Bis Nazca - Arequipa molor 1 jam dari jadual berangkat.  Dengan waktu tempuh 10 
jam, saya baru tiba di Arequipa menjelang tengah hari.  Arequipa adalah kota 
kedua di Peru.  Julukannya ciudad blanca, kota putih, karena seluruh bangunan 
di Plaza de Armas dibuat dari batu putih.  Arequipa juga diyakini kota 
tercantik di Peru.  Setiap kenalan saya di bis selalu berkata berapi-api, 
¨¨Ärequipa es mas bonita que Lima, Lima es malo.¨¨  Kira-kira artinya, Arequipa 
jauh leih cantik ketimbang ibukota, Lima sangat buruk.  Kata legenda, saat 
bulan terpisah dari bumi ia lupa membawa serta Arequipa!

Ada 2 hal yang ingin saya lihat di Arequipa.  Pertama, Juanita, ice maiden yang 
ditemukan di gunung Ampato.  Kedua, ke Monasterio Santa Catalina.  Lagi-lagi 
agak mengejutkan karena kedua target selesai hanya dalam 5 jam!  Untuk melihat 
Juanita di Museo Sanctuarios Andinos, tiketnya S15, pengunjung dilarang 
memotret, semua bawaan ditinggal di tempat penitipan.  Pengunjung dibagi 
menurut bahasa yang dipakai.  Mula-mula kepada pengunjung disuguhi presentasi 
dalam 20 menit.  Isinya seputar penemuan Juanita dan keterangan rinci perihal 
pernik-pernik yang menyertai pemakamannya.  Singkatnya, pernik-pernik itu 
menandakan Juanita adalah korban terpilih dari kalangan darah biru.  Seusai 
presentasi, yang tergambar di layar bisa dilihat secara nyata.  Pengunjung 
memasuki ruang demi ruang dan sebagai pemuncak si Juanita tersimpan dalam 
lemari khusus bersuhu -25 derajad Celcius, sesuai dengan habitatnya semula.

Kalau Anda pelanggan Natioanl Geographic, saya yakin pernah bersua Juanita.  Ia 
muncul di sampul depan edisi Februari 2001(?).  Di toko-toko buku di terminal 
Arequipa, edisi lawas itu (dalam Espanol) dipajang di etalase.  Yang perlu 
dicatat dari Juanita adalah lagi-lagi peta buku LP yang salah letak!  Di peta 
Museo jelas-jelas tertera di utara Plaza de Armas, berjarak 2 blok.  Nyatanya 
Museo tepat 1 blok sebelum plaza, berada di Casa de la Cultura milik salah satu 
universitas setempat.

Menurut panduan, Santa Catalina berbeda dari monasteri seumumnya,  Didirikan 
oleh janda kaya Maria de Guzman pada tahun 1580, biarawati yang direkrut hanya 
terbatas dari kalangan keluarga bangsawan.  Dulu ada tradisi bahwa putri kedua 
dari keluarga bangsawan Spanyol dimasukkan monasteri untuk merasakan hidup 
dalam kepapaan.  Dalam monasteri ini yang mereka rasakan bukan kepapaan.  
Mereka membawa serta budak-budaknya, yang umumnya dari kalangan kulit hitam.  
Para biarawati itu kadang mengundang musisi, menggelar pesta, atau secara umum 
mempertahankan gaya hidup sebagaimana di keluarga asalnya.  Hal demikian baru 
berakhir pada tahun 1871 dengan datangnya seorang biarawti Dominican, Josefa 
Cadena.  Saat ini tinggal 30 suster yang tinggal di sisi utara monasteri.

Memasuki monasteri ini layaknya menjelajah sebuah labyrint.  Sebuah pintu kecil 
di sudut ruang mengantar ke sebuah ruang lain yang lebih besar.  Di ruang ini 
ada lagi pintu kecil di sudut yang menyambung ke ruang lain.  Begitu 
seterusnya.  Tanpa mengikuti peta yang diberikan di loket tiket, niscaya 
pengunjung akan tersesat.  Bagian yang paling menarik menurut saya adalah 
tempat pencucian.  Dari sebuah kanal buatan dipasang pipa-pipa melintang.  
Tumpahan dari pipa ini ditampung oleh separuh tempayan.  Di kanan-kiri kanal 
ada 12 tempayan.  Kalau Anda peminat fotografi, monasteri ini laksana oase di 
gurun pasir.  Semua sudut boleh dipotret, bahkan saya lihat ada yang memakai 
blitz.

Dengan 2 target rampung ini, saya jadi seperti punya bonus 1 hari.  Mau 
langsung ke Cusco?  Ah .. nanti dulu,  Karena ingin ke Bolivia, saya juga perlu 
aklimatisasi,  Tujuan dirancang berdasarkan kenaikan elevasi secara bertahap.  
Lima itu kota pantai,  Nazca berada di atas  450m, sementara Arequipa sekitar 
di elevasi 2300-an.  Sebelium ke Cusco (3200-an) saya perlu aklimatisasi 
tambahan di Arequipa.  Di rencana yang saya buat ada opsi ke Chivay, kota kecil 
di pintu masuk ke Valle de Colca.  Mengingat Chivay kota kecil, transport ke 
sana agak jarang.  Sehari paling banter hanya 3x.  Lantas?  Ada pilihan lain 
yaitu ikut tour 2D-1N.  Harganya USD27, termasuk penginapan di Chivay dan makan 
paginya.  Karena yang dikunjungi desa-desa kecil di pinggiran selatan Ngarai 
Colca, tour ini murni hanya menyediakan transportasi tanpa shopping!

Arequipa - Chivay berjarak 160km.  Di antara kedua kota ada Parque Nacional 
Salinas y Aguada Blancas.  Di tepi jalan, bisa dilihat 2 dari 4 keluarga 
camelid (keluarga unta) endemik Amerika Latin yakni vicuna dan  llama.  Yang 
pertama liar, yang kedua jinak dan didomestifikasi.  Juga antara keduanya ada 
titik tertinggi 4800m di atas laut.  Di tepi jalan, tepat di bawah rahang bukit 
yang menganga bisa dilihat bongkah-bongkah es yang membetuk stalagtit dan 
stalagmit.  Saat turun di titik ini kepala saya langsung pening.  Ya .. 
soroche, high altitude sickness.  Sakit akibat badan belum bisa menyesuaikan 
diri dengan kadar oksigen yang menipis.  Mate de coca (teh koka) yang saya 
minum tadi pagi tak banyak membawa pengaruh.

Karena singgah dan berhenti beberapa kali, kami baru sampai Chivay setelah 
lewat tengah hari.  Tiap-tiap orang didrop ke penginapan.  Yang aneh, dari 
teman-teman serombongan tak ada yang sama penginapannya.  Agaknya tiap orang 
pun membayar berbeda.  Penginapan yang saya dapat namanya Kolping, milik orang 
Jerman,  Di LP harga semalam USD30.  Mana mungkin harga tour lebih murah 
ketimbang harga hotel?  Ya aneh tapi nyata,  Penginapannya ada di pinggir desa, 
di dalam tembok tinggi, masing-masing kamar (4x4m2) langsung bertatapan dengan 
kaki bukit.  Rasanya jadi seperti berkemah di segara pasir saat Gunung Batok 
jadi milik pribadi.
 
Masuk kamar penginapan lagi-lagi kepala pusing.  Saya coba resep lama, tiduran 
dengan kepala lebih rendah ketimbang kaki.  Tak terasa, saya ketiduran barang 
15-an menit.  Begitu bangun keadaan membaik.  Saya langsung jalan, menyusuri 
lorong-lorong desa yang berdebu, bersua orang-orang Indian Quechua yang pulang 
dari pasar.  Orang-orang Quechua, utamanya wanita, berpenampilan khas.  Rambut 
dikepang 2, kepangnya kadang sangat panjang sehingga kiri-kanan ditalikan.  
Memakai topi ala Charlie Chaplin, baju atasan-bawahan, atasannya berlapis jaket 
karena suhu yang dingin, berkaos kaki panjang dan bersepatu hitam.  Meski 
beberapa kali menghadapkan kamera ke mereka, sikap mereka biasa saja.  Padahal, 
kata orang, di Cusco dan Bolivia mereka kerap marah dan minta uang jika 
dipotret.  Saya masuk pasar besar, ingin tahu bagaimana daging llama dikuliti.  
¨¨Carne de llama?¨ saya bertanya sembari siap dengan kamera.  Si penjual ketawa 
saat saya tunjukkan gambarnya.  Ia panggil anaknya
 untuk sama-sama menonton.

Besoknya kami singgah di beberapa dusun kecil seperti Yanque, Maca, Pinchollo, 
dan Cruz del Condor.  Desa-desa ini bisa saja didatangi sendirian, tapi tentu 
makan waktu.  Belum lagi jalannya yang jalan tanah berbatu tentu memerlukan 
persiapan ekstra,  Desa-desa itu menghadap ke sebuah lembah, di hadapannya ada 
bukit-bukit yang telah diteras orang Inca ratusan tahun lalu.  Tiap-tiap desa 
itu punya Plaza de Armas yang bebas dari asongan, padahal taraf hidup Peruanas 
(orang Peru) tak beda jauh dari orang kita.

Pagi-pagi, belum jam 07.00 pagi, di Plaza de Armas Yanque anak-anak kecil 
menari seturut lagu dari kaset murahan.  Suaranya serak dan sember.  Plaza 
sendiri berpagar gereja, municipalidad, museum, dan pasar yang belum bangun.  
Sementara di belakang sana Ampato gagah bertopi salju.  ¨¨Mengapa sepagi ini 
mereka menari?¨, tanya salah satu teman saya.  Ada nada sinis dalam suaranya.  
Memang banyak bis-bis besar parkir dan memuntahkan turis dari perutnya.  Ada 
turis masuk barisan penari, kepada tiap anak diberikan pen.  Ada lagi yang 
membawa alat tulis atau buku.  Ada pula yang menyisipkan barang 1 atau 2 soles 
di vas tanah liat yang mereka bawa.  Sebelah saya, seorang ibu 62 tahun dari 
Utah, membawa keterangan yang agak mengejutkan, ¨¨Santoso, kamu tahu bahwa uang 
yang didapat itu disumbangkan untuk sekolah mereka?¨¨  Ah .. mata saya pun jadi 
terasa panas.  Syukurlah dari awal saya tidak berburuk sangka.

Crus del Crus, titik penghujung lembah, adalah tempat penangkaran alamiah 
burung kondor.  Ratusan orang berjaga dengan lensa telenya menghadap lembah 
berkedalaman lebih dari 1,5km.  Mereka menunggu kalau-kalau kondor melintas.  
Begitu burung ini muncul dan kepak sayapnya membelah angkasa .. puluhan klik 
terdengar layaknya paduan suara.  Kondor menurut kebiasaan suka ke luar sarang 
antara 08.30 sampai jam 10.00.  Itu kalau musim kemarau.  Kalau musim hujan ia 
lebih senang ngendon di sarang.  Di atas sana langit begitu biru, di depan ada 
seutas sungai, di seberangnya ada bukit-bukit meninggi.  Tak dipungkiri alam di 
sini begitu keras dan kejam, suhu dan cuaca mendekati ekstrim.  Adakan menjadi 
burung kondor lebih bahagia?  Kondor-kondor terbang bersilangan, di kepala saya 
terputar lagu rakyat Quecha ¨¨El Condor Pasa¨¨, burung kondor melintas.  ¨¨Ï´d 
rather be a sparrow than a snail, yes I would, if I could, I surely would .. 
away I´d rather sail away like a swan that here and
 gone ..¨¨  Untuk kali kedua, mata saya terasa panas sepagi ini.

Salam dari Aguas Calientes
Viernes, 25-Mayo-2007, hora 19.41.
 
nb: nota ini saya tulis dengan mengangsur di Arequipa, Chivay, dan Aguas 
Calientes.  ´´El Condor Pasa´´ mendunia lantaran dipopulerkan duet Paul Simon - 
Art Garfunkel.


      
____________________________________________________ 
Yahoo! Singapore Answers 
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at 
http://answers.yahoo.com.sg

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke