu kantor pemerintah dan 
katedral.  Ini mirip alun-alun Jawa di mana istana raja dan masjid agung 
bersebelahan atau berhadapan.  Rupanya kekuasaan duniawi semata belum cukup 
tanpa diserta restu adiduniawi.  Gedung pemerintah (dan bangunan kolonial 
lainnya) dilengkapi dengan rana kayu yang menjorok ke depan.  Ini, kata pemandu 
yang mengantar di San Fransisco kemarin, agar orang dari dalam gedung bisa 
melihat apa yang terjadi di luar sana.  Sebaliknya, yang berada di luar tak tau 
kalau diintip.  Lho kok setali 3 uang dengan mashrabiya (ukran kayu) di 
rumah-rumah Fatimiyyah seputar Al Azhar?  Mengapa bentuk dan ukirannya mirip 
haveli yang jamak ada di Jaisalmer dan Bikaner?

Di Plaza de Armas pernah berdiri patung Pizarro menunggang kuda.  Percayalah, 
patung itu hanya sekadar gagah-gagahan.  Pasalnya, Pizarro sendiri hanya 
penunggang kuda kelas mediocre!  Dari sini saya bertanya-tanya.  Adakah patung 
equestrian Mustafa Kemal di setiap kota di Turki berkorelasi dengan 
kepiawaiannya berkuda?  Bicara tentang berkuda, saya ingat pada orang Hungaria. 
 Mereka pengaku penunggang kuda nomor wahid di muka bumi ini.  Hal ini 
diwariskan oleh moyang mereka yang merambah Eropa dari Asia Tengah dengan 
berkuda di abad ke XII.  Jika Anda sampai di Budapest, jangan heran jika banyak 
orang berkerumun di depan TV yang menayang pacuan kuda.

Kembali ke patung Pizarro.  Menurut panduan, patung itu digusur ke sudut 
lapangan.  Kardinal kurang berkenan karena kudanya memunggungi katedral.  Saat 
saya ke Plaza de Armas, patung yang katanya ada di sudut itu sudah tak nampak 
lagi.  Kata teman ngobrol saya yang asli Peru, ada semacam tafsir ulang atas 
peran Pizarro.  Tempat patung berdiri diganti oleh tiang bendera dengan bendera 
Peru gagah menyapu angkasa.

Di luar urusan kota kuno, Lima tetap didera penyakit khas dunia ketiga layaknya 
Jakarta.  Urbanisasi, lapangan kerja terbatas, pengangguran adalah bonus yang 
mau tak mau harus diambil sebagai ibu negeri.  Pengasong berkumpul di 
perempatan jalan, bila memungkinkan masuk ke dalam bis.  Di bis ia mengadakan 
´presentasi´ kemudian menawarkan dagangannya.  Yang justru mengherankan, saya 
belum pernah ketemu dengan pengamen.

Suasana kaki lima juga tak banyak beda dengan di tanah air.  Rombong-rombong 
berjajar mesti jaraknya tidak serapat di kota-kota besar di negeri ini.  Ada 
penjual keripik singkong, bahkan ada juga yang menjual (yang di Jawa disebut) 
kue semprong.  Penjual jugo rananja (jus jeruk) mengemas rombongnya dalam 
bentuk becak.  Ia memakai mesin untuk mengupas.  Kupasannya memanjang dan baru 
putus jika kulit telah tandas.  Untuk memeras sari jeruknya mereka memakai alat 
seperti yang saya lihat di Mesir.  Yang paling menarik bagi saya adalah penjual 
jagung rebus.  Jagungnya diletakkan dalam panci besar.  Jagung yang sudah 
matang, tapi belum terbeli, terus-menerus disiram dengan air panas.  Mau tahu 
ukurannya?  Diameternya kira-kira 1,5 kali jagung terbesar yang pernah kita 
lihat.  Ke arah memutar ada barang 9-10 baris, tiap butirnya berukuran 2-3 kali 
butir jagung yang biasa kita makan!

Sejak dari KBRI saya rajin naik turun bis kota.  Tentu saja menguasai rute bis 
kota dalam 2 hari jelas mustahil.  Saya ambil saja generalisasi.  Lima memiliki 
beberapa arteri.  Obyek-obyek yang ada di agenda saya identifkasi berdasar 
jarak dari arteri.  Untuk mudahnya, bis kota saya perlakukan mirip subway, 
metro atau busway.  Naik bis kota ini mutlak jika ingin menekan ngkos transport 
mengingat 3 unsur yang memudahkan mengakses kota besar di muka tidak dimiliki 
Peru. Mayoritas bis kota seukuran bis tiga-perempat.  Pintu bisnya di tengah 
sehingga hanya perlu 1 kondektur yang merangkap sebagai kernet.  Kernet ada 
yang mengobral suara pada calon penumpang, namun sebagian besar memilih membawa 
papan nama.  Manakala bis ngetem, kernet cukup menunjukkan pada bondongan orang 
yang akan melewatinya.

Hari ke-2 saya di Peru, untuk kedua kalinya pula saya terkecoh oleh peta.  Yang 
pertama saya alami di Timor 9 tahun lalu.  Saat itu, berdasarkan peta Periplus, 
saya amat yakin bahwa Boti berada di antara Soe dan Nikiniki.  Kenyataannya 
Boti berada antara Nikiniki dan Kefamenanu.  Kali ini gara-garanya notasi di 
peta panduan LP.  Untuk satu nomor diberi keterangan ganda yakni Museo Larco 
dan Jardin Zoologico (bonbin).  Tujuan saya sebenarnya ke bonbin, mau lihat 
jenis.jenis satwa dari dunia baru (Amerika) yang serba lain.  Di Museo Larco 
kenyataan berkata lain.  Bonbin, kata petugas, masih 5 menit lagi dengan bis 
atau taksi.  Kalau jalan memang paling banter 3-4 kilo, tapi saat itu hari 
sudah sore.  Saya takut kemalaman.

Selain ke Larco, hari ini saya ke Museo de la Nacion.  Koleksi museum ini luar 
biasa dan bobotnya setara museum nasional di Athena. Istanbul, Kairo.  Kalau 
pun ada minusnya, paling lantaran keiadaan brosur!  Setiap hari Jumát museum 
membebaskan tiket masuk.  Ini terutama ditujukan untuk anak-anak sekolah yang 
di siang tadi saya lihat tekun menyimak penjelasan ibu gurunya.  Ada rombongan 
anak TK yang disertai gurunya di ruang yang memajang periode ´the new horizon´. 
 Oleh ibu guru semangat kecintaan pada negeri sendiri dibangkitkan.  Setiap 
menyebut Machu Picchu mereka diajak bertepuk tangan.

Salam dari Lima
Jr Hernan Velarde, Santa Beatriz


                
____________________________________________________ 
Yahoo! Singapore Answers 
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at 
http://answers.yahoo.com.sg

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke